Dilema Cinta #19

0
138
views

Ridho sudah mengganti baju basket dengan seragamnya kembali, dia sudah akan pulang saat tiba-tiba dia mendadak sakit perut. Ridho pun melangkah cepat menuju toilet. Beberapa menit kemudian dia baru keluar dari toilet. Akan tetapi baru saja kakinya menginjak keluar dari toilet mendadak ia terhuyung kebelakang, saat tiba-tiba satu tumbukan padu melayang di wajahnya. Ia mengerjap berkali-kali menyesuaikan penglihatannya, barulah dia bisa melihat dengan jelas. Dia menatap Risky yang tampak marah di hadapannya.

“Apa-apaan lo?” Ridho bertanya dengan nada ketus.

Bukannya menjawab Risky malah menyambar kerah baju Ridho dan sekali lagi melayangkan pukulan di wajah yang mirip dengannya itu. Ridho yang tak siap pun terjengkang ke belakang, darah mengalir dari hidung dan bibirnya yang pecah.

“Brengsek lo Ky, apa-apaan lo nonjok gue?” Ridho bertanya kesal.

“Lo yang brengsek, lo ngambil semuanya dari gue. Impian gue hancur gara-gara lo”

Risky benar-benar marah mengingat posisinya sebagai kapten di rebut dengan mudah oleh Ridho, impiannya yang ingin bertanding di liga internasional musnah seiring hilangannya tittle Captain darinya. Tak cukup dengan itu dia harus menahan rasa sakit akibat keputusan Cinta yang memilih putus darinya. Bukan dia tidak tahu tentang rasa suka gadis itu terhadap Ridho, hanya saja dia menutup mata dari semua itu. Asalkan dirinya bisa bersama Cinta. Namun keputusan gadis itu sudah bulat untuk meninggalkannya, tidak bisa di gugat lagi ia kesal sangat kesal. Dan penyebabnya itu adalah Ridho adik kembarnya sendiri.

“Tidak cukup dengan itu lo juga rebut perhatian Cinta dari gue, loe rebut semuanya dari gue. Lo brengsek Dho!”

Risky kembali hendak melayangkan tinjunya namun dengan mudahnya Ridho menghindarinya, dia tersenyum sinis menatap wajah muram Risky.

“Gue tentu gak salah dengar kan? Jelas-jelas lo yang ngerebut Cinta dari gue, dengan cara licik yang sama sekali gak gue percaya. Lo bohongin Cinta dengan ngaku-ngaku sebagai pengagum rahasianya segala, padahal lo tahu kan gue lah pengagum rahasia yang sebenarnya!” Jelas Ridho dengan emosi yang mulai tersulut.

“Dan apa lo bilang tadi gue rebut perhatian Cinta dari lo?” Tersenyum sinis Ridho mendorong Risky hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah. “Gue aja nggak pernah ngomong lagi sama dia sejak hari itu, apa hak lo menyalahkan gue?”

“Alaahh, bangak omong lo!” Sambar Risky kembali hendak melayangkan tinjunya.

Akan tetapi tangannya berhenti seketika di hadapan wajah Ridho saat iris matanya menangkap bayangan Cinta dari kaca di depannya. Wajah gadis itu basah oleh air mata, bahkan masih ada yang menetes-netes dari kelopaknya.

“Cinta!”

@CINTA V.O.C

Berbekal kalimat yang Chiara ucapkan tadi aku bertekad ingin menemui Ridho, ingin meminta penjelasan kepada laki-laki itu atas sikap dia selama ini. Aku berlari menuju lapangan dimana hari ini Risky dan Ridho akan memperebutkan posisi sebagai captain di liga internasional, namun aku terlambat. Setibanya disana keadaan lapangan sudah sunyi, tak ada satupun orang disana.

Tahu-tahu tatapan ku menangkap sosok Risky yang berjalan ke arah toilet, melihat laki-laki itu aku jadi merasa bersalah telah memutuskannya secara sepihak. Mau gimana lagi cinta memang tidak bisa di paksakan.

Merasa harus melakukan sesuatu aku membututi Risky, sepertinya aku harus meminta maaf. Namun setibanya aku disana apa yang aku lihat benar-benar membuat aku sesak nafas. Dihadapan aku terpapar jelas gimana kuatnya tumbukkan Risky menghantam wajah Ridho. Lalu aku dengar Ridho bertanya marah pada Risky yang di balas Risky dengan menyambar kerah bajunya. Sekali lagi pukulan jatuh di wajah Ridho yang membuat laki-laki itu terjengkang ke belakang.

Aku menekup mulut ku saat melihat ada darah di hidung dan bibir Ridho. Darah itu menetes mengotori seragam putihnya. Aku ingin menghentikan perkelahian itu saat tak sengaja aku mendengar nama ku di sebut-sebut, aku kembali membatalkan niatku. Aku ingin mendengar kelanjutan dari obrolan mereka.

Namun kalimat selanjutnya yang terlontar benar-benar membuat jantung ku mencelos, ada debar sakit disana.

Kenyataan yang selama ini di sembunyikan keduanya, akhirnya aku mengetahuinya dan seiring dengan itu aku meneteskan air mata. Terluka.
Itulah yang aku rasakan.
_

“Cinta!” Panggil Risky pelan.

Dia beranjak hendak melangkah mendekati dimana Cinta berdiri, tetapi gadis itu keburu mengangkat tangan mencegahnya untuk mendekat.

“Jangan dekati gue, gue nggak sudi dekat-dekat dengan pembohong kayak lo!”

“Ta dengarin dulu penjelasan gue!”

“Nggak ada yang perlu di jelasin, gue udah tau kebohongan lo dan itu nyakitin gue banget. Gue kecewa sama lo!”

“Maafin gue Ta!”

“Gue gak butuh maaf dari lo!” Cinta bersuara ketus lalu pandangannya beralih ke arah Ridho yang hanya mendiamkan diri.

“Lo juga sama Dho, lo udah nggak jujur sama gue. Lo gak ada bedanya dengan Risky, dasar pembohong. Gue benci lo berdua!”

Tak kuat Cinta mulai mengambil langkah berlari dari situ, dia tidak ingin menambah luka hatinya jika tetap memilih diam disana.

“Ini semua gara-gara lo!” Ketus Ridho sebelum akhirnya kembali melangkah balik mengejar Cinta.

@RIDHO V.O.C

Gue berlari menerobos hujan yang turun dengan lebat di sore ini, gue ingin menjelaskan semuanya ke Cinta. Gue nggak mau dia membenci gue, gue terus berlari. Namun bayangan tubuhnya sama sekali tak terlihat, dimana dia?

Gue terus berlari tak gue pedulikan hawa dingin mulai gue rasakan, saat ini tujuan gue cuma satu menemukan Cinta.

Di kejauhan gue mulai melihat sosok tubuh yang gue cari, dia duduk di jalanan dengan kepala yang tertunduk. Gue tahu Cinta sedang menangis sekarang. Mengaturkan langkah gue berjalan mendekatinya.

Gue jongkok di hadapannya berharap dia mengangkat kepala dan mau menatap ku, namun lama gue menunggu tidak ada tanda-tanda dia akan menatap ku.

“Ta gue minta maaf, bukan maksud gue nggak mau jujur sama lo!”

“Kenapa Dho? Kenapa lo gak jujur sama gue? Lo tahu sendiri kan gue gak suka di bohongin!”

“Gue gak ada pilihan lain saat itu Ta!”

“Dengan membiarkan gue dalam kedilemaan, iya itu yang kalian mau?”

Hatiku mencelos saat Cinta menatap ke arah ku dengan tatapan kebencian. Gadis itu sepertinya benar-benar membencinya sekarang.

“Gue kecewa sama lo Dho. Gue minta mulai sekarang jangan dekati gue lagi!”

Usai mengatakan itu Cinta beranjak berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan aku yang terpaku. Kepergian Cinta membuat aku menjatuhkan tubuh di jalanan yang basah, untuk yang kedua kalinya aku kembali merasakan luka.
Ini tidak adil untuk ku.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here