Dilema Cinta #23

0
204
views

Cinta terlonjak bangun dari tidurnya, deru nafasnya terdengar tak beraturan. Ia meraup wajahnya yang basah oleh keringat.
Syukurlah hal itu hanya mimpi, dia tidak bisa bayangkan jika mimpi itu kenyataan. Dia tidak akan rela dan tidak akan pernah ikhlas membiarkan Ridho pergi dari hidupnya. Ia menghela nafas lega, lalu meraih gelas berisi air putih dan meminumnya.

Cinta memang selalu menyiapkan air putih di kamarnya untuk ia minum di saat ia merasa haus, karena dia merasa malas kalau harus turun ke dapur di tengah malam hanya demi segelas air putih.

Setelah gelas itu kosong Cinta meletakkan kembali ke atas meja, dia tidak segera berbaring untuk kembali tidur. Melainkan hanya duduk termenung di tepi tempat tidur seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

Dilema?
Hal inilah yang saat ini ia rasakan.
Apa yang harus ia lakukan?
Akankah dia memaafkan keduanya dan melupakan semua perbuatan yang mereka lakukan padanya.

Tetapi kembali ke ucapan Mamanya tadi, sepertinya dia memang harus memaafkan mereka sebelum sesuatu yang buruk menimpa Ridho. Mimpi buruknya tadi menguatkan dia untuk datang besok menjenguk Ridho, tekadnya kuat untuk kembali berbaikan dengan sahabat semasa kecilnya itu sekaligus cintanya kepada Ridho.

Diam sejenak seakan teringat sesuatu, Cinta mengalihkan pandangan ke segala arah. Tak cukup dengan itu dia juga ikut beranjak mencari sesuatu yang sempat ia lupakan.

Cinta membuka laci meja kaca riasnya, disana ia menemukan apa yang ia cari. Surat bersampul biru titipan Ridho yang belum sempat dia baca, dengan senyuman dia membawa surat itu ke tempat tidur lalu membacanya.

Salam sayang untuk mu Cinta ku.

Hay Ta.
Gimana kabar mu hari ini?
Aku harap hari mu baik selalu ya.

Saat kamu menerima surat ini, tentu kamu akan menganggap aku orang yang aneh.
Di zaman modern seperti ini dimana alat-alat komunikasi semakin canggih, namun dengan kuno nya aku malah menulis surat untuk mu.
Kamu tentu akan menertawai kebodohan aku ini.
Tapi begitulah aku Ta.
Rasanya lebih enak menulis di lembaran kertas putih ini, mengungkapkan apa pun yang aku rasakan.
Hanya dialah pendengar yang baik untuk menceritakan apa pun tanpa takut di ledek mau pun di hina dan di maki.

Aku kebanyakan ngomong yang gak penting kan Ta, ya udah aku langsung aja deh ke pokok pembahasan.

Ta, mungkin saat kamu membaca surat ini aku udah gak di Jakarta lagi.
Aku udah pulang Ta ke tempat Mama dan Papa aku.
Iya Ta, sekarang aku udah di London.

Sesuai dengan permintaan mu.
Aku pergi Ta.
Aku gak akan bertemu kamu lagi.
Dan aku gak akan kembali.

Maafkan aku Ta.
Aku udah gak jujur ke kamu.
Bukan maksud ku untuk menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
Aku hanya tak ingin merusak kebahagiaan mu saat itu dengan Risky.
Kamu terlihat bahagia bersamanya Ta.

Satu yang harus kamu tahu Ta.
Meski pun nanti aku gak bisa bertemu kamu lagi, aku akan tetap mencintai mu.
Kamu gak akan tergantikan oleh siapa pun.
Meskipun cinta ku ini tak terbalas.
Percayalah aku akan tetap mencintai mu sampai akhir hayat ku nanti.

Love yang selalu mencintai mu.

RIDHO JUANDRA.

Cinta kembali melipat surat di tangannya, kini wajahnya sudah di banjiri air mata.
Ia menyesal.
Ia sudah bersikap berlebihan pada Ridho, tak semuanya salah lelaki itu.
Risky dan dia juga salah.
Tak seharusnya Ridho yang di persalahkan.
Disini Ridholah yang jadi korban atas kecurang Risky dan ketidakpekaannya.

Cinta menatap bangunan berwarna putih di hadapannya, ada kilatan ketakutan tergambar di wajahnya. Rumah sakit dimana Ridho di rawat tak jauh berbeda dengan yang ada di dalam mimpinya.

Mendadak kakinya terasa lemah untuk melangkah, kilasan balik tentang mimpinya kembali bermunculan di kepalanya membuat tubuhnya semakin menggigil ketakutan.

Menguatkan hati Cinta memutuskan untuk tetap melangkah. Dia harus segera mengunjungi Ridho, dia sudah sangat merindukan lelaki itu.

Setelah mendapat petunjuk dari resepsionis tentang letak kamar inaf Ridho, Cinta segera berjalan ke arah letak kamar itu.

Disana Cinta mendapati Risky tampak sedang duduk sendirian, tersenyum sesaat ia memutuskan melangkah mendekat.

“Hey!”

Merasa di tegur seseorang Risky mengangkat kepala ingin melihat siapa yang menyapanya barusan.

“Cinta?”

Rasa terkejutnya membuat dia segera berdiri, tatapannya kini menatap penuh keingin tahuan pada gadis itu.
Kenapa Cinta ada di sana?
Apa mungkin Cinta sudah memaafkannya?.

Cinta mengernyit merasa tak suka melihat keadaan Risky yang sekarang.
Lelaki itu tampak tidak terurus.
Dengan pakaian yang kusut, rambut yang berantakan serta wajahnya menyimpan kelelahan yang teramat sangat.

“Gue pikir lo gak bakalan datang” Kata Risky memgawali obrolan.

“Gue gak ingin menyesal nantinya Ky kalau gue tetap kekeuh dengan kebencian gue terhadap kalian. Terutama pada Ridho”

“Kalau gitu lo maafin kita?” tanya Risky memastikan.

Saat Cinta menganggukkan kepalanya Risky segera menarik gadis itu untuk di peluknya. Dia senang akhirnya mendapatkan kemaafan dari sahabatnya itu.

“Gue senang kita baikan lagi”

Suara alarm yang berdengung kuat membuat pelukan mereka terlerai, suara itu berasal dari kamar di hadapan mereka, Kamar Ridho.

Tak berselang lama pintu itu terbuka memperlihatkan seorang suami-istri yanh wajahnya di hiasi kemuraman, Itu Tante Murny Dan Km Narendra. Mereka terpaksa keluar Karen sister yang meminta, Ridho harus do periksa.

Bayangan-bayangan mengerikan menyusup masuk ke dalam ingatanku, membuat kaki ku melemah. Aku tak ingin kejadian mimpi ku akan menjadi nyata, aku sangat berharap Ridho selamat.

“Tante, apa yang terjadi?”

“Tante tidak tahu Ta, tiba-tiba saja denyut jantungnya melemah!”

“Lo harus selamat Dho” bisik ku dalam hati.

Detik berganti menit kami menunggu dengan gelisah, berharap pintu di hadapan mereka segera terbuka.

Penantian mereka membuahkan hasil pintu tampak bergerak terbuka memperlihatkan Dr. Ana, wanita itu tersenyum lebar. Sepertinya membawa kabar yang baik.

“Gimana dengan anak saya, Dok?” tanya Tuan Narendra mewakili yang lainnya.

“Alhamdulilah, sekarang anak bapak dan ibu sudah sadar. Memang jantung pasien sempat melemah, akan tetapi ia mampu melewati masa kritisnya” balas Dr. Ana.

Rona-rona kebahagian pun menghiasi wajah-wajah yang semula suram dan mendung, Murny sampai meneteskan air mata bahagia. Ia mengucap syukur pada Allah telah menyembuhkan anaknya.

“Apa kami bisa melihatnya Dok?”

“Boleh, tapi jangan terlalu sering membawa pasien mengobrol. Dia belum begitu pulih sepenuhnya!”

“Iya Dok, terima kasih!”

Ridho mendengar seseorang membuka pintu di ikuti rentak kaki mendekat, mata yang semula terpejam perlahan mulai terbuka memperlihatkan netranya yang berwarna abu-abu.

Pertama kali yang ia lihat adalah wajah Papa dan Mamanya lalu wajah Risky yang sedang tersenyum, lalu ke wajah Chiara yang juga tersenyum. Mendadak ia merasa menyesal harus sadar hari ini. Ia menghela nafas saat tak melihat Cinta di antara mereka.

“Ka….li…hann”

“Jangan bicara dulu sayang, kamu belum pulih betul” Murny menasehati Ridho agar dia tidak usah mengobrol.

“Syukurlah Dho, lo akhirnya sadar juga!” kata Chiara dengn senyuman. “Nih Dho, gue bawa bingkisan buat lo, di makan ya!”

Chiara meletakan sekeranjang buah-buahan di meja samping ranjang Ridho, lelaki itu hanya mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih.

Lama mereka terlibat dalam obrolan kosong, sampai akhirnya Risky tampak beranjak membisikan sesuatu ke Papanya. Entah apa yang lelaki itu katakan, tapi yang jelas tatapan Narendra kini tertuju pada Ridho. Hanya sesaat lalu kembali membisikan ke telinga istrinya, Mamanya hanya tersenyum penuh arti dan maksud terselubung.

“Sepertinya kita harus keluar deh, Dho. Gantian ama yang di luar!” beritahu Risky membuat Ridho menatapnya bingung.

“Siapa?”

Risky hanya mengedikan bahu dan tersenyum saja. Lalu mereka pamit untuk keluar dari ruangan. Saat melihat espresi di wajah-wajah itu Ridho dapat menyimpulkan orang yang akan menggantikan mereka tentulah orang yang membosankan. Memutuskan tidak ingin berbicara dengan orang itu, Ridho memejamkan matanya berniat untuk tidur.

Ridho dapat mendengar pintu terbuka lalu di tutup lagi, ia juga merasakan seseorang menduduki bangku yang ada di samping kanannya. Namun dia tidak mendengarkan sepatah kata pun yang keluar dari orang itu, membiarkan ruangan dalam keadaan sunyi tak bersuara.

Tahu-tahu dia merasakan seseorang menggenggam tangannya, tangan yang begitu dingin saat tersentuh kulitnya. Perlahan kelopak matanya mulai terbuka, kini netranya saling terhubung dengan iris cokelat milik Cinta.
Jujur ia katakan, dia sangat terkejut.

“Ta…,”

“Ssshh, jangan bicara dulu. Kamu masih belum pulih betul!”

Ridho menggeleng protes ia ingin berbicara, tidak mau hanya mendiamkan diri.

“Aku sehat kok!” dengan suara lirih Ridho mengatakannya membuat Cinta tersenyum.

“Sehat apanya? Kamu baru sadar tahu dari koma!” Cinta bersuara tegas, ia lalu membantu Ridho untuk duduk bersandar di ranjangnya.

“Kamu udah maafin aku?”

Mendengar pertanyaan Ridho membuat Cinta menatapnya lama, di detik berikutnya ia tersenyum. Senyuman yang sangat manis menurut Ridho.

“Harusnya aku yang minta maaf ke kamu, aku udah bersikap kasar ke kamu. Maafin aku ya!”

“Aku bahkan tidak mengingat hal itu lagi” jawab Ridho dengan senyuman.

Diam sejenak.
Keduanya memilih mendiamkan diri dengan saling bertatapan, entah apa yang mereka pikirkan.

“Lho, sejak kapan lo-gue berganti aku-kamu?” Cinta bertanya dengan senyuman.

“Sejak hari ini” balas Ridho sekenanya.

Ridho menarik tangan Cinta agar bisa di genggamnya, ia menatap Cinta penuh kerinduan.

“Ta, aku cinta kamu!”

Ridho mengungkapkannya.
Biarlah ia tuangkan seluruh isi hatinya pada gadis itu.

“Aku juga mencintai kamu Dho!”

Ridho merentangkan tangannya menyambut kedatangan Cinta ke dalam pelukannya. Ia sampai meneteskan air mata saking bahagianya, tak pernah ia bayangkan hari ini akan ada buatnya. Ia pikir seumur hidupnya dia tidak akan pernah mendapatkan Cinta. Namun hari ini telah membuktikan semuanya, sejauh apa pun gadis itu melangkah dia tidak akan bisa lari dari sang Kuasa yang maha mengatur segalanya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here