Dua Kepribadian #05

0
48
views

Calasha sedang membersihkan beberapa meja yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjungnya. Dengan cekatan dia mengambil gelas-gelas kotor itu lalu membawanya ke dapur.

“Win, nih aku nganter gelas-gelas kotor lagi ya.” Beritahunya pada Winda.

Winda yang kebagian tugas membersihkan piring dan gelas kotor menatapnya sinis, merasa tidak suka gadis belia seperti Calasha memerintahnya seperti itu.

“Enak aja lo nyuruh gue, lo cuci aja sendiri. Gue capek tahu.” Ketusnya dengan tatapan kesal luar biasa.

“Tapi kan Win, ini tugas kamu.”

“Ya kali tugas gue, sekali-kali kek gantian lo yang nyuci. Eh, lo itu hanya pekerja part time di sini. Lo bukan siapa-siapa, lo harus patuhi gue selaku pekerja senior.” bentak Winda tetapi tidak cukup keras.

Dia tidak ingin suaranya terdengar sampai ke depan, dan orang-orang melihatnya bersikap seperti ini pada Calasha. Apalagi jika Bos melihatnya, bisa-bisa dia dipecat dari pekerjaannya ini.

“Udah, mending lo cuci tu gelas-gelas kotor. Gue ke depan dulu.”

Calasha hanya mampu memperhatikan kepergian Winda tanpa berani untuk membantah. Menghela nafas dia berbalik, apa boleh buat dia akan menggantikan Winda untuk mencuci semua gelas dan piring yang kotor.

“Eh Win, lo kok di sini? Bukannya di dapur banyak piring dan gelas yang kotor?” Tanya Nilam langsung saat melihat kemunculan Winda di depan.

Winda yang ditanya seperti itu hanya bisa mendelik kesal, lalu melemparkan tatapan sinis kearah perempuan berkuncir kuda dihadapannya.

“Emang.”

“Terus ngapain lo di sini? Dan bukannya di dapur.”

Nilam menatap Winda penuh selidik. Dia tahu betul sifat Winda seperti apa. Lama bekerja di sana, membuat dia sedikit tahu tentang sifat Winda yang suka seenaknya. Winda sangat suka memerintah pegawai lainnya untuk menggantikan pekerjaannya, sementara itu dia akan bersantai ria menikmati waktu istirahatnya sendirian. Nilam curiga jangan-jangan kali ini Winda melakukan hal yang sama. Kali ini siapa lagi korbannya.

“Bukan urusan lo juga kan. Udah ah, malas gue bicara sama lo. Nggak berfaedah sama sekali.” Ketusnya sambil lalu meninggalkan Nilam.

‘Ugh, lama-lama gue aduin juga lo ke Bos biar dipecat sekalian’ dumel Nilam kesal dalam hati.

Kemudian mulai mengambil langkah menuju dapur, dia akan melihat siapa yang menjadi korban Winda kali ini.

“Calasha.” Panggil Nilam kaget setelah melihat Calasha yang bertugas menggantikan Winda.

“Hey Lam.” Sahut Calasha balik.

Dia menoleh kearah Nilam yang berjalan mendekat menghampirinya yang sedang berdiri di depan sinki.

“Apa yang lo lakuin di sini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu Calasha tersenyum lalu menunjukkan gelas ditangannya yang sedang dia sabuni.

“Lagi nyuci kan. Emangnya kamu nggak lihat?”

“Iya, aku tahu. Tapi, ini kan bukan tugas lo. Ngapain juga lo harus repot-repot gantiin si Mak lampir itu.”

“Mak lampir?” Ulang Calasha dengan tatapan bingung mengarah ke wajah Nilam.

“Iya, si Winda itu. Dia lebih pantas dipanggil Mak lampir ketimbang namanya tahu nggak. Jujur ya Sha, gue tu kesal banget sama dia. Selain orangnya nyeselin habis dia juga pandai menjilat Bos.” Cerita Nilam.

“Emangnya Bos nggak marah ya kalau dijilat gitu. Kan jorok.”

“Ha?” Kaget Nilam mendengar ucapan Calasha barusan. “Apa yang lo bilang barusan? Serius, gue yang dengarnya merasa jijik. Lo gimana sih Sha, nggak ngerti pribahasa banget deh.” Sungut Nilam kesal.

“Hahaha, bercanda kali Lam. Iya, aku tahu kok. Eh, kamu udah lama lho di sini. Gimana keadaan di depan?” Tanya Calasha mengingatkan tentang tugas Nilam di depan sana.

“Iya juga ya. Ya udah deh, gue tinggal ke depan dulu ya.” Pamit Nilam kemudian mulai melangkah pergi meninggalkan dapur.

*****

“Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga.” Gumam Calasha pelan.

Saat ini dia sedang di Loker. Di sana dia kembali mengganti seragam kerjanya dengan seragam sekolah. Dia akan segera pulang. Seperti rencananya tadi, dia akan memperbaiki rumah itu sebelum malam datang.

Setelah urusan mengganti seragamnya selesai Calasha segera berlalu pergi.

“Udah mau pulang Sha?” Nilam langsung bertanya saat melihat Calasha melangkah mendekatinya.

“Iya, ship kerja ku udah selesai. Aku pulang dulu ya.”

“Oke, hati-hati ya Sha.”

“Iya.”

Kemudian Calasha berlalu pergi tidak lupa menyapa Yamada yang terlihat sedang sibuk di Bar.

“Mada, aku pulang dulu ya.” Pamitnya dengan senyuman.

Mendengar ada yang menyapanya Yamada menoleh dan tersenyum saat mendapati Calasha didepannya.

“Owh, pekerjaan lo udah selesai ya. Ya udah, hati-hati di jalan.”

Calasha hanya mengangguk kemudian berlalu pergi melanjutkan langkahnya yang tertunda.

“Oh ya Calasha.”

Langkah Calasha terhenti ketika telinganya kembali mendengar suara Yamada dibelakangnya. Berbalik badan, Calasha kembali menoleh kearah lelaki dengan potongan rambut jabrik itu.

“Telpon gue kalau lo udah tiba di rumah, okey.”

“Eleh, emangnya lo siapa Calasha hingga dia harus menelpon lo segala?” Nilam yang tiba-tiba muncul langsung ikutan nimbrung.

Yamada menatapnya sinis, “Apaan sih? Ikut campur aja lo. Pergi lo balik kerja sana.”

“Lo bukan Bos gue Ryu. Gue nggak akan nurutin lo.”

“NILAM.” Yamada mendesis geram dengan pandangan melotot kearah Nilam.

Nilam hanya cekikikan karena kembali berhasil membuat Yamada marah. Ya, dia suka sekali melihat Yamada bereaksi seperti itu. Menurutnya Yamada terlihat dua kali lipat lebih tampan kalau sedang marah. Dan dia menyukai itu.

“Harus berapa kali lagi gue ingatin lo? Lo jangan…,”

“Jangan pernah memanggil gue Ryu. Alaah, gue udah hapal itu di luar kepala kali Ryu. Nggak usah lo ingatin gue lagi ya.”

“Lalu kenapa lo masih memanggil gue begitu, hah?”

“Terserah gue dong, mulut-mulut gue juga.” Balas Nilam kemudian segera melangkah pergi meninggalkan Yamada begitu saja.

“Oke, besok-besok gue sumpal mulut lo pake gelas agar lo berhenti panggil gue Ryu.”

“Lakukan saja kalau memang bisa. Ckckc.”

“Lo perempuan yang menyebalkan yang pernah gue temui, lo tahu itu?”

Tidak ada balasan lagi atas ucapan Yamada barusan. Nilam sudah berlalu masuk ke dapur, mengantarkan piring-piring kotor agar segera dibersihkan.

“Lo lihat kan Sha sahabat lo satu itu, dia begitu menyebalkan.” Yamada menatap Calasha yang kebetulan masih ada dihadapannya.

“Masa sih, perasaan Nilam anaknya asyik kok.”

Mendengar balasan dari Calasha yang memihak Nilam membuat Yamada cemberut.

“Asyik dari mananya, emangnya lo nggak lihat apa yang dia lakukan tadi.”

“Lihat. Dan itu membuat aku berpikir kalau kalian itu cocok banget. Kenapa nggak jadian aja?”

Mendengar ucapan Calasha barusan Yamada terdiam dengan pandangan melotot kaget menatap Calasha, namun didetik berikutnya Yamada malah tertawa. Sedangkan Calasha menatapnya bingung.

“Ada-ada aja sih lo Sha. Lo ngomong apa sih? Ya nggak mungkinlah gue dan Nilam cocok Sha, lo nggak lihat apa tiap hari cekcok mulu udah kayak kuncing dan tikus tahu.” Jelas Yamada menolak tegas persepsi Calasha barusan.

“Kita nggak mungkin jadian.” Sambungnya dengan sisa tawa yang masih ada.

“Kalau kamu nggak percaya nggak papa kok. Ya udah, aku pulang dulu ya.”

“Oke.”

Kemudian Calasha kembali melanjutkan langkahnya keluar dari Ran’s Cafe. Namun baru beberapa langkah keluar dari Cafe, langkahnya kembali terhenti ketika lagi-lagi ada yang memanggilnya.

“Calasha.”

Winda menoleh dengan cepat saat mendengar satu suara yang begitu dikenalnya memanggil Calasha, dia melihat seorang lelaki berjas rapi berjalan pelan menghampiri Calasha di luar Cafe.

Pemandangan itu membuat cengkraman tangan Winda pada kain lap menguat, dia tidak suka melihat pemandangan itu.

Tatapannya menajam seiring melihat kedua orang itu tampak mengobrol mesra di luar Cafe. Ingin mengetahui apa yang sedang dua orang itu bicarakan Winda berjalan mendekat, berpura-pura membersihkan meja didekat jendela kaca yang terbuka.

“Iya Pak, ada apa?” Tanya Calasha pada laki-laki yang barusan memanggilnya.

Dia menatap laki-laki dihadapannya yang kebetulan adalah pemilik Cafe sekaligus Bos di Ran’s Cafe. Randa Sanjaya itu namanya.

“Jangan panggil aku Bapak Sha. Aku kan baru 22 tahun. Panggil Randa saja ya.” Dengan senyuman Randa mengatakannya.

“Tapi Pak, saya nggak mungkin bersikap tidak sopan seperti itu. Saya nggak bisa panggil Bapak dengan nama saja.” Calasha menolak dengan sopan.

“Ah, nggak papa kok. Panggil nama saja ya.”

“Gimana kalau saya panggil Kakak saja, itu lebih terlihat sopan kan?”

Randa terdiam dengan pandangan tidak lepas dari wajah cantik Calasha, dia sedang menimbang-nimbang saran yang dikatakan Calasha tadi. Kalau boleh jujur dia tidak ingin Calasha memanggilnya Kakak, tetapi sepertinya itu lebih baik dari pada dipanggil Bapak.

Calasha memperhatikan Pak Randa dihadapannya yang tampak berbeda hari ini. Dia tidak tahu mengapa laki-laki itu bertingkah aneh seperti ini.

Tiba-tiba memanggilnya lalu meminta hal yang tidak wajar padanya, masa iya dia harus memaggil Bos dengan nama saja. Apa kata orang-orang nanti?

“Ya udah deh, kamu boleh panggil aku Kakak.” Jawab Randa setuju dengan saran yang diberikan Calasha barusan.

“Oke Kak. Hmm, apa Kakak manggil saya cuma mau mengatakan hal ini? Kalau nggak ada hal yang lain lagi saya boleh pamit pulang.”

“Hmm itu..,”

Randa mendadak jadi salah tingkah membuat kata yang ingin dia ucapkan terasa nyangkut di tenggorokkan, susah sekali untuk diucapkan.

“Apa Kak?” Tanya Calasha lagi.

Dia merasa ada yang ingin Randa sampaikan padanya, tetapi laki-laki itu ragu untuk mengatakannya. Dia jadi semakin bingung dengan sikap Randa sore ini.

“Gini, apa nanti malam kamu ada acara lain?” Tanya Randa pada akhirnya.

Dia menghembuskan nafas lega bisa bertanya hal itu pada Calasha. Rencananya dia ingin mengajak Calasha jalan malam ini, itupun kalau Calasha tidak sedang ada acara nanti malam.

Winda yang tampak fokus memperhatikan kedua orang itu tidak menyadari kehadiran Nilam disampingnya. Nilam merasa penasaran apa yang sedang diperhatikan Winda hingga membuat wajah Winda berubah sebengis itu. Ternyata yang dilihat Winda adalah Randa yang sedang mengobrol dengan Calasha.

Nilam tersenyum melihat pemandangan itu, setidaknya dia bisa balaskan rasa kesalnya pada Winda melalui Calasha.

Dia tahu betul kalau Winda diam-diam memiliki perasaan lebih untuk Randa, bisa dibilang Winda menyukai Randa.

“Dasar penjilat sok cantik.”

“Siapa yang lo maksud barusan?”

Winda terperanjat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari seseorang disampingnya. Dia menoleh dan saat mendapati Nilam didekatnya Winda mendengus kesal. Tidak ingin meladeni Nilam dia memutuskan berlalu dari situ.

“Kayaknya lo harus siap-siap patah hati deh Win.” Ucapan Nilam barusan seketika membuat langkah Winda terhenti.

Dalam hati bertanya-tanya apa maksud perkataan Nilam barusan.
Patah hati?

“Pak Randa sepertinya menyukai Calasha dan mereka akan jalan nanti malam. Wow, mereka memang pasangan yang serasi.” Dengan penuh penekanan Nilam mengatakannya.

Dia sengaja melakukan itu ingin memanas-manasi Winda yang selama ini sudah keterlaluan padanya. Dia ingin membuat Winda merasakan kekesalan yang dia rasakan selama ini.

‘Emang enak. Kesal kan lo? Rasain.’ Kutuk Nilam dalam hati.

Kemudian Nilam berlalu pergi meninggalkan Winda kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Winda masih berdiam diri di sana dengan kedua tangan yang semakin terkepal kuat.

‘Kurang ajar, tidak akan aku biarkan dia merebut Pak Randa dariku. Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan pada dirimu Calasha’

Kemudian Winda kembali melangkah pergi dengan satu tekad yang kuat, yaitu menyingkirkan Calasha dari kehidupan Randa untuk selamanya.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here