Dua Kepribadian #27

0
137
views

Informasi Penting


Pagi menjelang.

Calasha membuka mata saat mendengar dengkuran halus seseorang di sampingnya, saat menoleh ternyata orang itu adalah Raska. Dia menegakkan punggung dan mengucek-ngucek mata, ternyata dia tertidur dalam posisi duduk di samping lelaki itu.

“Hoam!”

Calasha menutup mulut saat menguap dan tangan yang satu lagi menyentuh dahi Raska.

“Syukurlah, panasnya sudah turun.” gumamnya pelan seraya menatap wajah Raska yang tampak damai saat tidur.

Tadi malam saat memberikan selimut pada Raska yang sudah tidur di kursi, dia mendapati laki-laki itu dalam keadaan demam tinggi.

Tidak tega membiarkan Raska tidur di luar dia pun membawa laki-laki itu ke dalam kamar.

#Flashback_On

Ups!

Calasha menghembuskan napas lega setelah berhasil membaringkan tubuh berat Raska ke tempat tidur.

“Panas sekali,” cetus Calasha saat merasakan panas di punggung tangannya setelah menyentuh dahi Raska. Dia menatap laki-laki itu sesaat, kemudian bangkit dan melangkah menuju dapur.

Setelah menemukan apa yang dicari, dia pun kembali ke kamar membawa baskom berisi air dan handuk kecil.

Dia duduk di samping tempat tidur dan mulai mengompres dahi Raska dengan handuk itu. Hal itu dia lakukan berulang-ulang kali, hingga tak sadar dia pun tertidur karena kelelahan.

#Flashback_Off

“Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kamu tadi malam. Kamu terlihat begitu rapuh, dan entah mengapa itu menyakitiku,” ujar Calasha pelan seraya menyentuh rambut Raska dan mengusapnya pelan. “Aku lebih menyukai dirimu yang dingin dan cuek itu. Jadi, kembali lah seperti biasanya, ya?” sambungnya, sembari menitikkan air mata.

Tahu-tahu ada tangan menghapus air mata itu, Calasha terhenyak saat merasakan jari-jari tangan Raska menyentuh pipinya.

“Ngapain lo nangis?” tanya Raska, suaranya terdengar serak.

Calasha menatap ke arahnya lantas manik mata mereka saling bertaut, untuk waktu yang sangat lama mereka hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Ehem ….” Raska menarik kembali tangannya yang masih nempel di pipi Calasha, kemudian berpaling ke arah lain. “Gue haus. Bisa ambilkan gue minum?” tanya Raska, dia sama sekali tidak menatap Calasha saat mengatakan itu.

“Hah, eh, hmm … baiklah, tunggu sebentar.” Calasha segera bangkit, kemudian melangkah keluar dari kamar meninggalkan Raska yang sibuk menatap ke langit-langit kamar.

Baru dia sadar bahwa rumah yang Calasha tempati sekarang tidak benar-benar layak untuk ditinggali, sebenarnya apa yang gadis itu pikirkan? Tinggal sendirian di gubuk tua seperti ini? Apa gadis itu sudah gila?

Tidak betah di sana, dia memutuskan bangkit dan berlalu keluar dari kamar. Di luar lagi-lagi dia mengutuk kebodohan gadis itu yang masih bertahan hidup di tempat buruk rupa seperti ini.

“Kau … ngapain di sini?”

Raska menoleh ke arah Brisley yang barusan bersuara, “Bukan urusan lo.” jawab Raska, lalu memutuskan untuk duduk saat rasa sakit di kepalanya kembali menyerang.

“Uh, menyebalkan.” ujar Brisley sembari terbang menemui Calasha di dapur.

Di dapur dia melihat Calasha sedang sibuk membuat cokelat panas dan nasi goreng, tanpa bertanya pun dia tahu semua itu Calasha bikin untuk laki-laki dingin itu.

“Cha, kenapa laki-laki itu ada di sini?” tanya Brisley.

Masih tetap memasak, Calasha menjawab pertanyaan Brisley tanpa menoleh ke arah burung itu, “Tadi malam dia ke sini.”

“Jadi laki-laki itu dari tadi malam ada di sini? Kok aku nggak tahu?”

“Kamu kan tidur, Bris.”

“Kenapa nggak bangunkan aku? Aku kan nggak tahu apa saja yang sudah kalian lakukan.”

“Tadi malam dia kehujanan dan demam, kemudian aku mengompresnya dan ketiduran. Hanya itu yang terjadi tadi malam.” cerita Calasha.

“Benaran hanya itu?”

“Iya, Bris.” jawab Calasha dengan senyuman.

“Kenapa kamu tersenyum?”

“Habis kamu lucu, sih? Sikap kamu itu seperti sedang cemburu saja.” beritahu Calasha seraya berlalu meninggalkan Brisley sendirian di dapur.

‘Aku memang sedang cemburu, Cha.’ sayangnya kalimat itu hanya mampu Brisley ucapkan dalam hati.

Sementara itu…

“Ini … makanlah.”

Calasha meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas cokelat di depan Raska.

“Lo nyuruh gue makan, dan lo sendiri … mana punya lo?”

“Punyaku … aku udah makan, kok. Itu … buat kamu, aja.” tersenyum Calasha mengatakan itu.

Pandangan Raska menyipit menatap wajah Calasha mencoba mencari kebenaran dari ucapan gadis itu, dan saat itu juga lah perut Calasha yang sedang kerocongan berbunyi. Gadis itu menundukkan kepala, merasa malu karena ketahuan sudah berbohong.

Raska yang menyaksikan itu hanya mengulum senyum, merasa terhibur.

“Ketahuan bohong ‘kan, lo. Ckk!” Raska berujar ketus lantas berdecak. Kemudian meraih nasi goreng itu dan mengaduk-aduknya.

“Buka mulut lo.”

“Hah?”

Calasha jelas kaget, kenapa Raska menyuruhnya buka mulut? Emangnya apa yang akan laki-laki itu lakukan pada mulutnya.

“Nggak usah kaget, cepat buka mulut lo.”

“Emangnya mau diapain?”

“Lo tinggal lakuin aja apa yang gue bilang. Nggak usah banyak tanya, bisa kan?” sambil menatap Calasha dengan tajam.

“Hhm … baiklah, aku akan buka mulut.” balasnya seraya buka mulut.

Raska hanya tersenyum tipis, kemudian menyodorkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Calasha yang terbuka.

“Lo juga harus makan.” cetus Raska seraya menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. “Kita makan berdua.” sambungnya, lalu menyuapkan lagi pada Calasha.

Begitulah seterusnya hingga habis.

***

Reynaldi menatap frime foto yang baru saja di keluarkan dari dalam laci, frime foto itu sudah lama tersimpan di sana. Sudah lama dia tidak melihatnya, terlalu sibuk bekerja membuat dia lupa pada foto itu sesaat.

Pagi ini saat waktunya sedang luang, dia baru memiliki kesempatan melihat foto itu. Foto terakhir yang dia punya saat anak-anaknya masih berusia lima tahun, foto yang diambil saat hari pertama mereka masuk PAUD.

Di dalam foto keduanya tampak tersenyum lebar, sangat lucu dan manis sekali.

Andai dulu dia tidak membuat kesalahan, mungkin dia bisa melihat kedua putrinya tumbuh besar bersama dan bisa melihat senyum di wajah Ashara saat berhadapan dengannya.

“Asha, kapan kamu akan maafkan Papa, Nak.” gumamnya sambil menatap wajah Ashara kecil.

Kemudian tatapannya beralih ke wajah putri yang satunya dan mulai mengusap wajah gadis berkuncir dua itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Acha, kamu di mana Nak? 12 tahun sudah kamu menghilang, apakah kamu masih hidup dan baik-baik saja di luar sana. Papa ingin sekali bertemu kamu.” ujarnya pelan.

Tok!
Tok!
Tok!

“Masuk!” serunya sembari memasukkan kembali frime foto itu ke dalam laci, lalu mengalihkan pandangan ke arah Bryan yang barusan mengetuk pintu.

Bryan melangkah mendekatinya.

“Bagimana Bryan? Kau menemukannya. Kali ini kuharap kau mengucapkan kata yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.” ujar Reynaldi seraya menatap wajah Bryan.

Bryan adalah orang yang ia tunjuk untuk mencari imformasi keberadaan anaknya yang hilang. Dari 12 tahun yang lalu, laki-laki itu sama sekali tidak menemukan imformasi apapun mengenai keberadaan putrinya itu.

“Kali ini saya menemukan imformasi tentangnya, Bos.”

Jawaban Bryan barusan membuat Reynaldi tersentak kaget, ada binar-binar bahagia di wajahnya.

“Benarkah? Apa itu?” tanya Reynaldi tampak tidak sabar mendengar kalimat yang akan Bryan katakan.

“Anak Bos selama ini di kenal bernama Calasha Vantrika, tinggal di pinggiran kota dan lebih lengkapnya Bos bisa lihat di sini.” seraya meletakan map biru di hadapan Reynaldi.

“Calasha.” Dahi Reynaldi berkerut seakan mengingat sesuatu, “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana?” sambungnya.

Detik berikutnya Reynaldi tidak lagi memikirkan itu, dia lebih tertarik pada map biru di hadapannya. Baru saja dia ingin membuka map itu, terdengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya dari luar.

“Masuk!” seru Reynaldi, kemudian menatap Bryan yang masih setia berdiri di sampingnya. “Kamu boleh pergi.”

Bryan mengangguk, kemudian berbalik keluar dari ruangan itu.

“Ada apa, Mir?” tanya Reynaldi pada Yumira, sekretarisnya setelah bayangan Bryan sudah tidak terlihat lagi.

“Pak Broto dari perusahaan Suson textile Manufacturer sudah datang, Pak. Rapatnya sudah bisa di mulai.” beritahunya.

“Hmm … yasudah, aku akan segera ke sana. Tolong, kamu urus dulu mereka.”

“Baik, Pak.”

Yumira pun berlalu pergi meninggalkan ruangan itu, kemudian Reynaldi menyusul di belakangnya, seketika lupa dengan map biru yang tergeletak begitu saja di meja.

***

Ashara melotot menatap Dokter di depannya, “Ayo, Dokter, Lakukan!” serunya mulai geram.

Dari dua jam yang lalu Ashara ada di ruangan Dokter Robby, meminta agar Dokter itu melepaskan gips di lehernya, tetapi Dokter Robby menolak melakukannya dengan alasan belum saatnya gips itu dilepas.

“Saya tidak akan melakukannya. Belum saatnya gips itu dilepas.”

Ashara berdecak kesal mendengar jawaban yang Dokter Robby lontarkan, “Yasudah, jika lo nggak mau melepaskannya, biar gue yang buka sendiri. Dan jika terjadi sesuatu nanti pada gue, gue akan tuntut lo, Dokter.” ancam Ashara, kemudian bersiap hendak mencopot gips itu.

“Oke, baiklah. Saya akan melakukannya.”

Ashara hanya tersenyum sinis saat Dokter Robby mulai melepaskan gips itu. “Akhirnya … aku akan kembali ke sekolah itu. Lihat saja besok, akan kubuat gadis kampung itu menyesal karena sudah mendekati Raiyanku,” ucapnya dalam hati.

“Bagaimana rasanya? Apa leher kamu masih sakit?”

“Udah nggak, kok.”

“Apa kamu berkata benar?”

“Gue rasa … gue sudah sembuh. Kalau begitu, gue permisi.” ucapnya seraya berlalu keluar dari ruangan Dokter Robby.

“Nggak nyangka gue bisa sembuh secepat ini,” gumamnya seraya berjalan menuju parkir. “Sekarang, gue harus ke mana, nih?”

Ashara masuk ke dalam mobil, lalu mulai menjalankan mobil itu meninggalkan parkiran rumah sakit.

“Mending gue ke Mall, deh. Udah lama juga gue nggak shopping,” ucapnya dengan senyuman, tetapi detik berikutnya senyum itu pudar saat teringat sesuatu. “ATM gue kan disita Mama, lalu gue belanja pake apa coba.” sungutnya seraya memukul setir mobil.

Resty memang sudah mengambil semua yang pernah dia berikan pada Ashara, bahkan dia sudah mengusir Ashara dari rumah. Itulah hukuman yang Resty berikan pada gadis itu atas apa yang sudah dilakukannya.

“Gue minta ke Papa aja, deh.” putusnya seraya menjalankan mobil menuju Reynaldi’s Office.

Setibanya di Reynaldi’s Office dia segera melenggang masuk begitu saja, sama sekali tidak menyapa orang-orang di sekitarnya.

“Pa!”

Suara Ashara sedikit keras saat memanggil Papanya, dia melangkah masuk ke ruangan kerja Papanya lantas berdecak kesal saat mendapati ruangan itu kosong.

“Papa di mana, sih?”

Ashara melangkah mendekati meja Reynaldi, lantas duduk di sana dengan santainya.

“Gue tunggu sebentar lagi deh.” putusnya, lalu mulai membuka laci meja.

Dahinya berkerut saat mendapati frime foto terbalik di dalam situ, rasan penasaran membuat dia mengambil dan melihatnya.

“Papa masih menyimpan foto ini,” ujarnya ketus, emosinya naik tiba-tiba.

PRRAAANG!

Ashara melempar frime foto itu ke lantai dan pecah. Saat bersamaan tatapannya tertuju pada map biru di atas meja, map itu tergeletak begitu saja. Rasa penasaran yang tiba-tiba hadir membuat Ashara meraih map itu, lalu membuka asal.

Saat map itu terbuka, selembar foto pun jatuh ke lantai dalam keadaan terbalik.

“Itu apaan?” sambil menunduk dan mengambil foto itu, lalu membaliknya.

Ashara memperhatikan selembar foto di tangannya, seorang gadis berkaca mata, potongan rambut lurus warna hitam dan panjang.

“Cantik juga nih cewek, tapi sayang … kampungan banget.” ujarnya menghina penampilan gadis itu yang biasa saja.

Masih tetap memperhatikan foto itu, Ashara mulai merasa ada yang janggal. Hanya saja, dia tidak tahu sesuatu yang janggal itu apa.

“Nggak penting juga gue tahu ‘kan.” cetusnya seraya meletakkan foto itu ke meja, lalu pandangannya beralih menatap lembaran kertas dalam map biru itu.

Ashara tampak begitu serius memperhatikan lembaran kertas itu, dan tiba-tiba saja dia membanting map itu setelah usai membacanya.

“Jadi selama ini Papa mencari Acha dan ternyata … NGGAK BISA! Gue nggak akan biarin Papa tahu semua ini. Gue nggak akan biarin tu anak kembali ke rumah dan merebut Papa dari gue.”

Ashara meremas map biru di tangannya hingga membuatnya renyuk, kemudian mengambil foto gadis itu kembali dan menatapnya tajam.

“Ternyata ini kejanggalan yang gue rasakan tadi. Gue nggak sudi lo kembali hadir di hidup gue. Lihat aja, lo akan gue buat hancur seperti kaca yang pecah itu,” sambil berlalu dari situ, tak lupa membawa map biru dan foto itu ikut serta.

Tak lama setelah kepergian Ashara, Reynaldi melangkah masuk dan langsung menuju meja kerjanya.

“Apa-apaan ini?”

Reynaldi terkejut saat melihat pecahan kaca dan frime foto berserakan di lantai. Dia menunduk dan mengambil foto itu, dahinya berkerut seketika.

“Siapa yang melakukan ini?” sambil melangkah menuju meja kerjanya dan duduk di sana.

Reynaldi terkejut saat tidak mendapati map biru yang tadi ada di meja, kini sudah tidak ada di sana. Ke mana perginya map itu?


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here