Dua Kepribadian #28

0
162
views

Pertemuan Kembali


“Kita ngapain di sini?”

Calasha menatap Raska minta penjelasan. Mengapa Raska membawanya ke Shoutbox?

“Tadi katanya mau pulang.”

Tak kunjung mendapat jawaban, Calasha mengalihkan pandangan ke arah bangunan yang berdiri kokoh di depannya.

“Rame, ya?” tanyanya saat melihat banyak anak-anak muda seusia mereka nongkrong di sana.

“Ayo.”

Raska menggenggam tangan Calasha, kemudian mengajaknya masuk ke dalam Shoutbox. Jantung Calasha berdetak di luar kendali, dia menatap tangannya yang di genggam Raska.

“Apa ini? Kenapa jantungku berdebar kencang sekali? Kenapa rasanya bahagia sekali?” Bantin Calasha bertanya-tanya.

“Lo tunggu di sini,” ucap Raska mengembalikan kesadaran Calasha.

Belum sempat dia mengatakan sesuatu, Raska keburu berlalu meninggalkannya.

Calasha yang ditinggal sendirian pun memilih duduk disalah satu meja terdekat, kemudian menatap Raska yang tampak berbincang dengan dua orang laki-laki yang sama sekali tak ia kenal. Tak lama dari itu, Calasha melihat mereka mulai menaiki panggung musik dan menempatkan posisi di depan alat musik masing-masing.

Alunan musik mulai terdengar menghiasi Shoutbox siang ini, Calasha tak berkedip saat menyaksikan penampilan Raska yang luar biasa keren.

“Suara Raska bagus juga, ya,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari laki-laki itu.

PROK!
PROK!
PROK!

Suara tepuk tangan bergemuruh setelah musik berhenti.

“Oke, sekian penampilan dari kami siang ini.”

Raska dan dua laki-laki itu pun turun dari panggung. Kembali Calasha melihat mereka mengobrol sesaat sebelum berpisah. Setelah itu, Raska kembali menghampirinya.

“Hebat! Suara kamu bagus banget.” Sambil tersenyum lebar menatap Raska yang sudah duduk di depannya.

“Mbak, sini!”

Calasha menghela napas, lagi-lagi Raska mengacuhkannya.

‘Syukurlah, sifat menyebalkannya sudah kembali. Tadi malam, dia benar-benar membuatku sedih luar biasa.’ batin Calasha merasa lega.

“Mau pesan apa, dek?”

Raska menoleh pada wanita yang barusan bertanya, ternyata itu wanita yang ia panggil tadi.

“Mie ayam dua mangkuk ya, mbak. Terus, minumannya juice orange saja.”

“Hanya itu saja, dek?”

Raska mengangguk.

“Baik, tunggu sebentar, ya.” Wanita itu pun berlalu pergi meninggalkan Raska dan Calasha yang saling mendiamkan diri.

“Hmm … a-aku ke toilet dulu, ya,” pamit Calasha, lalu tanpa menunggu jawaban Raska, dia pun berlalu dari situ.

Raska menatap punggung Calasha yang perlahan menjauh, kemudian tersenyum simpul.

“Gue akan berjuang sekali lagi, hanya untuk lo Calasha Vantrika.”

***

“Hei, lo, cewek rambut hitam!”

Calasha menghentikan langkah ketika mendengar suara bariton seorang laki-laki di belakangnya dan disusul derap langkah kaki mendekat.

Calasha berbalik lantas terkejut saat mendapati Fahri lah yang barusan memanggilnya

“Lo Acha ‘kan? Si cewek aneh itu.” Fahri menatap gadis di depannya dengan teliti.

Awalnya dia tidak benaran yakin gadis itu adalah Calasha, tetapi setelah melihat dari jarak dekat, ternyata gadis itu benar-benar Calasha.

“Wah, wah, ternyata lo benaran Acha, ya.” Fahri tersenyum simpul, menatap Calasha di depannya yang sudah pucat.

“Maaf, saya harus pergi.” Calasha berniat akan pergi, tetapi tangan Fahri lebih dulu menahannya.

“Buru-buru amat, mau ke mana emangnya?”

“Lepaskan!” pekik Calasha tiba-tiba, refleks Fahri pun melepaskan tangan gadis itu yang tadi dicekalnya.

Calasha tidak benar-benar niat membentak Fahri. Hanya saja, dia takut Fahri kembali menyakitinya lagi seperti dulu.

“Nggak usah takut. Gue nggak berniat menyakiti lo, kok. Gue nggak ada hak untuk itu.” Senyuman Fahri semakin lebar saat melihat wajah Calasha semakin pias, sepertinya gadis itu benar-benar trauma bertemu dengannya.

“Hmm … gue minta lo hati-hati aja, deh. Mending lo buruan pergi dari tempat ini, karena gue nggak yakin lo bakalan baik-baik saja jika Daffi lihat lo ada di sini. Dia … masih dendam banget sama lo.”

Calasha tak lagi sadar. Banyak suara mengisi kepalanya, saling bersahut-sahutan dan begitu berisik. Calasha menutup telinganya kuat-kuat, berharap tak mendengar suara-suara itu.

Fahri yang merasa ada yang aneh dengan Calasha pun segera pergi meninggalkan gadis itu di sana sendirian, bahkan dia dapat mendengar teriakan histeris gadis itu sebelum benar-benar menghilang dari sana.

Anak aneh!
Nggak punya orang tua!
Anak haram!
Hahaha …!

“Diam! Keluar dari kepalaku. Aaa …!” sambil menarik rambutnya kuat.

Calasha menjatuhkan diri ke lantai, berteriak histeris dan menangis di sana saat kilasan balik tentang masa lalu kembali muncul mengisi kepalanya.

#Flashback_On

“Eh, kamu ngapain di sini?”

Calasha menatap anak laki-laki bertubuh bongsor yang menghalangi jalannya.

“Mau daftar sekolah.”

“Kalau mau daftar sekolah, kenapa sendirian? Mana orang tuamu?”

Calasha tidak menjawab, dia berlalu begitu saja meninggalkan anak itu yang tampak kesal.

“Ih, dasar, lihat aja kamu nanti.”

Calasha masih mampu mendengar ucapan anak laki-laki itu yang bernada ancaman, tetapi dia tidak begitu peduli. Dia datang ke SMP Bakti Jaya hanya untuk mendaftar sekolah di sana, dia tidak akan mencari masalah pada siapapun.

Akan tetapi, anak laki-laki itu yang ternyata bernama Daffi tidak pernah membiarkan Calasha tenang di sekolah. Dia dan teman-temannya selalu membulli gadis itu di sekolah dan berbagai hinaan selalu mereka lontarkan pada gadis itu.

“Dasar anak aneh!”

“Anak haram!”

“Nggak punya orang tua!”

“Anak pembawa sial!”

#Flashback_Off

Terdengar dengingan keras dari dalam telinga Calasha, suara-suara yang tadi memekakan telinga tidak lagi terdengar dan kilasan balik yang mengisi kepalanya barusan hilang. Setelah itu, Calasha tidak sadar apa-apa lagi. Dia pingsan.

***

Raska melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah setengah jam sejak kepergian Calaha dan gadis itu belum kembali juga. Dia pun mulai gelisah.

“Udah 30 menit berlalu, tapi Calasha belum kembali juga. Apa terjadi sesuatu?” Tergambar jelas raut khawatir di wajah tampannya. “Mending gue susul aja, deh.”

“Gue mau kita putus!”

Raska tidak jadi melangkah saat keributan tiba-tiba terjadi di depannya, pertengkaran antara dua sejoli yang berhasil membuat dia kesal.

“Lo bilang apa barusan? Coba ulangi sekali lagi.”

“Gue mau kita putus!”

“Kalau gue nggak mau, gimana dong?” Diiringi senyuman simpul laki-laki itu mengatakannya.

“Gue tetap mau putus, titik!”

Perempuan itu berlalu hendak pergi, tetapi tangan cowok itu lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.

“Lo pikir bisa pergi begitu aja dari gue?”

“Lepasin tangan gue! Sakit ….”

“Lepasin perempuan itu!” Raska bersuara setelah lama terdiam.

Bukan maksudnya ingin ikut campur. Hanya saja, dia tidak tahan bila melihat perempuan di sakiti.

Raska melangkah mendekat, sama sekali tidak peduli jika saat ini dia menjadi pusat perhatian.

‘Raska nolongin gue? Mimpi apa gue semalam?’ Batin Odelia, merasa senang.

Odelia merupakan anak kelas XI IPS-2 di SMA High School Internasional. Dia kenal betul siapa Raska di sekolah, seorang laki-laki yang di idolakan hampir sebagian murid perempuan.

“Siapa lo?”

“Nggak penting lo tahu siapa gue, gue hanya minta lo lepasin dia.”

“Nggak salah dengar gue?” Yudha tersenyum sinis, dia melemparkan tatapan sinis ke arah Raska.

“Ini masalah kita berdua, lo nggak usah ikut campur, deh!”

“Gue nggak akan ikut campur, jika lo nggak nyakitin dia.”

“Allaa … banyak omong lo.”

Yudha melepaskan tangan Odelia, lalu merangsek ke depan, melayangkan tinju ke wajah Raska.

Raska berhasil menghindar.

“Brengsek!” Yudha mengumpat kesal, pandangannya semakin menajam.

“Sellow, bro. Nggak usah pake kekerasan, gue lagi malas berantem.”

“Alaa … bacot lo!”

Lagi-lagi Yudha melayangkan tinjunya secara ganas, dia juga menggunakan kaki untuk menendang Raska, tetapi satu pun dari serangan itu tidak ada yang mengenai laki-laki itu.

“Dasar, payah!” Yudha mengumpat kesal sambil menghentikan serangan.

Dia kewalahan menghadapi laki-laki di depannya, yang sedari tadi hanya menghindar tanpa melakukan perlawanan.

“Yud!”

Yudha menoleh ke arah orang yang barusan memanggilnya, lantas mendapati Fahri sedang melangkah mendekat.

“Apa?!”

“Eits … gue tahu lo lagi kesal, tapi nggak usah ngegas ke gue kali, bro.” Fahri tak terima.

“Hmm … sorry! Just reflexs.”

“Oke. Hmm … Daffi ngajak cabut.”

“Tapi …,”

“Udah, lepasin aja si Ode. Cewek cantik masih banyak, kok.”

Yudha mengangguk, kemudian menatap laki-laki di depannya sengit.

“Gue bakalan pergi, tapi lo jangan senang dulu. Urusan kita belum selesai. Lihat aja ntar, gue bakalan cari lo,” ucapnya penuh dendam pada Raska, lalu berlalu pergi dari situ.

“Makasih ya, Ka. Lo udah nolongin gue.”

Raska menatap datar perempuan di depanya, “Lo kenal gue?”

Odelia mengangguk pelan, “Kita satu sekolah.”

“Oh.”

“Iya, gue Odelia. Saat ini gue duduk di kelas XI IPS-2,” beritahunya.

“Gue nggak nanya, tuh,” ketusnya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.

Odelia tersenyum menatap punggung Raska yang semakin menjauh.

“Gue suka lo, Ka. Lihat aja nanti, gue pasti bisa dapetin lo,” ucap Odelia penuh tekad dan keyakinan yang besar.

Setelah sosok Raska sudah tidak terlihat lagi, dia pun melenggang pergi meninggalkan tempat itu.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here