Guru Killer Vs Siswi Bandel #11

0
72
views

Hujan


Linda meraih tangan gadis yang dikatakan imut itu, lalu duduk di sofa. Senyum ibu Radit merekah sembari mengusap puncak kepala Zela.

“Namamu siapa nak?” tanya Linda lembut.

“Umm, Azalea Putri Lesmana biasa disapa Zela,” jawab Zela menunduk.

Refleks Linda langsung menempelkan tangan kanannya keujung bibirnya. Ternyata gadis dihadapannya itu adalah anaknya sahabatnya sendiri yaitu Azena yang sudah tiada.

“MasyaAllah, Zela kamu sudah dewasa, nak.” Linda meraba wajah Zela dengan linangan air mata.

Zela menikmati belaian dari ibu Radit. Sudah sekian lama ia tak merasakan senyaman itu. Bulir air matanya mengalir dari kelopak mata. Pelukan erat menjadi penguat bahwa di dunia ini masih ada yang memeluknya dengan ikhlas bahkan hatinya terasa nyaman berada didekat ibu cantik tersebut.

“Semenjak ibumu tiada. Saya tidak perna bertemu denganmu lagi. Terakhir kita ketemu kamu masih SMP. Dan hari ini kita sudah dipertemukan kembali. Kamu cantik sekali persis seperti ibumu.” Linda memeluk erat anak dari sahabatnya yang pada dasarnya sudah lama tak berjumpa.

Linda bercerita tentang persahabatannya dengan ibunya. Mereka bersahabat semenjak sekolah menengah ke atas. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Keduanya berpisah karena Zena mendapatkan beasiswa di Jepang sedangkan Linda lebih memilih kuliah di Jakarta.

Dulu Zena adalah wanita cerdas dengan intelektual yang tinggi. Sehingga ia mendapatkan jalur beasiswa di universitas Jepang. Ia sangat pandai merangkai kata-kata kias bahkan puisi.

Dan pertemuan terakhir Linda dan Zena, ternyata mereka sudah menikah. Zena dulu masih mengandung umur enam bulan, sedangkan Linda sudah memiliki anak laki-laki berumur tiga tahun.

Radit turun dari lantai atas, melihat pemandangan kedua wanita di sofa sambil berpelukan membuatnya heran.

“Lah, ada drama apaan ni, Mi. Kok kalian pada mewek gitu?” tanya Radit duduk di sofa berhadapan dengan maminya.

“Radit, tolong jaga Zela dengan baik. Jaga perasaanya, jangan pernah kamu sakiti dia. Ingat! Kalau kamu berani melukainya. Awas, Mami akan gerek lehermu,” ucap Linda, kedua tangan menyilang di lehernya.

Radit menyeritkan dahinya bingung. Kenapa tiba-tiba sang ibunda langsung berkata seperti itu? Pasti sudah dihasut oleh Zela atau dia bercerita yang tidak-tidak tentangnya dihadapan ibunya sendiri.

“Lah, kok, Mami bilang gitu? Hum saya paham pasti setannya Azalea sudah merasuki Mami,” ucap Radit menatap siswinya sinis.

Linda langsung memukul paha anaknya. “Jaga ucapanmu Dit! Mami hanya berpesan untuk menjaga Zela.”

“Assalamualaikum.” Suara terdengar dari arah pintu.

“Wa’alaikumssalam,” jawab penghuni rumah.

Azalea membulatkan mata melihat siapa yang mengucapkan salam.

“Ayah, sudah pulang?” tanya Radit mencium punggung tangan ayahnya.

“Eh, ada Azalea Putri? Apa kabar nak. Pasti kamu lagi belajar ya, sama Radit,” ucap laki-laki paru baya yang baru pulang dari luar kota.

‘Oh, no, ternyata bapak kepala sekolah adalah ayahnya Pak Radit,’ batin Zela dengan heran.

Zela tersenyum. “Iya Pak.”

“Iya, Yah, ternyata Zela sudah tumbuh menjadi gadis cantik,” timpal Linda.

“Oh, ya, kita makan dulu yuk,” ajak Linda meraih tangan Zela. Sepertinya Linda dan Zela akan akrab.

Mengendarai mobil di jalan keramaian kota dengan sepi, tanpa ada suara. Biasanya gadis di samping pengemudi pasti akan heboh sendiri, namun kali ini berbeda. Ia hanya terdiam matanya menatap ke jendela mobil, melihat pemandangan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya.

Radit akan mengantar Zela pulang ke rumahnya. Kata-kata Maminya masih terngiang di telinga ‘ia harus menjaga Zela dan jangan pernah penyakitinya’ maksud kalimat itu apa? Ah, membingungkan memang.

“Kenapa tadi kamu nangis bombay di depan mamiku? Lagi CCP gitu?” tanya Radit.

“Hah? CCP hello, jangan asal nuduh ya, Pak. Itu asli saya lagi nangis,” ucap Zela melotot.

Mobil tiba-tiba berhenti membuat Zela terjedot.

“Ya ampiun Pak, lagi-lagi mobilnya dihentikan mendadak. Mau bunuh Zela!” teriak Zela.

Radit langsung keluar memeriksa mobilnya. Setelah dilihat ternyata banknya kempes. Apes banget. Mana awan lagi mendung. Pasti akan turun hujan.

“Kenapa mobilnya Pak?” tanya Zela.

“Kempes,” jawabnya.

“What? Jadi?”

“Kamu jalan kaki saja.”

“Astaga Pak Guru Somlac! Jalan kaki, jahat banget. Ini sudah mau turun hujan Pak.”

Awan mendung bertanda akan turun hujan. Langit yang biru berubah menjadi meredup kehitaman. Ribuan titik-titik air berjatuhan membasahi tanah.

Radit berlari berlari mencari perlindungan, tetapi Zela malah keasikan berdiri di pinggir jalan dengan merentangkan tangannya. Menikmati air hujan adalah hal yang sangat menyenangkan baginya.

“Astaga Zela!”

Radit berlari kembali lalu membuka jaketnya. Jaket tersebut dipasangkan di badan Zela yang sudah basah kuyup. Manik mata sipit Zela melirik Radit dengan heran. Tak sadar senyumnya merekah.

“Pak Radit, makasih,” ucapnya dengan pelan.

“Ayo kita berteduh dulu, nanti kamu sakit.” Radit menarik tangan Zela lalu berlari menuju sebuah tokoh untuk berteduh.

“Pak Radit sepertinya kedinginan, nanti demam. Jaketnya saya kembalikan.” Azalea memasangkan jaket warna hitam tersebut ke Radit.

Radit hanya terdiam melihat tingkah siswinya. Sebenarnya gadis ini baik tetapi kenapa harus bandel di sekolah dan susah untuk diajak belajar.

“Wahai hujan airmu dingin menyentuh qalbu, suasana sejuta air yang mengalir dari peraduan langit yang begitu tinggi membawa kedamaian yang penuh dengan keindahan.

Hujan aku ingin mengatakan sesuatu, seandainya aku bisa menggapai sebuah mimpiku dengan harapan yang tinggi seperti di atas langit sana. Airnya turun membasahi tanah yang gersang, tumbuhan yang mati, akan hidup kembali. Apakah aku bisa.”

Radit menyimak kata-kata Zela dengan seksama. Ternyata bocah tersebut pintar dalam merangkai kata-kata. Tak menyadari senyumnya terukir indah.

“Pak Guru kenapa senyam-senyum gitu, ada yang lucu?” tanya Zela mengibaskan tangan kanannya ke wajah Radit.

Radit langsung gelagapan memperbaiki posisi berdirinya. “Nggak saya lagi kedinginan.”

“Tahu ngga bedanya hujan dengan Pak Radit?”

“Tidak,” jawabnya.

“Mau tahu nggak bedanya apa?” tanya Zela.

“Ngga perlu.”

“Ihh, Pak Radit, jangan jutek-juteklah nanti nggak ada yang suka sama Pak Guru. Emang mau jomblo abadi.”

“Apaan sih, tidak penting juga. Hujan sudah mau redah, ayo pulang!”

“Tunggu dulu. Pak Radit harus tahu dulu.perbedaannya, okey.”

“Hum, iya apa?” tanya Radit.

“Penasaran yaaa.” Zela terkekeh menahan tawa.

“Zela! Jangan bercanda!”

“Oke … oke, saya jawab. Dengar yaa. Perbedaanya adalah jika hujan airnya jatuh ke bumi, kalau untuk Pak Guru jatuhnya ngga kemana-mana tetapi jatuhnya ke hati Zela.” Zela mengedipkan mata ke arah Radit.

“Zela apa-apaan! Jangan gombal!!” teriak Radit mencubit telinga siswanya. Ada ya, siswa gombalin gurunya?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here