Ending – Jodoh Ditangan Tuhan

0
61
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Doni menemui Hawa yang sedang duduk menonton tv, ingin menanyakan pertemuannya dengan Alya, tetapi Hawa menceritakan kalau dia tidak jadi bertemu dengan Alya, melainkan dengan Adam, dan Hawa pun me ceritakan semua kejadian pertemuannya dengan Adam kepada kakaknya Doni.

“Jadi bagaimana, apakah kalian akan melanjutkan rencana pernikahan kalian yang sempat gagal dek? ” tanya Doni.

“Aku tidak tau kak, aku pasrah dan aku terima semua apa yang menjadi keputusan keluarga kak Adam” jawab Hawa

“Adamnya sendiri bagaimana, apakah dia sudah menikah? ”

“Kak Adam belum menikah kak, dia masih menunggu aku, tetepi tidak tau bagimana dengan bunda dan Ayah nya, apakah masih mau menerima aku, karena aku mengatakan padanya, apapun keputusan ayah dan bunda kakak, kamu harus terima,”

“Kamu jangan pesimis de, kakak akan jelaskan semuanya pada keluarga Adam, dan benar kamu katakan apapun keputusan dari keluarga Adam, kamu harus terima segala resikonya. ”

***

TAMAN

“Assalamualaikum..bagaimana kabar kamu Wa? ” sapa Adam ketika melihat Hawa menghampirinya.

“Waalaikumsalam kak … alhamdulillah kak, Aku sehat”

Hawa duduk di samping Adam, Suasana yang hening, tidak ada pembicaraan antara Adam dan Hawa.

“Kak … Kenapa diam, kenapa memandang aku seperti itu? ” Hawa memecahkan keheningan, dan diliputi rasa cemas.

“Entahlah, yang aku tahu, aku bahagia, Iya … Aku tidak mengira akan berjumpa dengan kamu kembali. ” Ucap Adam.

“Kakak sudah memberitahu keluarga kakak, tentang kembalinya aku? ” tanya Hawa

“Sudah … Dan Ayah Bunda senang mendengarnya, apalagi mereka tau kamu sudah sembuh. ”

Adam duduk menghadap Hawa, tangannya mengenggam tangan Hawa. Adam mempertanyakan Hal yang pernah tertunda dulu kepada Hawa.

“Wa … Kamu mau kan, kita melanjutkan apa yang kita impikan bersama dulu? setelah ini, Ayah dan Bunda akan kembali menemui keluarga kamu,”
Sejenak Hawa diam, dia tidak mampu berkata-kata di hadapan kekasihnya itu.

” Haura Natasyah Putri, sekali lagi aku ingin bertanya kepada kamu, mau kah kamu menikah dengan ku, kita lanjutkan mimpi kita yang pernah tertunda? ” ucap Adam sambil menatap penuh harap pada Hawa.

“Iya kak, Aku mau” ucap Hawa sambil menundukkan kepalanya
.
“Alhamdulillah … Terimakasih, ” ucap Adam sambil tersenyum lega, kalau dia tidak ingat itu taman dan pusat keramaian ingin rasanya dia berteriak kencang.

“Seharusnya aku yang berterimakasih kepada kamu kak, kamu dan keluarga yang masih menerima aku dengan baik lagi setelah apa yang aku lakukan terhadap kamu kak. ”

Tiba- tiba Adam melamun dan diam.

“Kak … Kenapa kakak melamun? Apa yang kakak pikirkan, kenapa kakak diam” Hawa memecahkan lamunan Adam.

Adam tersentak dari lamunannya, entah apa kata-kata yang di susunnya hilang seketika, Hawa menyunggingkan senyumannya, membuat Adam pun menjadi tersenyum. Adam melepaskan genggamannya pada tangan Hawa.

“Wa, kamu tau apa yang menjadi harapan saya bersama kamu, harapan merahi masa depan. Tentang keinginan melengkapi ibadah dalam menggapai ridha-Nya lewat mahligai rumah tangga yang kita bangun berdua, dan sekarang semua itu akan terwujud, kamu tau, aku tidak pernah berhenti menyebut namamu di setiap sujudku. ” ucap Adam sambil menatap Hawa tajam.

“Kamu juga harus tau kak, aku juga selalu menyebut nama kamu di dalam doa ku,” ucapnya dalam hati.

Hawa hanya diam membisu, hanya air matanya yang turun membasahi kedua pipinya, Hawa tidak pernah menduga kalau dia dipertemukan kembali dengan lelaki yang memegang teguh pada janjinya.

***

PERNIKAHAN

Tiba saat yang di nantikan kedua insan ini, Hawa yang mengenakan pakaian kebaya gamis berwarna pastel dan dipadukan jilbab yang senada, semakin memancarkan auranya. Adam yang tengah duduk dihadapan penghulu sudah siap untuk melaksanakan ijab kabul.

Saat Hawa yang hendak turun dari tangga menuju tempat pernikahan, Hawa mendadak merasakan sakit kepala hebat, tidak mau mengecewakan lelaki yang telah lama menunggu dan menantinya dia mencoba menahan rasa sakit yang menyerangnya, tiba- tiba pandangan Hawa menjadi gelap, dan kakinya terasa lemah dan tak sanggup untuk memijak anak tangga.

“Buuuuuukkkkk!!”

Hawa terjatuh terguling dari atas tangga rumahnya, seketika semua pandangan mata tertuju padanya, Dengan cepat Adam dan Doni langsung mendekati Hawa yang sudah hampir tidak berdaya, Hawa yang masih sempat berbicara pada Doni dan Adam, sesaat dirinya sebelum tak sadarkan diri.

“Lanjutin pernikahaannya kak, meskipun aku berada dirumah sakit.”

Hawa pun di larikan ke rumah sakit, dan pernikahan mereka pun kini di lanjutkan di Rumah sakit tempat Hawa di rawat.

***

Tidak lama kemudian terdengar suara haru bercampur tangis dari Doni yang menikahkan adiknya itu.

“Bismillahirrahmanirrahim … Muhammad Adam, Saya nikahkan, kawinkan adik saya Haura Natasyah Putri binti Pratama Hakim dengan Engkau Muhammad Adam dengan mahar seperangkat Alat sholat dibayar Tunai.

“Saya terima nikahnya, kawinnya, Haura Natasyah putri binti Pratama hakim, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. Adam berhasil mengucapkan ijab qabulnya dengan satu kali tarikan nafas.

Tak lama setelah saksi mengatakan bahwa pernikahan mereka sah. Adam berdiri dan mendekati ranjang rawat Hawa dan memegangi kepala Hawa, Adam melihat Hawa yang masih terbaring lemah, airmatanya pun menetes menatap Hawa yang kini istrinya yang menahan duka dan bercampur haru.

“Wa, aku telah menenuikan janji ku, aku menikahi kamu di hadapan Allah, di iringi untaian doa yang terucap, hari ini kamu telah sah menjadi istriku, dan aku berjanji akan selalu menjaga kamu, dan melindungi kamu sepenuh jiwa, tidak ada yang dapat memisahkan kita, kecuali maut. ”

Adam mengengga erat tangan Hawa, lalu adam mendekati wajahnya ketelinga Hawa, “Istriku … Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, meskipun engkau tertidur lama, i’m never stop love you. ”

Adam mencium kening Hawa, air matanya menetesi wajah Hawa yang terbaring lemah, Adam melihat buliran air mata yang menetes disudut mata Hawa. “Cepat sadar istriku,” ucap Adam lirih.

***

Hari hari yang dilalui Hawa, kini dia telah sadar dari tidur panjangnya, Hawa menyadari, Adam adalah laki-laki yang dengan segenap raga, yang ikhlas menjadikan dia sebagai istri, Adam telah berjuang untuk menahlukan hatinya, Adam yang tidak pernah lupakan janjinya”

Hawa menyentuh kepala Adam yang tertidur di samping ranjangnya.

“Kak … ” panggil Hawa lirih,

“Iya, kamu sudah bangun, kamu sudah sadar? kenapa Wa? apa yang sakit? ” Adam menatap Hawa dengan penuh Haru dan menggenggam tangan Hawa,

“Terima kasih telah memilihku, terima kasih telah mencintaiku, aku ingin meminta sesuatu pada kamu,”

“Apa … katakan,”

“Kak, ajari aku untuk selalu mengingat-Nya, nasehati aku jika aku berbuat kesalahan, nasehati aku agar aku hanya bertaqwa kepada-Nya, dan tegurlah aku jika aku lengah terhadap ajaran-Nya,” ucap Hawa.

Adam mengangguk, dan tersenyum

“Cepat sehat istriku sayang, aku mencintaimu.” Adam mengecup kening Hawa.

***

-THE END-


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here