Dua Kepribadian #08

0
41
views

Resty melepaskan kaca mata bacanya lalu mengalihkan pandangan ke jam dinding, waktu menunjukkan pukul 12 kurang 30 menit tengah malam.

Dia sengaja belum masuk ke kamar, karena saat ini dia sedang menunggu kepulangan Ashara di ruang tamu.

Sudah sedari 3 jam yang lalu dia di sana, duduk bersilang kaki lengkap dengan sebuah buku tebal ditangannya.

Wajah Resty mengeras terlihat begitu dingin, sepertinya saat ini dia sedang diliputi rasa marah. Ya, saat ini dia memang sedang marah, benar-benar marah.

Sikap Ashara benar-benar tidak bisa ditolerir lagi, semakin hari sikapnya semakin keterlaluan. Lihat saja, dia tidak akan diam lagi kali ini. Anak itu harus diberi pelajaran.

Brrmmm…brrrrmmm

Resty bangkit dari duduknya ketika mendengar suara mobil masuk ke perkarangan rumah. Kemudian berjalan angkuh kearah pintu masuk, dia sendiri yang akan menyambut kepulangan putrinya itu.

‘Tuk,tuk,tuk,

Sepatu berhak yang dipakainya terdengar menghentak lantai hingga menimbulkan bunyi setiap kali dia melangkah, suara yang bergema ke seluruh penjuru rumah membuat suasana menjadi seram menakutkan.

Terdengar suara kunci gemerincing menimbulkan bunyi ‘klik, lalu pintu terbuka. Resty menatap dingin Ashara yang tampak terkejut saat melihatnya.

“M,m,mama.”

Hanya gumaman pelan yang berhasil lolos dari bibir tipis Ashara, gadis itu menunduk tidak berani membalas tatapan Mamanya yang begitu dingin.

Jujur dia merasa takut berhadapan dengan Mamanya saat ini. Dia merasa wanita dihadapannya bukan lah Mamanya. Mamanya tidak pernah menatapnya seperti itu.

“Asha ngantuk mau tidur. Permisi Ma.” Pamit Ashara sambil melangkah hendak masuk ke dalam rumah.

“MAU KE MANA KAMU?”

Ashara terperanjat mendengar bentakkan Mamanya barusan, dia pun berhenti melangkah. Namun dia tidak berani berbalik badan hanya untuk melihat wajah Mamanya.

BAAMMM…

Ashara lagi-lagi harus terperanjat ketika mendengar suara bantingan pintu ditutup keras. Didetik berikutnya dia kembali mendengar suara hentakkan sepatu mendekatinya.

“Dari mana kamu?” Tanya Resty yang kini sudah tiba dihadapan Ashara yang tertunduk.

“Mama tanya kamu Ashara Pinandita. AYO JAWAB.”

Ashara yang kembali dibentak membuat dia kesal luar biasa. Seakan mempunyai keberanian baru, Ashara mendongak membalas tatapan Resty yang masih begitu dingin.

“Nggak usah banyak tanya deh Ma. Bukan urusan Mama juga.”

PLLLAKKK…

Ashara menyentuh pipinya yang terasa kebas setelah Resty menamparnya dengan keras. Tidak bisa Ashara sembunyikan rasa keterkejutannya ini. Baru kali ini Resty menamparnya.

Tidak terima ditampar seperti itu Ashara kembali menatap Mamanya kali ini tatapannya begitu sinis.

“Tentu itu menjadi urusan Mama. Mama adalah orang yang melahirkan dan membesarkan kamu. Kemanapun kamu pergi, siapapun teman kamu dan semua tentang kamu Mama berhak untuk tahu.” Jelas Resty berusaha menahan diri untuk tidak berteriak di depan Ashara.

“Kenapa kamu tidak datang tadi ke sekolah? Ke mana kamu pergi? Sepertinya kamu melupakan pengumuman Mama tadi. Mama tidak pernah main-main dengan ucapan Mama kamu tahu itu Ashara.”

“Aku tidak peduli. Silahkan keluarkan aku dari sekolah itu. Aku benci Mama. Hiks..hiks.”

Kemudian Ashara berlari pergi meninggalkan Mamanya dengan isakkan tangis, tiba-tiba perasaan sedih menyerang hatinya. Ya, dia sedih karena baru kali ini Resty membentak bahkan menamparnya seperti ini.

Masuk ke dalam kamar. Setelah mengunci pintu dia segera menjatuhkan diri di tempat tidur, menyembunyikan wajahnya yang berurai air mata dibalik bantal.

‘Ternyata tidak ada yang mengerti aku. Baik Papa maupun Mama, mereka benar-benar menyebalkan. Aku benci mereka’ dumel Ashara dalam hati.

Hujan di luar yang turun semakin lebat seakan ikut bersedih untuknya.

*****

Hujan disertai angin kencang di luar rumah membuat Brisley gelisah. Dia terbang kesana-kemari lalu berhenti di atas difan kayu. Pandangannya mengarah keluar jendela, hujan yang turun sangat deras. Apa yang terjadi di luar sana?

Kriiieettt…

Brisley menoleh kearah pintu yang tiba-tiba terbuka. Burung itu segera terbang kearah pintu ingin melihat siapa yang datang. Saat mendapati Calasha yang barusan masuk Brisley sangat terkejut.

“Dari mana Cha? Kenapa kamu basah-basahan seperti ini?”

“Aku ketiduran di luar rumah Bris. Udah ya, aku mau ganti baju dulu.” Pamit Calasha lalu kembali melanjutkan langkah meninggalkan Brisley yang kebingungan.

Ketiduran di luar?
Bagaimana bisa?
Jelas-jelas tadi dia sudah melihat Calasha tidur dikamarnya. Apa mungkin tanpa sepengetahuannya tadi Calasha keluar dari rumah, tapi untuk apa Calasha keluar malam-malam begini?.

“Ya sudahlah. Bukan urusanku juga.” Putus Brisley akhirnya tidak lagi ingin memikirkan hal itu.

Dia kembali terbang ke tempat tidurnya. Udara yang begitu dingin membuat dirinya ikutan mengantuk. Ya, sebaiknya dia tidur saja.

*****

Pagi datang.
Cahaya menelusup masuk ke dalam kamar Ashara, setelah gorden yang menutupi jendela dibuka seseorang. Cahaya yang mengenai wajahnya membuat Ashara menggeliat, perlahan kedua mata itu mulai terbuka.

Pandangannya bertemu dengan tatapan Resty yang sedang berdiri dihadapannya. Terkejut, dia pun bangkit untuk duduk.

“Mandi dan segera temui Mama di bawah. Mama ingin bicara pada kamu.”

Setelah mengatakan hal itu Resty segera berlalu pergi meninggalkan Ashara yang merungut sebal. Meskipun kesal dia tetap menuruti kemauan Mamanya.

Ashara bangkit dari tempat tidur lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Menghidupan shower dia segera mandi.

Selesai mandi dia segera keluar dari kamar mandi, memakai seragam, menyisir rambut, berdandan lalu segera berlalu keluar dari kamar.

Ashara melangkah pelan menuruni puluhan anak tangga menuju lantai bawah, atau lebih tepatnya menemui Resty yang sudah menunggunya di ruang makan.

Tiba di sana Ashara mendapati Resty sedang sibuk melihat sebuah file berwarna hitam ditangannya. Dia tidak tahu apa yang sedang Mamanya itu lihat. Tetapi melihat keseriusan di wajah Mamanya sepertinya itu file penting. Tidak ingin peduli Ashara mengacuhkannya.

Ashara mengambil dua lembar roti lalu mengolesinya dengan selai strawberry. Setelah itu dia segera memakannya.

“Mama minta maaf sudah menampar kamu semalam.”

Mendengar Mamanya mengatakan kalimat itu barusan, membuat Ashara menoleh menatap wajah Resty yang kebetulan sedang menatapnya.

Ashara ingin tertawa mendengar kalimat itu keluar dari bibir Mamanya. Ya, seperti selalu. Segampang itu Resty meminta maaf setelah apa yang sudah dilakukannya. Tidak ada bedanya dengan Reynaldi.

Dulu ketika mereka memutuskan untuk berpisah hanya kata ‘Maaf’ yang ia dengar dari bibir kedua orang itu. Mereka sama sekali tidak peduli dengan perasaannya. Bukan kata ‘maaf’ yang dia inginkan. Dia hanya ingin keluarganya kembali utuh. Itu saja.

“Tadi malam Mama terlalu marah padamu Sha. Mama sangat kecewa kamu mengabaikan ucapan Mama. Kamu pergi entah ke mana, pulang ke rumah larut malam. Bahkan kamu tidak mengikuti pelajaran tambahan yang Mama adakan tadi malam.”

Ashara hanya mendiamkan diri mendengarkan setiap butir kata yang Resty ucapkan.

“Nilai kamu itu sangat buruk. Mama melakukan hal ini supaya nilai-nilai kamu itu tinggi. Tetapi apa yang terjadi? Kamu tidak datang. Ke mana kamu tadi malam?”

Ashara memutar bola mata kesal sama sekali tidak suka mendengar pertanyaan Mamanya barusan.

“Bukankah aku sudah mengatakannya? Itu bukan urusan Mama. Aku tidak ingin ikut pelajaran tambahan itu. Aku tidak peduli dengan nilai-nilai itu. Jadi berhenti mengurusi hidupku.”

Ya, dia tidak pernah peduli dengan nilai-nilai yang dia dapatkan. Baginya bagus maupun buruk itu sama saja. Toh, tidak akan ada yang bangga dengan pencapaiannya itu.

Resty menggeleng tidak habis pikir dengan jawaban Ashara barusan. Jawaban Ashara sungguh membuat emosinya kembali terpancing.

“Jika kamu tidak ingin Mama mengurusi kamu lagi. Baiklah, silahkan kamu keluar dari rumah ini. Sepertinya kehidupan di luar lebih cocok untuk anak seperti kamu.”

Kemudian Resty bangkit dari duduknya beranjak dari situ meninggalkan Ashara yang tampak terkejut.

‘Tidak. Aku tidak bisa pergi dari rumah ini. Mau tinggal di mana aku? Uh, Mama menyebalkan banget sih. Tidak ada pilihan lain, aku harus menuruti Mama.’ Dumelnya dalam hati.

Ashara bangkit dari duduknya lalu beranjak menyusul Resty yang barusan masuk kamar. Dia melangkah pelan mendekati kamar Mamanya.

Baru saja dia hendak mengetuk pintu kamar itu, tetapi telinganya keburu menangkap suara Resty sedang mengobrol dengan seseorang ditelepon.

“Jadi kita akan bertemu pagi ini. Di mana kita akan bertemu?”

“Oh, okey. Saya akan segera ke sana.”

Resty menyudahi teleponnya, mengambil handbag yang tergeletak di meja rias kemudian berlalu pergi membuka pintu. Resty sangat terkejut saat mendapati Ashara di depan kamarnya, begitupun dengan Ashara dia juga terkejut.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Resty dengan tatapan menyelidik putrinya itu. “Kamu menguping?” Tuduhnya.

“Maaf Ma. Ashara tidak menguping kok. Ashara ke sini cuma mau minta maat. Asha tahu Asha sudah keterlaluan pada Mama. Untuk itu Ashara akan nurutin Mama, tapi jangan usir Asha dari rumah.” Mohonnya dengan pandangan iba menatap Mamanya.

“Mama maafkan. Tapi ingat kamu harus memperbaiki nilai kamu yang buruk itu. Dan untuk kesalahan kamu yang tidak mengikuti pelajaran tambahan tadi malam. Kamu dan dua teman kamu itu harus dihukum.”

“Apa Ma? Di hukum?”

“Iya. Kalian harus dihukum. Dan hukumannya akan Mama kasih tahu nanti. Udah dulu ya, Mama mau pergi sekarang.” Beritahu Resty dengan senyuman, kemudian pamit segera berlalu meninggalkan Ashara yang tampak kesal mendengar keputusan Resty barusan.

******

“Jadi gimana Pak mau kan Bapak memberikan beberapa murid Bapak untuk menerima beasiswa yang saya adakan. Jujur, sekolah saya sangat membutuhkan murid-murid berprestasi untuk mengharumi nama sekolah.”

Saat ini Resty sedang berhadapan langsung dengan Pak Yanto Kepala Sekolah SMA NUSA BANGSA I.

Maksud kedatangannya ke sana ingin berdiskusi pada pria itu mengenai Beasiswa yang dia adakan untuk sekolahnya. Dia meminta izin pada Pak Yanto untuk memberikan beasiswa kepada murid-murid Pak yanto yang berprestasi.

Setiap murid yang terpilih akan mendapatkan kesempatan sekolah di SMA elite kepunyaannya.

Dia ingin anak-anak yang bersekolah di SMA NUSA BANGSA I juga bisa menikmati fasilitas yang ada di SMA HIGH SCHOOL.

“Baiklah Bu. Saya menerima tawaran ibu. Dan saya akan mengadakan ujian untuk mereka, semoga murid-murid yang terpilih tidak mengecewakan Bu Resty nantinya.”

Resty tersenyum mendengar jawaban Pak Yanto barusan, memang jawaban itulah yang dia harapkan.

“Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Resty kemudian bangkit dari duduknya.

Resty menjabat tangan Pak Yanto sebelum pergi. Setelah berbasa-basi sebentar Resty berbalik pergi meninggalkan ruangan itu.

Resty berjalan anggun penuh wibawa menyusuri koridor yang lengang, hanya ada segelintir murid yang berlalu-lalang.

Dipertengahan jalan tiba-tiba handphone Resty di dalam handbag berbunyi. Seseorang menelponnya. Resty terpaksa menghentikan langkahnya lalu mengambil handphone itu.

“Hallo.” Sambil melanjutkan kembali langkahnya Resty menjawab panggilan itu.

Calasha menoleh ke belakang memperhatikan seorang wanita cantik yang baru saja melewatinya. Dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan wanita itu? Ada keperluan apa datang ke sekolah ini?

‘Ibu itu sangat cantik. Di lihat dari penampilannya sepertinya ibu itu seorang guru.’ hati kecil Calasha berbisik sendirian.

Tidak lagi ingin memperhatikan wanita itu, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sedangkan Resty yang mendapat telpon dari Pak Andi barusan mendadak terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.

“APA? MENINGGAL?”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here