Dua Kepribadian #12

0
191
views

‘Sebenarnya lo cantik, Win’

Kalimat yang diucapkan Yamada tadi terus-terusan berputar di kepala Nilam. Entah mengapa hal itu begitu mengganggunya.

Ada rasa tidak suka saat melihat Yamada memuji Winda seperti itu.Seumur-umur sudah lama berteman, Yamada sama sekali tidak pernah memujinya cantik sekali pun. Sedangkan Winda yang bukan siapa-siapa, Yamada berani mengatakan Winda cantik. Itu sesuatu yang aneh menurutnya.

“Apa Ryu menyukai Winda ya,” gumamnya pelan sambil menatap lurus ke depan.

Saat ini dia sedang di Taman Cafe, duduk-duduk santai di sana sambil melamun.

#Flashback_On

“Pake, nanti lo masuk angin.”

Nilam tidak memberi respon apapun, tetapi tatapannya sudah mengartikan segalanya. Dia sangat terharu atas sikap baik Yamada malam ini. Tidak bisa dia pungkiri, perlakuan Yamada barusan sedikit mengusik ketenangan jantungnya. Ya, jantungnya berdebar-debar.

“Terima kasih,” ucap Nilam, lalu segera memalingkan pandangan kearah lain.

Dia tidak ingin Yamada mendengar debaran jantungnya saat ini. Apa yang akan dia katakan nanti pada laki-laki itu? Dia sendiri tidak tahu kenapa jantungnya berdebar-debar seperti ini.

Suasana mendadak canggung saat keduanya hanya mendiamkan diri, tidak ada yang mau memulai obrolan. Situasi canggung itu tidak bertahan lama setelah Yamada bersuara.

“Sebaiknya lo pesan taksi online saja Lam. Gue nggak tahu kapan hujan akan berhenti, sedangkan hari makin larut aja nih.” Ucap Yamada memberi saran.

“Emang masih nerima penumpang jam segini?”

“Dicoba aja dulu. Kali aja diterima.”

“Okey.” balas Nilam, lalu mulai mengutak-atik handphone digenggamannya.

“Maaf ya Lam, gara-gara motor gue mogok, lo jadi kehujanan deh” ucap Yamada merasa bersalah.

Nilam menatap Yamada, pandangan mereka bertemu. Lagi-lagi Nilam merasakan debaran jantungnya semakin menggila, sedangkan Yamada terpaku untuk beberapa saat.

‘Ya ampun, ternyata Nilam cantik juga ya. Kenapa aku baru sadar sekarang?’ bisik hati Yamada memuji Nilam.

‘Ya Tuhan, Ryu tampan sekali’ bisik hati Nilam memuji Yamada.

GLUDUG… DUAAARRRR…

Suara petir yang tiba-tiba hadir mengagetkan keduanya. Saling mengalihkan pandangan, mereka kembali mendiamkan diri. Situasi kembali terasa canggung.

#Flashback_Off

“Ah, ngapain juga gue mikirin hal itu? Bukan urusan gue juga, mending gue balik kerja lagi deh.”

Nilam bangkit dari duduk, lalu melangkah pelan menyusuri jalan setapak menuju Cafe.

Tiba di dalam, dia sudah melihat Calasha di sana. Gadis itu sedang membersihkan meja-meja kotor yang baru saja ditinggalkan pengunjung.

Melangkah mendekati Calasha, Nilam menyapa gadis itu. “Hay Sha,”

Calasha menoleh, lalu tersenyum saat tahu yang menyapa barusan adalah Nilam.

“Hay, dari mana aja? Aku pikir kamu nggak masuk hari ini, nggak kelihatan soalnya,”

“Dari taman,”

“Ngapain? Nggak biasanya kamu ke sana?” tanya Calasha menatap Nilam bingung.

Tidak ingin berbagi cerita, Nilam hanya menggeleng pelan.

“Cuma lagi istirahat aja. Kepala gue tiba-tiba pusing.”

“Pusing, kamu sakit Lam?” Kaget Calasha.

“Nggak sampai sakit sih. Cuma pusing doang kok.”

“Owh begitu, ya udah, mending kamu istirahat aja dulu.”

“Nggak deh Sha, gue kerja aja lagi. Udah ya, gue lanjut kerja dulu,” pamitnya, lalu melangkah pergi, sedangkan Calasha kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

“Cha,”

Calasha menoleh pada seseorang yang barusan menyapanya, ternyata orang itu adalah Randa.

“Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?”

“Kamu lupa ya harus manggil saya apa?” tanya Randa membuat Calasha mengernyit heran, tetapi didetik berikutnya dia langsung tersenyum.

“Maaf Kak, saya lupa.”

“Iya, gak papa kok. Oh ya, bisa kamu ikut aku sebentar,”

“Ke mana kak?”

“Udah ikut aja, ayo.” ajak Randa sambil menarik pelan tangan Calasha agar mengikutinya.

Randa membawanya ke Taman Cafe, di sana hanya ada mereka berdua. Ya, hanya ada mereka berdua.

“Kita ngapain ke sini, Kak? Saya masih banyak kerjaan di dalam, mending saya ke dalam aja ya,” ucap Calasha, lalu beranjak hendak pergi, tetapi Randa menahan kepergiannya.

“Jangan pergi dulu Cha, lupakan dulu soal pekerjaan. Aku mau bicara berdua sama kamu,”

Calasha menatap wajah pria dihadapannya lekat, sekaligus bingung apa yang ingin Pak Randa bicarakan padanya. Dilihat dari wajah laki-laki itu saat ini, sepertinya Pak Randa ingin membicarakan hal yang serius.

“Mau membicarakan soal apa, Kak?”

Randa tidak segera menjawab, dia hanya diam dengan tatapan mengarah ke wajah cantik Calasha. Meskipun Calasha memakai kacamata, itu sama sekali tidak mengurangi kecantikkannya.

“Cha sebenarnya…,”

“Sebenarnya apa, kak?” ulang Calasha, dia menatap Randa bingung.

“Sebenarnya aku suka kamu Cha,” ungkap Randa, lalu menghembuskan nafas lega setelah berhasil mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam untuk gadis itu.

Calasha terpaku, sungguh dia tidak mampu berkata-kata setelah mendengar pernyataan dari laki-laki dihadapannya. Sulit untuk mempercayai hal ini, tetapi apa yang dia dengar barusan adalah kenyataan.

Melihat Calasha yang mendiamkan diri, dengan sigap Randa meraih tangan Calasha lalu menggenggamnya.

“Aku sudah lama menyukai kamu Cha. Dari awal saat kita bertemu, aku sudah menyukaimu. Cha, kamu mau ya jadi pacarku!” pinta Randa, dia menatap penuh harap pada gadis dihadapannya.

Calasha tidak menjawab. Namun, dia menarik perlahan tangannya dari genggaman Randa.

“Maaf kak, saya nggak bisa.” tolak Calasha, lalu berbalik badan pergi meninggalkan Randa begitu saja.

Randa hanya mampu terpaku melihat kepergian Calasha, dia tidak sanggup berkata-kata setelah Calasha menolaknya. Dia sedih, kesal dan marah.

“Aaaaggghhh,” teriak Randa sambil meninju udara.

Ya, hanya dengan cara itu dia bisa meluapkan kekesalannya, tapi sepertinya itu pun tidak mampu membuat luka dihatinya sembuh. Penolakkan Calasha benar-benar membuat hatinya sakit. Ya, sakit sekali.

*****

Raska melangkah cuek masuk ke Ran’s Cafe menuju salah satu meja. Saat ini dia sedang jadi pusat perhatian semua wanita yang ada di Cafe. Ya, ketampanan Raska membuat semua wanita yang ada di sana menoleh dua kali kearahnya. Bahkan, espresi penuh rasa kagum tergambar jelas di wajah mereka.

“Ya ampun, tu cowok ganteng banget.”

“Tinggi, cakep, duh, idaman gue banget.”

“Keren, gue suka.”

“Tu cowok artis apa model ya, kok cakep banget sih.”

“Ya ampun, parfumnya melumpuhkan syaraf otakku,”

Kira-kira kalimat itulah yang mampu Raska dengar dari segelintir perempuan yang dia lewati.

Mengabaikan mereka, Raska duduk di meja yang dekat dengan jendela. Ya, Raska lebih suka duduk di dekat jendela, selain tempatnya tersembunyi jauh dari penglihatan orang ramai, dia juga bisa melihat apa yang terjadi di luar lewat jendela kaca tersebut.

“Pelayan,” panggil Raska pada seseorang yang membelakanginya. Namun, seakan tidak mendengar, gadis itu sama sekali tidak menyahut. Bahkan, sama sekali tidak berbalik.

Raska memperhatikan perempuan yang berdiri membelakanginya, dilihat dari cara perempuan itu bekerja, sepertinya gadis itu sedang melamun.

“Excusme, hello.”

Yamada menoleh pada sosok laki-laki yang barusan bersuara, lalu pandangannya beralih pada Calasha yang tampak sibuk membersihkan meja didepannya. Mengalihkan pandangan, tatapan Yamada turun pada meja yang Calasha bersihkan. Meja itu sudah bersih, tetapi Calasha terus menyapukan sapu tangan di sana. Jelas sekali gadis itu sedang melamun, tapi apa yang Calasha lamunkan?

Yamada tidak bisa berpikir lebih jauh lagi saat pandangannya beralih kearah laki-laki tadi, laki-laki itu bangkit dari duduk, kemudian melangkah menghampiri Calasha. Dilihat dari wajah laki-laki itu yang dingin, sepertinya Calasha akan mendapatkan masalah.

Brrrakkk…

Calasha terperanjat mendengar suara yang cukup keras didekatnya, tentu saja suara itu membuat dia kembali sadar. Dia menatap tangan seseorang yang ada dimeja, tangan itu yang barusan mengebrak meja didepannya. Mengalihkan pandangan, dia hanya melihat bahu orang itu.

Dilihat dari postur tubuh, Calasha sadar betul sosok didepannya adalah seorang pria. Wajar, jika yang dia lihat hanya bahu lelaki itu.

Postur tubuhnya yang pendek tidak mampu melihat seseorang yang lebih tinggi darinya, jika pun ingin melihat dia harus mendongak terlebih dahulu.

Mengangkat kepala perlahan, Calasha memberanikan diri menatap wajah pria dihadapannya. Namun, detik itu juga dia terpaku setelah berhasil melihat wajah laki-laki itu.

Laki-laki yang sama waktu di bus beberapa hari yang lalu. Lelaki yang sudah membuat dia gelisah ditempat duduknya. Laki-laki yang menjadi objek perhatiannya selama di dalam bus.

Kali ini Calasha bisa melihat jelas wajah itu, laki-laki didepannya memiliki tatapan setajam elang. Bola mata yang hitam pekat membuat Calasha terhipnotis beberapa saat, sebelum akhirnya kembali tersadar setelah laki-laki itu bersuara.

“Akan gue pastikan lo dipecat detik ini juga,”

“Hah,” kaget Calasha.

Dia menatap laki-laki dihadapannya minta penjelasan, datang-datang langsung ngucapin kalimat yang mengejutkan. Jelas dong dia bingung.

“Cih,” Raska berdecih kesal.

Dia meluruskan punggung, kembali berdiri dengan benar. Dia kembali menatap dingin gadis didepannya.

“Gue rasa lo nggak tuli deh,”

“Aku emang nggak tuli, tapi aku nggak ngerti maksud kamu apa,” jelas Calasha.

“Bodoh,”

Nilam yang sedari tadi tidak tahan mendengar ucapan laki-laki itu merangsek ke depan, dia tidak terima sahabatnya dikata-katain seperti itu.

“Hey, maksud lo apa ngomong begitu?” tanya Nilam, dia menatap laki-laki tampan dihadapannya.

‘Ganteng sih, tapi sifatnya nggak seganteng wajahnya. Cih, bikin kesal aja nih cowok,’ umpat Nilam dalam hati.

“Gue nggak ngomong sama lo deh, ngapain lo ikut campur?”

“Kalau ini menyangkut sahabat gue, jelas dong gue akan ikut campur. Lo udah ngatain sahabat gue bodoh, terus lo juga ngomong hal-hal yang nggak masuk akal.”

“Jadi lo sahabat dia?” tanya Raska sambil melirik Calasha yang menunduk. “Kalau begitu, ajarin sahabat lo ini buat kerja dengan benar, jangan pas lagi kerja bisanya melamun doang,”

Calasha makin menundukkan kepala, sama sekali tidak berani menatap wajah laki-laki dihadapannya. Dia yang salah, melamun dijam kerja memang kesalahan yang fatal.

“Lo ngomong jangan ngaco’ ya. Selama Calasha kerja di sini, dia tidak pernah melakukan kesalahan, apa lagi melamun”

“Nggak pernah, terus yang barusan apa?”

“Emangnya apa yang udah lo lakuin Cha?” tanya Nilam sambil menatap Calasha.

“Maaf, aku memang salah. Nggak seharusnya aku melamun dijam kerja seperti ini,”

Nilam tidak sanggup membuka mulut mendengar penjelasan Calasha barusan, pada akhirnya dia merasa malu sudah marah-marah pada laki-laki dihadapannya.

‘Bodoh, ngapain sih lo ngomong tanpa pikir panjang dulu. Kan bisa berabe nih urusannya’ rutuk Nilam dalam hati.

“Lain kali, berpikir dulu sebelum bicara.”

Berbalik badan, Raska kembali pergi meninggalkan kedua gadis itu yang menunduk malu. Tidak tahan menjadi pusat perhatian, mereka pergi masuk ke dapur.

“Sepertinya di sini lebih baik Cha,” ucap Nilam menarik nafas lega, dia dan Calasha duduk di kursi yang ada di sana. “Sumpah ya gue malu banget, malah banyak yang ngelihatin tadi.”

“Kamu sih ngerocos aja.”

“Gue kan nggak tahu, lagian lo ngelamunin apaan sih? Nggak biasanya deh lo kayak gini. Untung tu cowok nggak ngadu ke Pak Randa, lo nggak jadi dipecat deh,”

“Tadi Pak Randa nembak gue,” beritahu Calasha.

“Oh, terus lo terima?”

Calasha menggeleng pelan, “Aku tolak.”

“Apa?” Kaget Nilam. “Kenap lo tolak Pak Randa, dia cocok kali buat lo. Harusnya lo terima aja,”

“Aku nggak suka dia Lam,”

“Terus kalau nggak suka, kenapa lo melamun?”

“Aku merasa nggak enak aja udah nolak Pak Randa, kira-kira dia marah nggak ya sama aku Lam.”

“Udahlah, nggak usah dipikirin. Pak Randa nggak bakalan marah kok. Gue yakin, Pak Randa udah cukup dewasa untuk mengerti semua ini.”

“Ya, aku harap sih begitu.”

“Ya udah, yuk, kembali kerja!” ajak Nilam.

“Ayo.”

Pada akhirnya, keduanya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here