Gadis Pilihan Sang Senior #04

0
113
views
Gadis Pilihan Sang Senior

Karena Dia


Akhirnya aku menemukan handuknya di lemari. Ku pergi untuk menyerahkan handuk itu kepada Mahendra, ku mengetuk pintu kamar mandi dan memejamkan mata.

“Ini,” ucapku menyerah handuknya dari luar kamar mandi.

“Makasih,” ujarnya padaku.

Lalu aku keluar dari kamarnya. Saat melewati ruang makan aku bertemu dengan seseorang pembantu rumah tangga yang kata Mahendra namanya Bi Iyem.

Bi Iyem menghampiri.

“Non, non Mutiara?” tanya Bi Iyem.

“Iya bi, saya Mutiara,” jawabku tersenyum dengan bibi.

“Wah pacarnya mas Mahendra cantik,” ucap Bibi.

Ingin rasanya aku memberitahu kepada bibi jika aku bukanlah kekasih Mahendra, mengenalnya saja tidak namun aku terlanjur berjanji dan menerima semua pertanyaan dari Mahendra. Pertama aku harus berpura-pura menjadi kekasihnya dan ia akan memberi aku tumpangan tempat tinggal sementara. Bibi mempersilahkan aku duduk untuk sarapan pagi. Tak lama kemudian Mahendra datang menghampiri kami.

“Kamu sudah makan?” tanya dia dengan cueknya.

“Belum,”

“Ya sudah abis itu bantuin bibi beres-beres,” ucapnya menyuruhku lalu Mahendra buru-buru pergi karena ia takut terlambat sampai di sekolah.

Bibi mengambilkan nasi dan lauk untukku. Selepas makan. Ku membantu Bi Iyem mencuci piring dan beberes rumah. Saat beberes bibi bertanya kepada diriku tentang kenapa kakiku apakah karena kecelakaan lalu aku menjawab dengan senyuman tanpa menunjukan raut wajah yang sebenarnya bersedih, mengatakan jika kakiku seperti ini bukanlah disebabkan oleh kecelakaan melainkan memiliki kelainan sejak lahir.

“Oh begitu non, maaf jika bibi membuatmu bersedih,” ucap bibi.

“Tidak apa-apa bi,” ujarku sembari mengelap-ngelapi barang-barang yang berdebu di ruang tamu.

Bibi menyuruh aku untuk beristirahat karena ia tidak ingin jika nanti aku kelelahan, katanya aku tidak seharusnya membantu seperti itu karena aku adalah kekasih dari Mahendra menjadi nona di rumah ini bukan seorang pembantu. Dengan santai aku mengatakan pada bibi tak apa aku membantunya, aku ikhlas dan malah senang. Kemudian bibi pergi ke kamar Olivia untuk membereskan kamarnya sementara aku pergi ke kamar Mahendra untuk membereskan kamarnya.

****

Sesampainya di sana. Betapa terkejutnya diriku saat melihat kamarnya yang begitu berantakan. Ku menyapu bersih, mengepel lantainya lalu membereskan buku-buku dan barang-barang milik Mahendra yang berantakan di atas meja. aku menata rapi dan meletakkannya di laci meja. Di dalam laci aku tidak sengaja melihat foto seorang gadis cantik, berambut pirang tergerai, hidupnya mancung berfoto bersama Mahendra, kupikir dia mungkin cewek yang Mahendra sukai. Aku melihat lagi ke arah meja melihat dompetnya yang tertinggal di rumah. Aku harus mengantar dompetnya ke Mahendra karena dia pasti membutuhkan uang untuk membeli di kantin.

****

Sebelum pergi aku berpamitan terlebih dahulu dengan bibi. Ku mendapatkan alamat sekolah Mahendra dari BI Iyem. Aku pergi dengan berjalan kaki.

****

Sesampainya di sekolah. Kondisi sekolah tampak sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung.

Pada akhirnya aku menunggu Mahendra di luar sekolah. Ku berjongkok karena kakiku terasa pegal.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan seorang penjaga sekolah yang menegurku.

“Kamu bukan murid sini, ngapain kamu disini sana pergi,’ seorang penjaga sekolah mengusirku.

“Maaf pak, saya hanya ingin mengantar dompet Mahen yang tertinggal,” jelasku pada kepada penjaga sekolah itu.

Namun beliau tetap mengusirku pergi. Ku melangkah kaki beranjak pergi dari sekolah Mahendra. Bel istirahat berdering.

Dari kejauhan aku melihat Mahendra yang keluar dari kelasnya bersama dengan teman-temannya, kuingin berteriak memanggilnya namun aku malu pada akhirnya aku menitipkan dompet tersebut kepada penjaga sekolah. saat aku melangkah beberapa langkah, Mahendra memanggil diriku. Dia menghampiri aku.

“Ara ngapain lu kesini?” Mahendra dengan tatapan tajam.

“Aku cuma nganterin dompet kamu, itu ada di penjaga sekolah,” jawabku.

Tak beberapa lama kemudian. Para murid berdatangan, mereka mengelilingi diriku dengannya. Dalam hati aku merasa sangat malu karena siang ini aku menjadi pusat perhatian para fans Mahendra di sekolahnya bersama dengan dia, yang kudengar cukup populer di sekolah.

“Mahen dia siapa?” tanya mereka semua tersenyum padanya lalu memandang diriku dengan tatapan sinis.

“Dia pacar gue perkenalkan semuanya namanya Mutiara,” jawabnya, lagi-lagi dia menyebutkan jika aku adalah pacarnya.

“Serius ini pacar kamu, kok selera kamu turun, kakinya kenapa tu cac””?” tanya Mereka pada Mahendra.

Aku pun pergi. Aku tidak ingin jika nanti aku semakin dihina oleh para siswi cantik itu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here