Guru Killer Vs Siswi Bandel #12

0
76
views

Gombalan Maut


Ada yang kangen sama Zela dan Pak Radit? Pasti sudah pada lupa …

***

Hari ke dua mengikuti les privat Azalea sudah merasa terkekang. Ia merasa tidak bebas lagi untuk kemana-mana. Agenda yang sudah direncanakan bersama gengnya dari jauh-jauh hari semuanya batal. Gadis dengan notabennya sangat bandel tersebut tidak kehabisan akal untuk menjahili atau sekedar mengombal gurunya sendiri.

Seperti biasa guru dan siswi itu belajar di taman minimalis di depan rumah Radit.

Radit menjelaskan soal di papan dengan serius, namun tanggapan Zela hanya bergurau.

“Azalea gimana sudah dipahami kan?” tanya Radit usai menjelaskan.

“Ngga,” jawabnya.

“Lah, jadi dari tadi saya berkoar-koar dari a sampai z kamu tak paham?” tanya Radit menatap Zela tak percaya.

“Ho’oh, cuma yang saya pahami, Pak Radit jika menjelaskan seperti itu menambah kesan yang aduhay.” Zela mulai berbicara ngaur.

“Maksudnya? Kamu jangan ngelantur Azalea yang serius!”

“Maksudnya Pak guru taman.”

Pria berpakaian kaos oblong itu mengerutkan dahinya bingung. Siswi yang tak ada akhlak ada-ada saja tingkah lakunya, kemarin ia habis menggombal. Lah, sekarang apalagi yang akan diperbuat.

“Taman apaan? Memang kita lagi di taman Zela?”

“Ia Pak Guru itu taman artinya tampan manja membuat hatiku meleleh bagaikan taman yang ditumbuhi bunga-bunga berbagai jenis yang berwarna-warni.”

Azalea berdiri mengambil bunga mawar merah yang tak jauh dari tempat ia duduk.

“Pak Radit, coba tebak ini apa?” tanya Zela sambil menunjuk bunga yang ia genggam.

Radit hanya bisa menghela nafas lalu dihembuskan dengan kasar. Emosi sudah mengusai kepala ingin meledak.

“Sabar … sabar Radit, jangan emosi. Biarkan dia bertingkah,” ucap Radit dalam hati.

“Itu bunga mawar,” jawab Radit malas.

“Bunga mawar merah. Bunganya indah dipadang dengan netra, namun batangnya berduri. Siapapun yang ingin menyentuhnya pasti akan tertusuk dengan durinya,” ucap Zela tersenyum sedangkan Radit ingin muntah dengan penuturannya.

“Sudah selesai berbicara?” tanya Radit memutar bola mata malas.

“Belum, saya ada sesuatu untuk Pak Radit. Pak guru mau dengar?” tanya Zela sembari menopang dagunya di depan Radit.

“Emang apaan, sekarang kita lanjut belajar lagi, oke.”

“Ah, Pak Guru nggak asyik.”

“Ya sudah, apaan? Tapi janji habis ini serius belajar,” ucap Radit disertai anggukan Zela.

“Pak guru tahu ngga bedanya papan tulis denganmu?”

“Azalea jangan gombal deh. Saya sudah pusing dengarin gombal recehmu yang membuatku ingin muntah.”

Radit berdiri namun tangan Zela dengan gesit menahannya. Seketika Zela memasang muka masam.

“Ya, emang apa bedanya Zela! Silahkan berbicara semaumu. Dasar bocah! Tahunya hanya gombal, jika pelajaran otaknya nol angka besar kayak kepalamu.” Radit sudah mulai emosional.

“Aduh, kalau Pak Guru marah seperti ini tambah gemasin deh. Tampan manjanya makin bersinar.”

Gombalan demi gombal Zela dilontarkan membuat Radit ingin menampar mulut muridnya. Namun itu tak mungkin untuk dilakukan. Ia hanya bisa bersabar semoga ada keajaiban agar bocah itu sadar bahwa apa yang ia lakukan tersebut adalah bukan perilaku yang baik.

“Bedanya papan tulis dengan Pak Guru adalah jika papan merupakan tempat menulis berbagai mata pelajaran tetapi perbedaanya dengan Pak Guru adalah namamu tak perlu untuk ditulis di papan tetapi nama indahmu selalu tertulis dan terukir didalam hati yang terdalam.”

Refleks Radit membuang spidol ke arah Zela. “Adoh, Pak Radit kenapa di leparin pake spidol? Kan sakit?”

Zela mengusap jidatnya yang terkena spidol.

“Makan tu gombal.” Radit berlalu pergi tanpa mendengar ocehan Zela yang kesakitan mengusap jidatnya sendiri.

Gombalan maut yang dilontarkan Zela membuat Radit ingin pingsan. Kakinya lemas ingin luruh ke tanah. Namun, dengan sekuat tenaga ia tahan. Kenapa setiap bertemu dengan makhluk bocah yang bernama Azalea hidupnya penuh dengan drama?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here