Dua Kepribadian #26

0
59
views

Yang Raska rasakan.


Ashara sedang berdiam diri di luar balkon kamar ketika Reynaldi masuk, laki-laki itu melangkah pelan menghampirinya. Dia pikir Ashara sudah tidur, tapi ternyata gadis itu masih betah berada di luar balkon. Padahal, cuaca malam ini sedang tidak mendukung. Angin bertiup sangat kencang, sepertinya hujan akan segera turun.

“Asha.”

Ashara tidak menjawab panggilan itu, dia hanya tetap fokus melihat ke depan.

“Kamu kenapa masih di luar. Cuaca sedang tidak bagus malam ini. Ayo, sebaiknya kita masuk.” beritahunya, lalu bersiap-siap hendak mendorong kursi roda yang Ashara duduki.

“Jangan sentuh kursi rodaku. Aku bisa sendiri.” cetus Ashara dingin sembari berlalu meninggalkan Reynaldi. “Oh, ya. Silahkan Papa keluar dari kamarku.”

“Tapi Sha…,”

“Silahkan keluar.”

“Baiklah, Papa akan keluar.” pasrah Reynaldi, kemudian berlalu keluar dari kamar Ashara.

Setelah Reynaldi sudah tidak terlihat lagi, Ashara mengepalkan tangan geram dan menjerit kesal. Kesal pada kondisinya yang saat ini hanya mampu duduk di kursi roda dan leher yang masih di gips.

Teringat kembali ucapan Vayra tadi siang saat mengunjunginya, rasa kesalnya makin bertambah.

#Flashback_On

“Ngapain lo ke sini?” tanya Ashara sembari menatap Vayra minta penjelasan.

Saat ini mereka sedang di ruang tamu di rumah Papanya. Kunjungan Vayra yang tiba-tiba membuat dia bingung, gadis itu sama sekali tidak memberitahunya terlebih dahulu.

“Gue bawa berita penting nih, Sha.”

“Berita apaan?”

“Semenjak lo nggak masuk sekolah, orang-orang mikirnya lo udah balik lagi ke luar negeri dan melanjutkan sekolah di sana.”

“Terus?”

“Yaa … mereka makin gencar dekatin Raiyan. Hampir tiap hari gue lihat cewek-cewek itu ngasih cokelat ke Raiyan.”

Ashara diam, tetapi tatapannya begitu tajam dan kedua tangannya terkepal erat.

‘Brengsek.” Ashara mengumpat dalam hati.

“Tapi kan Sha …,”

Ashara kembali menatap Vayra saat mendengar Vayra kembali bersuara.

“Tapi apa?”

“Saat ini Raiyan sedang dekat dengan Calasha.”

“Calasha? Siapa dia?”

“Itu lho, cewek kampung yang nerima beasiswa dari Nyokap lo itu. Sumpah ya Sha, gue kesal banget sama tu anak. Nggak cuma Raiyan yang dia dekatin, tapi juga si dingin Raska itu.”

“Hah?” kaget Ashara. “Dia dekatin Raska juga?”

Vayra mengangguk mantap, “Iya. Dan anehnya, Raska yang terkenal dingin ke semua cewek eh sikap dinginnya sama sekali nggak berlaku pada tuh cewek kampung.”

#Flashback_Off

“Aakkkhh! Lihat aja nanti kalau gue udah sembuh, lo nggak akan lepas dari cengkraman gue Calasha.” desisnya geram.

***

Raska sedang duduk di tempat tidur ketika Raiyan masuk dengan membawa segelas air putih dan kotak obat. Dia ingin Raska minum obat itu.

“Udah waktunya kamu minum obat, Ka. Ini.” sembari mengulurkan kedua benda itu pada Raska.

Raska tidak merespon apapun, dia hanya mendiamkan diri dengan tatapan mengarah keluar jendela.

“Ka.” panggilnya lagi. “Kamu harus minum obat.” ulangnya.

“Gue nggak butuh obat. Bawa kembali obat-obat itu keluar dari kamar gue.” cetus Raksa begitu dingin.

Raiyan menghela napas. Tadi sore, setelah dia memberitahu fonis Dokter tentang penyakitnya yang semakin parah, sikap Raska pun menjadi semakin dingin.

“Kamu ngomong apa, sih? Nggak usah ngaco’ deh. Ayo, minum obat.” sembari menyodorkan kedua benda itu lagi. “Lo harus sembuh. Ayo, minum.” ulangnya.

Raska tersenyum miris, “Sembuh, ya(?)”

Sembuh dari penyakit mematikan itu adalah harapannya dari dulu, dari tiga tahun yang lalu sejak dia di fonis dokter mengidap kanker otak. Berbagai cara sudah dilakukan, dia selalu rutin minum obat, tapi apa balasannya? Penyakit itu bukannya sembuh, malah semakin parah, lalu apa gunanya lagi semua obat itu.

“Aku tahu kamu kecewa.” gumam Raiyan pelan. “Tapi, kamu nggak boleh nyerah dong, Ka. Kamu harus terus berusaha dan lawan penyakit itu. Sekarang, lo minum obat, ya?”

“Jangan paksa gue, Rai.” teriak Raska tiba-tiba sembari bangkit dan berdiri di hadapan Raiyan, menatap tajam wajah laki-laki itu. “Lo nggak tahu gimana rasanya jadi gue. Capek, Rai. Gue capek hidup tergantung sama obat-obatan itu. Dari dulu, gue berusaha untuk sembuh, tapi apa yang gue dapat Rai? Bukannya sembuh, penyakit gue malah tambah parah, lalu untuk apa gue minum obat lagi walau ujung-ujungnya gue bakalan mati juga? Nggak ada gunanya, Rai.” bentaknya kesal.

BUGGHH!

Raiyan sengaja meninju wajah Raska berharap laki-laki itu sadar bahwa dia sangat tidak suka Raska mengatakan hal itu. Bukannya marah, Raska hanya tersenyum miris sembari mengesat darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan Raiyan barusan.

“Aku nggak suka kamu bicara begitu. Aku ingin kamu sembuh, jadi minum obatnya, sekarang.” sedaya upaya Raiyan berusaha menahan air mata yang hendak jatuh.

Raska menggeleng, “Percuma, Rai. Gue nggak akan sembuh,” ucapnya seraya berlalu pergi keluar dari kamar.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya, tapi Raska mengabaikannya.

Dia membuka pintu dan keluar dari kamar. Raiyan ingin mengejarnya, tetapi tidak mampu bergerak saat air mata mulai membasahi pipinya. Pada akhirnya, dia hanya mampu duduk di tempat tidur dan menangis di sana. Teringat kembali kenangan tiga tahun yang lalu.

#Flashback_On

“Bang, ayo kita ke Dokter.”

Raiyan menoleh ke arah Raska yang barusan bersuara.

“Ngapain?” tanyanya bingung.

“Aku ingin periksa kesehatanku. Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku jadi cepat lelah, padahal nggak ngapa-ngapain.”

“Ajak Mama dan Papa aja, sana.”

“Aku tidak mau pergi sama mereka.”

“Aku nggak bisa.”

“Ayolah, Bang. Temanin aku.” pinta Raska menohon.

“Hmm … baiklah, tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Kerjain semua tugasku.”

“Abangkan SMA, sementara aku masih kelas tiga SMP. Gimana bisa aku mengerjakannya?” tanya Raska, dahinya berkerut tak habis pikir.

“Alaaah, aku yakin kok kamu bisa menjawabnya. IQ kamu kan tinggi.”

“Hmm … baiklah, setuju.”

“Oke, ayo.”

Tiba di rumah sakit, Raska segera di tangani seorang Dokter pria. Dokter itu bernama Dokter Angga.

“Jadi gimana, Dok? Adik saya kenapa?” tanya Raiyan setelah Dokter Angga selesai memeriksa Raska.

Dokter Angga tidak segera menjawab, dia diam sejenak untuk mengambil napas.

“Adik kamu positif mengidap kanker otak.”

Raiyan sangat sedih mendengar pernyataan Dokter barusan, untuk beberapa saat dia sama sekali tidak mampu berkata-kata.

“Nggak usah sedih, bang.” Raska tersenyum menenangkan Raiyan. “Nggak usah khawatir. Aska akan rutin minum obat dan suatu saat nanti aku pasti sembuh.”

Melihat kesungguhan dalam ucapan Raska, mau tidak mau Raiyan ikutan tersenyum.

“Janji, kamu akan terus berusaha untuk sembuh. Bagaimanapun kondisi kamu nanti.” sembari memberikan jari kelingkingnya.

“Aska janji.” sembari mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Raiyan.

#Flashback_Off

“Aaaaahhh!!” teriak Raiyan sembari meninju tempat tidur membabi-buta. “Kamu udah janji padaku, Ras. Kamu udah janji.” teriaknya diiringi air mata yang semakin laju mengalir.

Raska yang masih di luar kamar hanya bisa menangis dalam diam saat mendengar teriakan keputus asaan Raiyan barusan. Dia tahu janji itu, janji yang pernah dia ucapkan dulu. Berjanji akan terus berusaha untuk sembuh, tetapi sekarang apa yang sudah dia lakukan? Menyerah, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk tindakkannya barusan.

‘Maafin gue, Rai. Gue menyerah,’ ucapnya dalam hati.

Kemudian mengambil langkah menjauh dari kamarnya, dia melangkah lunglai menuruni tangga. Dia butuh waktu untuk sendiri, mungkin dia bisa mencari ketenangan di luar sana.

Raska tetap pergi meskipun hujan sedang deras-derasnya malam ini. Dia keluar dari rumah menaiki motor Ninja biru yang selama ini tersimpan dalam garasi. Dia tidak pernah memakainya karena Raiyan tidak pernah mengizinkannya naik motor.

#Flashback_On

“Mau ke mana?” Raiyan menatap Raska yang sudah nangkring di atas motor dan bersiap-siap hendak pergi.

“Sekolah lah, lo nggak lihat gue pake seragam?” tanya Raska kesal.

“Iya, aku tahu, tapi kenapa kamu naik motor.” Dahi Raiyan berkerut saat menatap Raska.

“Terserah gue dong, motor punya gue ini.”

“Nggak bisa. Kamu nggak boleh naik motor. Turun dan masukan kembali motor itu ke dalam garasi.”

“Apaan, sih?” Raska tidak mengerti, dahinya berkerut menatap Raiyan di depannya. “Minggir, gue mau lewat.” sambungnya.

“Aku kan udah bilang, kamu nggak boleh naik motor. Mulai saat ini, ke mana-mana kamu harus bareng aku. Ini sudah menjadi tugasku menjagamu selama di sini.”

“Nggak. Gue nggak mau.” Raska menolak dengan tegas, sama sekali tidak terima.

“Kamu harus mau. Ayo, cepat turun.”

“Ck.” Raska hanya berdecak kesal, meskipun tidak rela dia pun turun dari motor, lalu kembali memasukkan Ninja biru itu ke dalam garasi.

#Flashback_Off

***

Calasha membuka mata lantas terbatuk-batuk saat asap masuk ke dalam hidungnya. Buru-buru dia bangkit, lalu menatap bingung keadaan sekitar yang tampak asing baginya.

“Di mana aku?” gumamnya seraya melangkah keluar dari asap yang menyelimutinya.

Dia baru bisa melihat dengan jelas setelah keluar dari asap. Dia terpaku saat mendapati dirinya ditengah-tengah hutan, pohon-pohon besar tumbuh di sekililingnya.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” tergambar jelas raut kebingungan di wajah cantiknya.

“Aku harus pulang, tapi bagaimana caranya aku keluar dari hutan ini? Sepertinya aku jauh sekali dari perkampungan. Apa aku bermalam saja di sini?”

Diam sejenak, mulai menimbang-nimbang.

“Tidak. Kasihan Brisley, dia pasti menunggu kepulanganku. Aku harus pulang malam ini juga.” tekadnya bulat, kemudian melangkah pergi.

“Percuma, lo nggak akan bisa keluar dari tempat ini.”

Calasha menghentikan langkah ketika mendengar suara seseorang di belakangnya, rasa penasaran membuat dia berbalik lantas menatapa heran sosok di depannya. Sosok itu berdiri membelakanginya, memakai pakaian serba hitam dan ada tombak di tangan kanannya.

“Siapa kamu?

“Apa pentingnya buat lo tahu nama gue?” tanya sosok itu sinis.

Calasha diam saat mendengar kalimat yang sosok itu ucapkan barusan. Kalimat itu sama persis dengan kalimat yang Raska ucapkan suatu ketika dulu saat dia bertanya nama laki-laki itu.

“Gue akan bunuh lo, Cha. Gue akan buat lo lenyap untuk selama-lamanya. Hahaha.”

Calasha terhenyak lantas tersentak bangun dari tidurnya, ternyata cuma mimpi.

“Aaah.” Menghela nafas kemudian beranjak turun dari tempat tidur, lalu melangkah keluar dari kamar.

‘Kenapa mimpi itu lagi, sih?’ Calasha mulai larut dalam dunianya sendiri.

Memang akhir-akhir ini dia selalu dihantui mimpi yang sama, mimpi yang begitu mengganggu dan membuat takut.

‘Apa mimpi itu pertanda bahwa ada seseorang yang ingin membunuhku, tapi siapa orang itu dan mengapa dia mau membunuhku?’

Tok!
Tok!
Tok!

Pikiran Calasha buyar saat mendengar suara pintu di ketuk, dahinya berkerut seketika. Siapa yang datang disaat hujan masih deras begini?

Teringat lagi dengan mimpi itu, rasa takut yang teramat sangat pun menghantuinya.

Tok!
Tok!
Tok!

Pintu kembali diketuk dari luar.

‘Siapa, ya? Bukain apa enggak?’ pikirnya seraya menggigit bibir, menimbang-nimbang.

“Bukain aja deh.” putusnya, lalu melangkah mendekati pintu.

Tiba di sana, dia diam sejenak.

Krieettt.

Terdengar suara pintu berderit, perlahan pintu mulai di buka.

“Raska!” serunya kaget.

Ternyata yang mengetuk pintu barusan adalah Raska, laki-laki itu berdiri di hadapan Calasha dalam keadaan basah kuyub dan menggigil kedinginan. Calasha dapat melihat Ninja biru yang terparkir di depan rumah, mungkin Raska datang ke rumahnya menaiki itu, tapi atas alasan apa laki-laki itu mendatangi rumahnya malam-malam begini disaat hujan pula?.

Raska menatap gadis di depannya dengan sendu, dia tidak tahu mengapa disaat sedih seperti ini malah gadis itu yang dia datangi.

“Ayo, masuk dulu.” ajak Calasha mempersilahkan Raska agar masuk ke dalam rumah.

Raska hanya mengangguk, kemudian melangkah pelan menyusul Calasha di depannya.

“Kamu tunggu di sini dulu, ya? Aku ambilkan handuk dan baju ganti.” beritahu Calasha sembari berlalu hendak pergi, tetapi Raska tiba-tiba menarik tangannya membuat dia terduduk di sebelah laki-laki itu.

Raska menatap Calasha sesaat, kemudian segera memeluknya.

Calasha kaget, “Apa yang …,”

“Sebentar saja,” ucap Raska memotong kalimat yang hendak Calasha ucapkan “Biarkan begini sebentar saja, please.”

Calasha tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk dan ikutan memeluk Raska. Dia tidak peduli jika bajunya juga ikutan basah karena membalas pelukan laki-laki itu.

Dia hanya ingin Raska kembali tenang dan bisa bersikap seperti biasanya. Jujur, dia lebih suka melihat Raska yang bersikap dingin dan acuh tak acuh. Meskipun menyebalkan, setidaknya dia tahu laki-laki itu dalam keadaan baik-baik saja.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here