Dua Kepribadian #16

0
54
views

“Minumlah!”
Calasha meletakkan secangkir susu panas di depan Raska dan meminta laki-laki itu meminumnya. Hujan di luar, membuat cuaca terasa dingin menusuk ke tulang-tulang. Mungkin secangkir cokelat panas dapat mengurangi rasa dingin yang melanda, itulah sebabnya dia membuat cokelat panas itu.

Raska menatap secangkir cokelat dihadapannya yang masih mengepulkan asap, sepertinya cokelat itu enak.
“Tunggu apa lagi? Ayo diminum.”
Raska menatap Brisley yang barusan bersuara, tatapannya tajam dan menusuk. Ditatap seperti itu membuat Brisley ciut, laki-laki dihadapannya terlihat menakutkan. Teringat kembali ucapan laki-laki itu tadi, dia bergidik ngeri. Takut, laki-laki itu akan benar-benar mematahkan kedua sayapnya.

Calasha tersenyum saat melihat laki-laki itu meminum cokelat buatannya, dia menghembuskan nafas lega saat tidak ada komentar dari laki-laki itu. Bahkan, cokelat panas itu habis dalam sekali teguk.

“Kita belum kenalan kan, kenalin namaku Calasha.” lalu mengulurkan tangan, berharap laki-laki itu menyambut tangannya.

Raska hanya melirik tangan Calasha yang mengambang didepannya, sama sekali tidak berniat menyambut tangan itu.

“Apa pentingnya lo tahu nama gue?”
Calasha kembali menarik tangannya dari hadapan Raska, tidak masalah jika laki-laki itu tidak memperkenalkan namanya.
“Belagu amat sih, itu aja nggak mau ngasih tahu.” Brisley kembali sewot.
“Brisley, kamu nggak boleh ngomong gitu.”
“Habis, dia nyeselin sih jadi orang.”
“Tetap aja, kamu nggak boleh ngomong gitu ke dia.”

Brisley cemberut mendengar ucapan Calasha barusan, walaupun gadis itu mengatakan hal yang benar, tetap saja dia merasa tidak suka Calasha membela laki-laki itu.

“Hoaammm…,”
Cuaca yang terasa dingin membuat Raska menguap, hujan di luar membuat dia ingin cepat-cepat tidur. Bersembunyi disebalik selimut tebal hal yang diinginkannya saat ini, tapi dapatkah dia menemukan selimut tebal ditempat seperti ini. Raska menduga pasti Calasha tidak memiliki selimut tebal.

“Kamu udah mau tidur?”
Raska sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Calasha barusan, dia memilih membaringkan tubuh besarnya di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Tidak butuh waktu lama, Raska pun tertidur dengan lelap.
“Yaelah, dah tidur aja dia. Cepet bener, baru juga berbaring.” cetus Brisley.
“Mungkin dia kelelahan Bris,” jawab Calasha sembari bangkit, kemudian melangkah masuk kamar.

Calasha mengambil selimut putih yang tergeletak ditempat tidur, lalu membawanya keluar dan kembali menghampiri Raska. Tiba di sana, dia segera menyelimuti seluruh tubuh laki-laki itu.

“Bris, aku juga mau tidur. Mending kamu juga tidur gih, udah malam nih!” perintah Calasha sembari melangkah ke kamar, meninggalkan Brisley yang juga kembali ketempatnya. Yaitu, disudut ruangan.
Calasha berbaring ke tempat tidur, tak lama kemudian dia pun tertidur nyenyak.

*****

Randa menekan kepalanya yang terasa pusing. Kejadian hari ini benar-benar membuat dia lelah, penolakkan Calasha, kehilangan uang dan berakhir dengan memecat Calasha dari Cafe. Gadis itu terbukti sudah mengambil uang yang ia simpan dalam laci meja kerjanya.

Dia, sebagai seorang bos sekaligus orang yang mencintai Calasha, merasakan kecewa yang teramat sangat pada gadis itu.

Menyandarkan punggung ke sandaran kursi, tidak sengaja Randa melihat CCTV di langit-lngit. CCTV itu tepat mengarah padanya, melihat itu dia refleks bangkit dari duduk. Kemudian melangkah lebih dekat, ingin melihat CCTV itu lebih dekat.

“Ya ampun, kenapa gue melupakan kalau ada CCTV di ruangan ini,” gumamnya pada diri sendiri.

Kemudian, dia berbalik badan melangkah kembali ketempat duduknya. Dia akan melihat CCTV itu dan membuktikan semuanya.

Jari-jari panjang Randa bergerak lincah melihat layar laptop didepannya. Setelah menemukan yang dicarinya, Raska mulai teliti melihat rekaman CCTV itu.

Rekaman CCTV dimulai dari Randa meletakkan uang ke dalam laci, kemudian dia bangkit berdiri keluar dari ruangan. Setelah kepergiannya, ruangan itu terlihat kosong beberapa saat. Namun, tidak berselang lama kemudian, terlihat seorang gadis memakai seragam pelayan berjalan anggun mendekati meja kerja. Kemudian, membuka laci meja, mengambil uang itu, lalu segera berlalu pergi.

Raska mengepalkan kedua tangan, saat melihat Winda yang mengambil uang itu dari laci. Ternyata, Winda yang sudah memfitnah Calasha. Betapa bodoh dirinya sudah mempercayai ucapan Winda. Gadis itu, benar-benar membuat dia kesal.

Bangkit dari duduk, dia melangkah cepat keluar dari ruangannya. Lihat saja, dia akan memarahi Winda atas apa yang sudah gadis itu lakukan pada wanita yang dicintainya.

“Winda, sini kamu!” pinta Randa setelah menemukan gadis itu sedang tampak membersihkan meja-meja yang kotor.

Malam ini tidak ada pengunjung yang datang, mungkin hujan di luar yang cukup deras membuat orang-orang enggan untuk keluar rumah.
Winda yang senang dipanggil Pak Randa pun tersenyum, dia berjalan anggun mendekati Randa. Dia sempat melirik kearah Nilam yang tampak sangat kesal padanya, mungkin itu disebabkan karena Calasha dipecat. Dia tersenyum sinis, pada akhirnya dia akan bisa mendekati Pak Randa tanpa takut Calasha saingi.

“Gue sumpahin lo bakalan dipecat juga, dasar lampir.” sungut Nilam menatap jengkel pada Winda yang sudah tiba di depan Pak Randa.
Ya, dia sangat ingin Winda juga dipecat dari Cafe. Sikap gadis itu benar-benar membuat dia kesal setengah mati, dam dia yakin sekali kalau Winda yang sudah meletakkan uang itu di Loker Calasha, sehingga gadis itu harus menerima resiko kehilangan pekerjaannya.

“Lo nggak boleh ngomong gitu Lam, ntar kalau dia dipecat mau nyari kerja di mana lagi dia?”

Nilam melirik Yamada yang tampak membela Winda, kemudian mendengus kesal.

“Kenapa gue nggak boleh ngomong gitu ke dia? Lo suka sama tu lampir?” tanya Nilam.

“Emangnya kenapa?” tanya Yamada balik, dia menatap Nilam, menunggu jawaban yang akan gadis itu lontarkan.

“Bukan apa-apa,” jawab Nilam, lalu tanpa pamit dia melangkah meninggalkan Yamada sendirian di bar.

“Lah, kok pergi. Padahal, gue belum selesai bicara. Ya udah deh, lupkan aja,” gumamnya pelan, lalu kembali mnatap kearah Pak Randa dan Winda.
“Kenapa manggil saya, Pak?” tanya Winda dengan senyuman lebar.

“Ck, tidak usah sok tersenyum seperti itu pada saya Winda. Saya sudah tahu yang sebenarnya, Calasha tidak bersalah dalam hal ini. Bukan dia yang mengambil uang saya, tapi kamu.”

Bukan hanya Winda yang terkejut, tapi Yamada dan Nilam juga terkejut mendengarnya.

“Saya sudah melihat CCTV dan di sana terlihat kau yang sudah mengambilnya. Kenapa kamu melakukan itu, memfitnah Calasha seperti itu?. Harusnya saya tidak percaya begitu saja padamu, kau benar-benar membuatku kesal.”

“Itu semua terjadi karena bapak,” cetus Winda memberanikan diri buka suara.

Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, tentang perasaan yang sudah dia pendam untuk laki-laki itu dan perasaan tidak suka-nya saat melihat kedekatan Calasha dan Pak Randa.
“Karena saya?” tanya Randa sembari menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.

“Saya suka bapak. Dan saya tidak suka melihat kedekatan kalian, itulah sebabnya kenapa saya melakukan hal itu.”
“Baiklah, kamu saya pecat. Sekarang, silahkan tinggalkan Cafe saya.”
“Bapak mecat saya?” tanya Winda tidak percaya.
“Tepat sekali, saya tidak sudi melihat kau ada di sini lagi. Jadi, silahkan pergi.”
“Jangan pecat saya, Pak. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini,”
“Pergi.”
Randa benar-benar marah besar pada Winda, dia tidak peduli di luar masih hujan, dia tetap mengusir gadis itu pergi dari Cafe.

Pada akhirnya Winda memang pergi meninggalkan Cafe, berjalan menembus hujan. Di bawah hujan dia menagis sepuasnya, tanpa takut akan dilihat orang banyak. Hujan menyamarkan air matanya.

Dia sakit hati diperlakukan seperti itu oleh Randa, dia benci pada Calasha, gadis itu yang sudah membuatnya seperti ini.

“Aaaaaaaaaahhhh, aku benci kau Calasha.”
Pada pada akhirnya Winda hanya bisa berteriak kesal menantang hujan.
‘Tap,tap,tap
Winda berbalik badan ketika baru saja telinganya mendengar langkah kaki seseorang dibelakangnya. Suara langkah kaki itu terdengar jelas bersama dengan gemericik air. Namun, dia tidak melihat siapa pun dibelakangnya. Jalanan itu sepi dan hanya dia sendirian di sana.

‘Mungkin aja itu hanya air yang jatuh,’ batinnya bermonolog sendirian.
Mengabaikan hal itu, dia kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti. Setelah Winda kembali melanjutkan langkah, sosok berjaket hitam membawa tombak keluar dari persembuyiannya.

Tatapannya tajam menyorot kearah Winda, lalu mulai melangkah mengikuti Winda yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
‘Tap,tap,tap
Winda memelankan langkahnya saat kembali mendengar suara langkah kaki itu, dia mulai merasakan perasaan tidak enak. Rasa penasaran yang tinggi membuat dia berbalik dengan cepat, lantas menjerit saat melihat sosok misterius sedang mengarahkan tombak kearahnya. Refleks, dia segera menghindar.

Winda mencoba melihat wajah disebalik tudung hoodie itu, tapi dia hanya dapat melihat mata orang itu yang berwarna hitam pekat. Siapa sosok didepannya ini? Mengapa orang itu ingin membunuhnya?
“Siapa lo?” tanya Winda.

Sosok itu hanya diam sambil memainkan tombak ditangannya.
“Kenapa lo mau bunuh gue?”
Sosok itu tetap diam, sama sekali tidak berniat membalas ucapan gadis didepnnya.

“Kenapa lo diam? Ayo, jawab gue. Tunjukin diri lo, jangan hanya berani sembunyi dibalik tudung.”
Tidak menjawab Winda, sosok itu melangkah cepat mendekati gadis itu, lalu kembali melayangkan tombak yang dipegangnya. Namun, lagi-lagi Winda berhasil menghindar. Dia berlari tunggang-langgang menjauhi sosok misterius itu, tidak lupa menjerit meminta tolong, berharap akan ada yang mendengarnya.

Winda terus berlari, sekali-kali melirik ke belakang. Takut, sosok misterius itu akan mengikutinya lalu membunuhnya. Dia bingung, sebenarnya siapa sosok itu? Mengapa sosok itu ingin membunuhnya?
Winda tidak sadar bahwa sosok itu kini berdiri didepannya, sementara tombak ditangannya terancung begitu saja. Jika gadis itu tetap berlari, akan dipastikan tombak itu akan tertancap ditubuhnya. Ya, tombak itu tepat mengarah pada Winda.

“Dia nggak ngejar gue kan. Oh, syukurlah.” Winda bermonolog sendiri, merasa lega karena tidak melihat bayangan sosok misterius itu dibelakangnya.

Namun, apa yang terjadi berikutnya sungguh tidak di sangka-sangka. Winda merasakan sakit diperutnya, ketika sesuatu yang runcing menusuknya. Dia menoleh, melihat benda apa yang sedang terbenam diperutnya itu.

Winda menggeleng tak percaya bahwa dia sedang tertusuk tombak, darah mengucur deras dari luka tusukkan itu.
“K,,kau..,”
Sosok itu sama sekali tidak memberikan Winda bicara, dia semakin memperdalam tusukan tombak itu ke dalam perut Winda, membuat Winda memuntahkan darah dari mulutnya.

Hanya dalam hitungan menit genangan air disekitarnya sudah berubah warna menjadi merah darah, sosok itu tersenyum senang saat melihat Winda tidak berdaya lagi. Merasa tidak puas, sosok itu menarik tombak dengan kasar hingga terlepas dari tubuh Winda.

Brruukkk
Tubuh Winda jatuh begitu saja menghantam jalanan. Sosok itu menatapnya iba sesaat, tapi detik berikutnya dia kembali menghujamkan tombak itu ke punggung Winda. Terdengar suara patahan tulang, sepertinya tombak itu sudah mematahkan tulang-tulang punggung gadis itu.

Tidak bisa dipungkiri, Winda meninggal saat itu juga.

Menuadari korbannya sudah meninggal, sosok itu tersenyum senang, lalu tanpa melepaskan tombak itu dia menyeret tubuh tak bernyawa Winda pergi dari situ.

Sosok itu membawa tubuh Winda mendekati selokkan air, lalu tanpa perasaan dia membuang mayat Winda begitu saja. Setelah urusannya beres, dia segera melangkah pergi dari situ.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here