Dua Kepribadian #19

0
121
views

Di Rasuki Hantu Arkilla


Setelah Winda selesai dikuburkan, pihak keluarga pun berangsur-angsur pergi meninggalkan tanah pemakaman. Begitu pun kedua orang tuanya. Mereka melangkah pergi meninggalkan tanah pemakaman bersama Yamada, Randa dan Nilam.
“Maaf kan saya, Bu. Ini semua salah saya,” ucap Randa memulai obrolan. “Jika saja saya tidak mengusirnya tadi malam dari Cafe, mungkin Winda tidak akan meninggal.”
“Mengusir? Apa maksud Nak Randa?” tanya ibunda Winda menatap Randa bingung.
“Hmm … jadi ceritanya begini, bu.”
Randa mulai menceritakan kejadian yang sudah berlaku, sebab musabab dia mengusir Winda dari Cafe. Laki-laki itu tampak serius menjelaskan pada kedua orang tua Winda.
“Masya allah. Saya tidak menyangka Winda sanggup melakukan itu,” ucap ibunda Winda setelah Randa usai bercerita.
Dia sama sekali tidak menduga Winda akan melakukan perbuatan keji seperti itu. Fitnah yang dilakukannya sudah merugikan orang lain, kasihan gadis yang difitnah itu. Winda memang keterlaluan.
“Maafkan anak kami, Nak. Kami sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi.” Ayah Winda memohon maaf atas kesalahan putrinya.
Mereka sadar.
Mungkin Winda meninggal karena sudah memfitnah orang baik seperti Calasha yang sudah diceritakan Randa barusan.
“Minta maaf nggak ke kita Pak, tapi pada Calasha. Dia yang sudah di rugikan di sini,” ucap Nilam sedikit ketus.
“Kami tidak bisa minta maaf secara langsung, Nak. Tolong diwakilkan saja. Kami sangat berharap kalian mau menyampaikan permintaan maaf ini pada Calasha.”
“Iya Pak, tenang saja. Jika bertemu dia, saya akan sampaikan amanat ini padanya.” jawab Yamada cepat sebelum Nilam yang mengambil alih untuk menjawab.
Dia kenal betul siapa gadis itu, jika sudah kesal pada sesuatu atau seseorang apapun yang keluar dari bibirnya akan menyakitkan hati. Dia tidak ingin kedua orang tua Winda sakit hati jika mendengar ucapan Nilam nanti, lagi pula dia tidak ingin Nilam bersikap kurang ajar pada orang yang lebih tua darinya.
“Iya, Pak. Saya juga akan sampaikan nanti pada Calasha jika bertemu.” tambah Randa.
“Terima kasih, Nak. Kalau begitu kami permisi dulu.”
“Iya, Pak. Sama-sama.”
Kedua orang tua itu pun berlalu pergi meninggalkan tanah pemakaman dengan perasaan sedih luar biasa.
“Winda sudah tiada, Pak. Apa sebaiknya kita pergi saja dari kota ini? Kita mulai hidup baru di tempat lain,” ucap ibunda Winda memberi saran.
“Kita tidak bisa pergi dari kota ini, Bu. Kuburan Winda kan di sini. Nggak mungkin kita tinggal.”
“Bapak benar.”
“Setelah ini kita ke kantor polisi, ya?”
“Ngapain, Pak?”
“Bapak mau beritahu Polisi untuk tidak lagi menyelidiki kasus ini.”
“Lho, kenapa, Pak?”
“Mungkin ini adalah hukuman untuk anak kita karena kesalahannya.”
“Kalau bapak mau-nya begitu, ya udah. Ayo, kita pergi sekarang.”
Puas memperhatikan kedua orang tua itu, Randa beserta yang lainnya segera pergi menuju mobil. Mereka akan kembali ke Cafe untuk bekerja.
“Apa kalian tahu di mana Calasha tinggal?” tanya Randa pada dua orang karyawannya.
“Emangnya kenapa, Pak?” tanya Yamada.
“Saya ingin meminta dia kembali bekerja di Cafe.” beritahu Randa sambil menyeter mobil meninggalkan tanah pemakaman.
“Kami tidak tahu tinggalnya di mana, Pak. Dia tidak pernah memberitahu kami di mana dia tinggal.”
“Bukannya kalian bertiga bersahabat. Masa sih, kalian nggak tahu di mana dia tinggal?”
“Calasha memang sahabat kita Pak, tapi tidak semua tentang dirinya kita tahu.” jawab Nilam.
Yamada mengangguk membenarkan, “Nilam benar, Pak.”
Randa tidak lagi bersuara. Kini dia kembali fokus menyetir mobil. Dalam hati mengutuk diri sendiri yang sudah mengambil keputusan terlalu cepat. Jika sudah begini, di mana dia akan bertemu Calasha lagi.
‘Aaaahhhh! Bodoh bodoh bodoh. Bodoh sekali kau Randa.’ teriaknya kesal dalam hati.

*****

“Ah, senangnya!” seru Nanty senang.
Dia senang mendengar cerita Calasha barusan, gadis itu menceritakan tentang beasiswa yang didapatnya secara cuma-cuma tanpa mengikuti ujian text.
Saat ini kedua gadis itu sedang di taman, menghabiskan waktu istirahat di sana. Tadi setelah bel berbunyi, Calasha langsung mengajak Nanty ke sana.
Melihat keceriaan di wajah Nanty membuat Calasha cemberut luar biasa. Dia berharap ada tanggapan lain dari Nanty selain ucapan senang yang terlontar dari mulut gadis itu barusan.
“Kamu hebat Cha, selamat ya. Aku turut berbahagia untuk mu,” ucap Nanty sembari menatap wajah Calasha dengan seyuman lebar. “Hey, kenapa kamu cemberut seperti itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” tanyanya ingin tahu.
“Kamu terlihat senang sekali.”
“Hahah, iya lah. Aku senang karena kamu mendapatkan beasiswa itu.” Nanty menjawab setelah tawanya mereda. “Ini kesempatan bagus buatmu, Cha. Gunain kesempatan ini sebaik mungkin. Lagipula, kamu tidak perlu lagi pusing-pusing memikirkan biaya sekolah kan. Semuanya sudah ditanggung pihak sekolah. Kapan lagi orang susah seperti kita bisa menikmati fasilitas mewah di sekolah elite itu? Ini kesempatan buat kamu. Jadi, kamu harus menerimanya dengan hati ikhlas.” jelas Nanty panjang lebar.
Calasha diam memikirkan ucapan Nanty barusan. Semua yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Baiklah, dia akan mencoba ikhlas menerima beasiswa itu dan dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Aku coba deh.” jawab Calasha dengan senyuman lebar.
“Nah, gitu dong.” balas Nanty ikutan tersenyum. “Berarti besok kamu udah nggak di sini ya, Cha?” tanya Nanty kemudian.
“Ya, Pak Yanto bilang besok aku dan Adit udah bisa sekolah di sana. Dan sebelum proses belajar dimulai, kami harus mengurus kepindahan dulu.” beritahu Calasha membuat Nanty mengangguk paham.
Setelah itu terdengar suara bel berbunyi, mereka segera beranjak meninggalkan taman kembali ke kelas.
Narasi Calasha : ‘Aku akan sangat merindukan sekolah ini dan juga merindukan Nanty. Dia adalah sahabatku satu-satunya di SMA NUSA BANGSA 1. Sedih harus meninggalkan semuanya, tapi aku tidak ada pilihan lain selain menerima beasiswa itu. Meski aku tidak yakin akan menemukan sahabat baru di sana, setidaknya aku tidak sendirian. Masih ada Adit yang akan menjadi temanku nanti.

*****

Resty sibuk mengurus berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Pada saat itu juga handphone yang tergeletak di meja berbunyi, dia pun melirik nama yang tertera di layar. Siapa yang sudah menelponnya siang-siang begini.
“Pak Yanto,” ucapnya pelan, lalu tanpa berpikir lagi dia segera meraih benda pipih itu dan menjawab panggilan itu.
Pak Yanto : “Assalamualaikum, Bu.”
Bu Resty : “Waaalaikumsalam. Kenapa bapak menelpon?”
Pak Yanto : “Ini tentang permintaan Bu Resty beberpa hari yang lalu.”
Bu Resty : “Hmm … bagaimana, Pak? Apa sudah ada muridnya?”
Pak Yanto : “Sudah Bu, tapi…,”
Bu Resty : “Tapi apa, Pak?”
Pak Yanto : “Untuk saat ini saya hanya mampu mengirimkan dua murid sesuai kriteria yang ibu inginkan. Mereka saya pilih tanpa mengikuti seleksi seperti murid-murid lainnya. Saya yakin, mereka akan menjadi murid hebat nantinya di bawah bimbingan Bu Resty.”
Bu Resty : (senang sekali) “Terima kasih, Pak. Besok saya akan mengurus kepindahan mereka. Sekali lagi terima kasih, Pak.”
Pak Yanto : “Iya, Bu. Sama-sama.”
Bu Resty : “Hmm … kalau boleh saya tahu siapa nama mereka, Pak?”
Pak Yanto : “Calasha dan Adit, Bu.”
Bu Resty : (Mengangguk paham dan tersenyum) “Baiklah, Pak. Jika tidak ada yang dibicarakan lagi bolehkah saya tutup telponnya?”
Pak Yanto : “Oh, silahkan.
Bu Resty : “Baik, Pak. Assalamualaikum.”
Pak Yanto : “Waalaikumsalam.”
Tut!
Tut!
Sambungan terputus.
“Syukurlah, semoga pilihan Pak Yanto tidak mengecewakan saya.” gumamnya pelan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

__0__

Semua murid di SMA HIGH SCHOOL INTERNASIONAL sibuk membicarakan beasiswa yang diadakan Resty. Mereka tidak tahu sejak kapan Resty mulai melakukan itu, tahu-tahu besok sudah ada dua orang murid yang menerima beasiswa datang ke sekolah mereka.
“Heran deh, kenapa sih nyokap lo ngadain beasiswa segala? Gue rasa sekolah ini nggak kekurangan murid deh,” ucap Vayra sembari melirik Ashara yang tampak sibuk memainkan kuku-kuku panjangnya.
Menyadari Ashara tidak tertarik dengan obrolannya membuat Vayra melirik ke arah Nathala, gadis itu terlihat murung pagi ini. Sejak pagi tadi gadis itu hanya mendiamkan diri, tidak banyak bicara seperti biasanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
“Nat!” panggilnya.
Nathala tidak menyahut apalagi menoleh. Dia terlalu larut dalam lamunan yang dia buat sendiri.
#Flashback_On
Nathala baru selesai mandi setelah pulang dari rumah Ashara, dia melangkah pelan menuju tempat tidur sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk.
“Kabar Robert gimana, ya? Kenapa dia nggak ngabarin gue dari kemarin?” gumamnya pelan, lalu meraih handphone yang tergeletak di tempat tidur.
Dia ingin menelpon Robert menanyakan kabar lelaki itu dan menanyakan kenapa laki-laki itu tidak menghubunginya sama sekali?
Setelah mendail nomor telepon Robert, dia segera meletakan benda pipih itu ke telinga.
Tut!
Tut!
Tut!
Sambungan terhubung.
Robert : “Hallo!”
Nathala tersenyum senang saat mendengar suara Robert, dia sangat merindukan laki-laki itu.
Nathala : “Hallo, yank. Kamu di mana?”
Tidak terdengar jawaban dari seberang, saat Nathala melihat handphone. Telepon masih terhubung.
Nathala : “Hallo, yank. Kamu dengar aku kan?”
Robert : “Hmm …”
Nathala : “Kamu di mana, yank? Jawab aku dong.”
Nathala mulai panik saat Robert tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Yank, siapa sih yang nelpon? Sini dong, aku udah lapar nih.”
“Iya, yank. Sebentar, ya!”
Nathala mendengar jelas suara perempuan di seberang dan disusul suara Robert membalas ucapan perempuan itu. Yang membuat dia shock adalah panggilan keduanya yang saling memanggil ‘sayang’, mungkinkah Robert selingkuh di belakangnya.
Nathala : “Yank, itu suara perempuan kan? Siapa dia?”
Robert : “Dia pacarku.”
Deg!
Nathala sangat shock mendengar jawaban lugas dari Robert barusan. Hampir saja, handphone yang dia genggam jatuh ke lantai. Syukurlah, dia masih mampu menahannya.
Nathala : “Apa! Pacar katamu?”
Robert : “Gue rasa elo nggak tuli deh, Nat. Dia memang pacarku.”
Nathala : “Kamu selingkuh!”
Terdengar suara tawa Robert di seberang telepon. Tawa yang menyakitkan hati Nathala.
Robert : “Gue nggak selingkuh kok. Hanya dia pacar gue satu-satunya.”
Nathala : “Lo ngomong apa, sih? Gue kan pacar lo.”
Robert : “Dulu sih iya Nat, tapi tidak sekarang. Kita putus, ya? Gue udah bosen pacaran sama lo. Udah ya, jangan hubungi gue lagi. Bye!”
Tut!
Tut!
Tut!
Sambungan terputus.
#Flashback_Off
“Woy, Nathala!” kali ini Vayra berteriak tepat di kuping gadis itu. Hal itu membuat Nathala kaget luar biasa.
Nathala melirik malas ke arah Vayra yang kebetulan duduk di sampingnya, kebetulan gadis itu sedang menatapnya.
“Lo kenapa, Nat? Banyakkan diamnya lo hari ini,” ucap Vayra.
“Gue nggak papa Vay. Hmm … gue ke toilet dulu, ya?” pamitnya, lalu beranjak pergi keluar dari kelas.
Nathala menyusuri koridor dalam diam menuju toilet. Dia hanya menatap lurus ke depan. Sungguh dia sangat terluka atas perlakuan Robert tadi malam, laki-laki itu sudah berselingkuh, lalu memutuskan hubungan mereka begitu saja. Siapa yang tidak sakit hati?
Di toilet Nathala tampak berdiri di depan cermin, dia memperhatikan wajahnya. Apa yang kurang dari dirinya sehingga Robert lebih memilih wanita lain ketimbang dirinya?
“Apa kekuranganku? Kenapa Robert tega sekali memutuskanku seperti ini?”
Hiks!
Hiks!
Huhuhu!
Tak kuasa menahan diri Nathala pun menumpahkan air mata yang semula ditahannya agar tidak jatuh, tetapi sekuat apapun usahanya untuk tegar, tetap saja hatinya kembali merasakan sakit.
Setelah puas menangis Nathala menghidupkan kran air, lalu membasuh wajah. Dingin air yang membasahi wajahnya membuat Nathala sedikit lebih tenang.
Saat Nathala ingin mematikan kran air dan bersiap-siap keluar dari toilet, tiba-tiba Nathala merasa bulu kuduknya merinding. Dan saat itu juga, ia mendengar suara seseorang memanggilnya dari arah cermin. Bulu kuduknya pun tambah merinding. Saat ia menghadap belakang, ia melihat sosok menyeramkan.
“Ka… Kamu?” cetusnya ketakutan.
“Kau masih ingat aku?” tanya sosok itu dengan seringaian lebar. “Apa kabar? Lagi galau, ya? Hihihi!”
Nathala tidak mampu bersuara. Dia shock saat melihat sosok Arkilla yang begitu menyeramkan berdiri begitu dekat di depannya. Dia ingin berteriak, tetapi entah mengapa suaranya tidak bisa keluar.
“Kau terlihat terkejut saat melihatku. Apa kau juga takut padaku?” Hantu Arkilla bertanya lagi, tetap tidak ada balasan dari Nathala.
“Kau kelihatan begitu sedih. Baru di putusin pacar, ya? Kasihan sekali!”
“DIAM KAU HANTU SIALAN.”
Ups.
Nathala langsung menutup mulutnya setelah berhasil mengatakan kalimat barusan. Dia takut ucapannya barusan akan membuat Arkilla marah dan membunuhnya saat ini juga.
“Aku datang menemui kamu di sini memang ingin membunuhmu.”
Bola mata Nathala membesar seiring mendengar ucapan hantu Arkilla barusan.
“Tidak!! Kau tidak boleh membunuhku.”
“Kau harus mati. Gara-gara kalian aku jadi seperti ini, kalian harus menerima nasib yang sama sepertiku.”
“Tidak!”
Nathala berlari ke arah pintu dan membukanya. Namun, saat handdle pintu di tarik, pintu berwarna putih tersebut tidak bergerak sama sekali.
“Hentikan bodoh. Kau tidak akan bisa membukanya sebelum kau mati. Hahahaha!”
Nathala menggeleng laju sambil berteriak kencang, berharap orang di luar mendengar suaranya. Namun, sekencang apapun dia berteriak, suaranya kembali tidak bisa keluar.
Dug!
Dug!
Dug!
Nathala juga menggunakan kedua tangan memukul pintu berwarna putih tersebut, tetapi tetap saja tidak ada yang membuka pintu untuknya. Pada akhirnya dia hanya bisa menangis terisak-isak di lantai, sedangkan Arkilla tampak senang melihat keputusasaan yang tergambar di wajah Nathala.
“Saatnya bermain!” seru Arkilla riang.
Setelah itu sosok Arkilla sudah tidak ada dalam toilet, tetapi pindah merasuki tubuh Nathala. Dalam hitungan detik espresi wajah Nathala berubah total, gadis itu tidak lagi menangis, melainkan diam dan kaku dengan tatapan kosong ke depan.
“Hihihi!”
Nathala bangkit dan membuka pintu. Dalam sekali tarikan pintu itu terbuka begitu saja, kemudian ia melangkah keluar dari toilet.
“Kau akan mati. Hihihi!” Arkilla yang berada di dalam tubuh Nathala berseru senang.
Nathala yang tidak sadar banyak menabrak orang di koridor setiap kali melangkah, semua caci dan maki terlontar dari mereka yang sudah dia tabrak. Bukannya berhenti, dia tetap lanjut jalan. Dia melangkah ke arah tangga menuju lantai bawah. Tiba di sana dia berhenti melangkah, lalu menatap ke bawah. Ada banyak orang di bawah sana, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Ini adalah waktu yang tepat untuk aku terjun. Selamat tinggal Nathala, kau akan segera menyusulku. Hihihi!”
Setelah mengatakan kalimat itu Arkilla segera melompat, membawa tubuh Nathala ikut serta bersamanya terjun ke bawah.
“Kyaaaa!!!!”
Hanya suara jeritan para perempuan lah yang terdengar setelah itu.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here