Dua Kepribadian #09

0
109
views

Keadaan di SMA High School sangat kacau pagi ini. Penemuan jenazah salah satu murid membuat geger satu sekolah. Gadis itu ditemukan tergeletak di halaman depan sekolah dalam keadaan kepala pecah. Sepertinya, gadis itu terjatuh dari ketiggian.

Tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan pada korban, untuk sementara polisi menduga itu adalah tindakkan bunuh diri.

Jenazah yang bernama lengkap Arkilla Marbella itu sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.

Kejadian yang tidak disangka-sangka ini membuat Resty sangat shock. Dia hanya mampu terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa.

Setelah tadi Pak Andi memberitahu padanya tentang penemuan itu Resty sangat terkejut. Siapa yang tidak terkejut mendengar hal itu. Sekolah itu adalah miliknya dan Arkila adalah muridnya. Bagaimana bisa Arkilla melakukan bunuh diri seperti itu di sekolah?

Saat ini Resty sedang duduk di ruang kantornya yang sepi. Ya, rasa shock membuat dia hanya bisa duduk diam di sana. Dia merasa kecewa pada dirinya. Sebagai guru dia menganggap dirinya telah gagal menjadi seorang Kepala Sekolah. Dia sama sekali tidak tahu permasalahan yang sedang Arkilla hadapi, sehingga sanggup melakukan hal seperti itu.

Menghembuskan nafas berat Resty bangkit dari duduknya, kemudian berlalu dari situ keluar dari ruangan. Dia akan ke Kantor Polisi menyusul Pak Andi. Polisi meminta laki-laki itu untuk memberikan kesaksian di Kantor Polisi.

Sebagai Kepala Sekolah SMA High School dia wajib tahu apa yang sudah terjadi pada muridnya.

Saat ini Resty sedang melangkah dalam diam menyusuri koridor yang sepi. Tidak ada satu pun murid yang terlihat di sana. Memang, setelah melihat keadaan yang tidak memungkinkan Resty sengaja memulangkan kembali para murid yang terlanjur datang. Dan hari ini Sekolah diliburkan.

Tiba di parkiran Resty segera memutuskan masuk ke dalam mobil, kemudian segera menjalankan mobilnya meninggalkan halaman sekolah. Tujuannya adalah Kantor polisi.

*****

“Bagaimana ini Sha?” Nathala bertanya panik pada Ashara yang tampak tenang-tenang saja didepannya.

Saat ini ketiganya sedang di kamar Ashara, gadis itu yang mengajak mereka ke sana. Setelah tadi Bu Resty memulangkan mereka, ketiga gadis itu segera melesat pulang ke rumah.

Ashara yang melihat kepanikkan Nathala hanya mendelik kesal. Menurutnya kepanikkan yang Nathala tunjukkan begitu berlebihan.

“Bagaimana kalau Polisi itu tahu kalau kita…?”

“Shutttt up,” potong Ashara cepat menghentikan kalimat yang hendak Nathala ucapkan.

Menatap tajam gadis dihadapannya Ashara kembali bersuara, “Kita tidak membunuhnya. Dia sendiri yang jatuh kan. Lagipula Polisi sudah menetapkan kasus ini adalah tindakkan bunuh diri.”

Meskipun Ashara berkata benar tetap saja jatuhnya Arkilla karena mereka mengejarnya. Ya, mereka lah penyebab jatuhnya Arkilla.

#Flashback_On

Arkilla berjalan pelan menyusuri koridor menuju mobilnya yang ada di parkiran. Namun, langkahnya terhenti setelah melihat tiga orang gadis menghadang jalannya.

Arkila menatap ketiga gadis itu bingung. Dalam hati bertanya-tanya kenapa Ashara, Nathala dan Vayra menghadang jalannya?.

“Kenapa ya?” Tanya Arkilla pada akhirnya.

Ashara tersenyum sinis mendengar pertanyaan yang Arkilla lontarkan. Melihat Ashara yang diam Vayra maju untuk menjawab.

“Lo masih tanya kenapa?” Vayra menatap gadis dihadapannya sinis.

Kesinisan yang terpancar dibola mata Vayra membuat Arkilla mundur beberapa langkah. Kemudian tatapannya berpaling kearah Ashara, gadis itu juga menatapnya sinis.

Sadar ada yang tidak beres, Arkilla mencari cara untuk kabur.

“Iya, gue nggak tahu. Kalian tiba-tiba menghadang jalan gue. Ada apa?” Arkilla tetap bertanya meskipun sudah tahu niat ketiga gadis itu.

Ya, dia tahu ketiga gadis itu pasti akan melakukan sesuatu padanya. Apapun itu, tentu itu bukanlah hal yang baik.

“Lo benaran nggak tahu atau pura-pura nggak tahu.”

Itu pernyataan bukan pertanyaan Arkilla tidak perlu menjawabnya.

“Kelamaan deh lo Vay. Bawa aja cepat ke gudang keburu dilihat orang nih.” Perintah Ashara pada akhirnya.

“Okey. Sekarang lo ikut kita.”

“Apaan sih?”

Brrruukkk..

Arkilla menepis tangan Vayra yang hendak menyentuhnya, tidak hanya itu dia juga mendorong Vayra hingga jatuh. Kesempatan yang ada Arkilla manfaatkan untuk kabur, gadis itu segera berlari menuju mobilnya.

“Sial,” Umpat Ashara kesal setelah melihat Arkilla berhasil meloloskan diri darinya.

“Gara-gara lo nih Vay. Tuh anak jadi kabur kan.” Sungut Nathala geram.

“Berhasil kabur bukan berarti selamanya bisa lolos kan?” Tanya Vayra membuat kedua temannya bingung.

“Maksud lo apa?” Tanya Ashara.

Vayra kembali tersenyum lalu mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ashara barusan.

“Kita eksekusi aja nanti malam. Gue yakin nanti malam dia pasti datang mengikuti pelajaran tambahan itu.” Beritahu Vayra.

“Kita nggak perlu ikut belajar. Tiba waktunya pulang baru deh kita jalani misi kita.” Tambah Vayra lagi.

“Ide yang bagus.” Balas Ashara menyetujui ide yang Vayra berikan.

“Tapi kan gue mau kencan sama Robert. Kalian aja deh. Gue nggak ikut,” ucap Nathala menolak untuk ikut.

“Batalin kencan lo itu,” ucap Ashara seenaknya.

“Tapi Sha..,”

“Itu perintah bukan permintaan Nat. Jadi, kita akan betemu lagi nanti malam. Gue bakalan jemput kalian.” Beritahu Ashara.

Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan kedua temannya di sana.

“Ingat itu Nat, batalin acara kencan lo nanti malam.” Tambah Vayra lalu melangkah pergi menyusul Ashara.

“Apaan sih mereka suka seenaknya aja deh. Uh, menyebalkan.” rungut Nathala kesal.

Kemudian dia juga ikutan pergi menyusul kedua temannya yang sudah jauh di depan. Apa boleh buat? Dia memang harus membatalkan kencannya malam ini.

‘Semoga Robert memakluminya.’ Harap Nathala dalam hati.

“Kir, gue dan Joy pulang dulu ya.” Pamit Naya pada Arkilla yang sedang membereskan buku-buku di atas meja.

Arkilla mendongak menatap wajah Naya dan Joy bergantian, lalu kepalanya mengangguk sebagai balasan atas ucapan kedua orang itu.

“Ya sudah, hati-hati di jalan.”

“Sip, lo juga harus hati-hati. Buruan pulang, udah malam nih.”

“Iya, nih gue juga udah mau pulang.” Balas Arkilla dengan senyuman.

Dia memasukkan buku terakhir ke dalam tas lalu menyusul Joy dan Naya. Dia melangkah santai menyusuri koridor yang mulai sepi.

Arkilla merapatkan jaket saat angin malam menyentuh kulitnya terasa begitu dingin. Dia sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.

“Ini saatnya. Hadang dia.” Perintah Ashara pada kedua temannya.

“Apa nggak papa nih kita ngurung dia di gudang. Kalau dia mati, gimana?” Tanya Nathala mulai ragu.

“Dasar bodoh,” umpat Ashara kesal. Dia menatap Nathala tajam.

“Hanya di kurung di gudang satu malam nggak akan buat dia mati Nat. Udah deh ah, nggak usah parno begitu.” Jelas Ashara.

“Tapi Sha…,”

“Apalagi sih Nat?” Tanya Ashara sedikit membentak.

Vayra yang tidak ingin kedua sahabatnya ribut segera menarik tangan Nathala untuk mengikutinya.

“Udah deh Nat. Ikut aja, nggak usah takut. Dia nggak bakalan mati kok.”

Meskipun Vayra dan Ashara berkata seperti itu untuk meyakinkannya, tetap saja Nathala ragu. Hati kecilnya berkata akan terjadi sesuatu yang buruk malam ini.

Cuaca yang buruk semakin membuat hatinya tidak tentang, tetapi demi menuruti kemauan Ashara dia harus melakukan hal ini.

‘TAP.

Arkilla menatap kaget pada dua orang gadis yang tiba-tiba muncul menghadang langkahnya. Berbalik badan Arkilla bersiap untuk melarikan diri, tetapi niatnya terhenti saat mendapati Ashara dibelakangnya.

“Mau ke mana lo, hah? Lo nggak bakalan lolos lagi kali ini,” ucap Ashara lalu tersenyum sinis saat melihat ketakutan diwajah Arkilla.

“Kalian mau apa sih? Gue salah apa sama lo Sha?” Tanya Arkilla.

Ya, dia tidak tahu sama sekali di mana letak kesalahannya. Kenapa Ashara, Vayra dan Nathala terus-terusan mengejar dirinya seperti ini?

“Mau gue?” Tanya Ashara menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk, kemudian melangkah mendekati Arkilla. “Mau gue lo jauhin Raiyan. Bukankah gue udah peringatin awal-awal ya. Kenapa lo nggak dengerin gue?” Jelas Ashara.

Arkilla jelas tidak mengerti apa yang Ashara katakan. Sejak kapan dia mendekati Raiyan? Dia tidak pernah mendekati laki-laki itu, kenapa Ashara menuduhnya seperti itu?

“Lo ngomong apa sih Sha? Gue sama sekali nggak pernah dekatin Raiyan.”

“Nggak pernah lo bilang?”

Arkilla hanya mengangguk tetapi seakan teringat sesuatu dia menghela nafas, menyadari kesalahannya. Pasti Ashara melihat dia dan Raiyan saling bicara di koridor. Mungkin hal itu membuat Ashara kesal dan marah seperti ini, jika memang benar gadis itu sudah salah paham padanya.

“Lalu, di koridor itu apa namanya?”

Arkilla memejamkan kedua matanya. Dugaannya benar, Ashara sudah salah paham padanya. Menghembuskan nafas Arkilla kembali membuka mata lalu memberanikan diri menatap kearah Ashara didepannya.

“Lo salah paham. Saat itu Raiyan sedang ingin bertanya, tetapi gue tidak ingin menjawab apapun untuknya.”

“Oh ya?? Lalu, gue harus percaya. Begitu?”

“Lo harus percaya karena itulah yang sebenarnya terjadi.”

“Bawa dia lalu kurung dia di gudang,” perintah Ashara kembali terdengar.

Arkilla yang tidak ingin ditangkap segera melarikan diri, dia berlari menaiki tangga menuju lantai atas. Tidak ingin rencana kembali gagal ketiga gadis itu ikut mengejar Arkilla. Aksi kejar-kejaran pun terjadi menemani malam yang semakin pekat.

“Berhenti lo gadis sialan.” Teriak Ashara geram.

Arkilla yang ketakutan semakin mempercepat larinya, hingga akhirnya terpaksa berhenti setelah tiba di atap. Dia menemukan jalan buntu.

“Mau ke mana lagi lo? Lo nggak akan bisa lari lagi,” ucap Ashara yang sudah menginjakkan kaki ke atap.

Nafasnya turun-naik akibat kelamaan berlari, tetapi rasa capeknya membuahkan hasil kini Arkilla tidak bisa lari lagi.

“Aaah, capeknya.” Gumam Nathala sambil menghapus keringat yang membanjiri wajahnya.

“Sumpah ya, lo ngerjain gue ya Kir. Capek banget.” Rungut Vayra.

Arkilla tidak berniat menjawab ketiganya. Dia hanya mendiamkan diri dengan pikiran yang berkecamuk.

‘Ya Tuhan, tolong selamatkan lah aku dari kejahatan ketiga orang ini.’ Harapnya berdoa dalam hati memohon keselamatan.

“Lo mengabaikan peringatan gue Kir. Lo salah sudah mencari masalah dengan gue Kir.” Ucap Ashara melangkah maju mendekati Arkilla.

Tentu saja hal itu membuat Arkilla melangkah mundur, sama sekali tidak ingin Ashara dekat dengannya.

“Udah gue bilang kan Sha. Gue sama sekali nggak pernah dekatin Raiyan. Kenapa lo nggak percaya itu sih?” Tanya Arkilla mulai kesal.

Kedua perempuan itu saling beradu argumen dengan sengit. Vayra dan Nathala sebagai penonton. Ya, keduanya hanya menyaksikan perdebatan yang terjadi antara Arkilla dan Ashara.

“Lagian lo kenapa ngotot banget sih pengen miliki Raiyan? Padahal lo tahu sendiri Raiyan itu nggak suka sama lo.” Tanpa sadar Arkilla mengucapkan kalimat yang membuat Ashara semakin emosi.

“Sikap lo itu menunjukkan bahwa Raiyan hanya satu-satunya cowok yang ada dimuka bumi ini. Please deh Sha, lo murahan banget jadi cewek ngemis-ngemis cinta Raiyan. Udah tahu dia nggak suka masih aja lo kejar.”

Ashara mengepalkan kedua tangannya geram. Dia tidak terima dengan ucapan Arkilla yang begitu menghinanya.

“KURANG AJAR.” bentak Ashara sambil melangkah maju. “BERANI-BERANINYA LO… eh Arkilla.” Jerit Ashara tanpa sadar saat melihat tubuh Arkilla menghilang dari dihadapannya.

Dia berlari panik mendekati tebing di mana terakhir kali Arkilla berdiri. Hal yang sama dilakukan Vayra dan Nathala. Pada akhirnya bersama-sama mereka melihat ke bawah, di mana mereka dapat melihay tubuh Arkilla yang melayang-layang menuju ke bawah. Ya, gadis bernama Arkilla itu jatuh ke bawah atau lebih tepatnya menjatuhkan diri.

BRRRUUUUKK…

CCCRRRRAAAASS…

Ashara menutup mata tidak berani melihat pemandagan di bawah, di mana tubuh Arkilla tergeletak bersimbah darah.

“Oh ya ampun, ap,ap,apa yang sudah kita lakukan.” Ucap Nathala mulai panik.

Ashara dan Vayra tidak kalah paniknya, keduanya mengacak rambut tampak prustasi.

“Kita akan di penjara. Kita akan mendekam di penjara. Aaakkhh,, aku nggak mau di penjara. Nggak mau.”

“Berhenti merengek Nathala. Gue pusing dengernya.” Bentak Ashara membuat Nathala berhenti merengek.

Ketiganya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ya udah, mending kita pergi secepatnya dari sini sebelum ada yang lihat kita di sini.”

“Tapi, Arkilla gimana?”

“Sudahlah, tinggalkan saja. Kita harus segera pergi.”

Pada akhirnya ketiga orang itu pergi dari atap kembali turun ke bawah. Tidak pernah mereka sadari seseorang menyaksikan semua itu. Ya, dia menyaksikan semua itu dari luar pagar yang terkunci.

“Gadis yang malang.” Gumamnya pelan terdengar iba.

Namun, wajah yang dia tunjukkan sama sekali tidak merasa simpati melihat hal itu. Dia hanya menampilkan senyuman seakan suka melihat kejadian yang berlangsung beberapa menit yang lalu.

Tidak memiliki kepentingan lagi di sana, sosok itu menutup kepalanya dengan tudung jaket yang dia pakai. Kemudian berbalik badan beranjak pergi dari situ.

#Flashback_Off

Pada akhirnya Nathala hanya bisa menghela nafas, mengingat kejadian tadi malam hanya membuat kepalanya pusing.

“Jangan pernah lo ngomongin hal ini lagi. Gue nggak mau orang-orang tahu kalau dibalik kematian Arkilla kita lah penyebabnya,” ucap Ashara memperingatkan Nathala.

Gadis bernama Nathala itu hanya bisa mengangguk tanpa bisa membantah.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here