Es Krim Cinta

0
110
views

“La la … Poo ….” Suara Cinta terdengar indah menyapa pagi ini.

Ketika telingaku menangkap getar suaranya segera saja mata ini terbuka sementara senyum tersungging di bibir.

Aku senang gadis itu masih mau datang setelah sikap tololku kemarin.

Dia terdengar tertawa riang dengan suara bayi Fey, putri kakakku yang tak berdosa.

***

Sebulan lalu.

Gadis itu datang dengan wajah penuh minyak. Tangan kanannya menenteng tas sayur berisi kembang kol, cabe dan kecap cap dua belas. Bau amis bekas ikan tercium dari tubuhnya ketika kami berdekatan.

“Maaf, Pak. Saya terlambat. Saya tak tahu kalau jadwal wawancara dimajukan.”

Nafasnya masih terengah bekas berlari. Rambutnya berantakan habis bertarung dengan angin.

“Sudah, sudah. Cepat duduk saya tak punya banyak waktu. Apalagi kamu ….”

“Bau.” Aku menutup hidungku dengan sapu tangan.

Dari ujung mataku terlihat wajahnya mendadak lesu, duduknya tidak tenang. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa tidak enak.

Sungguh bukan diriku.

“Nama.”

“Cinta Febriana.”

Aku mendongak melihatnya saat melafalkan kata itu. Dia tertunduk.

“Usia.”

“Dua puluh satu tahun.”

Dia terlihat mengambil nafas dalam.

“Status.”

“Single.”

“Baik.

Kau diterima.” Aku memutuskan dalam sekejap saat kulihat calon air matanya hendak menetes dan segera dia hempaskan karena tak ingin dilihat orang.

Pertanda, gadis ini tak pantang menyerah.

Aku suka.

“Datang  esok pukul tujuh. Jangan telat. Aku tak pernah menoleransi pemalas.”

Aku menatap wajahnya yang tersenyum bahagia. Kebahagiaan itu menular padaku, sambil berjalan menuju kamar baby Fey, bibirku tersenyum.

Sungguh bukan diriku yang dulu.

***

Pukul tujuh pagi, saat itu.

Dia kembali datang dengan tergopoh-gopoh. Keringat membanjiri tubuhnya dan bau ayam menyeruak menusuk hidungku.

“Stop. Kamu ini demen banget lari-larian, keringetan dan bau.”

“Memangnya  kamu punya kebun binatang? Kemarin amis sekarang bau ayam. Mengganggu pagiku saja.” Aku berjalan meninggalkannya di belakang. Ketika aku berpaling ternyata dia tidak mengikutiku. Dia terduduk di tempatnya berdiri kemudian menangis terisak.

“Loh.

Malah nangis di sana. Cepat ke sini,” kataku setengah berteriak karena jarak. Dia mengerjap sebentar kemudian menghapus air matanya.

“Bapak tidak memecatku?” tanyanya dengan binar bahagia.

Aku menggeleng.

“Alhamdulillah ….” ucapnya bersyukur.

“Tapi, belum tahu besok.”

“Weww.”

“Apa?” tanyaku ketika mendengar dia berkata spontan.

“Tidak apa, Pak. Hanya kaget ternyata hari ini bekerja belum tentu besok.” Aku berhenti di depannya.

“Maksudnya, kau mau bekerja terus di sini?”

Dia mengangguk.

“Kalau begitu jangan malas. Jangan telat. Jangan datang dengan bau. Dan … Jangan membuat baby Fey menangis.”

Tanpa sadar kami sudah berjalan menuju kamar pertama di lantai bawah. Kamar baby Fey. Aku membuka pintunya kemudian memperlihatkannya siapa yang akan diasuhnya.

“Jadi, aku mengasuh anak?”

Aku melihat wajah lugunya.

“Kau tidak membacanya di kontrak?” Dia menggeleng.

“Dan … kau langsung menandatangi?” Dia mengangguk

Semprul. Untung aku orang yang tidak aneh-aneh.

“Kalau kau bertemu lagi dengan orang seperti aku yang memberimu kontrak seperti itu, kau harus waspada.”

“Kenapa, Pak?”

Dia lugu sekali.

“Karena bisa jadi bukan bayi yang kau asuh, tapi orang itu.”

“Maksudnya?”

Ah. Lupakan.

Hari pertama dia berhasil membuat Baby Fey tertidur setelah sekian purnama banyak yang gagal.

***

Satu bulan.

Cinta sudah mulai lihai merawat baby Fey. Sesekali dia juga menemaniku bermain bersama baby Fey di luar.

Coba apa kata orang-orang?

Wuih, keren. Pak direktur songong itu sudah ditaklukkan.

Wah, pasti bukan gadis sembarangan.

Apa? Sudah punya anak. Dan … Masih banyak.

Namun, semua omongan itu kuaminkan saja, mengingat aku telah jatuh cinta kepada Cinta. Sejak saat kurebut es krimnya yang berasa vanilla saat kami bermain di taman bersama baby Fey tempo hari.

Tahukah apa yang membuatnya manis? Karena bekasnya.

Ketika kunyatakan perasaan padanya dia hanya diam tak bergeming. Dia baru beringsut saat kucium punggung tangannya dan segera berlari.

Kukira tindakan konyolku kemarin membuatnya terhina tetapi dia datang lagi hari ini.

Setelah dia memberi makan baby Fey, dia datang mengetuk kamarku, membawa satu buah nampan berisi sarapan dan senyum termanis dari bibirnya yang merah.

Cinta, es krimmu membuatku jatuh cinta.

_Tamat_

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here