Dua Kepribadian #06

0
50
views

Calasha menatap laki-laki dihadapannya dengan aneh, dia tidak tahu mengapa pria dihadapannya menanyakan hal itu padanya. Tidak ingin memikirkannya Calasha memutuskan untuk bertanya pada pria itu.

“Saya ada banyak pekerjaan di rumah mungkin saya sibuk sampai malam. Emangnya kenapa ya Kak?”

“Owh, sibuk ya. Nggak papa kok. Ya udah kalau kamu sibuk lain kali saja.”

Calasha makin tidak mengerti dengan pria dihadapannya, apa maksudnya lain kali?.

“Maksud Kakak apa ya?”

“Bukan apa-apa kok. Oh ya, kamu mau pulang ya?” Tanya Randa mengalihkan pembicaraan.

“Iya Kak, kalau gitu saya pamit dulu ya.” Pamit Calasha kemudian berbalik hendak pergi, tetapi lagi-lagi dia batal melangkah ketika merasakan ada tangan menahan lengannya.

Dia menatap lengannya yang dipegang Randa, puas menatap tangan itu dia beralih ke wajah tampan Randa.

“Ada apa lagi Kak?” Tanya Calasha sambil menarik perlahan tangannya dari pegangan Randa.

Jujur, dia tidak suka dipegang seperti itu meskipun yang dipegang hanya lengannya.

“Saya antar kamu pulang ya?” Randa menawarkan diri untuk mengantar Calasha pulang.

Tentu saja tawarannya itu ditolak Calasha dengan halus, alasannya hanya satu dia tidak ingin merepotkan Randa.

“Maaf Kak, saya tidak bisa menerima tawaran dari kakak. Saya pulang naik BUS saja.”

“Ta..,”

“Saya banyak pekerjaan di rumah Kak, jadi izinkan saya pulang sekarang.” Potong Calasha tidak memberikan kesempatan Randa untuk menyelesaikan ucapannya.

Melihat kegusaran gadis dihadapannya membuat Randa menyerah, dia menghela nafas lalu membiarkan Calasha pergi.

“Dasar payah.” Sungut Randa pada diri sendiri lalu berbalik melangkah kembali masuk ke dalam Cafe.

Sedangkan Calasha dia sudah jauh melangkah meninggalkan Cafe. Dia melangkah pelan menuju halte.

Tiba di halte Calasha menghembuskan nafas lega. Ya, dia merasa lega karena masih ada banyak orang di sana. Itu berarti BUS jurusan terakhir belum datang.

Menginjakkan kaki di halte Calasha mulai menunggu dalam diam. Tidak lama kemudian BUS yang ditunggu-tunggu pun datang. Orang-orang mulai berebutan untuk naik, bahkan ada juga yang menyenggol Calasha membuat gadis itu tersingkir ke belakang.

Tidak ingin memperbesar masalah Calasha hanya diam, dia membiarkan semua orang masuk duluan. Biarlah, dia masuk terakhir juga tidak masalah.

Ups.

Calasha menghembuskan nafas lega setelah dia berhasil masuk ke dalam BUS. Dia menyusuri semua sisi mencari bangku kosong. Setelah dia menemukannya Calasha segera melangkah pelan menuju bangku kosong itu.

Tiba di sana dia tidak segera duduk. Dia menatap seorang lelaki yang sedang terpejam di sebalah bangku kosong itu. Di lihat dari seragam yang dipakainya, Calasha tahu kalau laki-laki itu adalah murid dari sekolah elite.

Calasha menimbang-nimbang akankah dia duduk di situ atau berdiri saja. Jika dia duduk nanti Calasha sangat takut laki-laki itu marah. Akan tetapi setelah dipikir-pikir apa hak lelaki itu untuk marah, BUS itu kan bukan milik si lelaki itu.

‘Ya sudahlah, aku duduk saja.’ Putusnya kemudian mulai mendudukkan diri di sana.

Mula-mula Calasha bersikap biasa saja, tetapi beberapa menit kemudian dia mulai terlihat gelisah, sekali-kali kepalanya menoleh ke tempat duduk disampingnya. Di mana di sana ada lelaki itu yang sedang tertidur.

Calasha tidak bisa duduk dengan tenang karena harum parfum cowok itu begitu mengganggu hidungnya. Bukan berarti parfum yang laki-laki itu gunakan bau, melainkan wangi parfum laki-laki itu sungguh maskulin membuat siapapun yang menciumnya ingin menempelkan hidungnya di sana.

Merasa cukup Calasha tidak ingin lagi memperhatikan laki-laki itu, dia tidak tahu mungkinkah laki-laki itu tidur atau apa. Yang dia tahu lelaki itu sedang terpejam. Dan earphone menutupi kedua telinganya, dari earphone itu terdengar suara musik yang mungkin sengaja di settle kencang.

Mengalihkan pandangan, tatapan Calasha jatuh pada wajah laki-laki itu yang pucat. Tanpa sadar Calasha mulai memperhatikan wajah lelaki itu.

Tampan adalah satu kata yang terbesit dihati Calasha saat ini. Ya, laki-laki itu sangat tampan. Laki-laki itu memiliki hidung yang mancung, alis yang tebal, dan potongan rambut yang agak berantakkan.

‘Dia sempurna sebagai seorang lelaki.’ Kata hati Calasha memuji laki-laki itu.

‘Eh, ngapain juga aku lihatin dia. Nanti kalau orangnya tahu dikira aku ngapain-ngapain dia lagi.’ Dumelnya dalam hati lalu kembali memutuskan duduk dengan benar.

Dalam hati berharap laki-laki itu memang sedang tidur. Semoga saja.

*****

“Hey, gue pulang dulu ya.” Pamit Raiyan pada kedua temannya sambil menyandangkan ransel dibahunya.

“Okey, hati-hati di jalan ya bro.”

“Sip.”

Kemudian Raiyan segera melangkah keluar dari kelas. Tujuannya saat ini adalah kelas XI Fisika 1. Raiyan menyusuri koridor dalam diam, berharap segera tiba ditempat tujuannya.

Tiba di sana dia segera melangkah masuk ke dalam kelas itu. Kedatangannya mengundang rasa penasaran dibenak semua orang yang ada di sana.

Raiyan mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, berharap menemukan seseorang di sana. Namun seseorang yang sedang dia cari tidak ada di sana, jika tidak di kelas di mana dia?

“Cari Raska ya?”

Raiyan menoleh kearah seorang wanita yang barusan bertanya padanya. Kepalanya mengangguk memberi jawaban.

“Iya, dia di mana?” Tanyanya ingin tahu.

“Tadi sih dia ada, tapi udah pergi tu.”

“Pergi?” Ulang Raiyan mencoba memastikan pendengarannya. “Hmm, lo tahu nggak ke mana dia pergi?”

Gelengan kepala perempuan itu membuat Raiyan mendesah pelan, kemudian segera pamit pergi kembali melanjutkan langkahnya ke tempat lain. Tujuannya sekarang adalah mencari Raska.

Raska adalah adik kandung Raiyan. Jarak umur mereka terpaut hanya satu tahun. Raska anak yang cerdas, IQ-nya di atas rata-rata. Kepintarannya itulah yang membuat Raska bisa melompati dua kelas sekaligus. Seharusnya Raska sekarang berada di kelas XII, tetapi Raska menolak masuk ke kelas XII. Dia hanya ingin masuk ke kelas XI agar setara dengan abang kandungnya, yaitu Raiyan.

Raiyan mengeluarkan handphone dari saku bajunya, mengutak-atik benda tipis itu sebentar kemudian benda itu dia lekapkan ke telinganya.

Dari benda tipis itu terdengar nada sambung, sepertinya dia sedang menelpon seseorang.

“Aduh, ke mana lagi nih anak. Kenapa juga nggak jawab telpon gue.” Dumelnya lalu kembali mendail nomor telepon itu.

Kembali terdengar nada sambung yang panjang, lagi-lagi panggilannya tidak terjawab.

“Aaah.” Raiyan kembali mendesah.

Kembali memasukkan handphone ke dalam saku Raiyan kembali melanjutkan perjalanan, sekali-kali dia bertanya pada orang-orang yang lewat.

“Hey.” Raiyan menyapa seorang perempuan yang kebetulan lewat.

Niatnya ingin menanyakan apakah dia melihat Raska adiknya, tetapi belum sempat pertanyaan itu terlontar gadis itu keburu memotongnya, gadis itu mengatakan kalimat yang membuat Raiyan semakin gusar.

“Maaf ya Rai, gue nggak bisa ada didekat lo. Nanti gue bisa habis ditangan Ashara.”

“Gue cuma mau nanya doang kok.”

“Nggak bisa Rai, gue nggak mau ngambil resiko. Maaf ya.” Ucap gadis itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Raiyan dengan keterpakuannya.

Memang sejak setahun yang lalu, setelah Ashara mengultimatum bahwa dirinya adalah milik gadis itu, semua perempuan jadi menjauhinya bahkan untuk mengobrol dengannya saja mereka takut. Meskipun mereka tahu bahwa saat itu secara terang-terangan dia menolak Ashara.

#Flashback_On

“Gue Ashara Pinandita.”

Ashara memperkenalkan dirinya. Dia menatap Raiyan yang hanya mendiamkan diri dihadapannya. Dia tersenyum lalu tatapannya turun melihat name tag disaku baju laki-laki itu.

“Gue suka sama lo. Mulai detik ini lo adalah milik gue Raiyan Pratama Adiguna.”

Raiyan terkejut mendengar pengakuan Ashara barusan, tetapi tetap memilih diam.

“So..,”

Ashara sengaja menggantung kalimatnya lalu berbalik menatap perempuan yang ada di sana satu persatu dengan tatapan sengit.

“Gue peringatin lo semua yang ada di sini. Jika lo semua masih mau sekolah di sini gue peringatin jangan ada yang coba-coba dekatin Raiyan gue. Lo semua paham?”

“Sorry, memangnya kamu siapa seenaknya bersikap seperti itu.” Raiyan angkat bicara setelah lama mendiamkan diri.

Jujur, dia tidak suka melihat sikap perempuan dihadapannya ini. Datang-datang langsung main peluk sembarangan, lalu seenaknya mengultimatum bahwa dia adalah miliknya. Apa gadis itu sudah gila?

Ditanya seperti itu Ashara hanya memamerkan senyuman termanisnya, kemudian tangannya ingin merangkul lengan Raiyan tetapi laki-laki itu menepisnya.

“Jangan sentuh aku.”

Bukannya marah Ashara hanya tersenyum menganggap penolakkan Raiyan adalah tantangan baginya.

“Rai, gue suka sama lo. Sekarang lo udah jadi milik gue ya. Lo jangan dekat-dekat dengan perempuan lain, nanti perempuan itu nggak bisa lagi sekolah di sini. Kamu ingat itu ya Rai.” Beritahu Ashara terselimut nada ancaman di sana.

“Aku nggak suka kamu. Kamu tidak berhak melarangku buat dekat dengan siapa saja. Sudahlah, mending kamu jauhi aku.”

“Sayangnya, gue nggak bisa Rai. Hatiku sudah terlanjur memilih dirimu.”

#Flashback_Off

“Hay sayang.”

Kedatangan Ashara didekatnya membuat Raiyan tanpa sadar berdecak kesal. Baru saja tadi dia mengingatnya, gadis itu sudah muncul dihadapannya sekarang.

“Sayang, nanti malam temanin aku ke Mall ya.” Pinta Ashara sambil merangkul lengan Raiyab manja.

Tidak cukup dengan itu, Ashara juga sengaja menyenderkan kepalanya dibahu Raiyan. Tentu saja Raiyan tidak membiarkan Ashara bertingkah seperti itu padanya.

Raiyan menepis tangan Ashara dan mendorong gadis itu menjauhinya, lalu Raiyan menatap Ashara gusar.

“Lo kenapa sih terus-terusan ganggu gue? Gue capek tahu dengan sikap lo Sha. Harus berapa kali lagi gue bilang kalau gue nggak suka sama lo. Berhenti deh gangguin hidup gue.”

Ashara hanya memutar bola mata mendengar kalimat yang Raiyan ucapkan barusan. Kalimat itu sudah berkali-kali dia dengar keluar dari bibir laki-laki itu, saking seringnya Raiyan berkata seperti itu membuat Ashara hapal kalimat itu di luar kepalanya.

Emang dasarnya Ashara keras kepala dia tetap tidak ingin menjauhi Raiyan, walaupun laki-laki itu sudah memintanya ratusan kali.

“Lo denger baik-baik ya sayang. Meskipun lo nolak gue ratusan kali, keputusan gue nggak akan pernah berubah. Lo adalah milik gue dan gue nggak akan menjauh dari lo.” Dengan senyuman Ashara mengatakan hal itu pada Raiyan, membuat tatapan Raiyan makin sinis padanya.

“Ah, terserah lo deh.” Putus Raiyan lalu mulai melangkah pergi dari situ.

Ashara hanya tersenyum dengan tatapan tidak lepas dari Raiyan yang semakin menjauh.

‘Gue beneran sayang lo Raiyan. Gue nggak akan lepasin lo sampai kapan pun. Dan gue nggak akan biarin lo dekat dengan perempuan mana pun. Itu janji gue.’

Setelah Raiyan menghilang dari pandangan, tatapan Ashara berubah sinis. Kemudian dia berpaling menatap kedua sahabatnya.

Tersenyum sinis dia berkata, “Eksekusi perempuan itu.”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here