Geheim (Rahasia)

0
452
views

Menjadi perempuan mandiri bukan hal mudah dilakukan dimana semua hal harus dilakukan dengan sendirian, mencoba mengatur jadwal dari setiap banyaknya hal yang mengundangnya hadir disuatu tempat.

Mata hijau itu menelusuri setiap hal yang langkahnya lewati berusaha merekamnya dengan apik didalam fikirannya, bibirnya melengkung berusaha tersenyum pada setiap orang yang berlalu.

Ia mencoba tetap tenang dan mengendalikan segala emosi yang sebenarnya sangat ingin ia lampiaskan saat ini juga, tetapi dirinya adalah perempuan tanpa celah untuk pandangan semua orang padanya.

“Nyonya Aurellia terimakasih atas kedatangannya kemari.” seorang laki-laki berjas hitam datang menghampiri dan mengulurkan tangannya padanya tetapi sang empu hanya menyatukan kedua tangannya didepan dada sambari tersenyum lembut.

“Maafkan saya nona, silahkan masuk.” Perempuan bernama Aurellia itu hanya mengangguk sekilas lalu melanjutkan langkahnya kesebuah ruangan di sudut lorong sana.

“Relia? Kau disini?” suara serta pertanyaan itu mengurungkan niatnya untuk mendorong pintu didepannya membalikkan badan. Menemukan seorang laki-laki berkemeja biru serta jas disampirkan dipundak.

“Apa yang kau lakukan disini sepagi ini? Jangan bilang kalau yang ayah yang menyuruhmu kesini secara mendadak?” tak mendapatkan respon apapun ia mencoba memberikan pertanyaan yang lainnya.

Aurellia hanya mendengus kesal dan dibalas dengan tawa menggelegar laki-laki didepannya.

“Astaga, ayah membangunkan Harimau betina.” ucapnya disela-sela tawanya.

“Yaudah, aku pamit dulu mau keluar meeting kamu lanjut masuk aja.” Aurellia hanya memutar bola matanya malas dan membalikkan badan mendorong pelan pintu disana tanpa memperdulikan tawa laki-laki dibelakangnya.

****

Mendengar pintu ruangannya didorong tanpa diketuk terlebih dahulu membuatnya mendongakkan kepalanya dan menemukan anak perempuan sedang berjalan kerahnya dengan wajah tidak bersahabat sama sekali.

“Eehh anak ayah udah dateng, ayo duduk dulu itu punggung di sandarin juga supaya engga kaku banget kayak muka kamu tuh.” ucapnya setelah Aurellia berdiri didepan meja kerjanya.

Perempuan berkerudung navi itu hanya duduk dan sandaran disofa sembari melipat tangannya didada sedang matanya fokus kearah laki-laki yang membuat paginya sekacau ini.

“Matanya gitu amat liatin ayah senyum dikit. Senyum itu gratis nak! engga dipungut biaya apalagi pajak negara jadi engga perlu takut terkena denda apalagi masuk penjara nantinya.” ucapannya hanya dibalas oleh suhu AC yang rasanya tidak terasa sama sekali.

“Ada apa?” suara itu akhirnya keluar juga setelah beberapa detik berlalu padahal ia kira putrinya itu benar-benar tidak akan mengeluarkan suaranya.

“Sebelumnya maaf, ayah engga bermaksud mengacaukan pagi kamu seperti ini tapi kamu taukan ayah memang sering bercanda gitu tapi soal hal seperti ini engga mungkinkan ayah bercanda?” sebagai balasan Aurellia hanya mengangguk singkat lalu fokus kembali mendengarkan perkataan ayahnya dengan posisi masih sama seperti tadi.

“Mama kamu pasti ngerecokin banget tadi ya? Sampai sekesal ini. Resiko punya Putri dan istri kayak kutub antartika ternyata gini ya! Benar-benar nakutin tapi udah terlanjur sayang juga.”

“Yah.. Please.”

Laki-laki bernama lengkap ammar bahran itu mencoba berdehem pelan berusaha tetap tegap padahal sedikit takut dengan putrinya ini. Tentu saja! Putrinya ini sebelas dua belas sifatnya dengan istrinya sama-sama bermuka datar dan dinginnya ngalahin antartika sana, Dia lebih memilih meeting dengan 100 klien daripada menghadapi putrinya ini.

Jika istrinya sih sudah engga dingin-dingin amat karena sudah ada dirinya yang cairin lah ini! Malah sifatnya diatas istri tercintanya itu.

“Yah… Saya engga nyuruh ayah ngelamun hal engga jelas dan ngelantur Cepet bilang apa yang ingin dibahas.” ammar mengerjapkan matanya pelan, tuhkan baru saja di fikirkan tapi sifat sadisnya sudah dikeluarkan, jahat!

“Ayah ini ayah kamu loh relia,jangan seperti itu ayahkan jadi makin takut.”

Percayalah, saat ini Aurellia benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ayahnya yang sangat menggemaskan menurutnya.

Aurellia berdiri dan berjalan pelan kearah ayahnya. Memeluknya dengan sayang sambari tersenyum pelan sangat tulus memperlihatkan betapa sayangnya dirinya kepada Cinta pertamanya ini.

“Ayah lucu deh, makin sayang.” ammar tersenyum dan membalas pelukan putrinya ini.

“Ada apa sih yah? Kan bisa dibicarain dirumah kenapa harus ke kantor coba? Relia masih mau tidur mimpiin masa depan.” lagi dan lagi Ammar tersenyum pelan, inilah sosok lain Putrinya yang hanya ia dan keluarganya intinya bisa menemuinya.

“Ayah ingin kamu menghandle toko roti kita yang ada di malaysia. Bisa?”

“Kok aku yah? Kan ada kak Falah ataupun kak Faiq yah.”

“Mereka berdua lagi sibuk semua, tenang aja disana suasananya Bagus kok nyaman juga kamu pasti bakal nyaman. Mana mungkin ayah ngirim kamu ketempat yang tidak kamu sukai? Ayah ini ayah kamu loh masa engga ngerti kesukaan putrinya dan yang paling utama kenyamanan putrinya. Bisa disate ayah sama mama kamu kalau nempatin kamu ketempat yang tidak kamu sukai.” Aurellia masih diam mencoba berfikir apakah kesana atau tidak.

“Yaudah deh… aurellia bakal kesana!”

“Kamu pulang kerumah ambil koper kamu terus berangkat.”

“Sekarang?”

“Iya sekarang… Mama kamu udah nyiapin barang-barang kamu pas kamu kesini, hati-hati ya disana. Rajin-rajin senyum jangan kaku banget kayak robot.” aurellia hanya mengangguk dan melangkah keluar tanpa memperdulikan ayahnya yang melongo melihatnya pergi tanpa pamit sama sekali.

“Untung putriku.”gumamnya sambari mengusap pelan dadanya mencoba sabar dsn kembali melanjutkan kerjaannya.

****

“Loh dek, kamu disini?” tepat setelah ia menutup pintu di depannya suara yang paling dihindarinya malah datang mengapa. Paginya pasti semakin kacau

“Ya Allah, benar-benar keajaiban dunia loh ini! Si muka menyebalkan datang ke kantor dan gentayangan disini. Dek… Ini beneran kamu?” Aurellia hanya terdiam mencoba menyabarkan diri agar tidak lepas kendali menghadapi sikap kakak laki-lakinya ini.

“Kayaknya saya salah orang deh, mana mungkin relia si muka datar, paling malas bangun pagi dan yang paling penting males keluar rumah ada disini.” matanya makin menajam menatap orang didepannya seakan menyuruhnya diam dan tidak menggangunya.

“Dek? Itu mata kamu kenapa? Kok melotot gitu jangan bilang kamu kesurupan disini! Astagfirullah saya harus menggil ustadz nih buat ngerukiah kamu supaya engga melotot lagi.”

“Garing kak garing!” Desisnya lalu berjalan meninggalkan Kakak laki-laki keduanya. Jika yang pertama tadi namanya kak Faiq meskipun sesekali mengganggunya tetapi tidak sejahil kak Falah ini bahkan kakak keduanya ini sangat cerewet dan pertanyaannya terkadang tidak masuk akal,Seperti tadi.

“Ya Allah sadarkan adek saya. Semoga dia segera diberi pawang yang bisa cairin dia sampai meleleh selelehnya. Engga muka datar gitu kayak datarnya papan seluncuran. Semoga dia segera dikaruniai pikiran bahwa tersenyum pada kakak sendiri adalah hal lumrah, semoga dia… ”

“Hentikan kak, sebelum sepatuku melayang padamu!!!” teriak Aurellia yang ternyata masih bisa mendengarkan celotehan kakak kurang kerjaannya itu. Falah segera menutup mulutnya lalu berjalan kearah ruangannya untuk menghidari sepatu melayang itu.

Di fikirannya masih terekam dengan jelas saat ia merecoki Aurellia dan sebagai jawaban ia mendapatkan tempat pensil yang terbuat dari besi melayang padanya dan tepat tekena pelipisnya walaupun tidak berdarah tapi sakitnya ituloh, sakit seakan jantungnya ditikam ribuan pisau dan hatinya diremukkan.

Tidak…itu terlalu berlebihan padahal nyatanya hanya terdapat memar kecil disana dan menghilang esok harinya.

“Adikku memang sekejam itu.” Gumamnya pada diri sendiri.

“Saya jadi mikir itu si Relia nanti kalau ketemu jodohnya gimana ya? Apakah bakal dihadiahi lemparan pisau atau dilemparin hatinya. Ohh tidak tidak, opsi kedua tidak mugkin terjadi sama kakaknya saja sekejam ini lalu mana mungkin sebaik itu pada orang baru.” ucapnya pada diri sendiri tanpa memperdulikan tatapan karyawan lain yang sedang tersenyum geli menatapnya.

Pak Falah dengan segala pemikiran absrud-nya, batin mereka semua.

“Saya cuman bisa berdo’a semoga jodoh saya nanti engga sekejam si Relia, bisa jantungan saya tiap hari kalau kayak gitu punya adik kok kayak engga punya. Mama sih emang kadang nakutin tapi engga se-ekstrim dia.” lanjutnya lagi sambari fikirannya mencoba mengingat ulang kebersamaannya dengan adik perempuannya itu.

“Maaf pak mengganggu waktunya, tapi jika berjalan usahakan fokus tidak berbicara sendiri seperti ini.” Mata Laki-laki berkemeja putih itu mengerjap pelan dan menatap horor seseorang yang menegurnya tadi.

Ia segera berjalan cepat menuju ruangannya tanpa berceloteh tidak jelas lagi.

***

Mempunyai sikap seperti ini sangat menyenangkan untuknya tidak perlu lelah menanyakan ini itu pada semua orang apalagi wajahnya yang selalu terlihat kadang tidak bersahabat membuat semua orang yang melaluinya harus berfikir ulang untuk menyapanya.

Seperti ini saat ini lantaran masih kesal atas kelakuan kakaknya tadi sekarang wajahnya benar-benar pasti terlihat sedikit menyeramkan bukan sedikit sebenarnya tapi pasti sangat menyeramkan.

Kenapa aurellia bisa mengetahuinya? Tentu saja bisa karena saat ini langkahnya menuju lobby kantor diiringi dengan tatapan takut para karyawan disini. Aurellia tidak menoleh tetapi hanya melirik sedikit melalui ekor matanya.

kakaknya itu memang selalu menguji kesabarannya. Jika disuruh memilih maka Aurellia lebih memilih kak Faiq daripada kak Falah si cerewet itu.

Kak Faiq memang sesekali mengusilinya tetapi tidak secerewet yang satunya dan Aurellia yakin. Sangat sangat yakin sikap Kak Falah-nya itu turunan murni dari sang Ayah.

Matanya menatap horor laki-laki berjarak satu meter didepannya dan yang paling menggelikan adalah sosok itu malah tertawa cengengesan didekat mobil yang akan dilewatinya pulang.

Athar Rizky Yudhistira

Seseorang yang sangat wajib dihindari untuk seorang Aurellia, dia adalah mahluk astral yang berasal dari planet lain yang sedang tersesat di bumi ini. Okey aurellia sudah mulai ngawur mengikuti kegilaan kedua kakaknya.

Menghembuskan napas lelah, aurellia melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan athar yang masih tertawa endak jelas disampingnya. Sepertinya ia harus menelpon perawat rumah sakit jiwa untuk memberitahukan kepada mereka bahwasanya salah satu pasiennya sedang berada disini.

“Calon ummi anak-anakku kok mukanya cemberut,” kalian dengar? Bukankah athar benar-benar pasien rumah sakit jiwa yang sedang kabur.

Aurellia hanya menatap athar sejenak lalu kembali fokus melangkah masuk kedalam mobil. Anggap saja athar adalah bayangan atau patung disana, batinnya.

“Yang, kok aku dicuekin sih! Aku jodohmu loh.” celetuk athar lagi dan percayalah saat ini Aurellia merinding mendengarkan kata ‘yang’ itu. Aurellia lebih baik menonton film horor seribu episode daripada harus mendengarkan kata sangat lebay seperti itu. Benar-benar horor.

Tangan aurellia sudah ingin membuka pintu mobil tetapi tangan seseorang menghalanginya dan wajahnya menatap tajam athar sebagai si pelaku utama.

“Muka kamu makin cantik kalau marah kayak gitu,” Aurellia hanya memutar bola matanya malas dan tidak mengucapkan apapun sebagai balasan perkataan athar si kurang kerjaan ini.

“Tangan kamu minggir, saya mau pulang.” ketusnya dan perkataan itu malah membuat athar semakin cengengesan ditempat.

“Sama calon suami jangan kayak gitu dong, senyum dikit napa! Akutuh lagi butuh penyemangat pagi ini dan aku denger dari faiq kamu disini makanya aku nungguin.” lagi dan lagi aurellia memejamkan matanya mencoba menyabarkan diri agar tidak mencakar wajah laki-laki didepannya.

“Kamu bilang apasih sama ayah saya sampai-sampai dapet izin buat deketin saya. Malah sampai ketahap mau dijodohin segala lagi! Minggir saya mau pulang bisa-bisa saya ketinggalan pesawat nanti.” athar tertegun sejenak tetapi itu hanya beberapa detik setelah itu kembali tersenyum senang.

“Kamu ke malaysia juga? Astaga berarti kita berangkat bareng dong.” aurellia melototkan matanya dan makin menatap horor kearah athar.

“Padahal saya kesini mau pamit ke kamu soalnya mau berangkat kesana kan siapa tau kamu kangen nantinya,” athar tertawa sendiri mendengar celetukan tak berfaedah-nya

“Tapi ternyata kita berangkat bareng.” lanjutnya lagi tanpa memperdulikan aurellia yang sangat ingin memukul athar saat ini juga.

“Thar? Aku ditambah kamu itu jadinya apa?” tanya aurellia pada laki-laki didepannya.

“Kita. Aku dan kamu adalah kita yang akan kita perjuangkan di jalan Allah.” jawab Athar bijak dan aurellia sampai heran ternyata athar bisa bicara baik-baik juga bukan engga waras mulu.

“Harusnya kamu ingat thar, aku sama kamu itu cuman temen deket engga lebih dari itu dan tidak akan pernah bisa.” tegasnya seakan mengingatkan pada dirinya sendiri.

“Kata temennya bisa diilangin engga? Mungkin kamu ngira selama ini aku engga punya hati. Tapi sesekali tolong hargai perasaan seseorang terhadap kamu, dan kamu bukan Allah rel, dan Takdir tidak ada yang tau. Biarkan aku berjuang dan membuktikan kebenaran perasaan aku.” aurellia tertegun mendengar ucapan tegas dan tajam dari athar.

Bahkan laki-laki yang lebih tinggi darinya itu telah berlalu meninggalkannya sendiri didekat mobilnya, sayup-sayup tadi aurellia sempat mendengar bahwasanya mereka akan bertemu bandara nanti.

Mungkin memang perkataannya beberapa saat lalu cukup menyakitkan untuk laki-laki itu tetapi ia hanya tak ingin berjalan terlalu jauh pada sebuah hubungan yang nyatanya masih sangat semu.

Mereka berdua memang sudah berteman sejak lama lebih tepatnya laki-laki yang identik dengan kacamata itu adalah sahabat kakaknya sendiri, kak faiq.

Hatinya hanya takut benar-benar dihantui perasaan yang mendominasi yaitu takut akan patah hati. Bagaimana keadaannya nanti jika keduanya tidak setakdir? Jika boleh jujur athar sudah berhasil merebut hatinya bahkan sudah merajai perasaannya tetapi takut itu? Ini masih semu. Fatamorgana dunia

Selama ini aurellia hanya mencoba menjauh, mengubur perasaannya sendiri untuk laki-laki bernama athar itu, mereka berdua tidak boleh berjalan terlalu jauh bahkan sampai ketahap hal menyedihkan. Aurellia tidak akan pernah sanggup di posisi itu.

Mencoba bersikap dingin dan memperlihatkan sikap yang tidak menunjukkan adanya Cinta. Aurellia takkan pernah mampu menghadapi dirinya sendiri jika nantinya takdir membawanya ke arah patah hati.

Tangannya membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang dan menyuruh supir keluarganya itu segera kembali kerumah. Menyiapkan barang-barangnya setelah itu berangkat ke negera lain sesuai perintah ayahnya.

Matanya menatap hampa jalanan diluar sana, fikirannya kembali mengingat perkataan athar. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dirinya telah melampui batas hingga seorang athar yang jahilnya luar biasa sekali menjadi tegas seperti tadi?

Rahasia perasaannya ini sampai kapan akan terus tersembunyi?

****

“Loh kamu udah pulang?” Suara datar itu menyambut aurellia saat langkahnya memasuki mension dominan putih ini, mata hijau aurellia menatap perempuan berkerudung hitam dengan wajah datarnya sedang menatap kearahnya dengan pandangan bertanya.

“Udah ma, koper mana?” mata aurellia mencoba menyelusuri ruang tamu tapi tidak menemukan benda berwarna hitam segi panjang itu.

“Kamu sampai kapan kayak gini?” bukannya menjawab pertanyaan putrinya ia malah memberikan pertanyaan baru untuknya

“Ma… Please, koper mana? Aku mau berangkat nanti malah ketinggalan pesawat.” ameera mengembuskan napas lelahnya, keras kepala putrinya kenapa harus turunan dari suaminya sih.

“Rasa takut kamu itu tidak mendasar dan mama sangat yakin kalau athar memang serius sama kamu,” aurellia yang sebelumnya telah duduk disofa sambari menyandarkan punggungnya di sofa kembali menegakkan punggungnya dan menatap malas kearah malaikat kesayangannya.

“Ma, aku tau. Aku engga bakal bisa menyembunyikan apapun dari mama bahkan tanpa aku beritahupun mama udah tau apa yang aku fikirkan, tapi please. Hargai perasaan aku.” ameera duduk disamping aurellia dan memeluk Putri satu-satunya ini, ia sangat tau bahkan sangat tau bagaimana perasaan putrinya pada athar tapi karena sebuah kejadian di masa lalu malah membuatnya serumit ini.

“Sayang, engga semua laki-laki itu bersikap sama. Mama hanya ingin kamu merasakan betapa inginnya perasaanmu dilepaskan jangan terlalu menekan hatimu seperti ini karena itu tidaklah baik untukmu. Mama tau kamu cukup muak akan sebuah hubungan tetapi mama bisa merasakan kalau athar tidak akan seperti mereka di masa lalu kamu.” Aurellia hanya terdiam menikmati kehangatan pelukan yang mamanya berikan padanya.

“Engga semua hal harus selalu dihubungkan dengan masa lalu sayang, jangan menyiksa diri kamu dengan cara seperti ini. Lepaskan hal yang kamu kurung itu berhenti sayang, cukupkan semuanya. Mama mau aurellia yang memandang Indah Cinta bukan dengan ketakutan seperti ini. Kamu hanya perlu proses bukan menghindarinya apalagi membencinya.” tetap diam, dan ameera paham akan ini.

“Patah kamu engga harus menjadi ketakutan untuk masa depan, kecewanya kamu harus hatimu jadikan sesuatu yang luar biasa bukan menumpuk benci seperti ini. Benci kamu yang dimasa lalu jangan membawanya ke masa depan karena itu hanya akan bumerang untukmu sayang, mama hanya ingin kamu merasakan murninya perasaanmu sendiri bukan rahasia seperti ini.” ameera menangkup pipi aurellia. Dan membuat mata mereka bertemu.

“Biarkan athar merasakan balasan perasaannya dan singkirkan ketakutan kamu itu.” sebagai balasan aurellia hanya mengangguk lesu.

“Yaudah, hati-hati disana dan kabarin mama kalau udah sampai. Koper kamu udah ada di mobil yang satunya, sana berangkat.” lagi, aurellia hanya mengangguk lalu melangkah keluar tanpa mengatakan sepatah katapun pada ameera.

Rasa cemas dalam dirinya selalu saja seperti ini, aurellia sangat tidak ingin membangun hubungan dengan laki-laki karena ketakutan akan kegagalan lagi. Tetapi hal ini tidak boleh terus menerus dibiarkan atau aurellia akan melupakan dirinya sendirinya karena menumpuknya benci itu.

Dipatahkan oleh org yang sama, dikecewakan oleh org yang sama dan itu terjadi selama beberapa kali membuat aurellia-nya menjadi sosok asing untuk karakternya sendiri. Memilih menjadi benci akan Cinta padahal dulunya sangat mengagungkannya.

Dulu, aurellia sangat bahagia setiap membahas hal apalagi tentang Cinta tetapi sejak kejadian itu semuanya berubah.

Tatapan lembutnya yang selalu diperlihatkan kini berubah menjadi tatapan sinis dan tajam pada semua org.

Suara lembutnya menjadi suara dingin tak tersentuh dan ameera cukup tau itu hanya pertahanan untuk tidak merasakan apa yang paling ditakuti putrinya itu.

Dan jujur, saat ini sebagai seorang ibu ameera hanya berharap athar bisa mengembalikan semua sikap itu Seperti sebelumnya.

****

Athar menatap nanar aurellia yang berjalan lebih dulu didepannya, saat ini mereka sudah sampai tempat tujuannya dan sebagai laki-laki yang baik ia memilih menemani aurellia kerumah yang telah ditentukan oleh pak ammar yang disambut oleh beberapa asisten rumah tangga beberapa saat lalu.

Bertemu aurellia cukup membuat hidup seorang athar benar-benar sulit terkendali dan bahkan sebenarnya percayalah tipe perempuan yang disukai athar tidak ada dalam diri aurellia satupun, tetapi namanya Juga Cinta siapa yang bisa memilih kepada akan berlabuh kata itu?

Awal bertemu aurellia cukup klasik dan simpel. Cinta pandangan pertama yang banyak sekali dirasakan semua orang. Layaknya laki-laki lain awalnya athar tidak terlalu percaya akan kata itu tetapi setelah mengalaminya itu bencana, jiwa kebucinan dalam dirinya seakan memberontak meminta dilepaskan tetapi boro-boro disambut dengan senyuman lembut malah dihadiahi tatapan tajam perempuan es itu.

Mau ngalahin valak kali yaa?, athar menggelengkan kepalanya pelan berusaha menepis fikiran absurd yang datang tiba-tiba. Gimana aurellia mau kepincut sama pesonanya jika dirinya sendiri selalu konyol seperti ini.

“Thar, kamu kenapa?” suara lembut yang ngalahin suaranya syahrini itu. Okey itu perumpaan lebay, athar menoleh kesamping dan menemukan wajah langka dan akan athar masukkan dalam on the spot.

“Kamu kenapa sih?” melodi itu kembali terdengar dan athar masih dalam ke bimbangnya. Sedang aurellia yang daritadi bertanya pada laki-laki itu mengerutkan keningnya bingung.

“Kamu senyumin aku yang?” rasanya aurellia langsung merinding bahkan sudah seperti mendengar kata horor barusan. ‘Yang’

“Emang kenapa sih kalau aku senyum? Engga papa kan?” aurellia membalas ucapan athar diiringi dengan senyum cantiknya.

Dan percayalah aurellia rasanya ingin melepaskan tawanya melihat wajah heran athar saat ini.

“Kamu lakuin ini buat bujuk aku biar engga marah lagi kan? Engga bakal mempan kamu tuh udah nyakitin perasaan aku sedalam-dalamnya lautan sana. Bahkan ombak pun ikut sedih melihat kesedihanku… ”

Aurellia memutar bola matanya malas dan berjalan menjauhi athar di ruang tamu, laki-laki itu dengan segala kegilaannya. Apaan coba pake bawa lautan sama ombak segala engga jelas banget tuh org.

Seharusnya athar itu berteman dengan kak falah karena mereka berdua sebelas dua belas sikapnya bukan sama kak faiq yang ada kalemnya walaupun sesekali jahil juga.

Niatnya tadi ingin bersikap baik sama laki-laki itu mengikuti saran ibunya malah niatnya sirna karena kelakuan gila laki-laki itu, seprtinya kabelnya putus lagi makanya hilang kontrol seperti itu.

“Aurellia aku mau ngomong bentar, kita bicara diluar.” mendengar ada nada tegas dari suara athar aurellia mengalah dan mengkuti athar yang berjalan melangkah keluar teras.

“Ngomong aja. ” ujar aurellia to the point saat mereka berdua duduk diteras depan.

“Jujur, jika boleh memilih saya tidak akan jatuh Cinta sama kamu tetapi takdir tidak bisa kita ubah. Allah maunya saya jatuh Cinta sama kamu, kita itu antara aurora dan pelangi sama-sama membutuhkan dengan keindahan masing-masing. Selayaknya bumi dan matahari maka aurora dan pelangi juga seperti itu.” aurellia tertegun saat athar menyebutkan sesuatu memakai kata ‘saya’

“Aurora memerlukan warna pelangi untuk mempercantik keindahannya. Aurora takkan tercipta jika warna pelangi tidak berada diantara setiap semestanya dan kamu tau? Aku menganggap kamu adalah pelangiku. Meskipun sikapmu dinginnya masyaaAllah sekali tapi itu kuanggap tantangan untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku memang mencintaimu bukan mempermainkan.” terdengar helaan napas athar sejenak.

“Sikapku memang seperti ini aurellia tetapi mengenai perasaan aku tidak akan pernah main-main akan itu. Sikap dingin, arogan dan sinismu adalah hal rumit yang cukup sulit kulalui tetapi itu adalah tantangan yang memacu adrenalinku jika aku berhasil menaklukanmu maka aku berhasil membuktikan pada diriku sendiri bahwa ini kesungguhan bukan permainan apalagi pertandingan.”

“Kamu sudah memiliki perasaanku dari lama athar, tetapi aku tidak ingin melangkah terlalu jauh. Hatiku sudah ku bekukan sejak lama dan aku tidak ingin membukanya hanya karena ingin merasakan patah lagi? Bagaimana jadinya bentuk itu jika harus dipatahkan untuk kesekian kalinya.” athar menoleh dan menatap nanar kearah aurellia, wajah datar itu tergantikan dengan wajah murung dan menatap hampa rerumputan.

“Sebelum kesini mama memintaku membuka hatiku lagi untuk laki-laki dan itu kamu. Di pesawat tadi aku takut, bahkan rasanya ketakutan itu membuatku ingin menangisi kelemahanku yamg seperti ini. Aku sangat membenci perasaanku sendiri athar, kenapa perempuan harus lemah di segi perasaan?”

Athar bungkam, rasanya fikiran absurd yang selalu ada dalam fikirannya blank semua. Kenapa bisa ia sebuta ini? Dibalik sikap dingin tak tersentuh itu malah nyatanya rapuh jatuh tak terbentuk?

“Tetapi, aku akan mencoba untuk yang terakhir kalinya athar. Membuka hatiku kembali dan menerima kamu disini meskipun rasa takut itu sangat besar tetapi akan kucoba menghargai perasaan kamu terhadap aku.” aurellia tersenyum, rasanya ada perasaan lega didalam sana yang membuncah melepaskan tekanan batinnya.

Athar mengembuskan napas lega, penantiannya dan buah kesabarannya benar-benar luar biasa.

“Makasih yang,” aurellia menatap horor athar dan malah dibalas dengan tawanya.

“Kamu tuh ya, dimana-mana perempuan itu suka di romantisin lah kamu? Baru dipanggil yang udah kayak org lihat setan gitu.”

“Lebay banget athar, merinding saya dengarnya.”

“Iya honey sweety yang tersayang”

“Athaaaaaaaaar….”

Athar hanya tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memegangi perutnya, muka kesal aurellia benar-benar hiburan tersendiri untuknya.

*****

Terimakasih, karena mengijinkanku menyembuhkan patah didalam sana, dengan segala perasaanku maka akan kuusahakan menemukan kepingannya dan memperbaikinya dengan hati-hati.

~Athar Rizky Yudhistira

Untuk yang terakhir kalinya aku mencoba membuka bekuan itu demi seorang athar.

~Aurellia

ENDING…

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here