Guru Killer Vs Siswi Bandel #03

0
71
views

Pertengkaran Geng Bebas dan Geng Beauty


“Sekarang, saya hukum berdiri satu kaki!”

Kalimat yang sukses membut para siswa terkejut. Apalagi geng bebas tak pecaya jika ketua gengnya dihukum. Secara, Zela selama masuk ke sekolah tersebut, para guru-guru belum ada yang berani menghukunya. Perna sekali ia dihukum oleh salah satu guru, namun tak membuatnya jerah.

Ia malah tamba brutal dan bandelnya semakin menjadi. Jadi, guru-guru berinisiatif tidak menghukum lagi, biar ia berubah sendiri. Karna ada pepata mengatakan biarpun dipaksa seribu orang untuk berubah, jika tidak datang dari hati sendiri itu percuma.
Zela menelan Saliva berualang kali, matanya tajam ke arah gurunya.

“Pak jangan seenaknya ya, menghukum orang yang tidak bersalah. Saya tidak terima!”

“Pak, Azalea jangan dihukum,” ucap Salisa membela.

“Kamu tidak bersalah? Bukanya tadi kamu ngorok tidur pada saat saya menjelaskan? Saya sudah katakan dari awal pada saat saya mengajar tidak boleh ada yang tidur.”

“Ah, saya tidak mau dihukum, malas seperti anak SD yang terlalu lebay, angkat satu kaki lah, apalah. Saya ini sudah dewasa, jadi pak guru ngga boleh ngatur-ngatur.” Zela yang sifatnya keras kepala langsung nyolonong menuju kursi tanpa dosa.

Radit menaikkan kedua bahu, hatinya bergemuruh, jika bukan siswa, ia sudah dari tadi menampar mulutnya. Memang siswa yang benar-benar kurang akhlak.

“Oke, lupakan saja. Sekarang lanjut ke soal. Siapa yang bisa jawab, silahkan naik ke depan.”
Gadis yang duduk berhadapan dengan kursi guru menunjuk tangan.

“Saya pak.”

“Filda Angraini. Iya, silahkan ke depan,” ucap Radit memberikan spidol.

Filda Angraini, seorang gadis yang pintar dan cerdas dalam ruangan kelas 11 IPS 1. Ia sering mendapatkan rengking pertama. Namun sayang musuh buyutan Azalea. Tak jarang mereka selalu aduh mulut. Filda juga memiliki geng, namanya Trio Beauty. Mereka adalah Filda sebagai ketua geng, Farisa dan Resti.

Filda mengerjakan soal di papan dengan cepat dan serius.

Soal

Susi membeli 3 buah apal dan 2 buah jeruk dengan harga Rp4.500,00 dan Yuli membeli 2 buah apel dan 2 buah jeruk dengan harga Rp3.500,00. Jika Wati membeli 4 buah apel dan 5 buah jeruk, berapa rupiah yang harus Wati bayar?

Jawab

‘Misalkan x = harga 1 buah apel
y = harga 1 buah jeruk.
Diperoleh SPLDV:
3x + 2y = 4.500 …(1)
2x + 2y = 3.500 …(2)
Eliminasi y dari (1) dan (2)
3x + 2y = 4.500
2x + 2y = 3.500
__________________-
x = 1.000
Subsitusikan x = 1.000 ke persamaan (2).
2x + 2y = 3.500
=2(1.000)+2y= 3.500
2.000 +2y= 3.500
2y= 1.500
y= 750
Harga 4 buah apel dan 5 buah jeruk
= 4x + 5y
= 4 (1.000) + 5(750)
= 4.000 + 3.750
= 7.750

Jadi Wati membeli buah tersebut seharga Rp7.750,00.
Selesai menjawab Radit tersenyum bangga, ternyata didalam ruangan ini masih ada yang pintar.

“Wao, jawabannya benar sekali.” Radit memberikan aplos kepada Filda yang sudah menjawab soal dengan benar dan jelas.

Geng bebas mencibir tidak suka.

“Ih, dasar Fildatoge. Emang ya, manusia yang berasal dari jenis sayuran itu, selalu cari-cari perhatian, supaya dipuji,” cibir Erina kesal.

“Biarin ah, saya lagi malas sama guru baru itu. Hum, awas nanti pembalasanku, saya buat dia tak nyaman di kelas ini.” Azalea memanyunkan bibir tidak suka, mata cokelatnya menatap sang guru dengan tatapan dendam.

“Sepertinya, geng bebas lagi nahan emosi. Apalagi jenis ikan yang bernama Azalele, coba kalian lihat wajahnya memerah,” bisik Filda terhadap kedua sahabatnya.

“Saya pengen ngangak, pas dia nulis di papan tulis. Jawabannya itu lho membuat jiwa gibahku meronta-ronta,” balas Farisa tersenyum.

“Oh, My God, Pak guru baru tanpan bingits, apalagi menjelaskan kayak gitu. Wow, jiwa jomloku meronta-ronta.” Senyum Resti mengembang sembari menatap Radit, membuat Filda dan Farisa menginjak kakinya.

“Ih, dasar lihat yang kingclong, matanya langsung melotot.” Filda mencubit pahanya.

“Aduh, sakit!” teriak Resti, membuat siswa yang lain menoleh ke arah suara.
“Ada apa?” tanya Radit.

“Maaf, Pak teman saya lagi digigit Azaleleh, eh, salah maksudnya digigit semut, ups” ucap Filda sembari menutup mulut.

Zela mengepalkan tangannya, sepertinya Filda memang sengaja mengejeknya.

Bel berbunyi, pertanda sudah pergantian jam. ” Ya, sudah nanti kita lanjut lagi. Sampai jumpa.”
Radit merapikan buku-buku miliknya lalu keluar dari ruangan.

“He, Filadatoge kamu sengaja ngomong seperti itu ke pak Radit, ha!!” Zela memukul meja di depan Filda.

“Eh, sorry tadi saya tidak sengaja,” ucap Filda santai.

“Kurang asam memeng. Geng bebas keroyok mereka sampai habis!” teriak Zela.

Kelas kembali kacau dan heboh. Semua siswa ada yang berpihak dan berteriak memanggil geng bebas dan geng beauty.

“Saya ketua kelas, jadi kamu jangan macam-macam sama saya,” ucap Zela menarik rambut Filda.

“Ketua kelas, tetapi bodohnya ngga ketulungan. Kamu sebenarnya ngga pantas jadi ketua kelas, Azalele!” balasnya.

Jambak-jambakan rambut, itulah yang terjadi sekarang. Aksi pertengkaran semakin heboh, diantara mereka tidak ada yang mau mengalah. Sorak-sorai suara siswa lain tak kalah nyarignya.

Filda nafasnya tercekik dengan tangan gesit Zela. Dengan sekuat tenaga ketua geng beauty mendorong Zela. Namun tiba-tiba sebuah tangan kekar langsung menangkap tubuh Zela dengan cepat.

Sehingga ia tidak terjatuh ke lantai.

Zela mendonggakan wajahnya ke atas, alangkah terkejutnya, setelah melihat wajah orang yang menolongnnya.

“Pak Radit?”

Bagaimana stop?

Makasih atas responnya teman-teman untuk part sebelumnga. Jangan lupa krisanya juga. Silahkan like dan komen agar semangat nulisnya☺️☺️☺️.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here