Dua Kepribadian #24

0
84
views

Kisah ini belum berakhir.


Adit dan Calasha menatap takjub bangunan SMA High School di depan mereka, megah dan besar sekali. Saat ini mereka sedang di parkiran, berdiri terpaku di sana. Sibuk memikirkan ke mana mereka harus pergi setelah ini?

“Sepertinya kita harus melapor dulu deh pada kepala sekolah.” beritahu Adit membuat Calasha menatap ke arahnya.
“Iya, tapi masalahnya di mana ruangan Kepala Sekolahnya?” tanya Calasha bingung.

Adit menggeleng tanda tidak tahu, Calasha menghembuskan nafas seketika bahunya merosot.

“Sekolah ini luas banget, kita harus menemukan seseorang agar bisa bertanya.” beritahunya, Adit mengangguk tanda setuju.
Pada akhirnya mereka pun melangkah masuk ke dalam gedung nan megah itu, berharap menemukan seseorang yang mau memberitahu mereka di mana letak ruangan kepala sekolah.

“Eh, Cha. Lihat di sana ada orang. Ayo, kita ke sana.” beritahu Adit.
Calasha menoleh lantas pandagannya jatuh pada seorang perempuan yang sedang bersandar di tembok, perempuan itu membelakangi mereka.

“Ayo.”
Mereka pun melangkah menghampiri perempuan itu. Tiba di sana Calasha pun langsung bertanya.

“Permisi,” sapanya. “Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya ruangan kepala sekolah di mana ya? Bisa beritahu kami.” sambungnya.
Tidak terdengar balasan dari perempuan itu. Hal itu membuat Adit dan Calasha saling menatap satu sama lain.

“Coba lagi aja,” ucap Adit, Calasha mengangguk mengiyakan.
“Kak …, astagfirullah!” seru Calasha tiba-tiba.
“LARI CHA, AYO!” Adit segera menarik tangannya membawa Calasha pergi dari situ meninggalkan perempuan itu yang ternyata adalah hantu Arkilla.
Hantu Arkilla hanya tertawa menyaksikan ketakutan di wajah orang-orang yang berhasil dia takuti.

Setelah jauh, Adit dan Calasha pun berhenti berlari. Mereka tersengal-sengal karena kelelahan berlari.

“Nggak nyangka bisa ketemu hantu sepagi ini. Gila, bisa mati gue kalau begini tiap hari.” cetus Adit.
“Aneh, kenapa bisa ada hantu di sini?”
“Wajar dong Cha, sekolah ini kan besar dan luas. Pasti banyak penunggunya.”

“Kalau gitu masih mendingan sekolah kita yang dulu, ya?” tanya Calasha.
Adit tidak mengatakan apapun karena saat ini tatapannya jatuh pada sosok perempuan cantik yang sedang berjalan ke arah mereka, perempuan itu tidak memandang ke depan melainkan pada layar handphone di tangannya.

“Ada orang tu, tanyain gih.” suruh Adit.
“Lho, kenapa aku?”
“Karena kalian sama-sama perempuan. Kalau sesama perempuan kan bicaranya lebih nyambung.”
“Oh, oke.” setuju Calasha.

Disaat perempuan itu sudah hampir dekat, Calasha mengambil tempat berdiri di depan jalan laluan perempuan itu. Itu dia lakukan supaya perempuan itu bisa melihatnya dan berhenti melangkah.
Dia sudah akan membuka mulut untuk bertanya, tetapi perempuan itu malah menabraknya.

Prrrraaaannngggg….
Adit, Calasha dan Vayra menatap shock pada handphone yang hancur di lantai. Ya, perempuan itu adalah Vayra dan handphone itu adalah miliknya.
“Handphone gue …,” kemudian Vayra berpaling ke arah orang yang menyebabkan handphonenya rusak. “Gimana sih, lo? Jalan tu pake mata dong. Lihat, handphone gue jadi rusak. Gue nggak mau tahu lo harus ganti 10 juta.” damprat Vayra, dia menatap geram pada perempuan itu.
“Hah, 10 juta!” seru Adit dan Calasha bersamaan.
“Iya, kenapa? Handphone gue harganya emang segitu. Gue nggak mau tahu, lo harus ganti sekarang.”
“Saya minta maaf, Mbak. Bukan …,”
“What?” potong Vayra. “Lo manggil gue Mbak? Eh, sejak kapan gue jadi Mbak lo. Nggak usah berharap deh.” sambungnya seraya memperhatikan gadis itu.

Dia pun baru menyadari seragam yang mereka pakai berbeda dengan seragam sekolahnya.

“Oh, gue tahu sekarang. Lo nggak bisa ganti kan karena lo miskin. Ya ampun, kenapa sekolah ini harus menampung murid miskin, kucel dan kumal kayak kalian. Uh, bisa tercemar nih sekolah.”
“Sudah cukup.” bentak Adit tiba-tiba. “Kami memang miskin, bisa sekolah di sini pun berkat beasiswa yang kami dapatkan. Meskipun begitu, bukan berarti lo bisa menghina kami seperti ini.” sambungnya.
“Terserah gue dong, mulut-mulut gue ini.” cetusnya sinis. “Eh, lo cewek kampung. Gue nggak mau tahu ya, lo harus ganti handphone gue sekarang juga. Buruan!”

“Aku belum ada uangnya. Tolong, beri aku waktu untuk menggantinya.” mohon Calasha.
“Gue nggak mau tahu, lo harus ganti sekarang. Kalau nggak …,”
“Ada apa ini?” tanya seseorang memotong ucapan Vayra.
Vayra, Calasha dan Adit pun menoleh ke arah orang itu lantas mendapati Raiyan sedang berjalan ke arah mereka. Sementara itu dikejauhan, Raska tampak memperhatikan mereka sesaat sebelum akhirnya berlalu dari situ setelah melihat Raiyan di sana.

Dia memang sudah di sana saat pertengkaran itu di mulai. Tadi, disaat perjalanan menuju kelas dia tak sengaja melihat Calasha sedang berlari di koridor. Awalnya dia menganggap hanya salah lihat, tetapi saat dia mengikuti mereka, ternyata gadis itu benar-benar Calasha.

“Eh, Raiyan,” sapa Vayra sedikit kikuk. Dia tersenyum malu-malu saat Raiyan berdiri di sampingnya dan menatapnya minta penjelasan.
“Ada apa? Kenapa ribut-ribut di sini?” ulang Raiyan.
“Handphone gue rusak gara-gara cewek kampung ini, Rai. Gue minta ganti rugi, eh, dianya nggak mau bayar.” beritahu Vayra sembari menatap Calasha sinis.

“Eh, bukan seperti itu,” ucap Calasha pelan, tetapi masih bisa di dengar.
“Lalu seperti apa?” tanya Raiyan sembari menatap wajah Calasha yang tampak familiar di matanya.

Dia seperti pernah melihat wajah gadis di depannya, tetapi dia tidak tahu pernah lihat di mana.

“Aku tidak punya uang sebanyak itu.” jawab Calasha.
“Emang berapa?” tanya Raiyan, kali ini dia menatap Vayra minta penjelasan.

“Nggak banyak kok, Rai. Cuma 10 juta. Uang segitu aja nggak punya. Miskin banget, ya?”

“Sudah cukup, Vay. Kamu nggak boleh bicara begitu. Ya sudah, biar aku saja yang bayar.” katanya sembari mengetik sesuatu di handphone.
Calasha dan Adit jelas kaget mendengar ucapan Raiyan barusan, tidak menyangka laki-laki itu berbaik hati mau membantu. Vayra lebih kaget lagi saat Raiyan menunjukkan handphone di tangannya, ternyata Raiyan benar-benar mentransfer uang ke rekeningnya sebesar 10 juta.

“Lho, Rai. Kenapa lo yang bayar? Ini kan bukan salah lo.” Vayra menatap Raiyan keki.

“Udah masuk kan? Jadi, kamu boleh tinggalkan tempat ini,” ucap Raiyan mengusir Vayra secara halus.

“Tapi Rai …,”
“Tunggu apa lagi? Silahkan pergi.” usir Raiyan.
Vayra tidak berkata apa-apa lagi, tetapi sebelum pergi dia sempat melemparkan tatapan tajam pada Calasha. Tatapan peringatan kalau urusan mereka belum selesai.
“Kenapa kamu yang bayar?”
“Nggak papa. Aku senang membantu.”
“Tapi 10 juta itu bukan sedikit, lho. Itu banyak sekali. Aku akan menggantinya, tapi tolong beri aku waktu. Aku akan berusaha untuk melunasinya.”

“Tidak usah diganti, aku ikhlas.”
“Aku tidak bisa menerima bantuan dari orang begitu saja. Tolong, izinkan aku untuk membayarnya.”

Raiyan tidak segera menjawab, dia menatap perempuan di depannya dengan senyuman. Merasa kagum pada pendirian gadis itu, dia pun tertarik untuk mengenali gadis itu lebih jauh lagi.

“Oke, jika kamu benaran tetap ingin menggantinya. Gimana kalau kamu ganti dengan cara kerja di rumahku?”
“Kerja di rumah kamu?”
“Iya, gimana kamu mau kan?”
“Aku mau kok.” Calasha tersenyum senang, lalu menatap Adit yang masih setia berdiri di sampingnya. “Kamu dengar kan, Dit? Aku akan kerja.” beritahunya.

“Ya, Cha.” jawab Adit singkat.
“Oh, ya. Kita belum kenalan kan? Kenalin aku Raiyan.” sambil mengulurkan tangan ke arah Calasha.

“Calasha.”
“Raiyan.” sambil mengulurkan tangan pada Adit.
Adit menyambutnya dengan senang hati, “Gue Adit. Bdw, bahasa lo formal banget, santai aja kali.”
“Hahahah. Dari dulu bicaraku memang seperti ini. Jadi, yaa … nggak bisa berubah.”

Adit mengangguk paham, “Gue pikir hanya pada kami lo bicara formal begitu.”
“Hahahaha. Wajar sih nggak tahu, kalian kan baru datang.”
“Iya juga, ya. Hahaha.”

“Aku di cuekin, nih. Ya udah, aku pergi,” ucap Calasha sembari melangkah pergi, tapi dua orang laki-laki itu segera menariknya kembali.
“Eiittt … mau ke mana?” Adit dan Raiyan bertanya serentak.

Calasha tidak menjawab, melainkan menatap kedua tangannya yang berada dalam genggaman kedua laki-laki itu.

“Kenapa aku merasa sedang diperebutkan?” tanyanya membuat kedua laki-laki itu sadar, lalu segera melepaskan tangan Calasha.

“Maaf, nggak sengaja.” Lagi-lagi Adit dan Raiyan bicara serentak.
Hal itu membuat mereka saling menatap satu sama lain, kemudian tertawa bersamaan.

“Bdw, kalian ada urusan apa di sini?” tanya Raiyan setelah tawanya meredah.

Dari awal dia memang penasaran pada dua orang itu, ada urusan apa mereka datang ke sekolahan mereka. Padahal jelas sekali, dua orang itu bukan murid SMA High School Internasional.

“Mulai hari ini kami akan sekolah di sini.” beritahu Adit, Raiyan mengangguk paham.

“Eh, Rai. Kasih tahu kami ruangan kepala sekolah dong. Dari tadi nggak ketemu-ketemu. Dan sialnya, masa tadi kita ketemu hantu. Malah serem banget lagi tuh hantu.” cerita Adit, Raiyan hanya tersenyum sebagai tanggapan.

“Bu Resty lagi nggak ada, tapi gue akan antar kalian pada Pak Roy. Biar dia yang ngurus kalian.” beritahunya, lalu melangkah duluan, Adit dan Calasha menyusul di belakang.

***

“Mama kenapa ke sini lagi?” tanya Ashara saat melihat Resty kembali mendatanginya.

Resty tidak segera menjawab, dia menatap Ashara tajam. Jika saja Ashara tidak sedang sakit, pasti dia sudah menampar gadis itu. Mungkin tamparan pun tidak akan cukup menembus kesalahan yang sudah gadis itu perbuat. Apa kesalahan yang sudah ia perbuat sehingga Yang Esa menghukumnya seperti ini? Ashara benar-benar sudah membuat dia kecewa.
“Mama sudah tahu semuanya.”

Deg.

Jantung Ashara benar-benar berdegub kencang mendengar satu kalimat yang Mamanya ucapkan. Sudah tahu semuanya? Apa yang Mamanya ketahui?

“Maksud Mama apa? Asha nggak ngerti.”
“Tidak usah berpura-pura lagi Asha.” suara Resty terdengar begitu dingin.
“Mama ngomong apa, sih? Siapa yang berpur…,”
“Mama sudah tahu semuanya, kau yang menyebabkan Arkilla meninggal,” cetus Resty sembari menudingkan jari telunjuk ke wajah Ashara. “Kau benar-benar membuat Mama kecewa, Asha.”
Ashara tidak mampu berkata-kata untuk beberapa saat, masih sangat shock karena rahasia yang selama ini mereka simpan sudah terbongkar. Siapa yang membongkarnya?

Nathala.

Hanya nama itu yang saat ini berputar-putar di kepalanya. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar, betapa kesalnya dia pada gadis itu.
“Hahaha,, Mama ngomong apa, sih? Mana mungkin Asha yang menyebabkan Arkilla meninggal. Lagi pula, siapa sih yang nyebarin kabar hoax begitu. Nathala ya, Ma. Mama nggak us..,”

“Hoax katamu?” tanya Resty tak habis pikir. “Kau baca ini. Apa kau masih mau berkilah, hah?” Resty melemparkan buku yang dia bawa dari kamar Nathala pada Ashara. “Kau benar-benar membuat Mama pusing. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan saat itu, hah?”

Ashara tidak menjawab, dia sibuk membaca tulisan terakhir Nathala. Ternyata benar, gadis itu yang membongkar semuanya.

“Brengsek.” umpatnya seraya melempar buku itu ke sembarang arah.
“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan saat itu, hah? Kenapa kamu membunuhnya?” tanya Resty lagi, dia menatap Ashara minta penjelasan.
“Asha tidak suka dia. Dia mau merebut Raiyan dariku. Aku tidak akan biarkan siapapun mendekatinya. Tidak akan kubiarkan mereka mendekati Raiyanku. Raiyan hanya milikku. Hanya milikku. Hahahaha.”

“Kamu sudah gila, ya? Dia itu bukan milik siapa-siapa juga bukan milik kamu. Dia milik orangtuanya, kamu harus tahu itu.”

“Raiyan milikku, Ma. Milikku.” Ashara berteriak kesal membuat Resty menamparnya dengan keras.

Pllaaakkkk….
Resty terkejut dengan tindakannya barusan, seumur hidup baru kali ini dia menampar Ashara seperti ini.

“Mama jahat. Asha benci Mama. Keluar dari kamarku. Keluarrrr….”
“Maafkan Mama. Mama nggak ber…,”

“Keluarrrrrrr….”
Resty menghela napas pasrah. Berbalik, dia pun melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan Ashara yang menangis.
Narasi Ashara : “Aku tidak pernah minta terlahir menjadi orang jahat. Hanya saja, kehidupan lah yang membuatku seperti ini.
Kesepian.

Adalah alasan mengapa aku menjadi seperti ini.

_0_

Meskipun semuanya sudah terbongkar, hantu Arkilla tetap muncul dan selalu mengganggu setiap murid di SMA High School Internasional. Tak jarang mereka selalu dihantui ketakutan yang luar biasa, lebih-lebih Vayra dan Ashara yang masih hidup sampai saat ini.

“Hihihihi.”

Suara tawa hantu Arkilla terdengar di sepanjang koridor sekolah yang sepi, terlihat sosok itu melayang-layang kesana-kemari dalam kegelapan yang semakin pekat.

Sejak adanya hantu Arkilla menghuni sekolah itu, suasana ketika malam hari tampak begitu mencekam dan menakutkan. Tidak ada satu pun yang sanggup datang ke sana saat malam hari, bahkan murid-murid yang tinggal di Asrama pun pada pulang karena tidak tahan terus-terusan diganggu hantu Arkilla.

“Hihihi.”

“Tertawa lah sepuasnya sebelum tawa itu sirna.”
Suara yang terdengar dingin itu membuat hantu Arkilla berbalik, lantas menatap tajam ke arah sosok yang barusan bersuara.

“Siapa kau?”

“Lo nggak perlu tahu siapa gue. Gue ke sini hanya mau ngasih tahu lo satu hal.”

“Apa itu?”

“Tinggalkan sekolah ini dan kembali ke alam lo.”
“Jangan harap aku akan meninggalkan tempat ini. Itu tidak akan terjadi.

Hahaha.”

Sosok yang menutupi wajahnya dengan tudung hoodie itu tersenyum sinis.
“Lo yakin tidak akan meninggalkan tempat ini?”

“Eh, manusia. Siapa pun kau? Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Ini adalah rumahku dan aku nyaman di sini. Mending kau saja yang pergi.”
“Gue tidak akan mengatakannya sampai empat kali. Ini yang terakhir, lo akan pergi atau kuburan lo gue bakar. Pilih yang mana?”
Hantu Arkilla melotot geram ke arah sosok itu. Siapa dia? Kenapa sosok itu tahu kelemahannya?

‘Sial. Sebaiknya aku pergi sebelum dia benar-benar membakar kuburanku dan jasadku akan hangus terbakar.”

Hantu Arkilla pun menghilang dari sana dan berjanji tidak akan datang lagi. Meskipun dendamnya terhadap Vayra dan Ashara terbalaskan, setidaknya dia sudah cukup senang membuat Ashara mengalami patah tulang yang cukup parah.

Narasi sosok misterius :
Dari awal memang aku lah tokoh antagonis di kisah ini.
Hanya saja…

Aku bersembunyi karena belum waktunya aku muncul.
Aku akan muncul di waktu yang tepat.

Dan setelah hari itu tiba.

Kisah yang sesungguhnya akan di mulai.

_0_


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here