Guru Killer Vs Siswi Bandel #15

0
128
views

Hampir Mati


Gadis dengan seragam putih abu-abu itu, masih betah dengan tangisannya.  Bingkai foto dipeluknya dengan begitu erat, foto yang bergambarkan sang ibunda. Tak menyangka jika insidet tersebut akan membuat dirinya dibenci oleh banyak orang. Walaupun ia bandel di sekolah, namun tak mungkin akan berbuat senekat itu pada seseorang.

Anak kecil berumur lima tahun mendekati Azalea yang sedang menyandarkan tubuhnya di dinding. Pandanganya buram karena air mata.

“Hay, Aka cantik, jangan nangis yaa,” ucap anak kecil itu sembari rebahan di depan Zela.
“Aka jangan nangis, papa marah ya?”
Gadis kecil bermuka tembem itu, menghapus air mata kakaknya.
“Jangan nangis lagi ya, di sini ada Kinar temani Aka.” Kinar sering memanggil Zela dengan sebutan Aka, yang artinya Kakak.

Namun Zela hanya terdiam, ia tak menanggapi coleteh adik tirinya. Pikirannya begitu bercabang, apa yang harus ia lakukan? Kenapa harus terjadi padanya? Mengapa harus mengalami kejadian, dimana ia dituduh mencelakai teman sekolahnya? Bagaimana jika Filda terjadi sesuatu padanya? Mungkin ini karma karena selama ini ia sudah tak mendengarkan orang tuanya, jika dinasehati. Guru-guru di sekolah pun, sudah diberi wejangan tetapi tidak didengarkan dengan baik. Terutama untuk  Pak Radit selama ini ia sudah berjasa untuk membuatnya baik, tetapi ia tak perna menghargainya. Malah mengombalinya dengan percaya diri tanpa malu. Penyesalan memang datang dari akhir.

“Zela, saya percaya bahwa bukan kamu yang mencelakai temanmu itu.” Diana datang dan sejajar duduk dengan Kinar, anaknya. Sang ibu sambung itu tersenyum, lalu mengusap rambut Zela.
“Saya tahu, kamu tidak suka dengan saya. Tapi tolong rubalah sifatmu Nak. Jika bunda lihat kamu seperti ini dia akan menangis Nak.” Lagi-lagi ibu Kinar itu tersenyum, meskipun hatinya ingin menangis melihat Zela yang selama ini tak perna menganggapnya ada.
“Aka cantik, jangan nangis lagi ya, Kinar sayang Aka.” Kinar memeluk kakaknya dengan hangat.

Di RS, Ibu Filda panik bukan main, karena dokter yang menangani pasien belum kunjung keluar. Di sana ada Farisa, Resti, ada Pak Radit yang menemani serta  Geng Bebas.

“Bu, Pak, tenang ya, pasti Filda akan baik-baik saja,” ucap Radit menenangkan.
“Bagaiamana saya mau tenang Pak, anak saya terluka. Jika terjadi apa-apa dengan anak saya. Siswa yang mendorong Filda, saya akan tuntut ke polisi!” tegas ibu Filda marah.

Dokter keluar dari ruangan, dengan cepat ibunya Filda menghampiri wanita berseragam putih itu.

“Bagaimana keadaan anak saya dok?”
“Maaf, pasian mengalami benturan hebat dibagian kepalanya, sehingga ia membutuhkan darah,” jelas dokter.
“Ambil darah saya saja Dok.” Filma, ibu Filda menangis.
“Maaf, golongan darah ibu apa?” tanya Dokter.

“B, ambil saja darahku, yang penting anak saya tidak kenapa-napa.”
“Darah yang dibutuhkan pasien adalah darah O. Namun darah tersebut di RS sudah habis stoknya.”
Filma menutup mulutnya terkejut. Darah yang dibutuhkan Filda ternyata bukan persis seperti daranya, melainkan darah O yang merupakan darah yang dimiliki oleh ayahnya. Sedangkan Filma dan suaminya sudah lama bercerai. Sampai saat ini ayah Filda entah dimana keberadaanya.

“Tolong lakukan yang terbaik untuk Filda Dok,” ucap Radit.
“Iya kami berusaha semaksimal mungkin. Kami masih mencari golongan darah O untuk di donorkan kepada pasien,” jelas dokter.

“Saya akan tuntut orang yang sudah mencelakai Filda. Saya akan laporkan hal ini ke polisi. Saya tidak terima anak saya seperti ini!” Filma melangkahkan kakinya, namun Radit langsung menahannya.
“Tolong Bu, jangan emosi dulu, masalah itu nanti pihak dari sekolah yang  mengurusnya, karena Filda kecelakaanya di sekolah.” Radit menahan ibu yang berpakaian modis itu.

….

Azalea mondar-mandir tak tenang di taman depan rumahnya, ia menunggu Desya, Erina dan Salisa. Tak lama kemudian mereka sampai.

“Gimana keadaan Filda, dia baik-baik saja kan?” tanya Zela panik.
“Zela membutuhkan darah, Zel,” jawab Erina.
“Astaga, jadi luka Filda parah.” Zela menutup mukanya dengan kedua tangannya syok.
“Iya, Zela, ibu Filda marah, katanya kejadian tadi akan di polisikan,” lanjut Desya panik.
“Tenang saja, kami selalu ada untukmu. Kami akan mencari tahu bahwa kamu tak bersalah.” Salisa memegang kedua pundak Zela.

“Oke, sekarang kita ke RS,” ajak Zela langsung masuk ke mobil Salisa.
“Mau ngapain Zela. Saya ngga mau sampai di sana ibunya Filda akan marah sama kamu dan mendatangkan polisi.” Erina menarik tangan Zela untuk keluar dari mobil.
“Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa.”
“Tapi mau ngapain coba? Kasus ini belum selesai Zela, bukanya kamu dan ayahmu dipanggil ke sekolah?” tanya Desya.

“Iya, nanti saya menyusul ayahku sudah pergi tadi. Tapi tolong antarkan saya dulu ke RS ya, oke.” Zela menangkupkan kedua tangannya memohon.
“Emang ada apa, mau ke sana?” tanya Salisa.
“Oke, kalau begitu saya saja yang nyetir.” Zela langsung keluar dan duduk di kursi kemudi.

….

Sesampainya di RS, Zela langsung langsung mengintai, di sana terlihat seorang ibu berbicara dengan dokter. Lalu dokter itu melangkah pergi. Sekitar beberapa meter, Zela mengejar dokter tersebut.
“Maaf, Dokter yang menangani Filda Angraini?” tanya Zela.

“Iya, ada apa ya?” tanya Dokter.

“Sa-sa-saya, akan mendonorkan darahku untuk dia. Golongan darah saya O,” jawab Zela.
Ke tiga sahabatnya terkejut. “Zela, kamu lagi stres atau memang kamu ngga waras lagi?” tanya Salisa.
“Zela, kamu mau mendonorkan darahmu kepada musuhmu sendiri. Yang benar saja?” Desya ikutan menyalahkan Zela.
“Ini juga salahku, seandainya saya tidak mengajak Filda ke lantai dua, ini semua tak akan terjadi, tolong hargai keputusanku.”

“Tapi Zela, ….” Erina mencoba berbicara tapi Zela langsung menimpali.

“Tolong kalian rahasiakan hal ini, ya, saya mohon.”

Salisa, Desya dan Erina saling berpandangan lalu menaikkan kedua bahu.
“Bagaimana dek, ikhlas daranya mau diambil demi untuk kesembuhan pasien? Dan kepusannya sudah tepat?” tanya Dokter.

Zela mengangguk mantab dan tersenyum sementara ketiga sahabatnya terlihat syok dan frustasi. Zela hatinya benar-benar mulia, walaupun kadang-kadang Filda dan Zela terlibat dalam pertengkaran. Namun ia tetap baik sama siapapun.

Jangan menilai seseorang dari luarnya, tapi nilailah orang dari perbuatannya. Kadang seseorang ternilai buruk dihadapan orang lain, namun belum tentu keburukan akan menjadikan orang tersebut semakin buruk. Keburukan selalu berlawanan arah dengan kebaikan.

Radit menyusuri koridor RS, ia akan kembali di sekolah untuk mengurus kasus yang terjadi. Papsek sudah menelpon bahwasanya ayah Zela sudah ada di sekolah.

Sesorang berlari dari arah berlawanan sehingga bertabrakan dengan Radit.

“Azalea Putri,” ucap Radit, ternyata yang menabraknya adalah Zela.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Radit mengintrogasi.

“Sa-sa-saya, lagi …”

“Lagi apa? Mau mencelakai Filda lagi, iya?”

“Pak sumpah, saya tidak mencelakai Filda. Saya datang ke sini dengan niat baik,” ucap Zela membelah diri.
“Niat apa? Sekarang Filda terbaring kritis dan bahkan dia membutuhkan darah. Ini ulah siapa?”
Filda hanya menunduk, air matanya menetes lagi.

“Sekarang ikut saya.” Radit meraih tangan Zela menuju parkiran.
“Zela, kenapa kamu sama Pak Radit?” tanya Erina pada saat sudah sampai di parkiran.
“Cepat masuk mobil Zela!”

“Astaga, apalagi yang terjadi ini? Kenapa menjadi serumit ini sih?” Salisa bingung mengacak rambutnya.
Mobil melaju sedang menuju sekolah, Zela hanya terdiam melilin ujung bajunya. Dulu dengan gampang bercanda dengan gurunya, tetapi sekarang beda situasinya, ia tak berani lagi melontarkan kata-kata yang berbaur gombalan. Menatapnya saja sudah malu.

Di sekolah, di ruang Kepsek sudah ada Filma dan Lesmana. Di sana mereka menonton cctv kejadian yang menimpa Filda.

“Dalam Vidio ini, dinyatakan Azalea tidak bersalah. Akan tetapi, Filda terjatuh dari tangga karena terpeleset sendiri. Namun, disisi lain Azalea dan Filda hanya,” jelas Kepsek.
“Tetapi di Vidio itu, Azalea menarik tangan anak saya, bahkan dia ditampar juga.” Filma angkat bicara.
“Iya, memang letak kesalahan Azalea memang di situ. Karena Azalea tak bersalah jadi masalah kita selesaikan secara baik-baik,” ucap Kepsek.

“Saya tidak terima karena anak saya kritis di RS.”

“Iya, tapi ini murni bukan salah Azalea yang mendorongnya.” Lesmana ingin membelah.
“Tenang saja, kami dari pihak sekolah akan memberikan hukuman kepada Azalea, yaitu diskorsing satu Minggu.” Kepsek menjatuhkan hukuman skorising untuk Azalea selama satu Minggu.
“Dan saya sebagai wali kelasnya, saya mohon maaf atas kejadian ini sehingga mengakibatkan Filda Angraini masuk RS. Ibu tenang saja, tadi dari pihak RS mengatakan bahwa gologan darah O sudah ada, kemungkinan Filda akan sembuh,” jelas Radit.

“Alhamdulillah,” ucap mereka serentak.

Sedangkan Zela mengusap dadanya lega. Akhirnya masalah yang dialaminya tidak di polisikan.
“Maafkan anak saya Bu Filma, saya sebagai ayahnya memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini.” Lesmana berjabat tangan dengan Filma.
“Iya tidak apa-apa, namanya juga anak-anak pasti ada pertengkaran.” Filma tersenyum. Masalah tersebut diterima dengan baik.

….

Zela berjalan kaki, ia tak mau satu mobil dengan ayahnya. Ia merasa sakit hati karena ayahnya sendiri tidak percaya dengannya.

Tin! Tin! Tin!

Suara klakson mobil begitu memekahkan telinga.

“Hey, Zela kamu bisu atau tuli sih, berhenti dulu!” Suara bariton yang tak asing bagi Zela memang ia sengaja tak mau mendengarnya ia malah melangkah maju lebih cepat.
“Zela! Ah, dasar bocah!”

Pemilik mobil langsung keluar, ia berlari menari tangan Zela.
“Kenapa sih Pak Radit? Mau marahin Zela lagi?” tanya Zela menahan air mata.
“Ya, tidak. Tapi kamu juga salah, ngapain coba bertengkar dengan Filda?”
“Kalau Pak Guru cuma mau memberhentikan saya, hanya sekedar membahas masalah insiden itu, maaf saya ngga ada waktu.”

Zela berlari menyebrangi jalan, namun mobil dari arah belakang melaju dengan kecepatan tinggi.
“Zela!!! Awasss!!” Radit berlari menarik Zela, sehingga mereka terjatuh ke pinggir jalan.

Zela menutup matanya, kemudian dibuka dengan perlahan. Alangkah kagetnya ternyata ia dilapisi oleh tubuh Radit. Gadis yang hampir tertabrak itu, menepuk-nepuk wajah gurunya yang matanya yang sudah terpejam.
“Pak Guru! Pak! Bangun! Bangun!” teriak Zela menangis.

Zela berteriak minta tolong. Panik sudah menghantui perasanya. Apa yang harus ia lakukan, kenapa masalah sering datang menghampirinya?

“Pak Raditia, saya mohon bangun! Saya minta maaf Pak! Zela ngaku salah!” Tangiasnya semakin menjadi.
Zela membelakangi Radit, air matanya semakin deras. Menyesali perbuatanya sendiri. Kenapa tadi, tidak pulang bersama ayahnya saja. Sedangkan di daerah itu sangat sepi hanya motor dan mobil berlula-lalang. Kepada siapa akan minta tolong? Ia bingung sehingga kepalanya dipukul menjadi sasaran empuknya untuk meruntuki kebodohannya.

“Kenapa saya ngga mati saja sih? Saya hanya menyusahkan orang!” teriaknya.
Tiba-tiba tangannya ditarik.

“Emang itu kepala ngga sakit dipukul terus.”
Zela mendonggakan wajahnya. Radit tertawa puas melihat tingkah Zela.
“Ha, Pak Radit ngga koit?” tanya Zela mengusap air matanya.
“Siapa yang mati, emang kamu doakan saya mau cepat mati?”
“Makasih, Pak sudah nolongin saya.”

“Eh, Tapi kan tadi Pak Radit ngga bangun lagi. Saya kira ada sesuatu yang terjadi makanya saya panik.”
“Cuma ngarjain kamu saja.”

“What? Pak Guru dalam situasi begini ektingmu bagus juga. Jantungku hampir copot Pak.”
“Makanya jadi siswi itu jangan bandel,” ucapnya hanya bisa menahan tawa, melihat Zela wajahnya memerah.
“Lain kali hati-hati, jangan diulangi lagi yaa.” Radit mengusap kepala Zela. Gadis manis, itu tersenyum.
“Makasih sudah nolongin Zela.”

Baca selanjutya

Baca sebelumnya

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here