Dilema Cinta #16

0
294
views

Perlahan tapi pasti mulai ada pergerakan di tubuh Chiara yang terbaring di ranjang rumah sakit, mata yang semula tertutup perlahan mulai terbuka memperlihatkan iris cokelat terang miliknya. Ia sadar setelah sebulan di nyatakan koma.

Chiara masih bingung menatap ruangan dimana ia berbaring, bingung kenapa dia bisa berada di tempat itu. Tahu-tahu pandangannya malah beralih pada sosok laki-laki yang membelakanginya, sosok itu sibuk memandang keluar jendela entah apa yang di lihatnya. Meski pun lelaki itu tak menoleh Chiara sudah mengenalnya.

Tak berniat memberitahukan kepada Ridho tentang kesadarannya, ia kembali memejamkan mata saat iris cokelatnya mendapati pergerakan tubuh lelaki itu berbalik. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

Harum wangi yang menguar dari tubuh Ridho menusuk indra penciumannya, membuat ia merasa nyaman dan bahagia. Berada di dekat Ridho ia merasakan ketenangan.

“Kapan lo sadar Chi?”

Chiara mengernyit saat mendengar suara parau lelaki itu, iris matanya terbuka sedikit memperlihatkan wajah Ridho yang basah. Sepertinya lelaki itu menangis.
Tapi kenapa?

Dia lihat Ridho menunduk setelah beberapa saat menjambak rambutnya dengan kuat, Chiara tak dapat membayangkan gimana rasanya. Itu pasti sakit sekali. Chiara memilih tetap memejamkan matanya, mungkin dengan itu ia bisa mendengarkan cerita Ridho. Namun bukan cerita yang ia dengar melainkan hanya suara isakan tertahan, Ridho menangis. Tapi kenapa?

“Kenapa gue Chi? Kenapa harus gue yang menerima semua ini?”

Kembali Ridho mengingat kejadian yang ia alami selama sebulan ini sejak kematian Naumi, Wenda selalu menyalahkannya atas kematian Naumi. Naumi bunuh diri karena gadis itu memendam perasaan padanya, namun dengan kejamnya Ridho mengacuhkan perasaan itu. Tak cukup dengan itu Ferdy juga membencinya, Risky memang sudah membencinya sejak awal dia merebut Cinta dari tangannya. Masalah ini membuat lelaki itu menang dengan terus-terusan memfitnahnya, dan Cinta. Wanita itu semakin terlihat mesra dan bahagia bersama Risky. Hatinya hancur lebur seiringnya waktu.

“Gue lelah Chi!”

Tahu-tahu Ridho merasakan ada tangan yang mengusap kepalanya, ia mendongak. Segera iris abu-abunya bertabrakan dengan iris cokelat milik Chiara, gadis itu tersenyum menenangkan. Ia meminta Ridho agar memeluknya, menuruti permintaan Chiara lelaki itu memeluknya. Erat, sangat erat. Tak mereka sadari ada seseorang yang menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh luka.

“Lo bisa cerita ke gue Dho!” Saran Chiara membuat Ridho meleraikan pelukannya dari gadis itu. Ia kembali duduk di posisinya semula.

“Naumi meninggal Chi!”

Tampak raut terkejut di wajah manis Chiara dengan apa yang di dengarnya barusan. Ia menatap Ridho intens mencoba mencari kebohongan di wajah tampan Ridho, namun nihil lelaki itu tidak berbohong.

“Dia bunuh diri dan itu karena gue!”

“Karena lo gimana?”

“Mamanya bilang dia bunuh diri karena gue terus-terusan mengabaikannya, dia jadi frustasi dan nekad bunuh diri. Gue gak tahu tentang itu semua tetapi gue yang di tuduh atas kematian Naumi. Gue kesal Chi, tapo gue gak bisa ngapa-ngapain!”

“Lo yakin dia bunuh diri sebab hal itu”

“Nggak, lama mengenal Naumi gue tahu dia bukan cewek yang gampang ngambil keputusan gegabah seperti itu. Apa lagi ini menyangkut nyawa dia sendiri!”

“Lo benar. Dan dia lah yang ngedorong gue sampai gue jatuh dari lantai dua!” Beritahu Chiara membuat Ridho menatap ke arahnya dengan tatapan tak percaya.

“Dia marah karena gue dekat sama lo!” Lanjut Chiara, “Dia jugalah yang neror gue dengan surat kaleng dengan tulisan yang sama, dia nyuruh gue jauhi lo!”

Menghela nafas sebentar Chiara kembali menatap Ridho yang tak bereaksi, “Dan gue gak nyangka karena masalah dia dorong gue sebulan yang lalu dia malah nekad bunuh diri. Dan anehnya disini kenapa lo yang di salahkan?”

“Gue gak tahu!”

Dduaakkkk…

Ridho merasakan pandangannya berpinar saat sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Dia berusaha menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh. Setelah sakit kepalanya mulai reda ia menatap bola basket tak jauh dari tempat dirinya berdiri, mengalihkan pandangan kini tatapannya beralih ke arah lapangan basket. Iris abu-abunya bertemu pandang dengan iris hitam Ferdy, lelaki itu menatapnya dengan sinis.

“Masih berani aja lo masuk sekolah setelah lo buat Naumi meninggal. Sebaiknya lo keluar dari sekolah ini, sekolah gak bakalan nerima seorang pembunuh!”

Kedua tangan Ridho terkepal di kedua sisi pahanya, dia tidak terima di tuduh seperti itu. Bukan dia yang membunuhnya dan bukan dia juga yang penyebabnya. Itu semua atas keinginan Naumi sendiri karena rasa bersalahnya terhadap Chiara, itu pasti alasan yang sebenarnya.

Kesal.
Ridho balik mengambil bola basket itu dengan sekuat tenanga dia melemparnya, bola melayang lurus tepat menghantam wajah Ferdy membuat laki-laki itu jatuh tersungkur.
Tak cukup dengan itu Ridho langsung berlari berniat melayangkan pukulan ke Ferdy, tetapi dia harus menahan sakit saat tendangan seseorang berhasil menghantam perutnya.

“Tak baik melakukan kekerasan dengan orang sudah tak berdaya. Lawan lo sekarang gue!”

“Gue nggak punya urusan sama lo!”

“Pembunuh seperti lo masih berlagak sombong ya!”

“Gue bukan pembunuh!”

“Maling mana ada ngaku maling!” Tersenyum sinis Risky mengejek Ridho.

“Brengsek!”

Ridho ingin menyerang Risky tetapi suara pluit yang terdengar nyaring menghentikan niatnya. Tatapannya berpaling menatap Pak Norman yang berjalan mendekat.

“Apa-apaan ini?” Suara Pak Norman begitu keras, ia menatap ketiga lelaki di hadapannya.

Tatapannya jatuh pada hidung Ferdy yang mengeluarkan darah, “Kalian berkelahi?”

“Dia yang mulai duluan Pak!” Risky menyalahlan Ridho yang jelas-jelas dialah korban fitnah di sini.

“Gue yang mulai duluan atau lo berdua yang nuduh gue pembunuh? Gue bukan pembunuh lo berdua harus tahu itu!” Ridho menatap kedua lelaki di hadapannya sinis.

“Sudah sudah, saya tidak ingin kalian ribut. Yang sudah berlalu biarlah berlalu!”

“Dia pembunuh pak, dia udah bunuh Naumi!” Ferdy berkata kesal dengan tatapan sinis masih di arahkan ke arah Ridho.

“Siapa yang bilang dia yang bunuh Naumi?”

Suara itu berasal dari belakang mereka Chiara berjalan mendekat diikuti sosok perempuan di sampingnya. Ia tahu gadis itu pernah menyapanya dulu, kalau tidak salah namanya Abel. Ngapain gadis itu kesini? Dan kenapa dia bersama dengan Chiara.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here