Dua Sisi

0
202
views

“Saat menikah istri itu milik suami, sementara suami tetap milik ibunya!”
ucap Haris tegas.

“Tapi uang kita selalu kamu kasih ke mereka, kita juga butuh uang Mas!”
Balas Rina, lalu melempar uang seratus ribu ke arah Haris, suami yang sudah ia nikahi selama 6 tahun.

“Makanya kamu harus berhemat, gak perlu beli make up dan baju baru begini!”
Haris melempar baju yang baru Rina beli ke lantai. Rina terdiam dengan mata berkaca.

“Aku juga pengen seperti perempuan lain, punya make up, punya baju bagus.”

“Aku cuma pegawai kantoran Rin, bukan pengusaha!”

“Dan itu cukup, kalau aja Mas gak ngasih uang terus ke mereka!”
Rina menatap Haris sebentar lalu masuk ke dalam kamar dan menghempas pintu dengan kencang.

Haris mendengus kesal kemudian mengambil uang seratus ribu yang tadi dilempar Rina ke lantai. Haris Bergegas lari keluar rumah, namun Hanna sudah tidak ada.

*
Nur langsung berdiri ketika mendapati putrinya, Hanna, masuk ke dalam rumah dengan berlinang air mata.

“Kamu kenapa Han?”
Tanya Nur khawatir.

Hanna menarik napas sebentar, menghembuskan perlahan kemudian menatap ibunya.

“Mbak Rina marah Bu.”

“Kenapa dia marah?”
Nur menarik putrinya mengajak duduk di atas sofa yang menghadap jendela.

“Ibu ‘kan nyuruh aku buat mintak uang 100 ribu ke Mas Haris, tapi Mbak Rina marah, katanya kita selalu minta uang ke mereka.”

“Astaghfirullah.”
Nur mengelus dada, tidak menyangka dengan ucapan menantunya. Memang Haris selalu memberinya uang, karena suaminya, yang tidak lain ayah Haris tidak mampu menafkahi mereka karena hanya bekerja sebagai pengemudi ojek, sementara saat ini Hanna membutuhkannya banyak uang untuk persiapan ujian sekolahnya.

“Biar nanti Ibu yang bicara,”
ucap Nur berusaha menenangkan Hanna yang sedang menangis.

“Hanna kenapa Bu?”
Nur menatap suaminya yang berada di depan pintu.

“Ini Pak, Hanna mau minta uang ke Haris buat beli buku ujian.”
Nur menarik napas.
“Tapi Rina marah.”

“Yasudah lah, nanti bapak carikan uangnya.”

“Tapi Hanna butuh hari ini pak.”
Hanna menatap ayahnya. Lelaki paruh baya itu pun menunduk, dulu ia susah payah menyekolahkan Haris, menarik ojek hingga larut malam, dan menahan lapar, demi mengumpulkan uang agar Haris bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, agar Haris bisa menjadi orang kaya lalu membantu adiknya.

****

Rina menatap beberapa baju yang ada di dalam lemari, beberapa baju sudah terlihat lusuh.

Rina mengusap kembali air mata yang mengalir di pipi. Dulu, saat ia belum menikah, setiap bulan selalu ada baju baru di dalam lemari, make up pun tidak pernah habis, ayahnya tidak pernah pelit memberikan uang bulanan, tapi ketika bersama Haris setiap bulan dia harus sangat berhemat, sehingga untuk membeli baju pun harus menunggu lebaran dulu.

“Ma… Makan.”
Rina menoleh, ujung bajunya ditarik Dino, bocah kecil berusia 4 tahun itu seketika membuat Rina melupakan resah di dada.

“Mau makan ya Nak?”

Dino mengangguk.

“Ayok.”
Rina menarik tubuh Dino dan menggendongnya.

Saat keluar kamar Rina melihat Haris sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.
Dengan cepat Rina melanjutkan langkah.

“Ma… Mau makan di depan,”
ucap Dino sesaat setelah Rina meletakan piring berisi nasi bersama dua potong sosis dan telur ke hadapannya.

“Udah Nak, makan di sini aja.”

“Mau di depan.”
Rina mendengus kesal namun kemudian menuruti permintaan Dino untuk makan di depan, yaitu di sofa yang sama dengan Haris.

Rina duduk di samping Haris, lalu menaikan Dino ke pangkuannya.

Haris menoleh sebentar lalu kembali fokus menatap laptop.

Pintu di ketuk.

Terpaksa Rina harus bangkit dan membukanya.

“Ibu… Masuk bu,”
ucap Rina ramah berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya, Rina tau setiap kali mertuanya datang maka uang belanjanya akan berkurang.

Haris yang melihat kedatangan ibunya pun langsung menyingkirkan laptop dari pangkuan dan meletakan ke atas meja.

“Eh, ibu… Hanna mana Bu,”
ucap Haris lalu merogoh sakunya.
“Ini uangnya.”
Haris menyodorkan uang seratus ribu tiga lembar kepada ibunya.

Rina menatap kesal. Uang itu harusnya ia gunakan untuk memperbaiki kulkas mereka yang rusak.

“Adikmu butuh uang buat bayar buku.”
Nur meraih uang yang di sodorkan Haris lalu duduk di sampingnya.
“Seratus ribu aja.”
Lanjut Nur.

“Gak pa-pa Bu, ambil aja semua.”

“Oh, yasudah. Makasih ya Nak.”
Nur memasukan uang yang diberikan putranya ke dalam dompet kecil yang ia bawa.

“Gajian lalu kan mas udah ngasih sejuta, Minggu lalu delapan ratus ribu.”
ucap Rina yang sudah tak tahan. Selama ini ia selalu diam setiap kali Haris memberikan uang kepala ibunya.

“Uangnya buat sekolah Hanna.”
Jawab Nur.

Rina menahan kesal. Sudah tahu tidak mampu kenapa Hanna harus di sekolahan di sekolah swasta yang mahal.

“Kamu jangan pelit Rin.”
Gerutu Haris, pandangan menatap Rina tajam.

“Pelit? Aku gak salah dengar? hampir semua uang yang Mas punya di kasih ke mereka.”
Rina balas menatap Haris tajam.
“Dengar ya mas, orang tuaku gak pernah memperlakukan aku seburuk ini. Baju baru selembar pun aku gak punya!”

“Dengar yah Rin! Orang tuaku sudah banyak berkorban sampai aku ada di titik ini, kamu hanya menemaniku selama 6 tahun dan sudah menginginkan semuanya!”

“Oh, yasudah. Kasih aja semuanya uang kita buat ibu,”
ucap Rina yang sudah tidak mampu menahan kekesalan yang sudah bertahun-tahun ia sembunyikan.

“Apa-apaan kamu Rin!”
Haris berdiri menatap Rina dengan mata berapi-api.

“Aku sudah sabar ya mas selama ini. Tuh kulkas kita rusak perlu diperbaiki, bayar air, bayar listrik, keperluan Dino. Kita ini bukan orang kaya yang punya banyak uang dan bisa dibagikan ke orang-orang.”

“Dengar ya Rin, kalau Ibu punya uang Ibu juga gak bakal minta-minta seperti ini.”
Nur ikut berdiri menatap menantunya.
“Ini uang kalian.”
Lanjut Nur meletakan uang yang tadi diterimanya ke atas meja.

“Gak usah Bu, ambil aja uangnya.”

“Gak usah Ris.”

“Ambil aja Bu uang mas Haris, ambil semuanya.”
Teriak Rina yang seketika membuat Haris melayangkan tamparan.

“Keterlaluan kamu mas!”

“Kamu yang keterlaluan dia itu ibuku!”

“Dan aku istrimu, aku juga butuh nafkah,”
ucap Rina penuh amarah, Rina menggendong Dino yang menangis kemudian masuk ke dalam kamar dan mengumpulkan pakaian untuk di masukan ke dalam koper berukuran besar.
Rina ingin pulang, sudah tidak tahan. Selama hidup bersama orang tuanya Rina tidak pernah di perlakukan seburuk itu, dia bisa mendapatkan apapun yang di inginkan, pakaian dan makanan, semua terpenuhi tidak seperti saat bersama Haris yang selalu di batasi.
*

Nur memilih pulang dan meninggalkan uang yang di beri Haris di atas meja, tangisnya tumpah bersama dengan kaki yang terus melangkah.
Nur ingat, di jalan yang sama ia pernah menggendong Haris demi membawanya ke rumah sakit, kala itu ia tidak punya uang dan harus mencari pinjaman. Pernah juga ia harus menjual semua barang yang ia punya demi membayar sekolah Haris, agar dia bisa menjadi seseorang yang sukses.
*

Haris terdiam, menatap lembaran uang yang ada di atas meja yang ada di depannya.

TAMAT.

Penulis : Icha Marissa

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here