Dilema Cinta #22

0
523
views

Cinta berada di kamarnya. Sejak sore tadi dia hanya mengurung diri disana, duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan fokus ke satu arah. Dimana ia meletakan surat bersampul biru pemberian Risky dari Ridho, surat itu ia letakan di meja kecil samping tidurnya.

Cinta ingin membacanya tapi dia bingung sekaligus takut, takut isi surat itu berisi kata-kata yang akan melukai hatinya, bahkan takut isi surat itu akan membawanya pada penyesalan yang mendalam.
Apa yang harus dia lakukan?
Membacanya atau mendiamkan saja, menganggap surat itu tidak ada.

Memutuskan untuk menyimpannya saja Cinta meraih surat itu lalu berdiri hendak menaruh surat itu di dalam laci kaca riasnya, tetapi lagi-lagi dia di landa kebingungan.

“Bagaimana isi surat ini sangat penting, aku bisa menyesal kalau tidak membacanya sekarang” bisik hatinya, ia memutar-mutar surat itu sedang berpikir. “Ya sudahlah, aku baca sekarang saja” gumamnya pelan.

Baru saja Cinta hendak membuka surat itu panggilan Mamanya dari luar menghentikan niatnya, wanita itu meminta Cinta untuk segera turun ke bawah untuk makan malam bersama.

Menghela nafas Cinta pun menaruh surat itu di laci, dengan niat ingin membacanya nanti saja setelah makan.

Di ruang makan sudah ada Mama dan Papanya.
Dengan senyuman dia mengambil tempat duduk di samping Papanya.

“Gimana dengan sekolah mu, sayang?” tanya Papanya, membuat Cinta tersenyum.

“Sekolah Cinta baik-baik saja Pa!”

“Lalu bagaimana dengan hubungan kamu dengan Risky dan Ridho? Kok mereka nggak pernah lagi main ke sini?”

Cinta terdiam mendengar pertanyaan Mamanya, nasi yang ia makan terasa nyangkut di tenggorokkannya susah sekali untuk di telan. Kenapa Mamanya menyinggung soal mereka?.
Dia sedang kalut sekarang, kenapa Mamanya malah menambah kekalutannya dengan bertanya seperti itu.

“Kamu nggak usah cerita karna Mama dan Papa sudah tahu semuanya” beritahu Ranti.

“Tadi pagi Tante Murny menelpon Mama, dia sekarang di Jakarta membuat Mama terkejut. Kenapa begitu tiba-tiba?”

Cinta hanya diam mendengarkan.
Ia mengenal Murny, beliau adalah Mama kandung dari Ridho dan Risky. Selama ini beliau memang tinggal di London, ikut dengan suaminya yang memilih membangun usaha di sana. Jika kedatangan Murny di Jakarta yang tiba-tiba tentulah hal itu berkaitan dengan Ridho yang mengalami kecelakaan. Mengingat Ridho ia sama sekali tidak tahu kondisi laki-laki itu saat ini, dimana Ridho di rawat pun ia tidak tahu.

“Ternyata Ridho mengalami kecelakaan dalam perjalan ke Bandara. Dan Risky sudah menceritakan semuanya pada Mama”

“Hmm, sudahlah sayang maafkanlah mereka. Jangan berlarut-larut mendiamkan mereka seperti ini. Papa tahu bagaimana sakitnya di bohongi seperti itu, Papa mengerti perasaan mu. Kasihan Ridho dia harus mengalami hal ini, sudah tak mendapatkan Cinta mu dan dia harus menerima kebencian dari mu. Itu sungguh menyakitkan, Nak!”

“Sekarang Ridho dinyatakan Koma, tidak ada yang tahu dia akan selamat atau tidak. Tetapi semua menginginkan dia membuka matanya segera. Jenguklah dia Nak, maafkanlah mereka. Jangan biarkan kebencian menguasaimu, itu akan membuat kamu menyesal nantinya”

“Cinta butuh waktu untuk itu Ma” balas Cinta.

Dia menyelesaikan makan malamnya larut bangkit pamit ingin kembali ke kamar, kata demi kata dari orang tuanya mencoba ia cerna dengan baik. Ia akan memikirkannya.

Cinta menapakkan kaki ke halaman rumah sakit dimana Ridho di rawat, ia menatap bangunan putih yang di kelilingi berbagai macam bunga, menambah keasrian bangunan itu.
Setelah memantapkan diri dia beranjak masuk ke dalam bangunan itu.

Hampir setiap lorong yang ia lewati bertemu dengan pasien-pasien lainnya dengan berbagai keluhan, bahkan dia juga melihat korban dengan berlumuran darah sedang di bawah ke ruang UGD. Pemandangan yang menyeramkan itu membuatnya bergidik.

Cinta melangkah dimana ruang rawat Ridho berada.
Tiba-tiba terdengar alarm peringatan, alarm itu berbunyi seakan memberitahukan suatu kabar. Entah itu kabar baik atau malah kabar buruk. Tak berselang lama dari terdengarnya alarm sesosok wanita dengan pakain putih dan seorang suster berlarian melewatinya, seakan terhipnotis Cinta ikut berlari menyusul kedua orang itu.

Langkah Cinta membawanya ke hadapan Murny, juga ada Risky di sana. Ia menatap kedua orang yang saling berpelukan itu dengan heran, mereka menangis. Apa yang terjadi?.

Seakan menyadari keberadaannya Risky berpaling menatap kearahnya, kini wajah itu hanya di banjiri air mata. Itu membuatnya semakin penasaran.

“Akhirnya lo datang juga!” Risky bersuara dengan suaranya yang serak, mungkin karna sudah lama menangis.

“Gue datang buat jengukin Ridho!”

Risky tersenyum, senyuman yang penuh kemisteriusan atau lebih tepatnya senyuman penuh akan pengejekan. Air matanya kembali meluncur santai membasahi wajahnya.

“Lo terlambat Ta!”

“Maksud lo terlambat apa?”

“Ridho, dia udah meninggal!”

Cinta jelas shock mendengar pernyataan itu, dia menggeleng tak percaya. Risky pasti membohonginya, laki-laki itu tentu berniat mengerjainya atas apa yang ia perbuat pada kedua beradik itu dalam beberapa minggu yang lalu. Kenyataan itu tentu tidak benar.

“Lo pasti bohong kan? Udah deh, nggak usah bercanda!”

“Ridho, dia memang sudah meninggal Ta. Dia nggak bisa di selamatkan!”

Cinta menatap Murny yang menjelaskan semuanya, mendengar hal itu membuat air matanya melaju seketika. Kepalanya menggeleng-geleng tak percaya, Ridho pasti masih hidup. Laki-laki itu belum meninggal.

“Cinta nggak percaya Tante, kalian pasti bekerja sama buat ngerjain Cinta kan. Ini semua tidak benar!”

Memilih tak percaya dengan omongan keduanya dia menerobos masuk ke dalam kamar inaf Ridho, dia ingin membuktikan kebenaran dari ucapan kedua orang di depan tadi.

Namun apa yang ia lihat benar-benar membuat dia tak mampu bertahan, dia di hadapankan dengan tubuh kaku Ridho yang sudah mendingin. Wajah laki-laki itu pucat pasi seakan-akan tidak ada darah lagi yang menunjang kehidupannya. Ia menangis di situ, meratapi kebodohannya. Cintanya harus berakhir sebelum ia memulainya. Kenapa takdirnya harus seperti ini.

“Lo nggak boleh mati Dho, lo harus bangun. Ayo, kita rajut kembali cinta kita bersama”

“Udahlah Ta, Ridho udah tenang di alam sana. Lo harus ikhlasin dia pergi!”

Merasa geram dengan ucapan laki-laki di belakangnya Cinta berbalik, tatapannya terhujam sinis ke arah Risky.

“Diam, lo gak tau apa-apa. Ridho masih hidup kok. Dia hanya tidur!”

Cinta tetap ngotot mengatakan Ridho masih hidup bahkan dengan terang-terangan mengusap rambut Ridho lalu mencium keningnya, seakan-akan Ridho hanya sedang tidur.

Risky yang melihatnya merasa tak tahan, dia melangkah cepat menerjang ke arah Cinta. Menarik gadis itu dan meminta gadis itu merasakan denyut nadi di tangan Ridho, tetapi tiada tanda-tanda kehidupan disana.

“Sekarang lo percaya?” Risky bertanya tegas ke pada Cinta.

Gadis itu hanya mendiamkan diri.
Lagi-lagi seperti patung, tak bereaksi sama sekali.

“Nggak mungkinnnnnnnnnnnnn!”

Teriakan Cinta terdengar memilukan di tengah hari yang mendung, tak lama hujan pun turun dengan derasnya seakan ikut merasakan kesedihan yang di alami Cinta saat ini.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here