Dua Kepribadian #11

0
81
views

“Jadi bener kalian terakhir kali bersama dengan korban tadi malam?” Seorang komandan Polisi bertanya pada Naya dan Joy.

Kedua orang itu dipanggil untuk memberikan kesaksian. Naya tidak berani menatap Polisi didepannya, sedari tadi dia hanya menunduk ketakutan. Sedangkan Joy berusaha untuk terlihat tenang, walhal dalam hati dia merasa cemas.

“Katakan pada saya sejujur-jujurnya.” Kembali Polisi itu bicara saat kedua remaja didepannya tidak kunjung bersuara.

“Sudah, katakan saja apa yang kalian tahu.” Sahut Resty, membuat Joy menoleh kearahnya.

Ketika pandangannya bertemu dengan tatapan Bu Resty, wanita itu hanya mengangguk seakan-akan memberikan semangat untuk Joy mengatakan yang sebenarnya.

Menghembuskan nafas, Joy memberanikan diri menatap Polisi didepannya. Dia sudah siap memberikan kesaksian.

“Tadi malam memang tinggal kami bertiga di kelas, tetapi aku dan Naya memutuskan untuk pulang duluan,”

“Iya, Joy benar. Kami pulang duluan sedangkan Arkilla masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.” Tambah Naya menyambung ucapan Joy barusan.

“Jadi, kalian meninggalkan saudari Arkilla sendirian?” Tanya Polisi itu lagi.

Naya dan Joy mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Apa kalian berdua teman dari korban?”

“Iya Pak.”

“Sebelumnya apa korban terlibat masalah dengan seseorang?”

Joy dan Naya saling berpandangan, mencoba mengingat-ingat. Namun, mereka sama sekali tidak pernah melihat Arkilla terlibat masalah dengan siapapun.

“Tidak Pak, kami tidak pernah melihat dia memiliki masalah pada siapapun.” Jawab Joy.

“Terus, bagaimana sikap yang dia tunjukkan saat terakhir kali kalian melihatnya?”

“Dia terlihat baik-baik saja Pak.” Jawab Naya.

“Baiklah, untuk sementara saya akan mempercayai penjelasan kalian. Setelah hasil otopsi dari Dokter keluar, semuanya akan segera terjawab.” Beritahu Komandan Polisi itu mengakhiri pembicaraan antara mereka.

“Kami bisa pulang sekarang Pak?” Tanya Pak Andi mewakili semuanya.

“Silahkan. Terima kasih sudah datang memberi kesaksian,”

“Iya Pak, sama-sama.” Jawab Pak Andi, lalu mohon pamit undur diri.

Pada akhirnya bersama-sama mereka pergi meninggalkan Kantor Polisi, tentunya dengan tanda tanya besar di kepala.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Arkilla?
Apakah dia benar-benar bunuh diri atau dibunuh seseorang?

“Kita ke rumah sakit sekarang.” Ajak Resty.

“Maaf Bu, saya tidak bisa ikut. Saya harus pulang sekarang.” Tolak Pak Andi.

“Baiklah Pak, kalau begitu biar saya, Naya dan Joy yang ke rumah sakit.”

“Hati-hati Bu, kalau begitu saya mohon undur diri dulu.” Pamit Pak Andi, lalu melangkah pergi meninggalkan ketiga orang itu di sana.

“Ya sudah, ayo anak-anak kita berangkat sekarang.”

“Iya Bu,”

*****

Isak tangis tidak dapat dibendung orangtua Arkilla, mereka sudah menangis sejak tiba di rumah sakit tadi pagi. Sampai saat ini Dokter masih melakukan otopsi terhadap jenazah Arkilla.

Mereka diminta menunggu di luar, juga ada dua orang Polisi di sana. Dua Polisi itu juga sedang menunggu hasil otopsi yang dilakukan Dokter tersebut.

Marni berhenti menangis ketika mendengar suara langkah-langkah kaki mendekat, dia melepaskan pelukkan suaminya beralih menatap kearah Resty dan dua orang yang dia kenal sebagai teman dari Arkilla.

Saat pandangannya bertemu dengan Resty, tatapan sinis langsung dia lemparkan pada wanita dengan style elegan itu.

“Ngapain kamu ke sini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu membuat langkah kaki Resty seketika terhenti. Dia menyadari aura tidak bersahabat dari wanita didepannya.

“Puas kamu sekarang? Lihat, gara-gara keegoisan kamu anak saya jadi korbannya.” Hardik Marni.

“Kalau saja kamu tidak mengadakan pelajaran tambahan dimalam hari. Hal ini tidak akan terjadi pada anak saya.”

“Saya harap Bu Marni bisa tenang. Jangan melakukan kegaduhan di sini,” beritahu Pak Polisi, membuat Marni terpaksa membungkam erat-erat bibirnya.

Sedangkan Resty dia hanya mampu terpaku dengan rasa bersalah yang semakin menjadi. Yana yang menyadari kegundahan Resty segera memeluk wanita itu.

“Sabar ya Bu. Ini bukan salah ibu kok,” bisiknya membuat Resty tersenyum.

“Iya, makasih ya Nak.”

“Iya Bu.”

Resty melepaskan pelukkan Yana ketika pintu berwarna putih di depan mereka terbuka, seorang Dokter laki-laki keluar dari sana.

Seorang Polisi maju mendekat mulai bertanya, “Bagaimana hasilnya Dok?”

“Begini Pak, dari hasil otopsi yang saya lakukan tidak ditemukan apapun pada tubuh jenazah Arkilla. Kondisi tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya saudari Arkilla benar-benar meninggal karena bunuh diri.” Penjelasan Dokter barusan membuat kedua Polisi itu paham.

Setelah menjelaskan pada Polisi tersebut Dokter itu segera pamit undur diri, sedang Marni hanya bisa menangis dalam pelukkan suaminya. Sama sekali tidak tahu penyebab Arkilla melakukan itu semua.

“Baiklah Pak, Bu, seperti yang sudah kita dengar dari Dokter tersebut. Anak ibu tidak dibunuh melainkan bunuh diri. Baiklah Bu, kasus ini resmi kami tutup hari ini.” Salah seorang Polisi memberitahu mereka.

“Jangan tutup kasus ini dulu Pak, saya yakin anak saya dibunuh seseorang. Kalian harus lebih teliti menyelidikinya.” Sahut Marni tidak terima mendengar keputusan Polisi didepannya.

“Maaf Bu, kami tidak bisa melanjutkan lagi kasus ini. Kalau begitu, kami permisi.” Putus Polisi itu lalu berbalik badan beranjak pergi dari situ.

Tangisan Marni semakin menjadi setelah kepergian dua Polisi itu, Anto suami Marni memintanya untuk diam. Mereka harus segera mengurus pemakaman Arkilla.

“Kami pergi dulu ya Bu, maaf atas ucapan istri saya tadi.” Ucap Anto.

“Iya Pak, nggak apa-apa kok. Saya mengerti.” Jawab Resty

Anto mengangguk pelan lalu melangkah pergi dari situ membawa Marni ikut serta.

“Lalu kita mau ke mana sekarang Bu?” Tanya Naya sambil menatap wajah Resty.

“Kita ikut kepemakaman Arkilla dan tolong hubungi teman-teman yang lainnya agar datang kepemakaman.”

“Baik Bu. Ayo Joy, kita pergi sekarang.”

“Kita pergi sekarang ya Bu.” Pamit Joy.

“Ya, hati-hati dijalan. Ibu tunggu dipemakaman ya.” Ucap Resty lalu segera melangkah pergi dari situ.

*****

Raska melangkah pelan menuruni tangga menuju lantai bawah. Tiba di bawah, dia berpapasan dengan Raiyan yang baru keluar dari kamar.

“Ras, lo mau ke mana?” Tanya Raiyan saat melihat Raska sudah rapi dalam balutan jaket hitam yang biasa Raska pakai.

Ditanya seperti itu Raska berbalik badan, lalu menatap Raiyan yang barusan bertanya.

“Keluar.” Jawab Raska singkat.

“Ke mana?” Tanya Raiyan lagi.

“Cafe.” Jawab Raska lagi.

“Kamu nggak ikut kepemakaman Arkilla. Bu Resty nyuruh kita datang ikutan ngelayat.” Beritahu Raiyan.

“Nggak, malas gue.”

“Ya udah, mau ke cafe kan? Ayo, aku antar kamu.”

“Nggak usah, gue bisa sendiri. Lo pergi aja.” Jawab Raska, lalu berbalik badan kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah.

Raiyan menyusul di belakang, dia berjalan pelan menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumah.

Raiyan menjalankan mobil dengan pelan, tujuannya adalah pemakaman.

Tiba dipemakaman Raiyan segera keluar dari mobil, lalu melangkah mendekati keramaian bergabung dengan teman-temannya yang lain.

Isak tangis mengiringi kepergian Arkilla, tidak ada yang menduga Arkilla akan menemui ajalnya dengan cara seperti ini. Yaitu, meninggal karena bunuh diri.

“Ngapain sih kita ikutan ngelayat juga? Mending ke Mall daripada panas-panasan begini.” Bisik Vayra pada Nathala.

Dia sengaja berbisik agar orang-orang disekitarnya tidak dapat mendengar ucapannya barusan, tetapi yang ditanya hanya mendiamkan diri sama sekali tidak berniat membalas ucapan Vayra barusan.

‘Idih, gue dicuekin lagi.’ Dumel Vayra dalam hati.

Dia mendengus kesal, lalu tidak sengaja pandangannya jatuh pada pohon beringin yang tumbuh lebat beberapa meter dari mereka. Di sana dia melihat seorang gadis memakai seragam sekolah, dia tidak dapat melihat jelas wajah gadis itu karena tertutupi rambut. Namun, dia tahu gadis itu salah satu murid di SMA High School. Seragam yang melekat ditubuh gadis itu adalah seragam sekolah di mana dia belajar.

“Enak banget tuh anak, di sini gue panas-panasan eh dia malah santai berteduh di situ.” Dumel Vayra dengan suara hampir menyerupai gumaman.

Nathala mendengar dumelan itu langsung menoleh, lalu mendapati wajah Vayra yang masam, sama sekali tidak ada manis-manisnya wajah Vayra saat ini. Ada apa lagi dengan gadis itu?

“Kenapa Vay?”

“Lo lihat perempuan di bawah pohon beringin itu. Dia malah berteduh di situ dan bukannya di sini ikutan ngelayat.” Beritahu Vayra.

Nathala melihat kearah pohon beringin itu, tetapi dia tidak melihat siapa pun di sana termasuk perempuan yang Vayra katakan.

“Perempuan yang mana?” Tanya Nathala bingung.

“Ya ampun, gue rasa lo nggak buta deh. Itu, perempuan yang berdiri di bawah pohon beringin.”

Vayra masih melihat gadis itu di sana, tidak berganjak sedikit pun. Aneh, kenapa Nathala tidak melihatnya?

“Mana? Nggak ada perempuan kok di sana.”

Sekali lagi Nathala melihat kearah pohon beringin itu, tetap saja dia tidak melihat perempuan yang Vayra katakan.

“Apaan sih lo berdua? Bisa diam nggak?”

Vayra menatap Ashara yang barusan bersuara, kemudian mulai bersuara.

“Gue bisa aja diam Nat, tapi nanti setelah kamu lihat perempuan yang berdiri di bawah pohon beringin itu. Dia anak High School juga kan?”

Ashara mengalihkan pandangannya kearah pohon beringin. Ya, dia melihat seorang perempuan di sana. Baju yang dipakai gadis itu memang seragam sekolah mereka. Siapa gadis itu? Dan mengapa gadis itu di situ?

Rasa penasaran membuat Ashara menatap gadis itu lama, dalam hati berharap gadis itu berpaling sedikit saja.

Sadar sedang diperhatikan gadis itu menoleh, lalu tersenyum saat melihat Ashara dikejauhan. Berbeda dengan espresi yang Ashara tunjukkan, gadis itu diam dengan pandangan shock.

Gimana tidak shock?
Ternyata, gadis itu adalah Arkilla dalam versi berbeda. Arkilla yang berdiri di bawah pohon beringin itu sebagian kepalanya hancur, darah menetes-netes dari luka itu bahkan menodai seragam yang dipakainya. Tidak hanya itu, sebelah mata kanan Arkilla bergelantungan hampir terlepas dari cangkangnya. Pemandangan itu sungguh mengerikan untuk Ashara lihat.

Brrruukk…

Pada akhirnya tidak sanggup menahan bobot tubuh yang melemah, Ashara jatuh pingsan. Pingsannya mengagetkan semua orang.

“Asha.” Panggil Resty sambil menghampiri Ashara. “Tolong bawa dia ke Mobil Joy, dan kamu Vayra bawa Mobil Ashara antarkan ke rumah.”

“Baik Bu, ayo.” Ajak Vayra sambil menarik tangan Nathala agar mengikutinya.

Mereka berjalan pelan mendekati Mobil Ashara, lalu segera masuk ke dalam Mobil. Sebelum menjalankan Mobil, sekali lagi dia melihat kearah pohon beringin. Apa yang sudah Ashara lihat di sana?

Namun, dia tidak melihat apapun di sana, perempuan tadi pun sudah tidak terlihat lagi.

“Vay, buruan jalan. Bu Resty udah jalan tuh.”

Suara Nathala membuat Vayra sadar, kemudian tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya Vayra menjalankan Mobil meninggalkan tanah pemakaman.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here