Dua Kepribadian #29

0
127
views

Nilam melangkah keluar rumah, lalu berdiri di teras sambil memainkan handphone. Saat ini, dia sedang menunggu kedatangan Yamada, laki-laki itu sudah berjanji akan membawanya jalan-jalan hari ini.

Sebulan yang lalu, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-20, Yamada menyatakan cinta padanya. Itu adalah kado terindah yang pernah ia terima.

#Flashback_On

Nilam melirik Yamada yang tampak sibuk di bar, laki-laki itu sama sekali tidak mengajaknya bicara, menyapa pun tidak, apalagi mengucapkan sesuatu padanya.

“Nggak ada yang ingat ulang tahun gue, ya?” Nilam menghela napas, pasrah.

“Yasudahlah, nggak penting juga.”

Nilam berlalu pergi masuk ke dapur, beres-beres di sana. Saat itulah Yamada menatap ke arahnya, laki-laki itu tersenyum memperhatikan punggung Nilam yang hilang di balik tembok dapur.

Dia tahu gadis itu ulang tahun hari ini dan dia sudah mempersiapkan kejutan untuk gadis itu. Nanti malam, dia akan menyatakan perasaannya.

Dia akui, dia mulai mencintai gadis itu. Dia hanya bisa berharap, semoga Nilam juga memiliki perasaan yang sama padanya.

“Gue nggak sabar pengen lihat reaksi lo nanti malam. Apa lo akan terkejut? Atau malah marah-marah seperti selalu.”

Malam yang ditunggu Yamada pun tiba, satu per satu pengunjung mulai mengisi tempat duduk. Nilam dan Yamada pun mulai sibuk melayani mereka.

“Uh, capek banget.” Nilam pun memutuskan duduk di tempat duduk paling pojok. Dia bisa istirahat sebentar, sebelum nanti kembali harus bekerja.

“Hallo, semuanya!”

Nilam menoleh pada Yamada yang barusan menyapa dengan menggunakan microfon, dahinya berkerut saat melihat Yamada duduk di kursi panggung dan memangku sebuah gitar.

“Kalian tentu sudah kenal saya, kan? Saya Ryusuke Yamada.”

Yamada diam sejenak, matanya sibuk mencari sosok Nilam. Dan saat sudah menemukan sosok yang dicari, dia mengukir senyuman.

“Malam ini saya mau bernyanyi. Dan lagu ini, saya nyanyikan untuk seorang wanita yang spesial dalam hidup saya.”

Nilam yang tidak tahu lagu itu untuknya, merasa sangat sedih. Ada rasa sakit di hatinya saat mendengar ucapan Yamada barusan.

“Jadi, selama ini Ryu udah punya pacar? Dia kok nggak pernah ngenalin sama gue. Kalau gue tahu dari awal, hati gue nggak bakalan sakit kayak gini,” ucap Nilam dalam hati.

Yamada mulai memetik gitar di pangkuannya, detik berikutnya dia mulai bernyanyi.

┬░Kata-kata tak kan pernah bisa mengungkapkannya.
Rasa ini juga rindu ini kian menjadi.
Terserah, terserah, mau bilang apa.
Kuikuti saja hati ini sambil bertanya.
Inikah cinta?
Ataukah hanya rasa takut kehilangan
Tak mau dipisahkan.
Benarkah cinta?
Atau khyalan saja.
Aku sungguh tak tahu.

Prok!
Prok!
Prok!

Semua pengunjung bertepuk tangan setelah Yamada mengakhiri lagunya.

“Lagu barusan gue nyanyiin untuk lo, Lam.”

DEG!

Nilam kaget mendengar kalimat yang barusan Yamada lontarkan, dia mendongak dan mendapati Yamada sudah berdiri di hadapannya.

“Happy birthday, sweety.”

Nilam tidak mampu berkata-kata, dia hanya diam menunggu Yamada melanjutkan kalimatnya.

“Aku suka kamu, Lam. Kamu mau ‘kan jadi pacarku?”

Nilam tidak mampu bersuara, dia hanya diam, menatap Yamada dengan mata yang berkaca-kaca.

“Lam, kamu mau …,”

Yamada tidak melanjutkan ucapannya ketika Nilam memeluknya, gadis itu menangis di dadanya.

“Aku mau.”

#Flashback_Off

“Hai, sayang,” sapa Yamada setelah menghentikan vespanya di hadapan Nilam.

Nilam tersenyum, lalu naik di boncengan laki-laki itu.

“Mau ke mana nih, yank?” tanya Yamada sembari menjalankan vespa, menjauhi perkarangan rumah Nilam.

“Ke taman aja dulu, yuk!”

“Oke, yank. Pegangan yang erat, ya? Aku ngebut,nih.”

“Oke, yank.”

oOo

Raska kembali ke parkiran motor saat tak menemukan Calasha di mana pun, mengira gadis itu sudah pulang, dia pun berlalu meninggalkan parkiran Shoutbox.

‘Calasha beneran udah pulang atau belum, ya?’ batin Raska bertanya-tanya.

‘Kenapa dia pergi gitu aja? Kenapa nggak ngasih tahu gue?’

Raska meminggirkan motor, saat mendengar handphone di saku celana berbunyi.

“Raiyan,” gumamnya pelan, saat melihat nama Raiyan yang muncul di layar.

Baru saja dia ingin menjawab panggilan itu, tetapi keburu mati. Tak lama kemudian, muncul satu pemberitahuan pesan masuk dan pengirimnya adalah Raiyan.

Ting!

– Raiyan –

Lo di mana?

– Raska –

Di jalan, mau pulang.

Ting!

– Raiyan –

Yaudah, hati-hati di jalan.

Raska tidak lagi membalas, kemudian dia kembali melajukan motornya berlalu dari situ. Dia harus segera tiba di rumah dan minum obat.

Sementara itu ….

Raiyan menghembuskan napas lega, akhirnya dia tahu bahwa Raska baik-baik saja.

“Syukurlah, dia baik-baik saja,” ucapnya pelan, lalu bangkit dari tempat tidur, kemudian berlalu keluar dari kamar.

Tiba di luar dia mengedarkan pandangan ke seliling ruangan, mencari sosok Calasha yang tidak terlihat di mana pun.

“Calasha mana, ya?”

Raiyan melihat jam di pergelangan tangan, yang menunjukan pukul dua siang lewat tiga puluh menit.

“Tumben, jam segini Calasha belum datang,” ucapnya sembari melangkah keluar dari rumah.

Raiyan menatap jalanan di depannya, hanya terlihat segelintir kendaraan motor yang berlalu-lalang. Raiyan menghela napas, merasa kecewa saat tidak menemukan Calasha di sana.

“Kenapa aku jadi kangen Calasha gini, sih!”

Raiyan mengaruk kepala yang entah mengapa tiba-tiba gatal, dia hendak berbalik kembali masuk ke dalam, tetapi batal saat mendengar suara motor masuk ke perkarangan rumah.

Raiyan memperhatikan Raska yang melangkah mendekat, ada yang beda dengan laki-laki itu, tetapi apa?

Setelah berpikir keras, akhirnya dia menemukan perbedaannya, yaitu, terletak pada pakaian yang Raska pakai.

Tadi malam, laki-laki itu jelas memakai kaos warna hitam dan celana jins warna biru. Namun sekarang, laki-laki itu memakai kemeja abu-abu dan jins warna hitam.

“Dari mana kamu?” Raiyan langsung melontarkan pertanyaan setelah Raska dekat dengannya.

“Kepo!”

“Kamu bilang aku, kepo?”

Raiyan melangkah masuk menyusul Raska yang lebih dulu masuk ke rumah.

“Kamu pergi dari rumah tadi malam, sama sekali nggak ngabarin aku. Aku nggak tahu kamu tidur di mana, udah makan apa belum, dan ….”

“STOP!” Raska menatap Raiyan jengah.

Raiyan terdiam, menatap Raska bingung.

“Kenapa kamu menghentikan aku bicara?”

“Lo cerewet banget, kek cewek aja! Udahlah, bang, nggak usah segitunya sama gue. Berapa kali lagi, gue harus bilang soal ini ke elo, gue bisa jaga diri gue sendiri.”

Raiyan terdiam.

“Kalau soal ke mana gue tadi malam, gue di rumah Calasha, tidur di sana.”

Usai mengatakan itu dia berbalik badan, kembali berlalu meninggalkan Raiyan yang terpaku.

Jelas sekali ucapan Raska barusan membuat dia terkejut, kenapa Raska bisa tidur di sana? Dan kenapa Raska bisa tahu di mana Calasha tinggal?

Raiyan tersenyum kecut, menyadari bahwa dia cemburu pada Raska. Laki-laki itu lebih banyak tahu tentang Calasha, ketimbang dirinya.

oOo

Yamada dan Nilam menyusuri taman yang siang ini lumayan ramai pengunjung, baik itu anak-anak, remaja mau pun orang dewasa. Ada yang datang bersama keluarga, pacar dan ada juga yang datang sendirian.

“Ramai ya, yank?” Nilam menatap Yamada yang berjalan di sampingnya.

Yamada tersenyum dan mengangguk, lalu mengalihkan pandangan, menatap jejeran penjual kaki lima yang menjual berbagai jenis jajanan, dari yang ringan hingga berat.

Pandangan Yamada berhenti pada tukang ketoprak, dia mengusap perutnya yang mendadak lapar.

“Yank, makan ketoprak, yuk!” ajak Yamada sembari menarik pergelangan tangan Nilam agar mengikutinya.

Tiba di sana, mereka segera duduk, lalu memesan dua piring ketoprak dan dua gelas orange juice.

Setelah pesanan datang, mereka segera menikmatinya dalam diam.

Yamada bersendawa setelah menghabiskan sepiring ketoprak dan segelas orange juice dan segelas air putih.

Nilam menatapnya kesal, “kamu selalu bersendawa setiap selesai makan. Apa kebiasaan itu tidak bisa dihilangkan? Kamu membuatku malu saja.”

Yamada meringis, “maaf! Aku kelepasan, sayang.”

Nilam memberengut, “selalu begitu.”

“Maaf, yank. Oke, deh, sebagai permintaan maaf aku, kamu mau apa? Aku beliin, deh.”

“Kamu serius?”

“Aku serius, sayang.”

“Yaudah, aku mau es krim. Kamu beliin, ya?”

“Es krim?”

“Iya.”

“Oke, kamu tunggu di sini, ya. Aku beliin dulu es krimnya.” Yamada pun berlalu dari situ.

Selagi menunggu Yamada kembali, Nilam memperhatikan keadaan sekitarnya. Saat itulah pandangannya tak sengaja jatuh pada seorang perempuan, yang duduk sendirian di tengah taman.

“Itu kan ….”

“Sayang! Aku kembali.”

Nilam menatap Yamada yang barusan bersuara, dia tersenyum saat melihat Yamada, laki-laki itu membawa dua es krim di tangannya.

“Kebetulan kamu udah kembali. Ikut aku, yuk!”

Nilam menarik tangan Yamada berlalu dari situ.

“Kita mau ke mana, yank?”

“Udah, nanti kamu juga tahu.”

Nilam mengajaknya ke tengah-tengah taman, lebih tepatnya menghampiri perempuan yang tadi dilihatnya.

“Calasha!”

Calasha menoleh ke arah orang yang barusan memanggilnya, lantas tersenyum saat mendapati Nilam dan Yamada melangkah mendekatinya.

“Ternyata benaran lo, Cha. Yaampun, gue senang banget ketemu lo lagi,” ucap Nilam sambil meluk Calasha erat.

“Aduh, kamu kekencangan meluk aku, Lam. Aku susah bernapas, nih.”

“Hehe. Maaf, Cha.”

Nilam melepaskan pelukan dari Calasha, kemudian duduk di samping gadis itu.

“Kamu sendiri, Cha?”

Calasha mengangguk, lalu melirik Yamada yang sama sekali tak bersuara.

“Kalian ke sini, barengan?”

Nilam mengangguk dan tersenyum, “kita udah jadian, Cha.”

“Benaran, kok bisa? Kalian kan nggak pernah akur, tahu-tahu udah jadian aja.”

“Panjang ceritanya, Cha. Intinya, kita berdua saling cinta,” ucap Yamada seraya duduk di samping Nilam.

“Oh, langgeng, ya?”

“Makasih, Cha,” ucap Nilam dan Yamada bersamaan.

Calasha hanya mengangguk, kemudian kembali terdiam.

“Oh, ya, lo ngapain di sini, Cha?”

“Eh, itu ….”

Calasha bingung harus menjawab apa, dia sendiri tidak tahu mengapa dia di sana.

“Lo tahu nggak, Cha?”

Calasha menatap Nilam, menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.

“Si Winda udah meninggal, lho.”

“Kenapa?”

“Dibunuh!”

“Dibunuh?”

Nilam mengangguk, “iya, dia dibunuh orang. Dan sampai saat ini, pembunuhnya belum ke tangkep.”

“Motif Winda dibunuh, kenapa?”

Nilam menggeleng pelan, tidak tahu.

“Mungkin orang yang dendam sama dia kali. Dia kan jahat, hukuman tu buat dia.”

“Huss … nggak boleh ngomong begitu, orangnya udah meninggal, yank,” tegur Yamada, merasa tidak suka mendengar ucapan Nilam barusan.

Nilam hanya tersenyum, lalu meminta maaf.

“Aku pulang dulu, ya,” pamit Calasha, lalu berdiri dan berlalu pergi meninggalkan kedua orang itu.

Nilam memperhatikan punggung Calasha yang semakin menjauh, “Calasha berubah, ya,”

Yamada ikut memperhatikan Calasha yang semakin menjauh, jika di lihat-lihat, memang ada yang beda dengan Calasha. Penampilan gadis itu terlihat lebih gaul, dari pada yang dulu.

“Iya, yank. Dia makin terlihat cantik.”

Nilam menatap Yamada sinis, merasa tidak suka mendengar ucapan laki-laki itu barusan.

“Kamu ngomong apaan, sih?”

Yamada menatap ke arahnya, lantas tersenyum saat menyadari ketidak sukaan Nilam akan ucapannya barusan.

“Kamu cemburu sama Calasha?”

Nilam melotot kesal, kemudian menggeleng cepat.

“Apaan, sih? Siapa juga yang cemburu? Geer banget, sih!”

“Udah deh, ngaku aja, kamu cemburu, kan?”

“Nggak, aku nggak cemburu kok. Udah deh, pulang, yuk!”

Nilam kemudian bangkit, lalu memutuskan pergi duluan dan meninggalkan Yamada di belakang.

“Tungguin aku, yank!”

Bukannya menunggu, Nilam semakin mempercepat larinya. Terjadilah aksi saling kejar-kejaran.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here