Guru Killer Vs Siswi Bandel #08

0
171
views

Sekitar pukul 8:30 malam, Azalea baru pulang. Jangan ditanya ia dari mana saja? Ia selalu nongkrong bersama sahabat-sahabatnya, hanya sekedar shopping, jalan-jalan ke puncak atau liburan kemana saja mereka jelajahi. Azalea selalu berkata hidup jangan dibuat susah, yang penting happy. Happy melupakan sejenak kerisauan hati yang dilanda gelisa, galau dan merana.

Anak yang terkesan bandel itu, tidak suka berurusan dengan yang namanya cinta. Cinta itu indah, tapi tidak seindah dalam bayangan. Kata orang, cinta itu adalah cerita cinta namun tiada akhir. Ah, kadang Zela bergidik ngeri, jika melihat anak muda yang sedang kasmaran, marahan sama pacarnya lalu putus. Hum, pasti ujung-ujungnya sakitnya tu di sini, didalam hati, sampai ke sarang lebah, eh.

Jadi, menurutnya cinta itu terlalu menghantui, kenapa demikian, jika kita jatuh cinta namun akhirnya berpisah, itu sama saja bermain-main dengan perasaan. Ditinggal sudah sayang-sayangnya itu perih. Duh, sakitnya tuh, entah Zela belum merasakan yang namanya sakit hati atau dikhianati. Kata kebanyakan orang Lebih baik dicintai daripada mencintai. Benar ngga sih? Butuh jawaban.

Dengan pelan membuka daun pintu, karena Azalea was-was jika ibu sambungnya akan menyambut lalu akan terjadi lagi drama yang membosankan.

Pintu terbuka sempurna, di ruang utama ada sosok yang tak asing lagi bersama Diana dan ayahnya lagi tersenyum ke arahnya.

“Pak Raditya,” gumamnya pelan.

Pikirannya menari-nari, lagi ngapain guru itu ke rumahnya? Mengadu semua kelakuannya di sekolah? Sudah pasti. Seketika Zela mendadak pusing. Gadis bermata sipit itu, membalikkan badannya ingin ke luar. Kabur …

“Zela, mau kemana lagi sayang, sini!” teriak Arman.

Diana berdiri menghampiri anak tirinya. “Yuk, kita duduk di sofa. Ada gurumu.”

Namun Zela menatapnya dengan sinis, lalu pergi mencium tangan ayahnya dengan takzim.

“Eh, gurunya lagi dong tangannya dicium. Dia kan gurumu di sekolah, patut dihormati.”

Seketika matanya melotot sempurna, setelah mendengar ucapan dari ayahnya. Mencium tangan Radit, ngga salah dengar?

‘What, dhbelt what whit, oh em jhit, mencium tangan Pak Radit? Oh, no, saraf kali saya mau cium tu tangannya. Biarkan dia juga guruku tapi dia ngesalin, nyebelin, ah, semuanya ada deh sama dia,’ batin Zela meratap merontah-rontah ingin menangis.

“Zela kenapa cuma bengong saja, ayo!” Zela menggelengkan kepala. Menatap ayahnya dengan muka masam.

“Ngga boleh kayak gitu, walaupun kamu bandel di sekolah, tapi setidaknya hormatilah gurumu dengan sopan,” bisik Arman pelan.

Azalea auto garuk-garuk kepala yang tak gatal. Ah, lebih tepatnya salah tingkah.

‘Zela kuatkan hatimu, jangan salting, oke. Semangat cuma nyium tangannya saja kok bukan nyium pipinya. Eh, ups,’ batin Zela sembari menutup bibirnya.

Dengan pelan Zela mengulurkan tangan, matanya ikut dipejamkan. Mencium tangan guru mudah, memang rada-rada salto ingin guling-guling di aspal. Duh, jangan sampai deh.

Sementara Radit, dadanya berdetak kencang dari biasanya. Rasanya seperti dibakar api, namun tanpa asap. Ah, sangat menyebalkan jika bertemu dengan siswa satu ini.

Azalea menggenggam tangan Radit, namun apa yang terasa. Sial, tangannya dipegang erat sekali. Namun, Radit tak mau mengalah, tangan mungil Zela dipegang erat kembali sampai memerah.

“Buset!” teriak Zela menarik tangannya dari genggaman Radit. Belum sempat tangan putih mulus itu ke hidung Zela. Ya, kenapa langsung di tarik tanganya, kan kasian Pak Gurunya?

“Zela, kamu kenapa? Ngga baik seperti itu,” ucap Arman menatap Zela heran.

“Ngga Yah, cuman digigit semut,” ucapnya hanya bisa nyengir kuda.

Gadis itu memang terlihat bahagia jika berada di samping ayahnya. Tetapi, tidak bersama Diana ia selalu dibentak kadang-kadang berdebat. Ia selalu patuh kepada ayahnya. Karena hanya ayahnyalah satu-satunya yang ia miliki sekarang. Kebahagiaan ayah, berati pelipur lara baginya.

“Oh, maafin Zela ya, memang gitu anaknya. Kami juga sudah berusaha untuk membuat dia menjadi anak yang baik, tidak berbuat rusuh di sekolah. Ya, tapi mau bagiamana lagi, dia susah diatur,” ucap Arman dengan suara parau.

“Semenjak ibunya meninggal, mendadak sifatnya berubah. Sebenarnya Zela adalah anak baik bahkan patuh, tetapi semuanya berubah,” lanjutnya lagi.

Radit tersenyum. “Tenang saja, beriring berjalanya waktu pasti dia berubah, saya yakin,” ucap Radit meyakinkan, sembari menatap Zela. Zela hanya memonyongkan bibirnya beberapa senti.

‘Hum, coba aja kalau bisa. Malah saya yang akan merubahmu, tapi berubah jadi apa ya, hum berubah jadi monyet aja deh, pasti seru.’ Lagi-lagi Zela hanya berbicara dalam hati.

“Terimakasih, banyak nak Radit, buatlah Zela menjadi anak yang baik seperti dulu lagi. Saya yakin pasti nak Radit bisa.” Arman tersenyum mengusap kepala Zela.

“Iya, jika pak guru mau, kami akan membayar untuk menjadi guru les privat Zela. Di keranakan nilai Zela itu selalu anjlok semua.” Diana angkat bicara.

“Apa masuknya ngomong gitu, ngajak perang ya, mba,” ucap Zela ngegas.

“Zela, diam!” Arman mencubit telinganya.

“Nah, kalau masalah itu, saya sudah pikirkan Bu, Pak. Saya akan mengajak Zela belajar di rumah sepulang dari sekolah. Saya tidak meminta imbalan apapun,” ucap Radit santun.

“Wah, hati pak guru mulia sekali,” puji Diana tersenyum.

“Ah, membosankan, ngga asik!” Zela berdiri, tetapi ayahnya langsung memegang tangannya dan menyuruhnya duduk kembali.

“Ihh, ngapain coba, pake acara les privat. Pokoknya Zela ngga mau, titik tidak pake koma!” teriak Zela frustasi.

Sekitar satu jam, Radit dan keluarga Zela bercengkrama. Radit pamit untuk pulang.

Zela dengan sengaja mengikuti Radit dari belakang, setelah keluar dari rumahnya.

“Eh, somlanc, tunggu!” Zela menahan tangan Radit.

Somlac?

Radit menyeritkan dahi, kenapa harus dipanggil dengan kata itu. Tidak sopan bangat. Emang siswa yang tidak punya akhlak. Urat malupu putus.

“Kenapa? Kenapa kamu memanggilku dengan kata somlac?”

“Emang pantas dipanggil begitu. Seenak dengkulmu datang ke rumahku hanya sekedar mengadu lalu lihat apa yang terjadi sekarang. Pak Radit alias somlac ini akan menjadi les privat pribadi. Hello beribu-ribu hello, maaf saja saya tidak mau,” ucap Zela dengan gaya ala-alanya.

Zela selain bandel, ia juga sangat bawel dan cerewet dalam berbicara. Pedas mengalahkan pon cabe. Harus hati-hati.

“Hello beribu-ribu maaf, saya mau pulang. Somlat, minggir,” ucap Radit menirukan gayanya.

“What? Hey, somlac itu kamu! Bukan saya.”

“Emang arti kata itu apa sih?” tanya Radit.

“Eh, kepo. Mau tahu banget atau mau tahu aja.”

“Ngga usah saya mau pulang. Siap-siap besok lesnya dimulai. Bay.”

“Ihh, menjengkelkan memang. Diantara kita hanya sebatas guru di sekolah, tidak ada guru yang lain oke,” ucap Zela melotot.

“Emang kenapa? Kalau iri bilang bos.”
Radit langsung masuk dalam mobil, lalu meninggalkan pekarangan rumah Zela.

“Siapa yang iri, somlac!”

Zela hanya mengepalkan tangannya dengan kuat. Emosi sudah memenuhi kepala, ingin meledak. Gegara guru yang disebut somlac tersebut. Dunianya seakan runtuh.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here