Dilema Cinta #20

0
279
views

Tak ada yang bisa Ridho lakukan saat Cinta benar-benar menjauhinya, untuk menatapnya saja gadis itu seakan jijik. Sungguh dia berada dalam kedilemaan sekarang.

Ridho sedang berbaring di dalam kamar saat tiba-tiba handphonenya berbunyi, ada panggilan masuk dari seseorang. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, laki-laki itu mengangkat telpon itu dengan wajah yang kusut.

“Hallo”

“Hallo sayang, ini Mama!”

Ridho tersentak lalu segera beranjak untuk duduk di birai tempat tidur. Ada apa Mamanya menelpon?
Tak biasanya dia akan menelpon seperti ini jika tidak penting.

“Ada apa Ma!”

“Mama kangen kalian berdua, tadi Mama udah nelpon Risky. Gimana kabar kamu disana?”

“Baik kok Ma, Mama sendiri gimana?”

“Baik!”

Untuk sesaat keadaan dibiarkan sunyi, tak ada lanjutan perbualan tetapi sambungan masih terhubung.

“Dho!”

“Ya Ma!”

“Mama udah tahu tentang kamu yang berantem dengan Risky!”

“Pasti Risky yang kasih tau Mama kan?”

“Iya. Kamu pulang ya ke sini!”

“Apa Ma? Mama minta Ridho pulang?”

“Iya, kamu pulang ke london ya. Mama benar-benar sudah merindukan mu. Jangan berantem lagi dengan Risky. Mama tunggu lho kamu pulang!”

Sambungan terputus menyisakan Ridho yang berada dalam kedilemaan, antara pulang atau tetap tinggal. Masalah yang satu saja belum selesai kenapa masalah lain bermunculan lagi, ini membuat ia pusing.

Memilih berbaring di tempat tidur dengan pikiran kacau, tanpa sadar dia malah tertidur sampai pagi.

☆☆☆

Ridho menatap Cinta yang pagi ini kembali bersendirian di kelas, seperti biasa dia selalu mendapati Cinta duduk bersendirian dengan sebuah buku di tangannya. Ia memantapkan hati sebelum mengambil langkah mendekati gadis itu. Dia harus bicara sekarang atau tidak sama sekali.

“Ta..,”

Cinta mendongak saat ada seseorang menyapanya, iris matanya menatap sosok yang berdiri di hadapannya dengan enggan. Tak ingin memperdulikan lelaki itu, dia mengambil langkah hendak pergi dari situ. Seakan tahu niat gadis itu Ridho mencegahnya.

“Gue mau ngomong bentar sama lo, please dengarin gue Ta!”

Terlihat jelas raut keputus asaan di wajah tampan Ridho, tetapi kerasnya hati Cinta tidak memberikan gadis itu reaksi apa pun.

“Nggak ada yang harus di omongin lagi. Sekarang gue minta lo minggir!” Ketus Cinta, dengan kedua tangannya ia mencoba mendorong Ridho menjauh agar lelaki itu bisa memberikan jalan untuknya pergi. Tetapi sekuat apa pun dia mendorong Ridho, tubuh itu tetap tak beranjak dari tempatnya.

“Mau lo apa sih?”

“Gue cuma mau tahu aja perasaan lo ke gue Ta, hanya itu!”

“Lo tanya perasaan gue ke elo bagaimana?” Ulang Cinta dengan tatapan sinis menatap wajah Ridho. “Biasa aja!” Sambungnya, dia mengalihkan pandangan ke arah lain tak ingin beradu pandang dengan lelaki itu.

“Lo hanya mantan sahabat yang sekarang gue benci. Gue menyesal pernah dekat sama lo, mending sekarang lo jauh-jauh dari gue selamanya!”

Balasan Cinta membuat Ridho tersenyum miris, bukan jawaban itu yang ingin ia dengar. Tapi sepertinya Cinta memang sudah benar-benar membencinya. Perlahan tubuh Ridho mundur kebelakang memberikan jalan untuk Cinta pergi, gadis itu menatap sinis ke arah Ridho sebelum akhirnya melangkah pergi.

“Gue akan pergi Ta, tapi satu yang harus lo tahu gue akan tetap sayang sama lo!”

@RIDHO V.O.C

Gue benar-benar sakit hati mendengar jawaban Cinta. Sebenci itukah dia sama gue?
Gue benar-benar kehilangan cinta gue.

Dalam kelinglungan gue langkahkan kaki menuju ruangan kepala sekolah. Gue sudah mengambil keputusan, seperti yang Cinta katakan. Sebaiknya gue menjauh saja darinya.
Keputusan pulang ke London sepertinya ide yang tak terlalu buruk. Mungkin dengan begitu Cinta bisa kembali bahagia.
_

Ridho mengetuk pintu kamar yang tetutup berharap seseorang di dalam mau membukanya.

“Ky, apa lo ada di dalam?”

Tidak ada jawaban atas pertanyaannya, sekali lagi Ridho mengetuk pintu itu, tetap tidak ada jawaban. Kemana anak itu?

“Ky, kalau lo ada di dalam buka dong. Gue mau bicara nih!”

Tak ada balasan tetapi perlahan pintu itu mulai terbuka memperlihatkan sosok di baliknya, namun Ridho segera di hadapkan dengan sorot mata Risky yang berbeda. Mata itu merah seperti baru saja menangis.

“Lo mau ngomong apa?” Risky bertanya sinis.

“Lo,, nangis ya?” Ridho balik bertanya yang membuat Risky melotot.

“Gila lo, siapa juga yang nangis?”

Ridho tertawa mendengar jawaban Risky yang tidak mengakuinya.

“Terus mata lo yang merah itu kenapa kalau bukan nangis”

Risky menatap adik kembarnya lama, lalu dalam sekelip mata dia sudah memeluk adik kembarnya itu.

“Maafin gue Dho, gue tahu gue salah. Gue udah mengkhianati lo. Maafin gue, gue udah ngerebut Cinta dari lo. Gue emang kakak yang jahat, gue…”

“Udahlah, lupain aja masalah itu nggak usah di bahas lagi”

“Tapi kan gara-gara gue Cinta jadi benci banget sama kita”

“Lo gak usah merasa bersalah gitu deh, mungkin akhirnya memang begini” balas Ridho dengan senyuman miris, dia beranjak meleraikan pelukan mereka. “Gue kesini cuma mau pamit kok, lo tentu udah tahu kan kalau gue mau pergi hari ini”

“Lo benaran mau pergi?”

Risky berharap Ridho tidak jadi memutuskan untuk pergi, namun gelengan kepala Ridho memutuskan harapannya.

“Jadi kapan lo akan kembali?”

“Gue nggak akan kembali”

Jawaban Ridho yang begitu yakin membuat Risky melotot tak percaya. Jika dia pergi dan tak kembali lalu bagaimana perasaannya pada Cinta. Apa Ridho berniat melupakannya?

“Lo bercanda kan Dho?” Risky kembali bertanya memastikan Ridho sedang bercanda, tetapi gelengan laki-laki itu kembali membuat ia tak enak hati.

“Lalu bagaimana soal perasaan lo pada Cinta?”

“Gue akan tetap selalu sayang dia kok, walaupun nanti dia sudah ngelupain gue, gue akan tetap Cinta dia” beritahu Ridho dengan senyuman, lalu memberikan sabuk captain kembali ke tangan Risky. “Lo kapten yang sesungguhnya, gue gak punya hak untuk handle tim lo. Lo harus jadi kapten yang hebat dalam permainan nanti, menangin pertandingan itu. Lo janji bakalan menang”

“Gue janji”

“Gue tau kalian pasti menang!”

“Thanks” ucap Risky, dia kembali merangkul Ridho. Saat itulah dia kembali jatuhkan air mata. “Gue gak nyangka akan berakhir seperti ini, gue bakalan kesepian deh di sini!”

“Lebay lo!”

Seiring dengan itu Ridho meleraikan pelukan mereka menatap Risky sesaat, lalu mengulurkan sepucuk surat bersampul biru pada Risky yang segera laki-laki itu terima.

“Setibanya gue di london nanti, berikan surat ini ke Cinta. Janji lo akan kasih ke dia setelah gue tiba di London nanti”

“Lo gak mau ketemu Cinta dulu?”

“Nggak deh, waktu gue mepet. Gue pergi dulu ya, jaga diri lo baik-baik!”

“Lo juga, kalau ada kesempatan gue pasti bakalan balik kesana”

“Gue tunggu!” Ridho lalu segera berlalu pergi dengan membawa kopernya.

Risky menatap surat bersampul biru di tangannya lalu kembali mengarahkan pandangan ke Ridho yang menjauh.

“Maaf Dho gue gak bisa janji soal ini, gue udah terlalu banyak salah sama lo. Gue harus ngelakuin sesuatu suapaya lo bisa bahagia”

Buru-buru masuk delam kamar meraih kunci motor lalu bergegas keluar dari rumah, ia akan menemui Cinta bagaimana pun penerimaan gadis itu nanti.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here