Dua Kepribadian #18

0
51
views

Kenangan Tiga Tahun Silam


Raska masuk ke kamar, lalu menjatuhkan tubuh di tempat tidur. Dia menatap nyalang langit-langit kamar yang berwarna putih cerah. Ingatannya melayang pada moment-moment yang terjadi dalam minggu ini. Moment yang berkaitan langsung dengan Calasha.

Dia tidak menduga akan bertemu gadis itu lagi. Pertemuan di bus waktu itu sungguh mengagetkannya. Di mana saat itu dia memutuskan pulang naik bus, tidak menunggu Raiyan seperti biasanya.

Sakit kepala yang tiba-tiba menyerang membuat dia mengambil keputusan pulang duluan ke rumah dan meninggalkan Raiyan yang saat itu masih sibuk latihan basket sama teman-temannya.

Dia ingin teriak saat sakit kepala itu membuat seluruh tubuhnya menggigil, tapi dia tidak melakukannya saat menyadari dia sedang di dalam bus. Pada akhirnya dia memilih memejamkan mata, berharap sakit kepala yang dia rasakan itu hilang. Bahkan, dia juga sengaja menyettle musik sekencang mungkin dengan harapan kepalanya pecah detik itu juga.

Lama memejamkan mata dia tidak kunjung tidur, tahu-tahu dia merasakan bus berhenti. Dia membuka mata sebentar melihat apa yang membuat bus berhenti, ternyata sopir kembali mengangkut penumpang. Mengacuhkan hal itu, dia kembali memejamkan mata.

Tak lama kemudian dia dapat merasakan seseorang duduk di sampingnya. Awalnya dia tidak peduli, tetapi detik berikutnya dia mulai terganggu. Seseorang yang duduk di sampingnya tampak begitu gelisah dan dia juga dapat merasakan orang itu sedang memperhatikan wajahnya.

‘Ck,’ Raska berdecak kesal dalam hati, merasa tidak suka orang itu duduk di sampingnya.

Tidak tahan dia pun membuka mata, lalu melirik perempuan yang duduk di sampingnya. Kebetulan perempuan dalam balutan seragam putih abu-abu itu sedang menatap ke depan. Dari samping Raska mencoba melihat wajah di sebalik kacamata itu.

‘Calasha,’ kata hatinya memanggil nama gadis itu.
Seakan mendengar panggilan itu Calasha menoleh, hal itu membuat Raska kembali menutup mata.

Calasha adalah gadis yang pernah dia tolong dari berandalan tiga tahun yang lalu, masih jelas diingatannya air mata yang mengalir dari pelupuk mata gadis itu, mencoba menyelamatkan diri dari gangguan tiga orang preman yang mengelilinginya.

#Flashback_On

Calasha menyusuri jalanan yang sepi menuju halte bersama Brisley, dia baru saja pulang dari bekerja. Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam, Calasha berharap masih ada bus yang akan mengantarnya pulang.
“Malam ini dingin sekali, Cha. Moga aja bus cepat datang, aku tidak ingin kau sakit nanti,” ucap Brisley.

“Ya, kamu benar Bris. Hujan tadi membuat udara terasa dingin.” balas Calasha membenarkan ucapan Brisley.
Calasha menghentikan langkah tidak jauh dari halte saat melihat tiga orang preman sedang berjalan ke arahnya.
“Wah, ada berandalan Cha. Ayo, sebaiknya kita buru-buru pergi dari sini!” ajak Brisley.
“Ya, kamu benar Bris.”
Baru saja Calasha hendak pergi dari situ, tetapi tiga preman itu sudah menghandang jalannya. Mereka menatap Calasha dengan pandangan tergoda.
“Malam-malam begini mau ke mana adek manis?” Preman dengan potongan rambut jabrik bertanya sambil tersenyum genit.
“Mau pulang. Permisi!” jawab Calasha sambil melangkah hendak pergi.
“Buru-buru amat, dek. Temani abang dulu, yuk!” Preman yang satunya menahan langkah Calasha.

Laki-laki itu mencoba meraih tangan Calasha, tetapi gagal saat Brisley mematuk tangannya. Preman itu mengaduh kesakitan.
“Burung sialan! Mati saja kau, sana!” sambil mengayunkan botol miras ke arah Brisley dan gagal.

Brisley bisa menghindari serangan itu dengan terbang ke arah preman yang satunya, dan mematuk mereka satu persatu.

“Aaaahhh!! Dasar kau burung sialan. Mati kau kali ini!!” Preman bertindik itu kembali mengayunkan botol miras di tangannya.

Brisley yang saat itu sedang fokus mematuk preman berambut jabrik tidak menyadari bahaya yang mengancam. Alhasil, botol itu berhasil mengenai Brisley. Burung gagak itu terlempar jatuh menghantam jalanan.
“Brisley!!!!” teriak Calasha panik saat melihat Brisley tak kunjung bangkit dari jatuhnya.

Dia ingin melangkah menghampiri Brisley, tetapi lagi-lagi tiga preman itu menghadag jalannya.

“Sekarang giliranmu, waktunya kita bersenang-senang. Ayo, adek manis ikut abang!”
Ketiga preman itu menarik paksa Calasha mengikuti mereka, sedaya upaya Calasha berusaha memberontak.
“Lepaskan saya!!”
Air mata mengalir laju membasahi pipinya.
“Lepaskan! Jangan ganggu saya.”
“Sssstttt … jangan berteriak adek manis. Sudah, ikut saja dengan kami.”
“Saya tidak ingin ikut kalian. Lepaskan saya!”
Brisley yang mendengar teriakan Calasha berusaha bangkit meskipun dia sadar kepalanya kini sedang terluka, bahkan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“A-a-aku h-ha-harus b-bi-bisa,” gumam Brisley terbata-bata.
Sedaya upaya Brisley mencoba bangkit, tapi lagi-lagi gagal. Brisley kembali terjatuh.
‘Tap.
Tahu-tahu sepasang sepatu berhenti di depannya, dia melihat ke atas siapa orang itu. Saat menemukan wajah orang itu, dia sedikit merasa lega. Mungkin dia bisa meminta laki-laki itu membantu Calasha dari gangguan ketiga berandalan itu.

“Tolong!”
Raska menatap Brisley yang barusan bersuara, sedikit terkejut saat menyadari burung gagak itu bisa bicara.
“Ku mohon, tolong Calasha.”
Brisley jatuh pingsan setelah mengatakan hal itu, sedangkan Raska sudah melangkah maju mendekati Calasha.

“Woii!!”
Suara teriakannya barusan membuat ketiga preman itu berbalik lantas tertawa saat mendapati laki-laki remaja yang barusan berteriak.
“Ngapain kau teriak-teriak?”
“Lepaskan dia!”
“Apa kau bilang? Kau minta kami lepaskan dia? Hahahaha. Tidak akan kami lepaskan. Dia adalah milik kami.”
Raska menatap wajah Calasha yang berurai air mata, lantas mendengus geram.
“Hanya banci yang suka gangguin anak remaja seperti kami,” Ucapan Raska terdengar lantang di tengah sunyinya malam.
“Kau ngatain kami banci. Dasar bocah, masih ingusan sudah berani ikut campur urusan orang dewasa.”
Raska tersenyum sinis mendengar kaliamat yang barusan dilontarkan salah satu preman itu.

“Dewasa, ya(?)”
“Aaahh … banyak omong kau. Rasakan ini. Kyaa!!”
Perkelahian antara Raska dan ketiga preman itu pun tak terhindari lagi. Raska yang masih remaja tampak gesit menghindari serangan dari preman-preman itu.

#Flashback_Off.

Raska tersenyum tipis mengingat kejadian tiga tahun yang lalu saat usianya masih 14 tahun. Berkat ilmu bela diri yang di pelajarinya sejak usia 12 tahun, Raska berhasil mengalahkan ketiga preman itu.

“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Calasha setelah ketiga preman itu kabur.

“Ya.” balas Raska singkat, lalu berbalik pergi meninggalkan Calasha yang kembali menghampiri Brisley yang terkapar.
“Tak kuduga kau masih terlihat sama seperti dulu.” Raska bergumam pelan sembari tersenyum tipis.

Tak ingin berlarut-larut dalam lamunan Raska pun bangkit dari baringan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa, dia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan aktifitas lain.

*****

Randa sangat terkejut dengan kabar yang barusan dia dengar, orangtua Winda atau lebih tepatnya ibunda perempuan itu menelpon memberitahukan kabar yang mengejutkan dirinya. Winda sudah meninggal karena dibunuh seseorang, tidak ada yang tahu motif dibalik terbunuhnya Winda. Sang pembunuh sama sekali tidak meninggalkan jejak, selain hanya dua bekas luka bolong di perut dan punggung. Tidak adanya petunjuk lain membuat Polisi kesulitan menemukan pelaku pembunuhan itu, meskipun begitu kasus ini tetap dilanjutkan. Orang tua korban meminta pihak Polisi menemukan pembunuh itu untuk dihukum seberat-beratnya.

Ibunda Winda : “Hallo … Nak Randa! Kamu masih di sana?”
Raska segera sadar dari keterpakuannya saat mendengar pangglan dari saluran handphone.
Randa : “Iya, Bu. Saya masih di sini.”
Ibunda Winda : “Kamu bisa ‘kan datang ke rumah?”
Randa : “Iya, Bu. Nanti saya dan pegawai lainnya akan datang melayat.
Terdengar suara tangisan dari saluran handphone, sepertinya wanita itu sedang menangis.
Ibunda Winda : “Baiklah Nak, ibu tunggu kedatangan kalian.”
‘Tut!
‘Tut!
‘Tut!
Sambungan terputus.
“Aaaa!”
Helaan nafas berat Randa keluarkan selepas terputusnya sambungan telepon. Ada perasaan bersalah menyelinap di hatinya setelah mendengar kabar meninggalnya Winda, sama sekali tidak menduga tadi malam adalah pertemuan terakhir mereka.

Winda dibunuh dan kejadian itu terjadi tadi malam, sepertinya gadis itu dibunuh saat perjalanan pulang setelah diusir dari Cafe.
“Ini salahku,” ucap Randa sembari duduk di kursi kerjanya. “Andai saja aku tidak mengusirnya tadi malam, mungkin dia masih hidup. Andai saja dia tidak melakukan itu semua, pasti aku tidak akan memecatnya.”
Semuanya sudah terlambat, yang sudah terjadi biarlah berlalu. Tak ada gunanya menyesali itu semua, setidaknya itulah yang ada dipikiran Randa saat ini.

“Sebaiknya aku pergi sekarang saja.” gumamnya lalu beranjak keluar dari ruang kerja.

Randa melangkah mendekati Yamada dan Nilam yang sibuk berbenah, dia akan mengajak mereka melayat dan Cafe akan ditutup sementara. Setelah pulang dari melayat, Cafe akan kembali di buka.

“Mada! Nilam!”
Mendengar panggilan itu serentak mereka menyahut, “Iya, Pak!”
“Sebaiknya kalian ganti pakaian sekarang! Kita akan pergi melayat.”
“Melayat!” seru Nilam dan Yamada serentak.
“Siapa yang meninggal, Pak?” tanya Nilam bingung.
“Winda. Dia meninggal tadi malam dibunuh seseorang.”
“Hah! Dibunuh?”
“Iya. Saya tunggu kalian di depan. Kita pergi bersama.”
“Baik, Pak.”

Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan Randa, mengganti kembali pakaian mereka, lalu kembali menemui Randa yang sedang menunggu di mobil.
Tiba di sana, mereka segera masuk ke dalam mobil.
“Sudah siap?” tanya Randa setelah melihat kedua pegawainya sudah masuk ke mobil.

“Sudah, Pak.” jawab Nilam dan Yamada bersamaan.
“Oke, kita berangkat sekarang.” beritahu Randa mulai menghidupkan mesin mobil dan tak lama kemudian mobil melaju kencang menyusuri jalanan yang sepi.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here