Dua Kepribadian #17

0
142
views

Calasha keluar kamar, berjalan pelan menuju pintu belakang, membuka pintu dan keluar dari rumah. Dia menyusuri jalanan setapak menuju sumur. Tiba di sumur, dia segera mandi. Selesai mandi dan memakai handuk, dia segera beranjak pergi dari sana kembali ke rumah.

Ketika dia ingin masuk ke rumah, tak sengaja pandangannya melihat jaket dan sepatu tergeletak begitu saja di rumput.

Rasa penasaran membuat Calasha mengambil jaket basah dan sepatu kotor itu, lalu mulai memperhatikan kedua benda itu dengan teliti.
“Bukan sepatu dan jaketku, lalu punya siapa ini?” tanya Calasha pada diri sendiri.

Jaket hitam itu tidak asing dimatanya, dia pernah melihat jaket itu dipakai Raska. Bahkan tadi malam, dia masih melihat lelaki itu memakainya.

“Lo apain jaket dan sepatu gue?”

Suara khas seorang lelaki baru bangun tidur yang menyapa barusan, membuat Calasha mengangkat kepala. Dia melihat Raska berjalan menghampirinya. Satu yang hanya Calasha pikirkan saat ini, yaitu pergi dari situ sebelum Raska tiba di hadapannya. Dia tidak mungkin berhadapan dengan Raska saat masih memakai handuk, yang ada dia akan merasa malu nantinya.

Raska tidak jadi menghampiri Calasha saat melihat gadis itu hanya memakai handuk. Handuk itu hanya bisa menutupi bagian dada hingga lutut, sehingga bagian yang terbuka terlihat jelas oleh Raska. Ternyata, dibalik keculunan gadis itu tersimpan kulit yang putih dan mulus.
“Hey, apa yang kau lihat?” tanya Brisley sedikit ketus. “Jangan sembarangan melihat anak gadis orang,” tambahnya.

Raska yang tidak ingin menjawab apapun berlalu begitu saja, sedangkan Brisley terbang menghampiri Calasha yang masih tercegat di ambang pintu.

“Kau apa-apaan sih, Cha? Kenapa kau biarkan dia melihatmu dalam keadaan seperti ini?” marah Brisley.

Calasha yang di marah seperti itu hanya bisa nyengir, sama sekali tidak bisa balas marah pada Brisley.

“Aku tidak tahu, dia tiba-tiba hadir di depanku.”
“Pria itu memang menyebalkan,” sungut Brisley, lalu melirik jaket dan sepatu yang dipegang Calasha. “Sepatu dan jaket siapa itu? Sepertinya tidak asing di mataku!” ucap Brisley membuat Calasha kembali memperhatikan jaket dan sepatu itu.

“Tadi, pria itu bilang ini jaket dan sepatunya,” beritahu Calasha.
“Terus, kenapa ada padamu?”
“Tadi, aku menemukannya sudah tergeletak di sini.”
“Ooo… Terus, ngapain kamu masih di sini? Pakai baju, sana!”
“Iya, aku masuk dulu.” Calasha pun berlalu pergi masuk ke rumah sembari membawa jaket dan sepatu itu.

Brisley menyusul di belakangnya.
Calasha masuk kamar, mengambil seragam sekolah dalam lemari dan memakainya. Kemudian menyisir rambut dan mengikatnya. Setelah rapi, dia melangkah keluar menemui Raska.

“Lo apain jaket dan sepatu gue?” tanya Raska setelah melihat Calasha muncul di depannya.

Ketika bangun tadi, dia amat sangat terkejut saat tidak menemukan jaket dan sepatu itu di dekatnya. Rasa kehilangan membuat dia mengelilingi rumah ini, akhirnya dia mendapati jaket dan sepatu itu ada di tangan Calasha dalam keadaan basah dan kotor.

“Aku tidak melakukan apapun pada jaket dan sepatu itu. Saat kutemukan sudah basah dan kotor,” ucap Calasha menerangkan.
“Terus, gue harus percaya?” tanya Raska seakan tidak mempercayai ucapan gadis itu.

Bagaimana mungkin jaket dan sepatu itu ada di belakang rumah? Tadi malam jelas sekali dia meletakkan kedua benda itu di dekatnya.
“Iya, aku ngomong yang sebenarnya. Kamu harus percaya!”
“Oke, gue percaya.”

“Terima kasih sudah percaya. Ini, kukembalikan jaket dan sepatu kamu.” Calasha pun meletakkan jaket dan sepatu itu di meja.

Raska melirik kedua benda itu. Tidak ada pilihan lain, sepertinya dia akan memakai sepatu kotor itu sementara waktu, karena tidak mungkin dia pulang ke rumah tanpa menggunakan alas kaki.

Calasha tersenyum saat melihat laki-laki yang belum dia tahu namanya itu mengambil sepatu, kemudian mulai memakainya dengan sangat cepat. Setelah usai, Raska bangkit, meraih jaket, lalu berlalu pergi dari situ.
“Bris, aku pergi, ya? Hati-hati di rumah!” pamit Calasha kemudian berlari menyusul Raska.

Dikejauhan Brisley hanya mampu memperhatikan mereka dalam diam, ada kilatan tidak suka di bola matanya saat melihat Calasha dekat dengan lelaki itu.

“Menyebalkan,” cetusnya, kemudian kembali terbang masuk ke rumah.

***

Yamada melihat antrian panjang di depannya lantas berdecak kesal, dia paling benci terjebak di situasi seperti ini. Disaat dia lagi terburu-buru, ada-ada saja kendala yang harus membuat dia terlambat datang ke Cafe.
Aneh, padahal hari masih pagi, tapi jalanan sudah macet saja. Apa yang terjadi?

“Mbak, ada apa sih? Kenapa tiba-tiba macet?” tanya Yamada pada seorang wanita yang kebetulan berada persis di sampingnya.

“Itu Mas, tadi salah satu warga menemukan mayat dalam selokkan air. Dan katanya, gadis itu korban pembunuhan.”

“Oh, gitu ya, Mbak?” Yamada mengangguk paham setelah mendengarkan penjelasan wanita itu.

Dalam hati bertanya-tanya, siapa yang terbunuh dan kenapa orang itu dibunuh?

Tak lama kemudian terdengar suara sirene ambulance dan mobil polisi bersahut-sahutan, pergi menjauh lokasi ditemukannya mayat tersebut. Kemudian, jalanan yang semula macet berangsur renggang. Yamada pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Cafe.

Tiba di Cafe Yamada segera memarkirkan vespa di parkiran motor, kemudian segera melangkah masuk ke dalam Cafe. Di sana sudah ada Nilam, gadis berkuncir satu itu sibuk menata bunga mawar dan melati di meja. Sudah menjadi tugas Nilam mengganti bunga-bunga yang sudah layu itu ke bunga yang masih segar.

“Pagi Lam.” Yamada menyapa Nilam ketika melewati gadis itu sambil tersenyum manis.

Disenyumin seperti itu oleh Yamada membuat Nilam kaku di tempat, seluruh fungsi tulangnya terasa rapuh saat ini. Kenapa Yamada tersenyum seperti itu padanya?

Aneh, tidak biasanya Yamada tersenyum seperti itu.
“Gue ganti seragam dulu ya, Bye!”

Kemudian Yamada berlalu pergi meninggalkan Nilam yang segera menjatuhkan tubuh di kursi, dia memegang jantungnya yang berdebar-debar. Lagi-lagi dia merasakan hal ini setiap kali berdekatan dengan Yamada, apa jangan-jangan dia menyukai laki-laki itu.

“Aduh, kayaknya gue benaran jatuh cinta deh,” gumam Nilam sambil tersenyum kecut.

“Hah?”

Suara terkejut seseorang membuat Nilam berpaling dan mendapati kini Yamada sedang melangkah ke arahnya.

“Lo jatuh cinta sama siapa, Lam?” Yamada bertanya sambil menatap lekat pada wajah Nilam yang entah mengapa terlihat semakin cantik.

“Idih, kepo.”

Sumpah demi Tuhan, sebenarnya Nilam tidak ingin menjawab seperti itu. Hanya saja, perasaan grogi yang tiba-tiba menyerang membuat dia terpaksa menjawab begitu.

“Gue mau lanjut kerja.”
Nilam berbalik badan hendak pergi, tetapi Yamada keburu menahannya.
“Tunggu, Lam!” pinta Yamada sambil mencekal pergelangan tangan Nilam.
“Apaan, sih? Nggak usah pegang-pegang deh.”
“Ups, sorry.” Yamada melepaskan tangan Nilam yang barusan dipegangnya, kemudian beralih menatap wajah gadis itu yang ditekuk.
“Lo kenapa?”
“Maksud lo apaan, sih? Nggak ngerti gue.”
“Gue nanya lo kenapa? Pagi-pagi wajah udah ditekuk begitu, terus jutek banget. Lagi PMS lo?”
“Apaan sih lo? Kepo banget.”
Kemudian Nilam melangkah pergi meninggalkan Yamada yang garuk-garuk kepala, merasa heran dengan sikap Nilam yang mendadak jutek pagi ini.

“Ah, masa bodoh deh. Mending gue kerja sekarang.”
Berbalik badan, dia segera melangkah menuju bar.

***

Raiyan keluar dari kamar sambil memainkan hanpdhone di tangannya, sekali-kali dia lekapkan benda pipih itu ke telinga seperti sedang menelpon seseorang.

Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif…,

Klik

Raiyan langsung menekan butang off setelah mendengar nada operator yang menjawab panggilan.

“Ck, kamu di mana sih Ras? Dari kemarin susah banget dihubungi,” cetus Raiyan bersuara khawatir.

Jelas sekali betapa khawatirnya dia pada Raska yang sejak tadi malam tidak pulang-pulang ke rumah. Dia sudah berusaha mencari Raska ke mana pun, tapi jejak laki-laki itu tidak terlihat sama sekali.

Dia sudah datangi seluruh tempat yang biasa Raska kunjungi. Dan hasilnya nihil, Raska tidak ada di sana sama sekali.

Andaikan Raska punya teman, mungkin dia bisa bertanya pada mereka. Sayangnya, sejak dulu Raska susah sekali untuk bergaul. Dia lebih suka menyendiri tanpa ada teman di sekelilingnya.

Padahal Raska itu sangat diidolakan hampir semua murid perempuan di SMA High School, sama seperti dirinya yang menjadi idola semua wanita di sana. Sayangnya, espresi wajah Raska yang selalu datar membuat mereka enggan untuk mendekat.

Sebagian dari mereka hanya mampu memperhatikan Raska dari kejauhan, atau menitipkan sebatang cokelat yang dihiasi pita dan meminta dirinya memberikan cokelat itu pada laki-laki itu.

Raska adalah murid cowok terganteng nomor satu di sekolah, gelar itu mereka dapatkan setelah MOS yang mereka ikuti tahun lalu. Guru-Guru dan semua wanita menetapkan mereka sebagai MOS Wanted tahun lalu, yaitu Raska nomor satu dan dia sendiri nomor dua.

“Aaahh!”
Raiyan mendongak setelah telinganya menangkap suara teriakan seseorang.

“Raska!” Raiyan berseru kaget sembari berlari menghampiri Raska yang tampak kesakitan di ambang pintu.

Ya, Raska lah yang barusan berteriak. Dia berlutut di ambang dengan kedua tangan memegang kepala, keringat mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat.

Tiba di hadapan adiknya, Raiyan segera membantu Raska berdiri dan membawa laki-laki itu masuk ke dalam rumah.

“Ini yang aku takut kan, Ras. Kamu pasti nggak minum obat ‘kan? Tunggu di sini, aku ambil obat dulu.” Raiyan segera melangkah menuju dapur meninggalkan Raska yang masih meringis kesakitan.

Tak lama kemudian Raiyan kembali membawa obat dan segelas air putih.
“Nih, minum dulu!” suruh Raiyan sambil meletakkan kedua benda itu di meja.

Raska hanya menurut, sama sekali tidak membantah ucapan Raiyan barusan.
“Kamu dari mana aja, Ras?

Kenapa nggak pulang tadi malam?” tanya Raiyan setelah memastikan Raska sudah baik-baik saja setelah minum obat.
“Tersesat.”

“Ck, jangan bercanda Ras. Aku serius bertanya ke kamu.”
“Sejak kapan gue suka bercanda?” tanya Raska balik.
“Jadi kamu nggak sedang bercanda?”
“Nggak.”
“Lho, kok bisa tersesat sih?”
“Panjang ceritanya dan gue malas untuk cerita. Udah ya, gue mau istirahat dulu,” pamitnya sambil berlalu pergi meninggalkan Raiyan yang hanya mampu mengantar kepergian Raska lewat pandangan.
‘Aku hanya berharap kamu baik-baik saja Ka. Tetap selalu ada ya, untukku, untuk Mama dan untuk Papa,” ucap Raiyan dalam hati.

***

Calasha berjalan pelan menyusuri koridor menuju kelas, sepanjang perjalanan dia hanya melamun memikirkan nasibnya setelah ini. Dia belum mendapatkan pekerjaan baru, mau makan apa dia nanti?

“Cha.”

Calasha menoleh ke belakang saat mendengar seseorang memanggilnya. Ternyata sosok itu adalah Adit, teman sekelas yang menduduki juara dua, atau lebih tepatnya saingan terberat Calasha di kelas Fisika. Perbedaan nilai mereka hanya berjarak beberapa angka, tapi selama ini Adit belum bisa mengejar nilainya.

“Eh, Adit! Ada apa?” tanya Calasha sambil tersenyum manis.

“Pak Yanto nyuruh kita ke ruangannya. Gue baru aja mau ke sana.

Kebetulan lo juga sudah datang, kita ke sana berdua aja.”

“Emangnya ada apa?”
“Gue juga nggak tahu.”
“Ya udah, ayo!”

Kemudian kedua remaja berbeda kelamin itu melangkah bersisian menuju ruangan Pak Yanto.

Tiba di ruangan Pak Yanto, mereka mulai mengetuk pelan pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat itu.

Tok!
Tok!
Tok!

“Masuk!”

Klik.

Adit membuka pintu itu perlahan hingga terbuka sepenuhnya, mereka pun langsung masuk setelah terlebih dulu mengucapkan salam.

“Assalamualaikum, Pak.”
“Waalaikumsalam. Oh, kalian, ayo silahkan duduk. Ada yang ingin bapak bicarakan.”

Adit dan Calasha saling melemparkan pandangan sejenak, kemudian segera duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan Pak Yanto.
“Bapak akan bicara seadanya saja, semoga kalian mengerti apa yang bapak katakan ini.”

“Insyaallah, Pak. Kami akan mengerti,” ucap Adit mewakili Calasha.
“Mengingat kalian adalah murid bapak yang sangat berprestasi, alangkah baiknya bapak mengirim kamu berdua ke sekolah yang layak untuk kalian tempati. Dan bapak sangat yakin kalian mampu mengembangkan prestasi kalian lebih tinggi lagi jika sekolah di sana. Bapak memberikan beasiswa itu pada kalian tanpa mengikuti seleksi,” jelas Pak Yanto sembari memberikan dua amplop berwarna cokelat untuk Adit dan Calasha.

“Mulai besok pagi kalian sudah bisa sekolah di sana,” beritahu Pak Yanto lagi.

Calasha dan Adit hanya mampu mengangguk, lidah mereka tiba-tiba kelu tidak tahu harus berkata apa. Antara senang, sedih dan haru bercampur jadi satu. Itulah yang mereka rasakan saat ini.

Bisa sekolah di SMA elite di kota Jakarta adalah hal yang diimpikan semua murid di SMA NUSA BANGSA SATU, kecuali Calasha tentunya. Dan Adit sangat bersyukur bisa mendapatkan beasiswa itu tanpa mengikuti text.
“Makasih Pak,” ucap Adit sembari tersenyum lebar.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kalian pantas menerimanya.”
“Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih sudah meloloskan kami,” ucap Adit lagi mewakili Calasha.

Kemudian dia melirik Calasha yang tampak biasa saja di sampingnya, tiada espresi senang di wajah manisnya. Sebenarnya apa yang sedang gadis itu pikirkan?

“Jika tidak ada yang diobrolkan lagi, kami kembali ke kelas ya, Pak!”
“Iya, silahkan.”

Kemudian Adit dan Calasha pun berlalu pergi keluar dari ruangan Pak Yanto dengan membawa amplop di tangan masing-masing.

Calasha menatap amplop di tangannya. Dia sama sekali tidak tahu harus bersikap bagaimana, antara senang dan sedih bercampur jadi satu. Senang karena dia tidak perlu repot-repot lagi memikirkan biaya sekolah dan sedih karena harus meninggalkan sekolah ini dan Nanty.

“Cha, lo kenapa?” tanya Adit memulai obrolan. “Gue perhatiin lo kayak nggak senang gitu.”
“Masa sih?”
“Iya, sejak tadi gue lihat lo murung aja.”
“Oh, hehe, nggak papa kok, Dit. Gue lagi nggak enak badan aja.”
“Oh gitu, ya? Gue kira lo nggak senang gitu dapat beasiswa ini.” beritahu Adit.

Calasha tidak lagi membalas ucapan Adit barusan, dia hanya tersenyum sebagai balasan. Adit cukup paham, dia pun tidak lagi bersuara.

□□□


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here