Dilema Cinta #17

0
136
views

“Ridho sama sekali gak ada kaitannya dengan kematian Naumi. Naumi meninggal karena kebodohan dia sendiri!”

“Maksud loe apa?” Ferdy menatap Chiara geram,

Gadis yang di kabarkan koma karena jatuh dari lantai dua itu kembali masuk ke sekolah. Dan bisa-bisanya dia mengatakan hal yang membuat dia geram. Tahu apa dia?
Dia baru saja keluar dari rumah sakit, tetapi sudah berani memberikan kesaksian palsu untuk membantu Ridho.

“Gue yakin loe dengar jelas ucapan gue tadi!” Balas Chiara santai.

“Sudahlah lo nggak tahu apa-apa, untuk apa lo repot-repot membantu dia. Sudah jelas dia pembunuh!”

Iris cokelat Chiara melesat tajam menatap kearah Risky yang barusan bersuara, ia mendecih tak suka. Sejak awal memang dia tidak menyukai sikap lelaki itu yang mau menang sendiri.

“Sudah gue bilang Ridho gak bunuh siapa pun. Kematian Naumi dia yang menginginkannya. Karena apa? Lo berdua mau tahu? Tanyakan ke Abel, dia tahu segalanya!” Chiara menunjuk gadis yang sedari tadi hanya mendiamkan diri di sampingnya. Merasa namanya di libatkan di antara perbualan itu Abel tersenyum, langsung melangkah maju ke depan.

“Gue saksi mata hari dimana Kak Chiara jatuh dari lantai atas. Itu bukan kecelakaan biasa, Kak Chiara di dorong oleh Naumi. Saya melihatnya sendiri” cerita Abel membuat orang-orang yang berada di sana terkejut.

Kilasan balik kembali membayang di ingatan Abel, dimana waktu itu hujan turun dengan derasnya. Seragamnya yang basah membuat dia ingin ke toilet untuk merapikan diri, karna mengingat toilet di lantai bawah sedang dalam perbaikan dia memilih naik ke lantai atas.

Dia baru menginjakkan kaki ke lantai atas saat di hadapannya di suguhkan pemandangan pertengkaran antara kedua kakak kelasnya, dia kenal kedua kakak kelas itu. Salah satunya adalah Kakak sepupunya sendiri dan satunya bernama Naumi.

Awalnya dia merasa tidak tertarik untuk menyaksikan akan tetapi setelah telinganya menangkap nama Ridho di sebut-sebut, dirinya jadi tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut.
Dia pikir perkelahian itu akan berlangsung lama, tetapi jatuhnya Chiara mengakhiri perkelahian itu. Dia kaget setengah mati.

Abel melihat kepucatan di wajah Naumi, tersirat ketakutan disana. Tak lama perempuan itu berlari menjauh dari tempat terjadinya perkara. Tak ingin tertuduh dia juga berlari menuju ke lantai bawah, dia ingin melihat nasib kakak sepupunya itu.

“Nah, jadi sudah jelas ceritanya bukan. Sudahlah kalian jangan pada berantem lagi. Ayo baikan!” Pak Norman memberikan peritah, membuat Ferdy melangkah mendekati Ridho.

Keduanya saling bertatapan sebelum akhirnya saling berjabat tangan, Ferdy mengakui kesalahannya.

Chiara yang melihat keduanya sudah berbaikan ikut tersenyum, ia merangkul erat Abel di sampingnya yang juga tersenyum.

Pak Norman ikut tersenyum lalu beliau memerintahkan agar Risky dan Ferdy kembali bergabung dengan tim, meminta mereka untuk fokus latihan karena beberapa bulan lagi akan ada pertandingan liga internasional. Sekolah mereka harus mendapatkan kemenangannya, mereka di tuntut untuk berusaha lebih keras lagi.

☆☆☆

Chiara menatap kesal kearah Mamanya yang sejak tadi terus terusan menatapnya dengan pandangan yang tidak ia mengerti apa artinya. Dia yang hendak mengerjakan PRnya pun terganggu akan sikap Mamanya itu. Menghela nafas ia menatap balik Mamanya minta penjelasan.

“Apaan sih Ma? Dari tadi natap Ara mulu, Ara jadi nggak konsenkan ngerjain PRnya!”

Ara adalah nama panggilannya sejak kecil, dia terbiasa membahasakan diri kalau di rumah dengan nama Ara.
Mendengar pertanyaan putrinya Vlora tersenyum penuh arti.

“Gimana perkembangan hubungan kamu dengan Ridho? Kalian sudah pacaran?”

Di tanya seperti itu membuat mood Chiara down, teringat kembali kata demi kata yang di ucapkan lelaki itu tadi sore. Dimana saat Ridho membawanya makan terlebih dulu di restorant sebelum mengantarkan dirinya pulang kerumah. Awalnya Chiara sudah berpikir yang bukan-bukan, ia sudah mengira Ridho akan menembaknya disana. Karena mengingat Ridho sudah sangat dekat dengannya. Ia pikir cinta Ridho bisa beralih, tetapi memang cinta tidak bisa di paksakan. Ridho tetap tidak bisa melupakan cintanya terhadap Cinta.

Disana Ridho meminta maaf karena dia tidak bisa menjadikan Chiara lebih dari seorang teman. Hatinya sudah tertaut untuk Cinta seorang. Dia meminta jika dia menyimpan rasa untuknya, lelaki itu berharap Chiara untuk segera menghilangkan perasaan itu.

Jujur dia kaget.
Kenapa Ridho bisa tahu tentang perasaannya?
Tetapi setelah lelaki itu mengatakan bahwa Mamanya yang bilang semuanya kepadanya membuat dia menghela nafas.
Mau tak mau dia menuruti permintaan lelaki itu walaupun sulit dia akan mencobanya.

“Ma, sudah ya jangan bahas soal perasaan Ara lagi. Cinta Ridho bukan untuk Ara Ma, dia bebas memilih siapa pun yang ia cintai. Jangan paksa dia Ma buat jadi pacar Ara”

Usai mengatakan hal itu Chiara bangkit dari duduknya beranjak ke dapur, mendadak ia merasa haus. Ia butuh minum segera.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here