Dua Kepribadian #07

0
103
views

Raiyan menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah. Tidak berselang lama dia segera keluar dari mobil, lalu melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah. Tergambar raut kekhawatiran yang begitu kentara di wajah tampannya. Ya, dia khawatir pada Raska.

Dia tidak menemukan Raska di sekolah. Rasa khawatirnya membawa dia pulang ke rumah, berharap menemukan Raska di sana.

Masuk ke dalam rumah Raiyan melangkah cepat menaiki tangga menuju ke lantai atas atau lebih tepatnya mendatangi kamar Raska yang berada di lantai dua.

Tiba di sana Raiyan segera membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam. Kamar itu kosong. Namun ransel, earphone, handphone dan seragam Raska tergeletak di tempat tidur begitu saja. Kemudian tatapannya berpaling kearah pintu kamar mandi yang tertutup, di sana terdengar gemerisik air.

Raiyan menghela nafas lega. Ya, lega karena Raska dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian dia menjatuhkan diri ditempat tidur Raska yang bersaiz king.

“Bang, ngapain di kamar gue?” Tanya Raska yang sudah selesai mandi. Dia menatap Raiyan yang sedang berbaring di tempat tidurnya.

Mendengar pertanyaan itu Raiyan menoleh ke orang yang sudah membuat dia khawatir luar biasa, lari-larian kesana-kemari seperti orang bodoh, bertanya ke orang-orang yang bahkan sama sekali tidak tahu di mana dirinya pergi. Ya, itulah yang tadi dia lakukan.

Bangkit dari baringnya Raiyan memutuskan duduk di tepi ranjang, tentunya dengan pandangan menatap Raska yang sedang menyisir rambut basahnya.

“Kamu pulang kenapa nggak ngasih tahu aku?”

Raska menatap Raiyan dari pantulan cermin didepannya, bibirnya terkatup rapat sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Raiyan barusan.

“Aku nyariin kamu tadi, tapi kamu nggak ada di kelas. Orang-orang juga nggak tahu kamu ke mana. Tahu nggak Ras aku tu khawatir…

“Berhenti ngurusin hidup gue.” bidas Raska memotong ucapan Raiyan.

Kemudian Raska berbalik menatap Raiyan yang tampak terkejut dengan ucapannya barusan.

“Gue bukan anak kecil lagi. Yang kemana-mana harus lapor dulu ke elo, pergi dan pulang sekolah harus bareng lo. Plis deh Bang, gue udah gede sekarang. Jadi berhenti lo ngekhawatirin gue.”

“Aku nggak bisa Ras. Kamu itu tanggung jawab aku di sini. Papa dan Mama nitipin kamu ke aku dan aku sudah berjanji sama mereka akan jagain kamu.”

Ya, Raska adalah tanggung jawabnya. Orangtua mereka sudah menitipkan Raska padanya. Dan sebagai Abang yang baik, dia harus menjaga Raska kan?

“Udahlah Rai, gue nggak mau lo jagain gue lagi. Gue bisa jaga diri gue sendiri. Gue udah gede gini juga. Dan kalau soal janji lo ke Mama dan Papa, lo kan udah nepatin.” Jelas Raska.

Raiyan diam dengan pikiran berkecamuk. Ada apa dengan Raska? Kenapa dia bersikap seperti ini?.

“Gue tahu lo khawatir, tapi lo harus tahu satu hal Bang. Selama gue masih tinggal sama lo di sini, gue akan baik-baik aja kok. Lo nggak usah khawatir.”

“Tapi Ras kenapa tiba-tiba seperti ini? Kenapa lo nggak pengen lagi gue jagain?” Tanya Raiyan yang masih belum rela melepas tanggung jawab yang diberikan kedua orangtuanya selama ini padanya.

Raska diam.

“Kenapa Ras? Jawab gue dong.” Pinta Raiyan.

Ya, penjelasan Raska lah yang Raiyan butuhkan saat ini. Bukan hal lain lagi hanya sebuah penjelasan dari Raska.

Raska tersenyum menatap wajah Raiyan yang tampak begitu serius, sepertinya keputusannya untuk tidak lagi ingin dijaga oleh Raiyan begitu berdampak serius bagi Raiyan.

Dia akui Raiyan memang Abang yang baik untuknya, sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Dia senang selama ini Raiyan begitu menjaganya dengan baik, tetapi dia tahu tidak selamanya Raiyan harus menjaganya. Raiyan memiliki kehidupannya sendiri, dia tidak ingin hidup Raiyan hanya dihabiskan untuk menjaganya. Raiyan juga harus menikmati hidupnya sendiri, tentunya tanpa ada dia lagi yang harus Raiyan khawatirkan setiap hari. Dia ingin Raiyan bahagia. Akan tetapi ada alasan lain mengapa dia tidak lagi ingin Raiyan menjaganya. Ya, alasan itu membuat dia tersenyum dalam diam.

“Kenapa Ras?” Ulang Raiyan membuat Raska menoleh kearahnya.

“Lo tahu jawabannya Rai. Gue ingin menikmati hidup gue sebelum hari itu tiba. Di mana..,”

“Nggak Ras, jangan katakan lagi. Aku tidak ingin mendengarnya.” Potong Raiyan cepat.

Dia menghembuskan nafas berat lalu bangkit dari duduknya, kemudian menatap Raska yang berwajah murung.

“Ya sudahlah, kalau itu memang keputusanmu aku terima. Tapi satu hal yang harus kamu tahu aku selalu ada di sini untukmu. Beritahu aku kalau kamu membutuhkan sesuatu, okey.”

“Okey.”

“Baiklah. Oh ya, setelah ini aku mau kembali ke sekolah. Aku harus ikut pelajaran tambahan untuk bisa menyaingimu. Lihat saja nanti, aku pasti bisa mengunggulimu.” Beritahunya penuh percaya diri.

“Coba saja kalau bisa.”

“Okey.”

Kemudian Raiyan kembali berlalu keluar dari kamar, tujuannya adalah kembali ke lantai bawah menuju kamarnya. Dia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.

*****

“Akhirnya selesai juga.”

Calasha tersenyum melihat rumah yang baru saja dia perbaiki sudah sedikit lebih enak dipandang. Meskipun tidak secantik dan sekeren seperti rumah orang-orang kebanyakkan. Dia tetap mensyukuri masih memiliki tempat tinggal. Tidak seperti dulu luntang-lantung di jalanan tidak tahu mau ke mana.

Dia sangat bersyukur dulu bertemu dengan Mak Ijjah dan membawanya kemari. Mak Ijjah lah yang merawatnya dulu. Mak Ijjah memperlakukkannya sudah seperti cucu sendiri. Dia senang tinggal bersama Mak Ijjah. Mak Ijjah sangat baik padanya. Namun Mak Ijjah harus menghembuskan nafas terakhir ketika umurnya menginjak 10 tahun. Calasha ingat betapa terpukulnya dia dulu atas kepergian Mak Ijjah.

“Wow, lihatlah apa yang terjadi pada rumah ini.”

Calasha menoleh pada Brisley yang barusan bersuara, dia hanya tersenyum saat mendapati burung gagak peliharaannya merasa senang melihat perubahan rumah mereka.

“Kau yang memperbaiki dan mengecatnya sendirian?” Tanya Brisley menatap takjub sosok Calasha yang berada dibawahnya.

Merentangkan tangan Calasha menjawab dengan senyuman, “Kalau tidak aku, siapa lagi Brisley? Hanya ada aku dan kau di sini kan?”

“Benar. Kalau begitu kau hebat sekali Cha.”

“Terimakasih pujiannya Brisley. Oaaa… aku capek sekali. Sepertinya aku mau mandi dulu deh, seluruh tubuhku terasa lengket semua.”

Kemudian Calasha beranjak masuk ke dalam rumah disusul Brisley dibelakangnya.

Calasha masuk ke dalam kamar mengambil handuk lalu beranjak keluar rumah, tujuannya adalah tempat pemandian yang ada dibelakang rumah.

Selesai mandi Calasha segera berpakaian lalu menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Brisley. Menu makan hari ini hanyalah nasi putih dan dadar telur, mau gimana lagi hanya makanan itu saja yang bisa Calasha beli untuk saat ini.

“Cha, hari ini kau bilang akan pulang terlambat. Tapi tadi belum ada jam lima kau sudah pulang. Apa kau tidak kerja hari ini?” Pertanyaan Brisley barusan membuat Calasha tersedak karena terkejut.

Buru-buru dia meraih gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminumnya hingga habis. Kemudian tatapannya beralih pada Brisley yang tampak panik.

“Kau tahu aku pulang jam berapa? Memangnya kau mengerti angka pada jam itu?” Tanya Calasha mulai merasa ada yang aneh dengan burung gagak itu.

Brisley tidak seperti burung-burung kebanyakkan. Brisley burung teraneh yang pernah dia temui, selain bisa bicara seperti manusia dia juga mengerti banyak hal. Sebenarnya siapa Brisley ini? Kenapa sikap dan prilakunya menyerupai manusia?

“Sejak tinggal bersamamu aku menjadi pintar Cha. Bukankah kau selalu mengajarkan padaku berbagai hal.” Beritahunya mencoba mengingatkan Calasha.

“Iya, aku memang mengajarimu. Tapi kan..,” Calasha tidak bisa melanjutkan ucapannya saat dengan cepat Brisley memotongnya.

“Udah malam, sebaiknya kau tidur Cha. Aku akan keluar.”

Kemudian Brisley terbang keluar dari kamar meninggalkan Calasha yang masih penasaran pada Brisley.

‘Sebenarnya kamu itu siapa sih Bris, burung gagak atau manusia?’

*****

Randa tersenyum memperhatikan layar handphonenya yang sedang memperlihatkan foto seorang perempuan yang sedang tertawa. Foto yang diambilnya secara diam-diam ketika Calasha sedang terlihat bercanda dengan kedua pegawai tetapnya, Yamada dan Nilam. Ya, foto perempuan itu adalah foto Calasha.

Dia sudah lama menyukai Calasha lebih tepatnya sejak pertama kali bertemu gadis itu. Kira-kira dua tahun yang lalu.

#Flashback_On

Randa bersama dengan kedua temannya sedang menikmati acara reunian mereka disebuah restorant ternama di Jakarta. Malam ini dia terlihat sangat tampan dan mempesona dalam balutan tuxedo hitam yang dia pakai.

Pesta yang berlangsung begitu meriah sekali, dan para pelayan sangat sibuk melayani para tamu undangan.

Di tengah meriahnya pesta terjadi keributan, salah satu pelayan wanita tidak sengaja menjatuhkan gelas berisi minuman hingga mengenai seorang wanita. Wanita itu marah besar, dia mencaci-maki pelayan wanita itu dengan kata-kata yang kasar.

“Saya tidak terima semua ini. Sebaiknya Bapak pecat saja pelayan ini. Dia tidak becus bekerja.” Pintanya pada seorang lelaki gendut pemilik restorant itu.

Pelayan perempuan itu sudah meminta maaf tetapi wanita itu tetap tidak mau memaafkannya, pada akhirnya untuk menyenangkan hati wanita itu pemilik restorant memecat pelayan itu.

“Tolong Mbak, jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.”

“Maaf, kamu tidak bisa bekerja di sini lagi.”

Ya, pada akhirnya pelayan itu tetap dipecat. Merasa tidak dibutuhkan lagi, pelayan wanita itu berlalu pergi keluar dari Restorant dengan berurai air mata.

Randa yang melihay gadis itu pergi dengan tangisan membuat dia iba, tidak memperdulikan pesta itu lagi dia menyusul gadis itu.

“Tunggu.” Randa menghentikan langkah gadis itu dengan menahan lengan perempuan itu. Tindakkannya yang tiba-tiba membuat gadis itu refleks menoleh.

Pandangan mereka bertemu. Saat itulah Randa merasakan waktunya berhenti sesaat. Wajah sembab gadis dihadapannya begitu menggetarkan hatinya. Dia tidak tahu dinamakan apa perasaan yang ada dihatinya saat ini, tetapi hatinya mengatakan dia harus melindungi wanita dihadapannya itu.

“Jangan menangis.” Pinta Randa sambil mengusap air mata yang merembes diwajah manis gadis itu.

“S,s,siapa k,kamu?” Tanya gadis itu tersendat-sendat.

“Aku Randa Sanjaya, panggil Randa saja.” Beritahu Randa memperkenalkan namanya. “Dan nama kamu?” Tanya Randa balik.

“Aku Calasha.”

“Okey Calasha, tadi aku tidak sengaja melihat keributan yang terjadi di dalam tadi. Sepertinya kamu sangat membutuhkan pekerjaan. Kalau mau, kamu bisa bekerja denganku. Kebetulan Cafe ku membutuhkan pekerja tambahan.”

“Aku mau.”

#Flashback_Off

“Andaikan kamu tahu Cha perasaanku ini. Sudah lama aku menyimpannya. Masa sih kamu tidak tahu perasaanku ini. Kenapa kamu tidak peka sih?”

Pada akhirnya Randa hanya bisa bicara sendiri pada foto yang ada dihandphonenya. Dia menyayangkan ketidak pekaan Calasha tentang perasaan yang dia pendam selama ini terhadapnya.

“Ya sudahlah, sebaiknya aku pulang sekarang. Udah larut malam juga.” Putusnya lalu bangkit beranjak pergi keluar dari ruangannya.

Di luar Cafe dia bertemu dengan tiga pegawainya yang juga bersiap-siap akan pulang. Dia menyapa mereka sebentar lalu kembali melanjutkan langkah keluar dari Cafe.

Winda yang melihat Randa berlalu keluar dari Cafe berlari mengejarnya, tindakkannya itu membuat Nilam mendengus kesal.

“Dasar penjilat.”

Yamada yang tidak sengaja mendengarnya langsung menatap Nilam bingung, tidak tahu siapa yang sedang gadis itu kutuk.

“Siapa yang lo maksudkan barusan Lam?” Yamada memutuskan bertanya pada akhirnya.

Sambil melangkah keluar dari Cafe Nilam menjawab pertanyaan Yamada barusan.

“Siapa lagi kalau bukan si Winda itu. Dia itu kegatelan banget sama Pak Randa tahu. Palingan dia ngerayu Pak Randa lagi buat nganterin dia pulang.”

“Lo cemburu?” Tuduh Yamada langsung membuat tangan Nilam mendarat dibahunya.

Ya, gadis itu memukul bahunya dengan keras.

“Lo kalo ngomong dijaga ya. Jangan seenaknya nuduh begitu. Siapa juga yang cemburu?”

“Terus kalo nggak cemburu kenapa lo sewot begitu Nilam Sri Wulandari?”

“Bukan urusan lo juga kan. Uh, mending gue pulang.”

Nilam beranjak hendak pergi tetapi tahu-tahu tangan Yamada menarik tangannya membuat Nilam kembali tertarik ke belakang.

“Apaan sih lo narik-narik tangan gue? Lepas.” Ketus Nilam sambil menepis tangan Yamada.

“Gue anter lo pulang. Nggak baik cewek kayak lo berkeliaran di luar malam-malam gini, lagian kayaknya bentat lagi akan turun hujan deh.” Beritahu Yamada saat menatap kearah langit yang begitu gelap dan pekat.

“Ayo, pulang bareng.” Ajak Yamada sambil melangkah meninggalkan Nilam yang melongo.

Sama sekali tidak menduga Yamada bisa bersikap semanis itu padanya.

“Mau sampai kapan lo di situ, hah? Buruan, keburu hujan nih.”

“Okey.”

Nilam naik ke motor Vespa Yamada, duduk dibelakang Yamada yang mulai menjalankan motornya meninggalkan halaman Cafe.

Di pertengahan jalan tiba-tiba Vespa yang Yamada kendarai mogok, sementara hari semakin larut. Angin bertiup sangat kencang, bahkan kilat dan petir mulai bermunculan.

“Ryu gue takut nih. Cuaca malam ini kok buruk amat ya.” Beritahu Nilam yang saat ini kebetulan berjalan di samping Yamada yang sedang mendorong Vespa.

“Ntahlah, gue nggak tahu.”

Tak lama kemudian hujan mulai turun rintik-rintik dan perlahan mulai deras.

“Ya, hujan nih. Ayo, cari tempat berteduh.” Ajak Yamada sambil mendorong Vespanya selaju mungkin.

Pada akhirnya mereka berlarian di tengah derasnya hujan menuju kearah halte yang kebetulan tidak jauh.

Menginjakkan kaki di halte keduanya tampak sudah basah kuyub. Mereka saling menatap satu sama lain lalu tiba-tiba tersenyum saat melihat keadaan mereka yang basah.

“Kalau sudah basah begini tidak ada gunanya lagi berteduh.” Dumel Nilam sambil berpeluk tubuh.

Jujur, dia mulai kedinginan. Dia tidak menduga hujan dimalam hari begitu dingin. Dinginnya udara sampai menusuk ke dalam tulang-tulangnya.

“Uh, dingin banget sih malam ini.” Gumamnya pelan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya mencari kehangatan dari sana.

Tahu-tahu sebuah jaket sudah tersampir dibahunya, tentu saja Nilam kaget. Dia menoleh dan mendapati Yamada yang sudah meletakkan jaket itu dibahunya.

“Pake, nanti lo masuk angin.”

Nilam tidak memberikan respon apapun tetapi tatapannya sudah mengartikan segalanya. Dia sangat terharu atas sikap baik Yamada malam ini. Tidak bisa dia pungkiri, perlakuan Yamada barusan sedikit mengusik ketenangan jantungnya. Ya, jantungnya berdebar-debar. Pertanda apakah itu?


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here