Guru Killer Vs Siswi Bandel #05

0
144
views

Bolos Sekolah


Azalea sungguh malu dengan rencananya sendiri. Ternyata senjata makan tuan, itu mungkin kata yang cocok untuk gadis imut berlesung pipi itu, terciduk dengan guru sendiri dengan alasan pura-pura pingsan agar tidak mengikuti mata pelajaran. Itu sungguh luar biasa bukan?

Radit mengembangkan senyumnya sembari menggelengkan kepala. Tak disangka jika siswi di depannya itu ternyata bersandiwara dengan berpura-pura pingsan. Wow, wonderful.

“Berpura-pura pingsan agar tidak mengikuti pelajaran adalah sifat yang tidak terpuji,” ucap Radit menatap siswi yang wajahnya masih ditutup dengan selimut kecil.

“Saya, tahu kamu adalah siswa bandel di sekolah ini. Tapi ingat jangan berani bandel dengan saya.”

Radit berjalan menuju Zela, lalu menarik selimut itu. Kini wajahnya memerah bak kepiting rebus. Menanggung malu bukan berati kalah. Ia harus mampu berbicara walaupun menanggung malu. Toh, cuma Pak Radit yang melihat bahwa ia hanya berpura-pura pingsan. Imeg, harus dijaga jangan sampai malu dihadapan guru sendiri, reputasi siswi bandel harus terdepan.

“Sekarang, kamu masuk di kelas!” perintahnya namun gadis itu menggeleng.

“Kenapa?”

“Malas mengikut pelajaran Pak guru, membosankan, membuatku boring, ngantuk,” jawabnya santai.
Radit mengerutkan dahinya, siswi ini harus diberi pencerahan apa lagi supaya kapok. Dinasehati tidak mendengarkan, lalu dengan cara apa?

“Ada masalah apa sehingga kamu, bandel seperti ini? Apakah orang tuamu di rumah tidak mengajarimu sopan santun agar kamu menghargai orang dewasa?”

Manik mata Zela melirik Radit. Kata tersebut memang benar. Ia hanya terdiam tak menjawab pertanyaannya. Wajah siswi itu, seperti menahan amarah.

“Jangan perna tanyakan hal itu, Pak,” ucapnya dingin.

“Oke, oke, kalau begitu masuk ke ruangan!” perintahnya lagi.

Dengan berat hati, Zela mengikuti perintah guru matematika tersebut. Tetapi tatapan Zela tajam, menunjukkan bahwa ia benci dengan Pak Radit. Kenapa? Karena semenjak ada beliau kebahagiaan di sekolah, mulai terusik.

Istirahat, siswa-siswi ada yang berbondong-bonong menuju kantin ada juga pergi ke perpustakaan sekedar membaca atau meminjam buku.

Geng bebas nongkrong di taman, sembari meledek ketua gengnya.

“What? Kenapa kamu harus pura-pura pingsan segala, Zel? tanya Salisa antusias.

“Malas ikut mata pelajaran guru nyebelin itu,” jawabnya dengan cemberut.

“Hum, itu kena batunya. Pingsan kok ngga ngajak-ngajak. Coba pingsan rame-rame pasti tak ketahuan deh,” timpal Erina rada-rada koplak. Gadis dengan mata sipit itu memang rada-rada konyol dan bawal diantara mereka.

“Mana bisa kita pingsan rame-rame, apalagi saya orangnya ngga bisa bohong,” ucap Desya mencubit pipi chubby Erina.

“Eh, meningan kita bolos saja yuk, boring ni di sekolah.”

Zela mengajak teman-teman satu gengnya bolos. Ah, Zela ide konyolnya muncul lagi. Bosan di sekolah memang jalan satu-satunya adalah bolos. Dan kebiasaan mereka nongkrong di rumah Zela.

“Hohoho, ide yang bagus. Oke let’s go.” Erina dengan semangat empat lima langsung berdiri.

Mereka berempat sudah berencana kabur. Kebiasaan bolos adalah sudah hal tabu bagi mereka, tentunya tanpa sepengetahuan guru. Tempat bolos mereka unik, empat gadis itu, menaiki pagar tinggi sekitar satu meter lebih tempatnya di bagian belakang sekolah, di sana memang sunyi jarang siswa ada yang nogkrong.

Seperti biasa Erina bertugas untuk mengintai siswa, jangan sampai ada siswa yang lain menyolonong kebelakang. Desya mengitruksi kemananan agar tidak ada guru yang melihat. Sementara, Salisa mengkode untuk kabur. Zela sebagai ketua, ia menelpon apakah sudah aman atau belum.

“Bagaimana gays, aman to?” tanya Zela ditelpon tentunya dengan sambung empat.

“Oke aman, siap-siap meluncur ke belakang,” ucap Desya yang masih mengintai di kantor guru.
“Ok, otw bolos.” Zela tersenyum bahagia.

Giliran Zela yang menaiki pagar semen, karena sisa dia yang ada dibalik pagar sedangkan Desya, Erin dan Salisa sudah lolos.

“Zela, cepatan nanti kita Ketahun,” desak Salisa panik.

“Tunggu rokku nyangkut ni, is, rok sialan pake nyangku lagi. Aduh, sepatu ikutan nyangkut juga.” Zela berusaha menarik rok dan sepatunya.

“Astagfirullah, Azalea Putri Lesmana! Kamu mau bunuh diri?”

Tiba-tiba suara tak asing di telinga Zela terdengar nyaring. Gadis yang ingin bolos itu refleks kaget bukan main. Lantaran stoknya ia terjatuh ke tanah. Apes benar.

“Oh, beby, ketahuan deh, Pak Radit juga yang melihat,” bisiknya pelan sambil menahan sakit.
Pak Radit tak sengaja melihat Azalea menaiki pagar, karena memang ia lagi berkeliling melihat susana sekolah. Kebetulan jadwal mengajarnya sudah selesai. Ia berinisiatif untuk menghilangkan penat.

“Eh, kamu mau bunuh diri?” tanya Radit menghampiri.

‘Eh, buset dah, disangka mau bunuh diri juga. Mungkin dia mengikutiku ke mana saya pergi.
Mungkin dia guru jadi-jadian. Ih, ngeri,” batin Zela ketakutan.

“Ngapain kamu naik pagar. Bosan hidup sehingga kamu mengambil jalan pintas?” Radit belum tahu jika Zela berniat untuk bolos.

“Ih, Zela lamanya, bisa ketahuan kita ini, jadi ngga bolosnya?” tanya Salisa dibalik pagar sana.

“Jadi dong,” ucap Erin menimpali.

“Oh, jadi kalian mau bolos?”

Astaga, Zela menutup matanya kuat-kuat. Kenapa Salisa harus bersuara sehingga mereka ketahuan bolos.

“Sudah ketahuan pingsan, eh, sekarang ketahuan bolos pula,” bisik Zela.

….

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here