Guru Killer Vs Siswi Bandel #14

0
111
views

Lagu Cinta


Keramaian kota dengan bangunan yang menjulang tinggi menghiasi keindahan malam, lampu-lampu yang bertengger dipinggir jalanan menerangi gelap para pengemudi. Kendaran roda dua maupun empat masih berlalu-lalang ditengah jalan dengan tujuan masing-masing.

Radit akan menuju rumah Azalea untuk mengembalikkan handpone yang dua bulan kemarin ia sita. Satu minggu siswi bandel itu tak masuk sekolah membuat guru tampan itu kepikiran. Kenapa dia tidak masuk sekolah? Apa jangan-jangan karena masalah dia dibentak?.

Gombalan maut yang dilontarkan sang gadis comel itu, kadang membuat Radit merinding. Bagaimana tidak kalimat-kalimat yang tersusun rapi dan puitis itu diambil dari mana?.

“Taman artinya tampan manja. Pak Guru itu sangat memukau dan bersinar di mataku. Mempesona dikalangan bucin.”

Tiba-tiba kalimat itu teringat di kepala Radit. Sebuah kalimat yang diucapkan Zela beberapa saat lalu, di waktu terakhir les privat dan berjumpa.

“Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumssalam, eh, ada Pak Radit. Silahkan masuk Pak.” Diana yang membuka pintu langsung mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk ke dalam rumah.

Diana dan Lesmana menyambut Radit dengan ramah.

“Oh, ya, maaf Pak, Bu saya bisa ketemu dengan Azalea, soalnya sudah satu Minggu sudah tidak hadir di sekolah,” ucap Radit.

“Itu dia masalahnya Nak Radit, akhir-akhir ini Zela murung di kamar. Entah dia kenapa. Kami jadi bingung dengannya sekarang, biasanya kan dia selalu ceria bersama teman-tamannya.” Curhat Lesmana lirih.

Radit berpikir, marahnya Zela karena insidet waktu les privat beberapa hari yang lalu.

“Apa ada masalah dengan Nak Radit, mungkin pada saat les privat di rumah?” tanya Lesmana.

“Iya, kemarin ada sedikit masalah. Mungkin Zela tidak mau ikut les privat lagi dan juga merasa dikekang atau tidak merasa bebas lagi,” jawab Radit.

“Entah sampai kapan anak itu akan menjadi anak bandel, saya jadi bingung.”

“Untuk sekarang Zela melakukan apa yang dia inginkan, jika ditekan terus dia akan semakin menjadi. Dan les privatnya di berhentikan dulu.”

“Menurutku sih, iya, Zela jika ditekan terus mungkin akan semakin tambah bendel. Ya, sudah Pak Radit ngga apa-apa, kami mohon maaf atas kesalahan Zela selama ini.” Diana bersuara mengemukakan pendapatnya.

“Iya tidak apa-apa. Lagian juga selama dia belajar tidak ada perubahan. Jika Azalea sudah siap untuk belajar atau les privat, nanti dia datang ke rumah saja,” ucap Radit.

“Baiklah, ya, sudah saya panggilkan Zela dulu ya,” ucap Lesmana berdiri menuju lantai dua.

Azalea berbaring sambil memeluk boneka hadiah terakhir pemberian dari mediang ibunya.

“Zela, ada gurumu yang mau ketemu,” ucap ayah Zela.

“Siapa?” tanya Zela sembari menghapus air matanya.

“Pak Radit.”

“Maaf Yah, bilang sama dia saya tidak mau bertemu siapapun!” tegas Zela menatap ayahnya sendu.

“Kamu kenapa sih nak? Dia menunggu.”

“Biarkan saja, saya tidak mau ketemu dengannya. Please, Yah saya pengen sendiri.”

Gadis dengan balutan piyama Dora Emon itu, berlalu meninggalkan ayahnya menuju toilet. Tanpa basa-basi lagi Lesmana menuju ruang utama. Bingung dengan sikap anaknya, biasanya pasti akan bercanda ria bersama, namun kali ini anak itu berubah total.

“Maaf Nak Radit, Zela ngga mau keluar,” ucap Lesmana.

“Dia kenapa? Sakit?” tanya Radit bingung.

“Entah, dia seharian ngrung diri dalam kamar, semenjak teman-temanya pulang.”

“Ini hp miliknya, kemarin dia les privat saya sita, agar dia fokus belajar. Dan sampaikan permohonan maafku padanya,” ucap Radit merasa tidak enak.

Geng bebas, berkumpul di kamar Zela. Di sana mereka menghiburnya dengan berbagai cara namun nihil Zela tetap murung tanpa senyum.

“Zela, kamu kenapa sih? Sudah satu Minggu ngga ke sekolah kita itu kangen bahkan bingung denganmu. Saya pengen seperti dulu lagi kita sering bersama melakukan hal-hal yang konyol.” Erina memeluk Zela.

“Iya, Zel ruangan kita sekarang kacau. Fildatoge sudah mengambil alih ketua kelas,” timbal Desya yang lagi baringan di kasur.

“Hah, kok bisa? Ini tidak bisa dibiarkan, ketua kelas tetap saya, tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.” Zela mengepalkan tangannya dan giginya dirapatkan kuat bertanda ia tak Sudi jika gadis sok cerdas itu menggantikan posisinya.

“Bahkan geng beauty sudah berani membentak kami. Kemari saya, Desya dan Erina dihukum Pak Radit membersihkan toilet. Kamu tahu gara-gara apa? Semua itu ulah Filda dan teman-teman gengnya.” Salisa curhat.

“Apa? Pak Radit benar-benar!” Zela tambah emosi.

“Yang paling membuat hatiku sakit ketika Pak Radit tak mau mendengarkan penjelasan kami, bahwa Erina tak merobek buku Filda, tapi si kampret itu yang robek bukunya sendiri. Tetapi ketika Pak Radit masuk ke ruangan buku milik Filda ada di tangan Erina. Dan di situlah terjadi kesalah pahaman. Kami dituduh.”

Salisa mencoba menjelaskan apa yang terjadi ketika Azalea tidak masuk ke sekolah. Ternyata banyak peristiwa yang terjadi. Azalea benar-benar emosi mendengarkan sahabat-sahabatnya mengeluh.

“Di kelas sekarang banyak perubahan. Pak Radit sudah menjadi wali kelas kita,” lanjut Desya.

“What? Oh, no!” Zela menutup bibirnya dengan tangan kanannya.

“Makanya Geng Beauty sekarang yang terdepan,” ucap Salisa.

“Ya, maklumlah mereka kan siswi-siswi terpintar, bahkan mereka akan mengikuti lomba mewakili sekolah ditingkat provinsi,” sambung Desya.

“Tapi bukan itu masalahnya, kenapa Pak Radit tidak negosiasi terlebih dahulu sama saya untuk menggantikan posisi ketua kelas. Kan ngga etis gays.”

“Makanya besok harus ke sekolah Zela, kita basmi mereka. Geng bebas harus semangat, semangat!” seru Erina dengan semangat.

“Tenang saja kita akan basmi virus-virus Corona atau Covid-19 yang sudah merajalela itu.” Azalea tak kalah semangatnya. Ia akan memberikan sesuatu kepada Filda yang sudah berani menantangnya.

Pagi-pagi Zela sudah bersiap menuju sekolah. Ia sudah mempersiapkan kekuatannya untuk berperang dengan virus Corona yang sudah membuat hatinya bergemuruh selama ini.

Sesampainya di sekolah, Zela langsung berlari menuju kelas. Tanpa aba-aba, ia langsung datang ke meja Filda yang lagi serius belajar. Zela berdiri dihadapan Filda tanpa sepengetahuannya. Pena yang dipegang ketua geng beauty langsung ditarik oleh ketua dari geng bebas dengan kasar.

“Apaan ini, datang-datang langsung marah-marah!” ucap Filda kaget.

“Kenapa kamu menggantikan saya sebagai ketua kelas. Apa maksudnya? Mau jadi jagoan?!” teriak Zela marah.

“Oh, ya, jadi itu permasalahanya? Sudah sepantasnya memang Azaleleh. Kamu jangan macam-macam di ruangan kelas 11 IPS 1 sekarang ketua kelas adalah saya. Berani melawan hukuman akan menantimu.” Filda tersenyum sinis.

“Kurang asupan gizi memang, saya tidak terimah!”

Pertengkaran sudah terulang kembali, yang sudah sekian lama tidak ada keributan. Ruangan kini menjadi riuh dan heboh. Rambut menjadi sasaran empuk mereka untuk saling memukul.

Teriakan penghuni ruangan menjadi saksi pertengkaran ke dua siswi itu, diantara mereka tak ada yang mau mengalah. Amukan Zela lebih ganas dari sebelumnya.

“Stop! Stop! Stop!” teriak sang guru merelai.

“Ada apa ini? Kenapa ada pertengkaran?” tanya Radit yang menahan Zela yang masih ingin menarik rambut lawannya.

Cucuran keringat membasahi muka mereka. Filda menghela nafas dan meminum air mineral yang diberikan oleh Farisa.

“Berawal dari dia Pak, dia datang langsung menari pena di tanganku …” Filda bercerita tentang kejadian yang dialaminya.

“Saya tidak terimah, jika Filda yang menjadi ketua kelas!” teriak Zela.

“Saya yang mengangkat Filda Angraini sebagai ketua kelas. Kamu sudah satu Minggu tidak hadir di sekolah, ini yang dinamakan ketua kelas?” tanya Radit.

“Seharusnya Pak Guru, bicara dulu sama saya, untuk menggantikan posisi saya.”

“Kamu mau jadi ketua kelas, mau jadi pemimpin. Sifatmu saja tidak sesuai, bagaimana mau jadi pemimpin?”

“Oh, karena Filda siswi tauladan dan saya adalah siswi bandel? Saya mengerti sekarang Pak Radit lebih memilih Filda yang jenius itu menjadi ketua kelas. Oke no problem, l don’t care.”

Radit hanya terdiam.

“Oke, Filda sekarang kamu menang. Nikmatilah hidupmu menjadi ketua kelas.”

Azalea langsung berlari keluar.

“Zela!” teriak sahabat-sahabatnya.

Radit berlari mengejar Zela.

“Azalea Putri tunggu!” teriak Radit.

Zela semakin mempercepat langkahnya, air mata berjatuhan menghiasi pipi mulusnya.

“Zela, tunggu saya mau bicara.” Radit menghalangi langkah Zela.

“Apa mau membela Filda yang pintar itu. Maaf, Pak tidak ada waktu.” Zela berusaha pergi, namun tangannya ditahan.

“Saya ingin bicara,” ucap Radit menghela nafas lalu dihembuskan.

“Saya minta maaf kejadian Minggu kemarin.”

“Hum, meminta maaf karna Pak Guru sudah tidak menghiraukan saya, malah asik belajar dengan Filda. Sementara saya jadi obat nyamuk diantara kalian.”

“Maaf, saya permisi,” lanjut Zela melangkah pergi.

“Dengarkan dulu Azalea Putri.”

“Apa yang mau perlu didengar. Pak Radit jelas-jelas lebih memilih Filda dibanding saya. Lebih baik saya mundur alon-alon daripada saya menggangu les privat Filda. Dia kan mau ikut olimpiade.”

“Saya sudah berusaha menjadikan kamu untuk bisa memahami pelajaran dengan baik, tapi apa yang kamu perbuat malah tidak serius.”

“Iya, selama ini saya mengaku salah. Dan saya mohon maaf selama ini saya sudah membaut Pak Radit tak nyaman. Tetapi ada satu hal untuk Pak Radit saya sangat kecewa denganmu.”

Azalea frustasi dengan kejadin di kelas menimpanya tadi. Tak menyangka guru yang selama digombalinya lebih memilih Filda untuk menjadi ketua kelas. Rasanya sakit, entak seperti apa sekarang keadaan hatinya. Tidak bisa dikondisikan dengan normal. Semenjak marahan dengan Radit, merasa hatinya diubek-ubek istilahnya tidak nyaman.

Seperti biasa gadis yang tak perna mengaggap cinta itu ada, memainkan gitar untuk menghibur hatinya yang sedang Gegana.

Lagu Cinta – Mira Purti

Ho … ho … ho

Kuyanyikan lagu cinta
Tentang yang selalu membuatku bahagia
Dan seharusnya kau tahu
Ku sangat menganggumimu
Cintaku hanya satu
Ku tuju untuk dirimu.

Ku ingin kau tahu tak mau jauh
Gemuru hatiku memnaggil namamu
Segarkan suara hatiku
Ingin berbicara dengan hatimu.

Ku tetap akan menunggu
Sampai kau kan katakan cinta
Dua hati akan menyatu
Jangan perna ada dusta

Ku tak akan menyerah
Tak akan kulepaskan dirimu
Karna bahasa tubuhku
Ingin memilikimu selamanya.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here