Dua Kepribadian #04

0
145
views

Resty memakai kaca mata bacanya dan mulai membaca satu persatu data seluruh murid di dalam lap-top. Sudah menjadi tugasnya memeriksa nilai yang dicapai para murid setiap tahunnya. Bagi murid dengan nilai tertinggi akan terpilih untuk mengikuti olimpiade yang diselenggarakan seluruh sekolah setiap tahunnya.

Akan tetapi, belum ada setengah Resty baca hembusan nafas berat dia keluarkan. Baru membaca awalnya saja sudah membuat dia kesal. Tetapi meskipun begitu dia harus tetap melanjutkan membaca data-data tersebut.

Menghela nafas dia kembali melanjutkan membaca. Setiap menemukan murid sesuai kriteria dia menulis nama itu di buku cacatan. Begitulah seterusnya hingga selesai.

Selesai membaca dia kembali melihat catatannya. Di sana tertera tulisan tangannya yang menuliskan nama-nama murid yang nilainya tinggi. Ada sepuluh nama murid di situ.

Sepuluh?.

“Apa-apaan ini?” Mendengus kasar Resty melepaskan kaca matanya, kemudian satu tangannya yang bebas mengurut keningnya yang tiba-tiba pusing.

“Sebenarnya apa yang mereka lakukan selama ini?. Belajar atau malah main-main.” Dumelnya tak habis pikir.

Resty kesal karena nilai-nilai muridnya sama sekali tidak mencapai KKM, penurunan yang begitu dratis tahun ini.

Memang tidak semua murid nilainya buruk. Hanya saja, dari sekian banyaknya murid hanya ada beberapa orang yang nilainya melebihi KKM. Sungguh memalukan.

Salahnya sendiri. Harusnya dia tidak hanya memasukkan anak-anak dari kalangan keluarga berada saja. Kebanyakkan dari mereka tidak memiliki keseriusan dalam belajar. Beginilah jadinya, nilai yang mereka hasilkan tidak sesuai keinginannya.

Bangkit dari duduknya Resty melangkah keluar dari ruangannya. Dia harus melakukan sesuatu untuk kembali mendongkrak nilai-nilai mereka.

*****

Lapangan basket kini sedang ramai. Hampir semua murid perempuan ada di sana. Mereka sedang menyaksikan permainan Basket antara kelas XI Fisika 1 dan kelas XI IPA 2.

Keadaan begitu penuh sesak.
Teriakkan para cewek yang membahana setiap kali jagoan mereka berhasil mencetak poin, membuat lapangan yang biasanya sunyi-senyap menjadi riuh.

Yang menjadi tokoh sang idola di sini adalah Raiyan Pratama Adiguna. Sang Kapten basket di kelas XI IPA 2.

Raiyan merupakan laki-laki kedua yang diidolakan semua murid perempuan di SMA High School. Selain memiliki rupa yang begitu tampan Raiyan sangat baik, sopan dalam bertutur kata dan murah senyum.

Kebaikkan hati Raiyan itulah membuat semua murid perempuan berani mendekatinya tanpa takut dibentak maupun dicuekin.

Mumpung Raiyan lagi jomblo mereka berlomba-lomba mendekati Raiyan, namun mendekati Raiyan hanya bisa mereka lakukan setahun yang lalu.

Ketika itu Raiyan masih berada di kelas X sebagai seorang murid baru. Ketampanan yang dia miliki membuat seluruh murid perempuan mengaguminya. Dalam waktu sesingkat mungkin namanya sudah dikenal banyak orang, bahkan dia ditetapkan sebagai cowok terganteng nomor dua di Sekolah.

Saat itu mereka masih bisa mengobrol, memberikan Raiyan cokelat, mawar bahkan barang-barang berharga lainnya. Tetapi setelah kedatangan Ashara Pinandita sebagai murid pindahan di Sekolah itu, tidak ada yang berani mendekati Raiyan karena gadis itu sudah menetapkan bahwa Raiyan adalah miliknya.

#flashback_On

“Raiyan..”

Mendengar seseorang memanggilnya membuat Raiyan menoleh, tatapannya bertemu dengan mata seorang gadis dengan potongan rambut paras bahu.

“Ya.” Raiyan menjawab gadis itu dengan senyuman.

Melihat pria dihadapannya tersenyum membuat gadis itu menjerit histeris, terpesona. Sedangkan Raiyan hanya tersenyum dengan rekasi gadis dihadapannya yang terlihat begitu lucu.

Baginya pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi, hampir setiap hari dirinya menjadi pusat perhatian semua murid perempuan. Dia tidak tahu kenapa semua perempuan itu begitu tertarik padanya. Yang dia tahu semua perempuan itu mendekatinya karena mereka menyukai wajah tampannya.

“Ini.”

Raiyan melihat cokelat yang barusan diulurkan gadis itu padanya, gadis itu memberinya sebatang cokelat lengkap dengan surat yang sengaja diikat menggunakan pita.

“Untuk aku?” Raiyan menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan cokelat itu memang untuknya atau…,

“Iya, cokelat ini untuk kamu Rai.” Dengan senyuman gadis itu menjawab pertanyaan Raiyan barusan.

Raiyan tersenyum lalu mengambil cokelat itu dari tangan gadis dihadapannya, “Makasih ya cokelatnya. Hmm, nama kamu siapa ya?”

Pertanyaan Raiyan barusan membuat gadis dihadapannya bengong, tidak menduga-duga Raiyan akan menanyakan namanya. Ini sesuatu yang begitu membuat hatinya senang luar biasa.

Tersenyum senang dia mengulurkan tangannya berharap Raiyan menyambutnya, “Nama aku Malla Rai.”

“Oke Malla, cokelatnya akan aku makan nanti. Kalau begitu, aku pergi dulu ya.” Pamit Raiyan kemudian melangkah pergi.

Tetapi baru beberapa langkah dia menjauhi Malla, beberapa orang perempuan mulai mengerumuninya seperti selalu. Seperti biasa mereka memberikan Raiyan cokelat dan bunga. Dan seperti biasa pula Raiyan akan meladeni mereka dengan senang hati.

Secara sepintas Raiyan memang terlihat seperti seorang playboy karena dikelilingi banyak perempuan, tetapi percayalah Raiyan bukan laki-laki seperti itu.

Sifat Raiyan yang terlalu baik membuat dia mudah berteman dengan siapapun, dia hanya menganggap para perempuan itu teman tidak lebih dari itu.

“Rai, ada waktu nggak nanti malam?” Pertanyaan itu terlontar dari seorang perempuan yang dikenal sebagai Febryana.

“Emangnya kenapa Feb?”

“Jalan yuk nanti malam.”

“Aduh, gimana ya?” Raiyan tampak ragu dengan tatapan lurus ke wajah Febriana.

“Gimana? Nggak bisa ya?”

Brrrmmm…bbrrrmmm

Suara mobil yang begitu keras saat memasuki halaman Sekolah, membuat perhatian mereka kini tertuju pada mobil Lambhorgini yang melaju kencang kearah mereka. Tentu saja, hal itu membuat para perempuan di sana kontan menjerit histeris.

Mereka semua mundur menjauh dari tempat mereka berdiri, tetapi tidak cukup jauh dari Raiyan.

Tepat dihadapan Raiyan kira-kira hanya berjarak beberapa centi Lambhorgini merah itu berhenti tepat waktu, beruntung seseorang itu tidak menabrak Raiyan.

Tidak berselang lama kemudian pintu mobil itu terbuka, seseorang keluar dari sana. Seorang perempuan berkacamata hitam bertengger cantik dihidungnya.

Kata pertama yang terbesit dibenak semua orang yang melihatnya adalah kata ‘Cantik’. Ya, perempuan itu sangat cantik.

Perempuan itu melepaskan kacamatanya lalu menatap keadaan sekitar. Saat pandangannya bertemu dengan wajah-wajah orang disekitarnya, pandangan meremehkan langsung dia lontarkan begitu saja.

‘Iuw, kenapa gue harus dipindahkan ke sini sih? Mama benar-benar keterlaluan.’ Gadis itu mendongkol dalam hati, mengutuk Mamanya yang seenaknya memindahkan dirinya di sekolah seperti ini.

Bercampur baur dengan kalangan rendah seperti orang-orang disekitarnya yang berwajah jelek. Ini bukan dirinya banget.

‘Gue nggak mau sekolah di tempat ini, mending gue balik lagi ke London.’

Perempuan itu berniat hendak pergi tetapi niatnya terhenti saat pandangannya bertemu dengan seraut wajah Raiyan.

‘Wow, cakep juga nih cowok. Nggak nyangka gue di tempat seperti ini ada juga cowok seperti dia. Hmm, sebaiknya gue ikutin aja deh maunya Mama ingin gue sekolah di sini. Toh, sepertinya Sekolah ini nggak buruk-buruk banget.’

Kemudian perempuan itu berjalan anggun mendekati Raiyan. Tiba didekat Raiyan dia memeluknya begitu saja, tentu saja tindakkannya membuat semua orang shock berat.

“Gue Ashara Pinandita.” Perempuan itu memperkenalkan dirinya setelah terlebih dahulu melepaskan pelukkannya dari Raiyan.

Dia menatap Raiyan yang hanya diam dihadapannya dengan senyuman, lalu tatapannya turun melihat name tag disaku baju laki-laki itu. “Gue suka sama lo. Mulai detik ini lo adalah milik gue Raiyan Pratama Adiguna.”

“So..,” kemudian berbalik Ashara menatap perempuan yang ada di sana satu persatu dengan tatapan sengit. “Gue peringatin lo semua yang ada di sini. Jika lo semua masih mau sekolah di sini gue peringatin jangan ada yang coba-coba dekatin Raiyan gue. Lo semua paham?”

#Flashback_Off

Ashara dikenal sebagai seseorang yang tidak punya perasaan. Dia selalu bersikap seenaknya, suka memerintah dan terkenal kejam. Itulah sebabnya tidak ada satupun orang yang berani mencari masalah dengannya.

Kembali ke lapangan di mana saat ini Raiyan sedang memegang bola ditangannya. Dia sedang berusaha menghindari para lawan yang ingin merebut bola itu. Tatapan Raiyan begitu fokus ke depan mencari celah diantara orang-orang yang sedang menghadang langkahnya.

Menemukan celah dengan gerakkan cepat dia berputar melewati orang-orang itu lalu langsung melemparkan bola itu ke ring.

Bola itu meluncur laju kearah ring. Ketegangan mulai terjadi di sana. Detik demi detik berlalu begitu saja. Semua orang menanti bola itu masuk ke ring.

“Perhatian semuanya.”

Suara seseorang yang tiba-tiba muncul melalui mickrofon membuat perhatian mereka teralihkan. Mereka kenal betul pemilik suara itu. Ya, itu adalah suara Bu Resty.

“Tolong perhatikan kata-kata yang saya ucapkan. Saya tidak akan mengulang ucapan saya ini.”

Mendengar keseriusan dalam bicara Resty membuat semua murid yang mendengarkan menjadi tegang. Bahkan bertanya-tanya apa yang akan disampaikan Kepala Sekolah itu pada mereka.

“Jujur, saya sebagai Kepala Sekolah di sini benar-benar kecewa dengan nilai yang kalian capai tahun ini. Nilai yang kalian dapatkan kali ini begitu buruk, sangat buruk. Saya tidak habis pikir dengan kalian ini. Sebenarnya kalian datang ke sekolah itu untuk apa, untuk belajar atau hanya untuk main-main? Kalau begini terus kalian bisa-bisa tinggal kelas.”

“Ha, masa sih nilai gue buruk. Padahal gue udah belajar dengan giat.”

“Terus gimana dengan gue. Gue aja nggak pernah belajar sama sekali. Masa iya sih gue harus tinggal kelas tahun ini.”

Kira-kira begitulah tanggapan sebagian orang yang mendengar pemberitahuan Resty barusan. Ada yang khawatir bahkan ada juga yang santai-santai saja, merasa nilai buruk itu bukanlah hal yang perlu ditakuti.

“Saya ingin kalian tingkatkan lagi pelajaran kalian. Bulan depan nilai kalian sudah harus berubah. Untuk itu saya akan mengadakan kelas tambahan yang akan di adakan setiap malam minggu. Semua murid diwajibkan untuk ikut.”

Banyak yang tidak terima dengan keputusan Resty barusan, tetapi untuk protes secara langsung mereka tidak mampu. Resty terkenal sebagai Kepala Sekolah yang tegas dan galak, jika ‘A’ katanya maka tidak akan bisa berubah menjadi ‘B’. Resty sudah memutuskan akan mengadakan kelas tambahan setiap malam minggu, mau tidak mau mereka harus terima keputusan itu.

“Apaan sih Mama lo Sha? Masa iya mau ngadain kelas tambahan di malam minggu. Malam itu kan jadwal gue kencan dengan Robert.” Nathala protes dengan wajah masam, tidak terima dengan keputusan Bu Resty barusan.

Ashara mendelik kesal, “Lo protes jangan ke gue. Tu pergi sana protes di depan orangnya langsung.”

“Ya kali Nathala berani Sha. Bu Resty kan galak orangnya.” Vayra menimpali dengan senyuman miring kemudian tangannya meraih orange juice dan meminumnya.

“Ya udah, kalo nggak berani nggak usah protes. Kalo nggak mau ikut pelajaran tambahan nggak usah ikut sekalian. Gue sih malas, mending gue ke Mall.”

“Ide bagus tu, mending malam minggu besok kita ke Mall.” Vayra menyetujui ide yang Ashara berikan.

“Ide bagus sih, tapi Sha gimana kalo Bu Resty marah? Lo nggak takut?”

Mendengar pertanyaan yang Nathala lontarkan membuat Ashara tertawa garing.

“Lo bilang apa barusan, takut? What, nggak salah dengar tu gue?” Tanyanya dengan senyuman mengejek terukir jelas diwajahnya yang cantik.

“Lo denger ya Nat, nggak ada sejarahnya gue takut sama siapapun. Lo bilang gue takut sama Bu Resty?” Tanya Ashara lagi.

“Lo itu bego atau apa sih Nat? Bu Resty itu Mama gue. Semarah-marahnya Bu Resty, dia nggak bakalan DO gue dari sekolah.”

“Iya juga sih. Ya udah, besok gue bisa dong pergi kencan. Yee,, asyik. Jadi nggak sabar buat besok malam.”

“Idih, norak banget sih lo.”

Nathala tidak menanggapi ucapan Vayra barusan yang terkesan meledeknya. Lebih baik dia memikirkan akan memakai baju apa untuk kencan besok malam. Dia ingin tampil secantik mungkin untuk kencan itu. Ya, tampil cantik hanya untuk Robert.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here