Dua Kepribadian #23

0
113
views

Masa Lalu yang Terungkap.


Ashara tidak menduga dia masih bisa selamat dari peristiwa naas tadi malam. Dia pikir dirinya akan mati, tapi nyatanya dia masih hidup dan sedang dirawat di rumah sakit. Hanya saja, saat ini lehernya terpaksa di gips, karena peristiwa itu sudah membuat tulang lehernya cedera parah. Dokter menyarankan untuk beberapa bulan ke depan dia harus memakai gips itu supaya tulang-tulang yang cedera kembali pulih.

Kriiiett.
Terdengar suara pintu dibuka, kemudian disusul suara langkah kaki mendekat.
“Gimana keadaan kamu?” tanya Reynaldi setelah tiba di dekat Ashara yang terbaring di brankar.
Tadi malam saat menemukan Ashara terbaring lemah di lantai dalam keadaan bersimbah darah, dia langsung membawa gadis itu ke rumah sakit. Beruntung, gadis itu masih bisa diselamatkan.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jatuh dari tangga?” tanya Reynaldi lagi saat tidak kunjung mendapat jawaban dari Ashara.
“Terpleset.”
“Kok bisa?”
“Aduh, udah deh, ah. Nggak usah banyak tanya deh, Pa. Asha lagi sakit dan susah buat ngomong. Jangan ditanya-tanya dulu deh.”
“Ya udah, Papa nggak akan tanya lagi. Kalau gitu, kamu istirahat, ya? Sepertinya Papa akan kembali ke kantor.” beritahu Reynaldi.
“Kalau mau ke kantor, ya tinggal pergi aja. Nggak usah ngasih tahu Asha.”
“Kamu kenapa sih judes banget sama Papa?”
“Papa ngerti bahasa Indonesia nggak sih? Jangan banyak bertanya ke Asha.”
“Ya sudah, Papa tinggal dulu.” pamitnya, kemudian berlalu pergi dari situ.
Helaan napas berat Reynaldi hembuskan, kemudian mengeluarkan handphone. Dia akan menelpon Resty dan memberitahu wanita itu perihal Ashara yang sedang dirawat di rumah sakit. Harap-harap wanita itu mau mengangkatnya.

***

Resty membuka pintu mobil dan masuk. Dia sudah akan menjalankan mobil itu, tetapi tertunda saat mendengar deringan handphone. Membuka handbag, dia pun mengambil benda pipih itu dan melihat siapa gerangan yang menelponnya pagi-pagi begini.
“Mas Reynaldi.” gumamnya pelan saat melihat nama Reynaldi tertera di layar. “Setelah sekian lama, kenapa dia tiba-tiba menelponku?”
Tidak ingin bingung sendiri, di pun mengangkat panggilan itu.
Resty : “Hallo!”
Tidak terdengar balasan dari seberang.
Resty : “Hallo, kenapa Mas menelponku?”
Reynaldi : “Kau masih menyimpan nomorku?”
Resty tidak segera menjawab pertanyaan yang Reynaldi lontarkan.
Reynaldi : “Hallo, kenapa kau diam?”
Resty : “Tidak usah berbasa-basi padaku, Mas. To the point saja, kenapa menelpon?”
Terdengar helaan napas kasar dari seberang. Entah apa yang laki-laki itu rasakan dan apapun itu dia tidak akan peduli.
Reynaldi : “Aku hanya ingin ngasih tahu kamu bahwa saat ini Ashara sedang dirawat di rumah sakit Cahaya Gemilang, kamar nomor 007.”
Resty : (Kaget) “Apa?! Kenapa bisa dirawat di rumah sakit? Kamu apakan anakku?”
Reynaldi : “Dia jatuh dari tangga karena terpleset.”
Resty : “Terpleset(?)”
Reynaldi : “Ya. Dia bilang sih begitu.”
Resty : “Hmm … baiklah, aku akan ke sana.”
Reynaldi : “Oke.”
Tut … tut … tut ….
Sambungan terputus.
Setelah sambungan terputus, Resty tidak segera menjalankan mobil, melainkan menelpon seseorang. Terdengar nada sambung yang panjang sesaat sembelum akhirnya seseorang itu mengangkat panggilannya.
Resty : “Hallo, Pak Roy?”
Ternyata dia menelpon Roy, wakilnya di sekolah.
Roy : “Iya, Bu. Ada apa menelpon?”
Resty : “Bapak di mana?”
Roy : “Saya di sekolah, Bu.”
Resty : “Syukurlah, saya bisa minta tolong, Pak?”
Roy : “Bisa, Bu. Apa yang bisa saya bantu?”
Resty : “Bapak bisa kan menggantikan saya mengurus kepindahan dua anak yang mendapatkan beasiswa itu. Saya tidak bisa ke sekolah pagi ini karena saya harus menjenguk Ashara di rumah sakit. Dia baru saja kecelakaan tadi malam.”
Roy : “Oh, baiklah, Bu. Saya akan mengurus mereka.”
Resty : “Baik, Pak. Terima kasih.”
Roy : “Sama-sama, Bu.”
Setelah itu sambungan pun terputus. Resty segera menjalankan mobil menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sakit Resty segera menemui Ashara di kamar 007.
“Asha.”
Ashara terkejut mendengar suara yang barusan menyapa gendang telinganya, meskipun tidak melihat, dia kenal betul siapa orang itu.
‘Pasti Papa yang ngasih tahu Mama aku di sini.’ cetusnya dalam hati.
“Kenapa kamu bisa begini, sayang?” tanya Resty setelah tiba di dekat Ashara.
Dia menatap peihatin pada kondisi Ashara yang terluka parah. Leher yang di gips, kepala yang di perban dan luka-luka lecet yang menghiasi wajahnya.
“Kenapa? Jawab Mama.” tanya Resty lagi saat Ashara hanya mendiamkan diri.
“Emangnya Papa nggak ngasih tahu Mama?” tanyanya balik.
“Papa bilang kamu terpleset?”
“Terus, kenapa nanya lagi?”
“Mama tidak percaya.” cetus Resty menatap Ashara penuh selidik. “Jawab yang sejujurnya Asha, apa yang terjadi pada kamu sebenarnya? Apa hantu Arkilla menganggumu?”
Ashara terkejut mendengar pertanyaan Mamanya barusan, tetapi sedaya upaya dia mencoba bersikap tenang dan sesantai mungkin.
“Apaan sih, Ma? Selalu saja begitu, Asha itu udah mengatakan yang sejujurnya pada Mama. Asha harus lakukan apa lagi supaya Mama percaya ucapanku?”
Melihat kesungguhan dari nada dan espresi Ashara yang tampak prustasi membuat Resty menghela napas.
“Maafkan Mama sudah menuduhmu begitu. Mama hanya tidak ingin kamu bertindak di luar batas. Mama takut kamu kenapa-napa, Sha. Hanya kamu yang Mama punya saat ini. Mama tidak ingin kehilangan kamu, cukup hanya Papa kamu dan Rachana yang meninggalkan Mama. Jangan kamu.”
Ashara terdiam mendengar ucapan Mamanya barusan. Teringat pada Rachana yang sudah 12 tahun tidak ditemukan di mana rimbanya.
‘Rachana. Di mana sekarang anak itu? Apa dia masih hidup?’ ucap Ashara bermonolog sendirian dalam hati.
#Flashback_On
Tersedu-sedu Ashara kecil menulis surat di atas meja, sedaya upaya dia berusaha untuk menulis, meskipun sedikit susah. Usianya memang masih lima tahun, tetapi bukan berarti dia bodoh. Resty, Mamanya selalu mengajari mereka berbagai hal, dari mengenal huruf , angka, menghitung, menulis hingga membaca. Tidak heran jika diusia yang masih belia mereka sudah bisa semuanya.
Selesai menulis surat, dia segera beranjak menghampiri adik kembarnya yang sedang tertidur lelap.
“Acha … Acha, bangyun dek.” pintanya seraya menepuk pelan pipi Acha kecil.
“Ng ….” Acha kecil menggeliat saat merasakan sentuhan di pipinya. Dia membuka mata lantas menatap Ashara bingung. “Cak, ada apa? Cenapa bangyunkan Acha?”
“Kita peygi, yuk!”
“Peygi cemanya, cak? Hayi kan masyih mayam.”
“Mama dan Papa udah nggak cayang kita, dek.”
“Cenapa cak Asha bicala begitu?”
“Nyangan banyak tanya, dek. Ayo, peygi cekalang.”
Ashara kecil menarik tangan Acha kecil suapaya mengikutinya, mereka keluar dari kamar, melangkah pelan menuju pintu keluar.
Mereka berhasil keluar dari perkarangan rumah lewat gerbang belakang yang tak terkunci. Di tengah malam yang sepi, mereka berjalan dalam diam. Berusaha melawan rasa dingin dan ketakutan yang tiba-tiba hadir.
“Kita mau cemanya, Cak? Acha tacut.”
“Cak Asha yuga nggak tahu, dek.”
“Puyang aja, yuk?”
“Nyangan, kita nggak boyeh puyang.”
“Acha yapek, cak.”
“Ya udah, ayo kita duduk cini dulu.” ajak Ashara kecil sembari duduk di trotoar.
#Flashback_On
“Mama sangat merindukan adikmu, Sha.” ucapan Resty barusan membuat Ashara sadar, seketika kenangan yang sempat hadir di kepalanya lenyap begitu saja.
Ashara tidak mengatakan apapun, tetapi dalam hati merutuk kesal. Dia sama sekali tidak suka dengan ucapan Mamanya barusan, amat sangat tidak suka.
Rachana.
Gadis itu sudah merenggut kebahagiaannya. Sejak dia menghilang, orangtuanya selalu sibuk mencari Rachana dan mengabaikan dirinya yang butuh perhatian dari mereka.
Kurangnya perhatian orang tua membuat dia tumbuh menjadi gadis yang arogant, suka seenaknya dan lebih parah dia suka menindas orang yang lemah. Dan sifat itu masih melekat pada dirinya hingga sekarang.
“Aku mau istirahat. Mama boleh pergi.” cetus Ashara sinis.
“Kamu mengusir Mama?”
“Asha nggak bilang gitu.”
“Hmm … Baiklah, Mama tinggal, ya? Nanti sore Mama datang lagi.”
Ashara tidak membalas ucapan Resty barusan, tidak ada respon membuat Resty segera mengambil langkah keluar dari ruangan itu. Dia akan ke sekolah, tetapi lagi-lagi dia mendapat telpon yang mengajurkan dia untuk mengangkatnya.
Resty : “Ya, hallo. Siapa ini?”
Resty bertanya karena dia tidak mengenali nomor si penelpon.
Ina : “Saya Mbok Ina, orang yang merawat Non Nathala dari kecil. Ini dengan Bu Resty?”
Resty : “Ya, saya sendiri. Ada apa, Mbok?”
Ina tidak segera menjawab, dia menghapus air mata yang sedari tadi tidak mau berhenti mengalir.
Resty : “Mbok.”
Ina : “Ibu bisa ke rumah … hiks … hiks.. Non Nathala ….”
Resty mulai merasakan hal yang tidak enak, ada apa dengan Nathala. Kenapa Mbok Ina menangis?
Resty : “Kenapa, Mbok? Kenapa dengan Nathala?”
Ina : “Non Nathala meninggal, Bu. Huhuhu ….”
“Apa?”
Sambungan terputus begitu saja.
Resty tidak bisa berkata apa-apa, dia sangat terkejut mendengar kabar barusan. Kenapa tidak?
Di bulan yang sama, dua orang muridnya meninggal. Pertama Arkilla dan sekarang Nathala. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tidak ingin pusing sendiri, dia pun menghubungi guru-guru lainnya supaya datang ke rumah Nathala. Dan dia akan segera ke sana, mencari tahu apa penyebab gadis itu meninggal.
***
Resty menatap sekujur tubuh Nathala yang terbaring kaku di tengah ruangan. Tidak ada kesan luka apapun pada tubuhnya, semuanya masih dalam keadaan mulus.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Mbok?” tanya Resty sembari menatap wanita bertubuh gempal di depannya yang masih menangis.
“Dia bunuh diri, Bu. Pagi tadi kami menemukannya tergantung di kamar.”
“Gantung diri? Kenapa bisa bunuh diri, Mbok? Pasti ada penyebabnya.”
“Mungkin dia terlalu sedih, Bu.”
“Sedih?”
“Iya, Bu. Tadi malam dia mendapat kabar bahwa kedua orangtuanya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia saat perjalanan ke luar kota. Non Nathala sangat sedih dan meraung-raung dalam dekapan saya. Sedaya upaya saya berusaha menenangkannya, syukurlah dia bisa tenang. Saya mengantarnya ke kamar dan memintanya untuk segera tidur. Dia hanya mengangguk dan mulai menutup kedua matanya. Saya pikir dia akan baik-baik saja, tetapi nyatanya … huhuhu.” ucapan Ina terhenti oleh tangisan yang tiba-tiba hadir.
“Saya izin ke kamar Nathala ya, Mbok?”
“Iya, Bu. Kamar Non Nathala ada di atas sebelah kanan.”
“Baik, Mbok.” jawab Resty, lalu melangkah menaiki tangga menuju kamar Nathala.
Tiba di sana dia segera membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Kamar Nathala sama persis dengan kamar Ashara, hanya nuansanya saja yang berbeda. Aura kesepian sangat terasa ketika dia menginjakkan kaki ke kamar itu.
Resty terus menjelajahi kamar itu berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya. Tak sengaja tatapannya melekat pada buku yang tergeletak di meja belajar dalam keadaan terbuka.
Rasa ingin tahu membuat dia melangkah mendekat dan mengambil buku itu.
Namaku Nathala Priciliya Putri. Aku anak tunggal dari pasangan Adam Prayoga Adiguna dan Amber Pricilia Putri.
“Amber Pricilia Putri? Dia kan ….” Resty tidak lagi melanjutkan ucapannya, merasa tidak ada gunanya mengingat kenangan yang lalu.
Dia pun kembali melanjutkan bacaannya.
Mereka memang orang tuaku, tetapi meskipun begitu mereka tidak pernah ada waktu untukku.
Mereka selalu sibuk bekerja dan bekerja, hampir tiap hari tidak ada di rumah.
Dan aku ditinggalkan bersama Mbok Ina, wanita yang merawatku selama ini.
“Sayang, Mama dan Papa kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah, jangan nakal, ya?”
Ashara yang berusia 7 tahun kembali ditinggal bekerja oleh orang tuanya. Dia hanya mengangguk, meskipun tidak rela orang tuanya pergi.
Aku pun tumbuh menjadi gadis yang sangat pendiam dan tertutup. Sejak SD hingga SMP aku tidak pernah punya teman, bahkan orang-orang malah menjauhiku.
Mereka bilang, aku ini anak yang aneh dan menakutkan.
Tidak hanya itu, mereka kadang-kadang juga mengerjaiku habis-habisan.
Aku hanya bisa menangis.
“Dasar cewek aneh. Pergi aja kamu, sana.”
Nathala tersungkur saat seorang anak laki-laki bertubuh gempal mendorongnya kasar.
“Kamu menakutkan.” kata anak laki-laki kedua menambahkan.
“Pergi sana, pergi.” ejek anak laki-laki ketiga ikut-ikutan mengejek.
Hal itu berlangsung sampai aku lulus SMP.
Saat memasuki SMA, perasaan takut selalu aku rasakan.
Takut akan diperlakukan sama oleh semua orang.
Namun ketakutan itu sirna saat seseorang menawarkan persahabatan padaku.
Orang itu bernama Ashara Pinandita.
“Gue Ashara Pinandita. Mulai sekarang lo jadi sahabat gue.”
Ashara merupakan murid baru di kelasku.
Jujur saja aku terkejut mendengar ucapannya.
Dari sekian banyaknya orang di kelas, kenapa aku dan Vayra yang dipilih menjadi sahabatnya.
Aku tidak menolak, karena aku ingin berubah.
Aku ingin memiliki teman.
Bersama mereka aku dapat merasakan indahnya dunia luar, bisa ketawa-ketawa bareng, makan bareng, bercanda bareng dan masih banyak lagi.
Namun, Ashara yang kukenal tidak sebaik itu.
Dia menjadikan kami sahabat agar dia bisa memerintah kami seenaknya.
Dia jahat.
Resty semakin penasaran dan tetap melanjutkan membaca.
Dia yang menyebabkan Arkilla meninggal sehingga Arkilla dendam dan meneror kami semua.
Aku tidak tahan dan ingin mengakui semuanya, tetapi Ashara mengancam akan membunuhku jika aku memberitahukan semuanya ke orang-orang.
Pada akhirnya aku kembali tutup mulut.
Hari ini aku berulang tahun yang ke-17.
Aku sangat ingin merayakannya di luar bersama kedua orangtuaku, tetapi lagi-lagi mereka sibuk bekerja dan mengabaikanku.
Aku sedih, tetapi tidak bisa mengatakan apapun.
Malam ini, kembali hantu Arkilla menerorku.
#Flashback_On
“Nathala.”
Nathala terbangun dari tidurnya. Bukan karena suara yang barusan memanggilnya, tapi karena sesuatu yang menetes di hidungnya, sesuatu yang basah, dingin dan anyir.
Menggunakan jari telunjuk, dia pun mencolek sesuatu yang lengket di hidungnya. Dia menatap ngeri cairan merah di jari telunjuknya. Itu darah.
‘Darah?’ getusnya dalam hati sembari berusaha menggerakan kepala secara perlahan mendongak ke atas.
“Hay Nat.”
Ternyata Arkilla yang bergelayutan di atasnya, posisi mereka yang sangat dekat membuat Nathala kaget lantas berteriak karena terkejut.
“Aaaaaarrrrrrgggghhhh!!”
Nathala bangkit dan langsung lari keluar dari kamar. Dia berlari menuruni anak tangga yang panjang menuju lantai dua atau lebih tepatnya ke kamar Mbok Ina.
“Mbok … Mbok Ina.” panggilnya mencari keberadaan wanita itu.
“Iya, Non. Ada apa?”
Nathala langsung memeluk wanita bertubuh gempal itu dan menangis. Dia hanya menangis dan tidak mengatakan apapun pada wanita itu.
“Kenapa, Non? Ada apa? Kenapa Non menangis?”
Nathala menggeleng pelan, sama sekali tidak mau bicara. Ina pun tidak lagi bertanya, dia hanya membiarkan Nathala menangis dalam dekapannya.
Nathala baru menjauhkan diri dari Mbok Ina saat mendengar deringan telepon rumah yang menganjurkan Ina untuk mengangkatnya.
“Biar Nat aja yang angkat Mbok,” ucap Nathala sembari meraih ganggang telepon.
“Hallo.” sapanya.
“Dengan kediaman Pak Adam Prayoga Adiguna.”
“Ya, saya anaknya. Ada apa ya, Pak?”
“Saya dari kepolisian ingin memberitahukan bahwa kedua orangtua Mbak telah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.”
Kabar barusan membuat Nathala menjerit histeris dan menangis.
“Tidak. Tidak mungkin. Mama dan Papa tidak mungkin meninggal. Tidakkkk … huhuhuhu.”
#Flashback_Off
Aku sangat terpukul mendengar kabar kematian orang tuaku.
Aku sih tidak masalah jika mereka pergi untuk bekerja, setidaknya aku masih bisa melihat mereka.
Tapi sekarang…
Aku sudah tidak bisa melihat mereka lagi untuk selamanya.
Hidupku yang hampa semakin terasa hampa saja.
Tidak ada gunanya lagi aku bertahan hidup.
Mungkin dengan aku mati, semua penderitaan yang aku rasakan akan berakhir.
Selamat tinggal dunia.
Selamat tinggal Mbok Ina.
Terima kasih sudah menyayangiku selama ini.
Maafkan, aku harus pergi dengan cara seperti ini.
Maafkan aku Arkilla.
_0_
Resty segera menutup buku itu setelah selesai membaca semua tulisan tangan Nathala. Dia menghapus air mata yang membasahi pipinya, tulisan itu benar-benar membuat dia sedih. Tidak menduga dibalik keceriaan gadis itu selama ini menyimpan 1000 duka yang mendalam.
“Ternyata semua masalah yang terjadi adalah ulah Ashara. Anak itu benar-benar … awas saja dia nanti.” gumamnya kesal, lalu segera beranjak keluar dari kamar Nathala.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here