Dua Kepribadian #25

0
115
views

Raska and Calasha Moments


SEBULAN KEMUDIAN.

Raiyan dan Calasha keluar dari mobil, kemudian melangkah bersama masuk ke dalam rumah.

Sejak Calasha menerima tawaran dari Raiyan sebulan yang lalu, dia memang selalu datang ke sana bersama laki-laki itu setiap pulang sekolah.
“Cha, kamu nggak papa kan aku tinggal dulu. Soalnya, aku mau mandi.” beritahu Raiyan.

“Oh, iya. Gak papa, kok.” jawab Calasha dengan senyuman.
Raiyan membalas senyuman itu, “Oke. Aku masuk kamar dulu.” sambil berlalu masuk ke dalam kamar.

Setelah Raiyan sudah tidak terlihat lagi, Calasha segera beranjak mengerjakan pekerjaannya. Pertama-tama dia pergi ke dapur, mencuci piring dan gelas kotor. Setelah itu, mengumpulkan sampah yang ada di dapur, lalu membuangnya ke tong sampah di luar rumah. Selanjutnya naik ke lantai atas, masuk ke kamar Raska.
Dia tidak segera membersihkannya, melainkan diam dan tampak termenung dengan tatapan lurus ke depan.
Teringat kembali moment-moment pertemuannya dengan Raska dulu. Dia tidak menduga akan bertemu lagi dengan lelaki itu di satu kelas yang sama, Fisika-1.
“Pagi anak-anak. Pagi ini kita kedatangan murid baru, lho. Mari, Nak. Perkenalkan diri mu pada teman-temanmu.”
Calasha hanya mengangguk, lalu mulai mengangkat kepala memberanikan diri menatap teman-teman sekelas. Saat itu lah pandangannya jatuh pada seraut wajah si lelaki dingin.
Laki-laki itu kebetulan juga sedang menatap ke arahnya, tatapannya begitu tajam dan menusuk.
“Hai, teman-teman. Perkenalkan namaku Calasha Vantrika, aku pindahan dari SMA Nusa Bangsa 1. Mohon bantuannya.”
Sejak hari itu Calasha baru tahu, ternyata laki-laki dingin itu bernama Raska Pradipta Adiguna.
Narasi Calasha
Awalnya aku sangat terkejut saat tahu Raiyan dan Raska adalah saudara kandung.
Kenapa tidak?
Sikap mereka sangat jauh berbeda.
Jika Raiyan terkenal ramah, murah senyum dan baik hati.
Raska malah sebaliknya.
Dia terkenal begitu dingin dan beku.
Raska jarang tersenyum dan berespresi, wajahnya selalu terlihat datar setiap waktu.
Aku pernah melihat espresi lain di wajahnya ketika awal-awal aku mulai bekerja di sini.
Saat itu …
#Flashback_On
“Jadi ini pekerjaanku?” tanya Calasha saat melihat keadaan rumah yang terlihat begitu berantakan dan berdebu.
Sampah plastik ada di mana-mana, tata letak kursi dan meja yang tidak beratur dan debu hampir menyelimuti seluruh perabot.
Raiyan menggaruk kepala yang tidak gatal, merasa malu pada gadis itu.
“Iya, Cha. Maaf, jika merepotkanmu.”
“Gak papa, kok. Ini sudah menjadi tugasku.”
“Makasih, Cha. Memang sejak Bi Sum pulang kampung, rumah ini jadi tidak terawat deh.”
“Iya, sama-sama. Hmm … aku beres-beres dulu, ya?”
“Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya. Mau ganti baju dulu. Nanti akan kubantu.”
“Oke.”
Calasha segera membereskan semuanya. Setelah urusan di lantai bawah selesai, dia pun naik ke lantai atas. Keadaan di lantai atas bersih, sama sekali tidak ada debu dan sampah-sampah plastik bekas jajanan seperti di lantai bawah.
Dia yang masih belum mengenal seluk-beluk rumah itu pun terus melangkah mengikuti ke mana arah kakinya melangkah. Langkah kakinya membawa dia ke depan sebuah pintu berwarna putih. Dari sekian banyaknya pintu di rumah ini, hanya warna pintu itu yang berbeda. Rasa penasaran yang berlebih membuat dia membuka pintu itu, lantas melangkah masuk ke dalam. Ternyata ruangan itu adalah kamar seseorang.
Calasha dapat mencium aroma parfum khas seorang lelaki dari kamar itu, dia terdiam mencoba meresapi bau parfum itu.
“Wangi parfum ini ….”
“Siapa lo?”
Deg.
Suara bass seorang lelaki yang menyapa gendang telinga membuat Calasha kaget luar biasa.
‘Oalah, mati aku.’ rutuknya dalam hati.
“SIAPA LO?” sekali lagi laki-laki itu bertanya, tapi kali ini suaranya sedikit keras.
Mau tak mau Calasha berbalik menatap ke arah laki-laki yang barusan bersuara.
“Lo (kamu)!” Raska dan Calasha berseru bersamaan saling menuding jari telunjuk.
Terlihat wajah Raska berkerut saat mendapati Calasha ada di kamarnya. Ngapain gadis itu ada di sana? Dan bagaimana gadis itu bisa ada di rumahnya?
Sedangkan Calasha hanya mampu terpaku saat melihat pemandangan di depannya, di matanya Raska terlihat begitu berkilau. Rambut laki-laki itu basah, sepertinya baru selesai mandi.
Mandi?
Kedua bola mata Calasha langsung membulat saat menyadari Raska baru selesai mandi, laki-laki itu hanya memakai handuk pendek yang melilit di pinggangnya, sama sekali tidak memakai baju sehingga dadanya yang bidang terlihat jelas oleh Calasha.
Malu?
Ya, Calasha sangat malu.
“Maaf,” ucapnya, lalu segera berbalik hendak pergi.
“Lancang.”
Calasha berhenti melangkah saat mendengar umpatan kesal dari laki-laki itu. Dia hanya mampu berdiri diam di tempat, sama sekali tidak punya keberanian untuk berbalik menatap ke arah Raska.
Raska melangkah mendekati gadis itu dan berdiri di depan Calasha, gadis itu menunduk ketakutan. Tidak suka melihat Calasha menunduk seperti itu dengan kasar Raska menarik dagu gadis itu, memaksa Calasha menatap matanya.
“Ngapain lo di kamar gue, hah?”
“Hmm … itu … Aduh.” Calasha meringis saat tiba-tiba Raska mendorongnya kasar dan jatuh terduduk di lantai.
Saat dia menatap ke arah laki-laki itu, Raska sama sekali tidak menatap ke arahnya, melainkan menatap ke arah jendela.
“Sekarang, lo keluar dari kamar gue.”
#Flashback_Off
Sejak hari itu…
Sedaya upaya kuselalu berusaha menghidari laki-laki itu.
Namun, sepertinya takdir tidak berpihak ke padaku.
Kalian tahu mengapa?
Jadi begini ceritanya …
Minggu pertama kerja di rumah Raiyan.
HARI KEDUA
Calasha baru selesai mencuci piring dan gelas kotor. Haus yang tiba-tiba menyerang membuat dia mendekati kulkas dan membukanya.
Ketika tangannya sudah menyentuh ganggang kulkas, ada tangan lain yang ikutan menyentuh ganggang sehingga tangan keduanya saling bersentuhan. Saat menoleh, ternyata itu adalah tangan Raska. Refleks, dia segera menarik tangannya melepaskan ganggang kulkas.
“Berani-beraninya lo sentuh tangan gue.” marah Raska.
“Maaf.”
Raska tidak mengatakan apa-apa lagi, dia segera melangkah pergi dan membawa sebotol orange juice yang diambilnya dari kulkas.
HARI KETIGA
Calasha sedang membersihkan kolam renang saat Raska datang, laki-laki itu hanya memakai celana pendek.
“Eh, gue mau berenang. Pergi lo, sana.” usir Raska tanpa menatap wajah Calasha.
“Tapi kan kolamnya masih dibersihin.” ucapan Calasha barusan membuat Raska menatap tajam ke arahnya.
Ditatap seperti itu Calasha hanya menunduk, sama sekali tidak berani menatap langsung wajah Raska.
“Baik. Aku akan pergi.” sambil beranjak hendak pergi, tetapi licinnya pinggiran kolam membuat dia terpleset. “Aaaarrrggghhh!!!”
Byuuurrrr….
Calasha jatuh ke kolam.
“Tolong… tolong… aaakkhh!” jeritnya minta bantuan.
Raska yang menyaksikan hal itu pun segera lompat ke air, lalu berenang menghampiri Calasha.
Tiba di dekat Calasha dia segera meraih gadis itu, lalu membawa gadis itu ke pinggir kolam.
“Lain kali jalan tu hati-hati dong. Lo ngebahayain nyawa lo, tahu nggak?”
Calasha terdiam saat tatapannya melekat pada wajah Raska yang tampak khawatir.
“Kamu … khawatir?” tanya Calasha mencoba memastikan penglihatannya.
Dia tidak salah lihat, dia sempat melihat sekilas kekhawatiran di wajah tampan Raska tadi. Namun, dia tidak yakin sih. Mana mungkin seorang Raska yang dingin khawatir padanya yang hanya seorang pembantu di rumahnya.
“Hah?” tanya Raska sembari menatap wajah Calasha lekat-lekat. Dia ingin kembali mendengar kalimat yang barusan Calasha ucapkan. “Lo bilang apa tadi?”
Calasha menggeleng pelan, “Bukan apa-apa, kok. Kalau gitu, aku pergi dulu. Permisi.” sembari beranjak hendak bangkit.
“Tunggu.” tahan Raska sembari menarik lengan Calasha sehingga gadis itu kembali terduduk.
Raska sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Calasha membuat gadis itu duduk dengan gelisah, bahkan timbul semburat merah di kedua pipinya.
“Gue … memang khawatir.”
Calasha terdiam saat mendengar ucapan Raska barusan yang terdengar begitu tulus. Benarkah Raska khawatir padanya?
“Udah, nggak usah baper.” seru Raska tiba-tiba merusak moment romance yang barusan tercipta. “Gue khawatir karena kalau terjadi sesuatu pada lo. Gue juga yang repot.” sinisnya sembari keluar dari kolam.
Sikap Raska yang seperti itu membuat aku menyimpulkan bahwa …
Dia adalah cowok paling menyebalkan yang pernah aku kenal.
Akan tetapi, setelah mengenalnya selama sebulan ini.
Raska tidaklah sedingin itu.
Kenapa dia bilang begitu?
Karena dia pernah menolongku saat Vayra menindasku.
Gadis itu tidak terima aku dekat dengan Raska dan Raiyan.
Dia memintaku menjauhi mereka.
Jika aku tidak menjauhi mereka.
Dia akan membuatku menyesal karena pernah menginjakkan kaki di sekolah mereka.
_0_
“Hmm … jauh sekali aku termenung. Sebaiknya aku segera beres-beres.” gumamnya pelan dan mulai bekerja.
Sementara itu di lantai bawah…
Raska tertatih-tatih melangkah masuk ke dalam rumah, dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Keringat membanjiri wajahnya yang pucat dan dari hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah segar.
Tidak kuasa menahan bobot tubuh dia pun terjatuh di sofa, lalu segera menghapus darah yang keluar itu dengan punggung tangan.
“Aah!” Dia menghela napas kasar, betapa lelahnya dia hari ini. “Gue … gue … udah nggak ku…attt,” suara Raska tidak lagi terdengar dan kedua matanya pun mulai tertutup.
Setelah itu, dia tidak sadar apa-apa lagi.
Calasha turun ke lantai bawah setelah urusan di atas selesai, tiba di bawah dia segera melangkah menuju dapur. Ketika melewati ruang tamu, tak sengaja pandangannya melihat ke arah Raska yang tampak tertidur di sofa dalam keadaan duduk.
“Ternyata Raska udah pulang, tapi kenapa nggak naik ke atas dan malah tidur di situ?” tanyanya dalam hati, merasa bingung dengan pemandangan itu. “Hmm … biar deh, bukan urusanku juga.” sambungnya, lalu kembali melanjutkan langkah menuju dapur.
“Hai, Cha.”
Calasha menoleh saat terdengar suara seseorang menyapanya, “Hai, Rai.” sapanya balik.
“Udah mau pulang, kan?”
“Iya, nih. Pekerjaanku sudah selesai.”
“Aku antar, ya?”
“Nggak usah, aku naik bus saja.” tolak Calasha halus.
“Kenapa kamu selalu menolak tawaranku, padahal aku hanya ingin tahu di mana kamu tinggal.”
“Rumahku jauh, Rai. Aku tidak ingin merepotkan kamu.”
“Aku tidak merasa direpotkan, kok.”
Calasha menggeleng pelan, “Aku nggak bisa, Rai. Udah ya, aku pulang.” sembari melangkah pergi melewati Raiyan.
“Tunggu Cha, setidaknya izinkan aku mengantarmu ke halte. Please, jangan tolak tawaranku.”
“Hmm … iya, deh.”
Raiyan tersenyum senang, “Ayo, kita pergi sekarang.”
_0_
“Makasih ya, Rai. Aku jadi nggak telat deh tiba di halte,” ucap Calasha dengan senyuman.
Saat ini dia sudah di halte, berdiri di pinggir trotoar.
Raiyan hanya mengangguk, “Iya, sama-sama. Hmm … kalau gitu, aku balik, ya? Kasihan Raska di rumah sendirian.”
“Oke, hati-hati di jalan, ya?”
Raiyan hanya mengangguk, kemudian mulai menjalankan mobil menjauhi halte kembali ke rumah.
Setibanya di rumah dia segera masuk ke rumah, lalu melangkah ke ruang tamu. Dia terlihat sedikit terkejut saat melihat Raska ada di sana dalam keadaan mata tertutup.
“Hey Ras, ngapain kamu tidur di sini? Bangun! Tidur di kamar, sana.” beritahunya sembari duduk di sofa yang satunya.
Saat tidak mendapat respon dari Raska, kembali Raiyan bersuara. “Kamu benaran tidur?”
Tak juga mendapat respon membuat Raiyan mulai khawatir, lalu mendekat dan memeriksa keadaannya.
“Ras … Raska!” panggilnya seraya menyentuh bahu laki-laki itu, tetapi Raska tetap tidak bergerak. “Raska, kamu kenapa? Bangun!” teriaknya hampir prustasi.
“Kamu bertahan, ya? Aku akan bawa kamu ke rumah sakit,” ucapnya seraya membawa Raska pergi, tujuannya saat ini adalah rumah sakit.
_0_
Raiyan terlihat begitu panik saat menunggu hasil pemeriksaan Dokter. Tadi setibanya di rumah sakit, Dokter Angga langsung menanganinya. Dokter Angga adalah dokter pribadi yang mengatasi penyakit yang di derita Raska selama ini.
Saat melihat pintu di depannya mulai terbuka, Raiyan langsung berdiri dan melangkah menghampiri Dokter Angga yang sudah pun keluar dari ruangan.
“Gimana keadaan adik saya, Dok? Dia baik-baik saja, kan?” tanya Raiyan, terlihat jelas kekhawatiran di wajah tampannya.
Dokter Angga tak segera menjawab. Dia dia sejenak, kemudian menggeleng. “Sepertinya tidak ada lagi harapan untuk Raska sembuh, sel kanker kali ini menyebar begitu cepat sehingga sudah memasuki stadium tiga.”
Raiyan terkejut mendengar penjelasan Dokter Angga barusan, dia menggeleng tidak terima. “Jangan ngomong begitu, Dok. Aku yakin Raska pasti sembuh. Tolong, Dok. Tolong sembuhkan adik saya.”
“Saya akan berusaha untuk menyembuhkannya, tetapi saya tidak bisa menjamin dia akan sembuh. Banyak-banyaklah berdoa untuk kesembuhannya.”

Setelah mengatakan itu, Dokter Angga segera berlalu pergi meninggalkan Raiyan yang tidak tahu harus berbuat apa.
“Ya tuhan, jangan kau ambil adikku. Ku mohon sembuhkan lah dia. Ku mohon.” Raiyan mengucap doa dalam hati.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here