Gadis Pilihan Sang Senior #07

0
55
views
Gadis Pilihan Sang Senior

Selalu Salah


Sesampainya di rumah sakit. Mahendra segera di tangani oleh dokter di ruangan UGD. Aku duduk menunggu di luar ruangan. Aku begitu mencemaskan kondisi, dalam hati merasa bersalah kepada Mahendra, dia yang selalu menolong aku berkali-kali. Hari ini kembali berkorban demi menyelamatkan diriku meskipun terkadang suka membuatku kesal dengan sikapnya yang sering menyuruh aku seenaknya namun menurutku ia baik, mau menolong meskipun kami belum lama saling mengenal. Aku binggung harus bagaimana, aku tak memiliki uang dan aku juga tidak membawa ponsel semejak aku pergi dari rumah malam itu. Tak beberapa lama kemudian datanglah Olivia adik sepupu Mahendra yang usianya sepantaran denganku. Ia bertanya kepadaku dengan raut wajah cemas.

“Ra gimana kondisi Kak Mahen, kok bisa dia kecelakaan?”

“Aku belum tahu masih ditangani dokter, semua ini salah aku, Mahen nyelamatin aku,” jawabku.

Olivia pun terkejut ketika aku menjelaskan kejadian saat kecelakaan itu. Setelah mengetahui jika semuanya, Olivia menyalahkan diriku, mengatakan jika aku gadis pembawa si**. Jujur saat mendengar apa yang dikatakan olehnya aku merasa sedih dan semakin bersalah.

Di dalam hati aku berkata, “Maafkan aku Mahen, kenapa harus kamu kenapa tidak aku saja yang celaka.”

*********

Setelah 1 jam lamanya aku duduk menunggu bersama Olivia yang terus saja memarahi diriku. Akhirnya dokter keluar dari ruang UGD.

Dokter memberitahukan jika kondisi Mahendra kritis, dia kehilangan banyak darah, mengalami luka yang cukup serius di bagian tangannya dan kakinya. Mahendra memerlukan donor darah. Golongan darahnya AB kebetulan sama denganku.

Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk mendonorkan darahku untuknya agar ia cepat siuman.

******

Seusai mendonorkan darah. Aku kembali menemui Olivia. Olivia yang masih menyalahkan aku, ia memarahiku.

“Gara-gara lo Kak Mahen jadi celaka, gimana kalau nanti kaki dan tangannya cac**!” Bentaknya sembari menatap mataku dengan tajam.

“Maafkan aku tapi aku juga tidak mau seperti ini,” ucapku sembari menunduk.

“Awas lo kalau sampai Kak Mahen kenapa-napa!” Dia masuk ke dalam ruangan Mahendra.

Aku ingin sekali masuk namun Olivia melarangku dan mengusir aku pergi, bahkan ia tak memperbolehkan diriku untuk menumpang sementara di rumah Mahendra. Ku harus menuruti apa yang diperintahkan oleh Olivia tadi. Pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah sakit dan tidak kembali lagi ke rumah Mahen.

*******

Entah kemana kakiku melangkah. Aku melangkah tanpa arah tujuan, aku tidak mungkin pulang ke rumah karena aku tak ingin menjadi beban keluarga. Ku melangkah perlahan dengan menahan kakiku yang masih sakit. Saat di jalan aku tidak sengaja berpapasan dengan Daniel Raditya sahabatku semasa SMP dulu. Seorang yang berbadan tinggi, berkulit putih, hidungnya agak mancung.

Ku menundukkan kepala berharap Daniel tidak mengenali aku karena aku pikir jika dia tahu aku kabur dari rumah, pasti ia akan mengajakku pulang dan aku tak ingin hal itu terjadi. Namun sayangnya tidak, Daniel mengenali aku, ia sangat terkejut ketika melihatku.

“Tiara,” ucap Daniel, Memperhatikan diriku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here