Dilema Cinta #18

0
163
views

@CINTA V.O.C.

Aku membuka mata saat cahaya matahari berhasil mengenai wajah ku, aku berpaling melirik jam beker di samping tempat tidur ku. Pukul setengah tujuh pagi, sudah siang.
Aku beranjak bersiap-siap hendak berangkat sekolah, aku hanya punya waktu 1 jam dari sekarang.

Setelah siap aku bergegas turun ke bawah. Seperti biasa aku akan mendapati Mama dan Papa sedang menikmati sarapan paginya di ruang makan, aku menghampiri keduanya. Papa tampak sibuk dengan koran di tangannya sekali-kali mengoceh karena naiknya harga BBM yang melambung tinggi.

“Ma, Pa Cinta pergi dulu ya!” Pamitku, tak lupa mencium kedua pipi mereka, kebiasaan yang aku lakukan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.

“Nggak nunggu Risky dulu!”

Ucapan Mama membuat aku terdiam. Kilas balik dimana aku memutuskan Risky secara sepihak kembali meneror ku.
Ya, aku sudah memutuskan lelaki itu, tepat dimalam dua bulan jadian kami.
Kejam memang.
Tapi bagaimana lagi sejak awal aku memang tidak memiliki rasa apa pun kepadanya, keadaan terpaksa membuat aku menerimanya. Aku pikir setelah aku menjalin hubungan dengannya, perasaan ku padanya bisa berubah. Ternyata tidak, semakin hari aku malah semakin tersiksa.

Aku sadar sejak hari itu, hari dimana aku menangis karena Ridho. Ridho yang mengabaikan aku terus-terusan, Ridho yang tampak lebih bahagia bersama orang lain.
Disaat itulah aku sadar aku hanya menyukai Ridho, atau memang sedari awal perasaan ku hanya untuk lelaki itu.

Menghela nafas aku kembali menatap ke arah Mama, dengan tersenyum aku menggeleng pelan.

“Cinta berangkat naik Bus aja Ma? Cinta pergi dulu. Daa Ma!” Aku segera berlari pergi sebelum Mama kembali bertanya.

Aku tidak akan sanggup menjawabnya.
_

Cinta berjalan pelan memasuki gerbang sekolah, di saat ia akan melangkahkan kaki memasuki halaman pandangannya segera menangkap postur tubuh Ridho di lapangan tampak sedang berbicara dengan pak Norman. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi sepertinya hal itu sangatlah serius. Dari kejauhan ia hanya dapat melihat Ridho mengangguk pelan, dan pak Norman tersenyum setelah itu berlalu pergi meninggalkan lelaki itu.

Melihat Ridho yang kembali sendiri Cinta hendak menghampirinya, tetapi niatnya segera pupus ketika Chiara terlebih dahulu menghampiri lelaki itu. Keduanya tampak mengobrol sesaat sebelum akhirnya melangkah pergi, dengan posisi Ridho merangkul pundak Chiara.

Ada yang sakit.
Ia terluka melihat pemandangan itu.
Lagi-lagi ia membiarkan hatinya kembali merasakan luka.

@RISKY V.O.C

Aku berteriak kesal ke arah pak Norman, bisa-bisanya pria itu mengajak Ridho bergabung di tim basket menggantikan posisi ku sebagai kapten hanya karena ketidak fokusan ku selama berlatih. Ini tidak adil untuk ku.
Aku menatap sinis ke arah Ridho, lelaki itu kini memakai sabuk tangan bertittle kapten di lengan kanannya. Dia berhasil mengalahkan ku dalam memperebutkan posisi kapten.
Sialan.
Tidak puaskan dia membuat aku hancur seperti ini. Ketidak fokusan ku di manfaatkan oleh dia, dia membuat ku muak.
_

“OMG, gue lupa lagi. Siang ini kan Ridho adu tanding memperebutkan posisi kapten, kok gue bisa lupa sih” dumel Chiara sambil melihat jam tangannya, ia berjalan cepat menuju lapangan dimana pertandingan di adakan.

Saat ia melewati pintu kelas dia tak sengaja melirik ke dalam kelas, iris cokelatnya melihat Cinta disana, duduk dengan kepala tertunduk. Ia melihat keadaan kelas yang sunyi, tiba-tiba ia bergidik ngeri. Yang ia lihat benaran cinta kan, bukannya hantu. Ingin memastikan itu Cinta, ia memutuskan untuk melangkah mendekat.

Menyadari seseorang mendekat Cinta mengangkat kepalanya membuat Chiara shock tiba-tiba, kedua iris berbeda warna itu saling bertemu, bertatapan lama sebelum akhirnya Cinta yang lebih dahulu mengalihkan perhatian.

“Ngapain lo disini?”

Itu suara Chiara.
Merasa pertanyaan itu di ajukan untuknya Cinta kembali menatap ke arah gadis di hadapannya. Chiara menatap wajah itu lamat-lamat menyadari ada jejak air mata yang masih membekas di wajah itu.

“Bukan urusan lo kan?” Cinta menjawab dengan sinis, mendengar jawaban Cinta yang kurang bersahabat membuat Chiara mengedikan bahu. Tak masalah dengan penerimaan gadis itu.

“Lo kok sewot banget sih sama gue, kenapa?” Chiara bertanya lagi.

Merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari Chiara membuat dia angkat kaki hendak berlalu dari situ.

“Apa ada kaitannya dengan Ridho, sikap lo jadi begini ke gue!”

Kalimat itu mau tak mau menghentikan langkah Cinta yang hendak keluar dari kelas, dia berbalik kembali menengok wajah yang tersenyum itu.

“Apa maksud lo?”

Pertanyaan itu menciptakan tawa Chiara. Cinta menatapnya tidak mengerti.
Alasan apa yang membuat gadis itu tertawa, apa pertanyaannya terdengar lucu.

Dengan langkah santai Chiara melangkah mendekati Cinta yang tampak sekali raut kebingungan di wajahnya.

“Jangan berlagak bego deh Ta. Di dunia ini mana ada cewek dan cowok saling bersahabat. Jika memang ada, pasti salah satu di antara mereka menyimpan rasa yang lebih dari sekedar sahabat. Nah, kebetulan lo punya dua orang sahabat cowok dan mereka kembar. Lo udah ngedapatin Risky akan tetapi selama lo bersama Risky gue nggak ada sama sekali lihat pancaran kebahagiaan itu di wajah lo. Dan gue nggak buta, gue sering kali ngeliat lo curi-curi pandang ke arah Ridho” jelas Chiara membuat wajah gadis di hadapannya menegang seketika.

“Jujur ya gue emang sayang banget sama Ridho, akan tetapi gue bukanlah wanita yang beruntung itu. Dia hanya menganggap gue teman nggak lebih dari itu. Lo mau tau kenapa?” Chiara sengaja bertanya pada Cinta, tentu saja gadis itu tidak mengetahuinya. Ia tersenyum penuh arti.

“Karena ada cewek yang Ridho suka dan itu bukan gue!”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here