Dua Kepribadian #10

0
194
views

Calasha bersama murid lainnya memperhatikan pengumuman di mading. Jelas di sana tertulis, akan diadakannya seleksi pemilihan murid berprestasi. Setiap murid yang terpilih akan mendapatkan beasiswa. Kemudian mereka akan dikirim ke sekolah SMA High School sebagai murid pindahan di sana.

“Wah, hebat. Kamu harus ikutan Cha. Kapan lagi dapat kesempatan seperti ini?” Ucap Nanty lalu menatap Calasha yang berdiri di sampingnya.

“Nggak ah Nan, aku nggak ikut.” Jawab Calasha lalu melangkah pergi dari situ.

“Lho, kenapa?” Kaget Nanty.

Ya, dia memang kaget mendengar jawaban Calasha yang menolak untuk ikut. Padahal dia tahu Calasha anaknya pintar. Murid yang paling berprestasi di sekolah.

“Kenapa kamu menolak untuk ikut? Ini kesempatan lho buat kamu. Kamu kan pintar, tidak seharusnya kamu berada di sekolah sekecil ini.” Beritahu Nanty.

Dia menatap Calasha mohon penjelasan, “Ayo Cha, jelaskan padaku kenapa kamu menolak untuk ikut?”

“Aku nggak mungkin ninggalin kamu di sini sendirian. Lagi pula aku nggak bisa jamin bakalan terpilih.”

“Hanya itu toh alasannya.”balas Nanty lalu tersenyum.

Dia sengaja maju selangkah lebih ke depan, kini dia dan Calasha saling bertatapan.

“Ayolah Cha, siapa yang bilang aku sendirian di sini? Masih ada kok teman-teman lainnya. Kamu nggak usah merendah deh di depan aku. Aku yakin banget kamu bakalan terpilih. Secara kamu kan anaknya pintar banget.” Jelas Nanty panjang lebar.

Masih tetap melangkah Calasha menatap Nanty didepannya, dia pikir Nanty terlalu berlebihan memujinya seperti itu.

“Nggak usah berlebihan deh Nan. Aku nggak sepintar itu. Masih banyak kok yang lebih pintar dari aku.” Balas Calasha merendah diri.

“Aku nggak berlebihan Cha.” Balas Nanty lalu berbalik badan, kembali berdiri di samping Calasha. “Aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu harus mendapatkan beasiswa itu.”

“Kamu kok ngotot banget sih nyuruh aku untuk ikut, kenapa?” Tanya Calasha. Dia menatap Nanty minta penjelasan.

“Kamu kan sahabat aku Cha. Aku ingin yang terbaik aja untuk kamu.” Jawab Nanty sekenanya.

“Udahlah Nan, aku nggak akan ikut. Aku nggak akan ninggalin kamu.” Putus Calasha.

Nanty yang mendengarnya menghela nafas. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Calasha, tetapi apa boleh buat. Jika Calasha sudah memutuskan itu, dia sebagai sahabat harus mendukungnya.

“Ya udah kalau memang itu keputusan kamu.”

Calasha hanya tersenyum sebagai balasan ucapan Nanty barusan, lalu bersama-sama kembali mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas.

Tiba di kelas mereka segera duduk. Seperti biasa, Calasha mengeluarkan buku lalu mulai mempelajari materi yang akan dipelajari nanti. Sedangkan Nanty, gadis itu tidak berhenti mengoceh membicarakan hal-hal yang tidak penting.

“Aku masih nggak terima dengan jawaban kamu Cha. Kamu beneren nggak mau ikutan daftar ngambil beasiswa itu?” Tanya Nanty lagi.

“Nggak.”

“Tapi ini kesempatan buat kamu lho Cha. Kamu bisa sekolah gratis di sana tanpa pusing-pusing lagi mikirin biaya sekolah. Uang hasil kerja kamu bisa ditabung atau apa gitu.”

Mendengar penjelasan Nanty barusan membuat Calasha menutup buku didepannya. Dia menoleh ke samping menatap wajah Nanty yang kebetulan sedang menatap kearahnya.

“Harus berapa kali lagi aku katakan pada kamu Hananty Qumairoh? Aku nggak akan ikut. Aku jadi curiga deh sama kamu.”

Nanty yang mendengarnya tentu saja kaget. Dia menatap Calasha tidak mengerti. Ya, dia tidak mengerti apa yang barusan Calasha katakan.

“Maksud kamu apa? Kamu curiga padaku? Curiga apaan?” Tanya Nanty sambil nunjuk dirinya sendiri.

“Kamu mau ngusir aku dari sini kan? Kamu nggak mau lagi berteman denganku.” Tuduh Calasha.

“Ha?”

Terkejut. Ya, gadis bernama lengkap Hananty Qumairoh itu memang terkejut. Tidak menduga-duga kalimat itu akan didengarnya dari bibir Calasha.

“Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu. Mungkin dengan bersekolah di sana, kamu bisa menemukan orang yang selama ini kamu cari. Kamu kan pernah bilang padaku kalau kamu dan kakak kamu terpisah sejak kecil. Mungkin kakak kamu ada di sekolah itu.” Jelas Nanty panjang lebar.

Calasha terdiam.

Apa yang Nanty katakan memang benar. Dulu, dia pernah mengatakan pada gadis itu tentang dirinya yang masih memiliki keluarga. Namun, mereka terpisah sejak dia berusia lima tahun.

Calasha masih mengingat walaupun tidak sepenuhnya dia ingat. Dia hanya mengingat ketika kakaknya membawa dia pergi dari rumah, lalu mereka luntang-lantung dijalanan. Beruntung mereka bertemu dengan Mak Ijjah. Bersama dia lah mereka tinggal.

Mak Ijjah bekerja sebagai pedagang sayuran. Setiap pagi Asha selalu meminta ikut membantu Mak Ijjah di pasar. Asha yang tidak ingin adiknya ikut ke pasar, meminta Acha untuk tinggal di rumah.

Acha mematuhi ucapan kakaknya dengan harapan Asha cepat kembali. Asha kecil berjanji akan kembali, tapi nyatanya Asha tidak pernah kembali lagi.

#Flashback_On

Acha kecil duduk di difan kayu yang ada di depan rumah. Dia sengaja duduk di sana menunggu kepulangan kakaknya dan Mak Ijjah dari pasar.

Acha kecil mengukir senyuman saat dikejauhan dia melihat gerobak Mak Ijjah, tetapi senyumannya lenyap saat mendapati Mak Ijjah pulang sendirian.

Rasa terkejut dan keheranan membuat Acha kecil melompat dari duduknya. Dia berlari menyongsong kearah Mak Ijjah.

“Nyek, Cak Asha manya?”

Acha kecil menatap tubuh wanita tua dihadapannya dengan bola mata yang berkaca-kaca.

“Maafkan Nenek ya Cha. Nenek kehilangan kakak kamu.”

“Cak Asha hiyang. Cenapa bica hiyang nyek? Huhuhu.. Cak Asha…,”

Acha kecil hanya bisa menangis memanggil nama kakaknya berulang kali, berharap kakaknya kembali.

Mak Ijjah yang tidak tega melihat Acha kecil yang bersedih segera membawa gadis itu kepelukkannya. Dalam hati berharap semoga Acha kecil bisa kembali tenang dan tidak menangis lagi.

#Flashback_Off

“Cha.” Panggil Nanty.

Dia sengaja memanggil gadis itu yang sepertinya larut dalam lamunan. Bukan niatnya ingin merusak lamunan gadis itu, tetapi kedatangan Bu Naulin membuatnya harus menyadarkan gadis itu segera.

“Cha, hey Calasha.” Kali ini Nanty sengaja menyentuh bahu gadis itu hingga pada akhirnya membuat Calasha tersadar.

Calasha menoleh kearah Nanty sekilas, lalu pandangannya jatuh pada buku didepan Nanty yang sudah terbuka.

“Buka buku lo sekarang. Bu Naulin udah masuk.” Bisik Nanty.

Ucapan Nanty barusan membuat Calasha mengalihkan pandangan ke depan kelas. Di mana, di sana sudah ada Bu Naulin selaku guru Fisika sedang duduk santai dimejanya.

Begitu jauhnya dia melamun sampai tidak menyadari kedatangan Bu Naulin. Dia berterima kasih pada Nanty kemudian segera membuka buku fisika didepannya.

“Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini,” ucap Bu Naulin sambil bangkit dari duduknya, kemudian melangkah mendekati papan tulis.

Di sana dia menuliskan materi yang akan mereka bahasa dipelajaran kali ini, yaitu Hukum II Newton tengang Massa dan Berat.

“Oke, pelajaran kali ini kita akan membahas Hukum II Newton tentang Massa dan Berat.” Beritahu Bu Naulin kembali menatap muridnya satu persatu.

“Di sini ibu tidak akan menjelaskan lebih terperinci apa itu Massa dan Berat. Karena ibu yakin kalian sudah pernah mempelajari materi ini di kelas 10.”

Calasha dan yang lainnya hanya diam ditempat duduk, fokus mendengarkan penjelasan Bu Naulin di depan kelas.

“Okey, sebelum pelajaran kita lanjutkan ibu mau bertanya dulu pada kalian. Kira-kira siapa di sini yang masih tahu pelajaran kelas 10 kemarin.”

Ucapan Bu Naulin barusan berhasil membuat pucat wajah anak-anak muridnya. Berbeda dengan espresi yang Calasha tunjukkan, gadis itu hanya tersenyum. Seakan ucapan Bu Naulin barusan bukanlah hal yang harus ditakuti.

“Baiklah pertanyaan pertama, kata massa sering disalahgunakan dan dicampuradukkan dalam percakapan sehari-hari. Kita seharusnya benar-benar memahami perbedaan antara kedua besaran tersebut. Jadi, siapa yang di sini tahu perbedaan di antara keduanya. Apa itu Massa dan apa itu berat? Ayo, silahkan dijawab.”

Calasha mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas, memperhatikan siapa yang ingin menjawab pertanyaan Bu Naulin barusan. Namun, dia hanya melihat semua yang ada di kelas tertunduk takut. Sadar mereka tidak akan bisa menjawab, Calasha mengangkat tangan ingin menjawab pertanyaan itu.

“Saya Bu.”

Bu Naulin menatap kearah Calasha yang barusan bersuara.

“Silahkan dijawab.” Perintahnya.

Calasha mengangguk, lalu mulai bersuara.

“Massa merupakan sifat inersia atau kelembaman suatu benda. Semakin besar massa benda, semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk menimbulkan efek percepatan yang sama. Sebaliknya, berat adalau gaya yang bekerja pada benda akibat tarikan gravitasi Bumi. Udah Bu.” Beritahu Calasha mengakhiri jawabannya.

“Okey, jawaban Calasha benar.” Beritahu Bu Naulin membuat semua yang ada di kelas bertepuk tangan.

“Wah, kamu hebat Cha.” Bisik Nanty.

Calasha hanya menanggapi pujian Nanty dengan senyuman, lalu kembali fokus mendengarkan pertanyaan yang kembali Bu Naulin lontarkan.

*****

Randa keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam Cafe. Diperjalanan menuju ruang kerja dia berpapasan dengan Winda, gadis dengan potongan rambut paras bahu itu tersenyum saat melihatnya.

“Pagi Pak,”

“Pagi,” balas Randa sambil lalu.

Namun, baru beberapa langkah dia menjauhi Winda langkahnya terhenti. Randa berbalik badan kembali menatap Winda.

“Oh ya, Win.” Panggil Randa.

“Ya, ada apa Pak?” Tanya Winda sambil melangkah mendekati Randa.

Masih tersenyum lebar dia memperhatikan wajah Randa yang makin hari terlihat semakin tampan.

“Antarkan segelas kopi ke ruangan saya. Beritahu Yamada gulanya cukup dua sendok saja.” Beritahu Randa.

“Baik Pak,”

Setelah itu Randa kembali melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya, sedangkan Winda beranjak menuju Bar.

“Pak Randa minta dibuatin segelas kopi, gulanya cukup dua sendok saja.” Beritahu Winda setelah tiba di Bar.

“Oke, tunggu sebentar.”

“Buruan, nggak pake lama.”

“Segala sesuatu butuh proses Win. Kalo lo mau cepat, lo buat aja sendiri.” Sahut Yamada, membuat Winda menatapnya geram.

“Kalau gue bisa, udah dari tadi gue gantiin lo.”

“Ya udah, kalau begitu lo tunggu aja.”

“Gue udah nunggu dari tadi kali. Lo nya aja yang lama.”

Yamada menatap wajah gadis dihadapannya yang berwajah jutek. Sebenarnya Winda gadis yang cantik. Hanya saja, sikap Winda yang suka seenaknya sudah menutupi kecantikkannya.

“Sebenarnya lo cantik Win,”

Winda yang mendengar Yamada memujinya seperti itu jelas kaget. Untuk beberapa saat dia tidak mampu membalas ucapan Yamada barusan.

Nilam yang juga tidak sengaja mendengar ikutan terpaku. Dia menoleh kearah Yamada dan mendapati laki-laki itu sedang tersenyum, jelas senyuman itu Yamada tunjukkan untuk Winda.

“Apaan sih lo?” Tanya Winda ketus, dia menatap Yamada tajam. “G,gu,gue emang udah cantik kali dari dulu.” Ucap Winda lagi membanggakan diri.

Yamada yang mendengarnya hanya tertawa menanggapai ucapan Winda barusan. Sedangkan tangannya sibuk meracik kopi pesanan Pak Randa.

“Gue belum selesai ngomong kali Win. Lo itu cantik, tapi..,” ucapan Yamada terpotong saat tidak sengaja pandangannya jatuh pada Nilam yang melangkah menjauh.

“Tapi apa?” Tanya Winda, membuat Yamada kembali menatap kearahnya.

“Udalah, lupakan. Nih, kopinya udah jadi.”

Meskipun kesal, Winda menyambut juga segelas kopi pemberian Yamada barusan. Setelah gelas kopi di tangan Winda segera melangkah pergi menuju ruangan Randa.

Tiba di sana, Winda segera mengetuk pelan pintu berwarna cokelat didepannya.

“Masuk,” sahut seseorang dari dalam ruangan.

Winda yang mendengarnya segera membuka pintu tersebut, lalu melangkah masuk.

“Ini Pak kopinya,”

“Letakkan saja di situ.” Jawab Randa tanpa menoleh sedikitpun kearah Winda.

Dia sibuk menghitung uang yang berserakkan di atas meja.

“Baik Pak.” Jawab Winda lalu meletakkan segelas kopi panas itu di atas meja.

Kemudian memperhatikan Randa yang sibuk menghitung uang, menatap nyalang kearah tumpukkan uang di tangan Randa, kemudian dia tersenyum sinis.

‘Hari ini, lo nggak akan bisa lolos dari jebakkan gue Calasha. Lihat aja nanti, lo akan segera pergi dari Cafe ini.’ Bisik hatinya bersuara jahat.

Kemudiam dia segera pergi meninggalkan ruangan Pak Randa dengan tekad yang kuat. Dia akan membuat Calasha terusir dari Cafe untuk selama-lamanya.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here