Diselingkuhin Tetap Elegan

0
184
views

Menikah hampir sepuluh tahun, belum juga dikasih momongan lagi. Sebenarnya, Nara pernah hamil dan melahirkan saat pernikahan menginjak tujuh tahun, akan tetapi takdir berkehendak lain. Bayi yang baru lahir entah kenapa tiba-tiba mengalami gagal jantung dan akhirnya meninggal dunia.

Satu tahun sang istri terpuruk dalam kesedihan atas kehilangan anaknya. Seolah dunianya hancur, suami pun terabaikan. Akan tetapi karena tuntutan pekerjaan, Nara yang bekerja sebagai kepala staf diharuskan bangkit. Suami Nara bekerja di perusahaan yang sama namun tentunya dengan jabatan yang lebih tinggi sebagai Manajer.

Diam-diam Juna ternyata menjalin Asmara dengan salah satu karyawan dalam tim yang sama dengan istrinya. Tidak butuh lama bagi Nara untuk mengetahui perselingkuhan Juna, karena sebenarnya dia mendapatkan SMS yang memberitahukan bahwa suaminya selingkuh dengan karyawan dalam satu timnya.

Nara dengan tenangnya mencari tahu, sikapnya pada Juna tentu lebih acuh dan dingin. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata perempuan yang jadi selingkuhan suaminya itu adalah anak dari Bosnya sendiri.

Nara mengambil keputusan untuk memberitahu perihal tersebut pada semuanya dalam jamuan makan malam bersama Bos, istri dan juga Yuli. Karena ini adalah undangan dari Bosnya tentu Juna ikut hadir.

“Maaf Pak, Bu ada yang ingin saya sampaikan di sini. Yuli dan suami saya ternyata mereka saling mencintai. Ada kedekatan yang terjalin diantara keduanya di belakang saya.” Ucap Nara.

“Maksud kamu apa Nara? Kamu salah paham, saya memang yang menyuruh Juna membantu Yuli dalam pekerjaannya, karena Yuli masih awam di dunia kerja.” Jelas Pak Damar.

“Ini Pak, buktinya.” Nara menyerahkan Poto Yuli yang tengah memeluk Juna dari belakang.

Makan malam pun jadi berantakan. Nara bergegas keluar yang disusul oleh Juna.

“Sayang, tunggu.” Panggil Juna.

“Kenapa? Kamu kaget? Ternyata aku tau siapa perempuan itu. Menjijikan. Aku yang akan putuskan kedepannya soal hubungan kita. Jangan harap hidupmu akan tenang.” Nara mengumpat.

***

Nara sosok perempuan tangguh yang bisa menahan amarah dengan cara yang sangat elegan. Perselingkuhan suaminya seolah bukan apa-apa baginya. Walaupun sudah pasti hatinya hancur, tapi Nara merasa percaya diri, dia perempuan pintar terlebih dalam pekerjaannya. Akan menjadi hal yang sangat memalukan dan bodoh jika harus terpuruk hanya karena seorang pelakor.

Diatas adalah gambaran drama yang Mak tonton. Iri rasanya sama Nara. Dia pintar, punya uang, punya jabatan jadi walaupun diselingkuhin dia tetap terlihat elegan dan jikalau harus pisah dengan suami hidupnya masih berdiri kokoh.

Pelakor memang tercipta untuk menghancurkan rumah tangga, bahkan sepertinya pelakor itu jelmaan iblis yang menyamar sebagai manusia.

Laki-laki yang berselingkuh pun pada dasarnya dia memang mempunyai gen atau keturunan sebagai peselingkuh. Entah itu dari kakek buyutnya, saudara bahkan orangtuanya sendiri yang pernah selingkuh atau suka main mata dengan orang lain. Dan ‘penyakit’ itu akan menular pada keturunannya. Kalaupun tidak, peselingkuh tercipta dari lingkungan yang tidak sehat.

**

“Makanya perempuan itu harus mandiri, harus bisa cari uang sendiri.”

“Jangan mengandalkan suami doang. Kalo ditinggal tau rasa deh susah.”

Nada sumbang seperti itu pun Mak nggak setuju. Perempuan menikah yang ditakdirkan jadi ibu rumah tangga SAJA. Bukan berarti dia lemah, justru dia perempuan tangguh yang mampu menahan ego, mampu sedikit menahan rasa kepercayaan dirinya untuk tidak tampil di atas suaminya. Dia cukup punya keyakinan kuat kalau perempuan menikah itu sudah jadi tanggung jawab suaminya.

Dia justru mempercayakan hidupnya pada suami sepenuh hati dengan niat bulat yaitu ibadah.

Perempuan menikah yang bekerja pasti punya alasan tersendiri. Kenapa dia harus bekerja, kenapa dia harus meninggalkan rumah dan juga anak-anaknya. Pastinya dia pun ada rasa sedih karena setelah menikah dan jadi ibu harus tetap berpeluh dalam dunia pekerjaan.

Jadi kesimpulannya, sama saja seperti ini.

‘Jodoh itu cerminan diri. Jangan berharap mendapatkan yang terbaik, jika belum berhasil mendapatkan versi terbaik dari dalam dirinya sendiri.’

Pelakor biasanya berjodoh dengan peselingkuh. Wanita pekerja biasanya berjodoh dengan pria yang menjunjung demokrasi. Dan perempuan menikah yang memilih jadi ibu rumah tangga biasanya berjodoh dengan laki-laki sederhana namun punya cita-cita tinggi untuk memuliakan keluarganya.

Di selingkuhin? Insyaa Allah nggak akan terjadi kalau kita terus selalu berusaha jadi versi terbaik, kecuali Allah sudah menentukan takdir berbeda untuk menguji keimanan seseorang.

Cukup sekian dan terimakasih, karena ini persepsi dari Mak pasti akan ada pro dan kontra. Yang berarti segala sesuatu tidak ada yang sempurna, semua relatif tergantung siapa yang menilai.

**Wassalam**

Penulis : Evi Septiani Dewi

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here