Dilema Cinta #15

0
221
views

Ridho memarkirkan ninja birunya di parkiran motor. Setelah melepaskan helmnya dia beranjak memasuki gedung, tiada senyum di wajahnya. Tatapannya terlihat kosong menatap ke depan, ingatannya melayang pada permintaan Vlora kemarin saat di rumah sakit, dimana wanita itu meminta ia menjadi pacar Chiara. Jujur, dia tidak bisa menjawabnya.

Dia hanya menganggap Chiara sebagai teman tidak lebih, di lain sisi dia hanya mencintai Cinta sahabat kecilnya itu. Bagaimana bisa Vlora meminta sesuatu yang tidak bisa ia lakukan, itu permintaan yang sulit untuknya.

Mengingat Cinta ia jadi merindukan gadis itu, rindu bercanda seperti dulu lagi.

“Hey Dho!”

Langkah kaki Ridho seketika terhenti saat seseorang berhenti tepat di hadapannya, ia menatap gadis berwajah manis di hadapannya dengan potongan rambut sebahu. Ia mengernyit heran tidak mengenali siapa gadis yang tiba-tiba menyapanya itu.

“Siapa ya?” Tanya Ridho yang membuat gadis itu mengulurkan tangannya.

“Gue Abella Nandita, panggil Abel aja. Kelas gue di ujung sana, X IPS-1” beritahu Abel.

“Oh!”

“Hanya itu?” Terlihat raut kecewa di wajah manis Abel.

“Apa?”

“Loe gak mau nanyain yang lain gitu, misalnya gue tinggal dimana atau mungkin gue udah punya pacar juga bisa!” Abel mengerling genit berharap Ridho tertarik padanya.

Memang sejak hari itu Ridho mendadak jadi tenar, namanya melenjit tinggi jadi berita hot di sekolah. Ketampanannya yang melebihi Risky membuat para cewek mengidolakannya. Termasuklah Abel. Gadis dengan cat rambut warna pirang itu memang sudah berniat mendekati Ridho sedari awal perubahannya, namun tak punya keberanian selagi ada Chiara di dekatnya. Dan kecelakaan yang di alami Chiara kemarin membuka gerbang baginya untuk mendekati Ridho, ia tersenyum penuh arti.

“Pulang sekolah ada waktu gak, kita jalan yuk!” Ajak Abel.

“Nggak!”

“Besoknya pasti ada kan!”

“Dengar ya gue nggak tahu loe siapa? Jangan ganggu gue, dan minggir dari hadapan gue sekarang!”

“Gue kan udah memperkenalkan diri barusan!”

Ridho menggeleng pelan lalu memilih pergi meninggalkan gadis itu, ia tidak mengenalnya dan dia tidak mau di ganggu siapa pun.

Di kelas Ridho berhadapan dengan Cinta, saat gadis itu ingin keluar dari kelas kebetulan pula dia hendak memasuki kelas. Keduanya terdiam saling melemparkan tatapan. Perlahan Cinta mengukir senyuman tangannya terangkat hendak menyapa Ridho, tetapi lelaki itu malah berpaling melangkah masuk ke kelas meninggalkannya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sepanjang perjalanan menuju kelas Risky selalu mendengar nama Ridho kembarannya itu di elu-elukan dan di puji-puji, hal itu membuat dirinya geram. Terlebih lagi dengan terangan-terangan orang membandingkannya dengan lelaki itu, kesal itulah yang ia rasakan.
Ridho, lelaki itu merebut posisinya.
Posisinya sebagai idola di sekolah, benar-benar menyebalkan.

Risky melangkahkan kakinya memasuki kelas, tatapannya di suguhkan pemandangan yang menambah kekesalannya. Keadaan kelas masih sunyi, tetapi disana di tempat duduk masing-masing ada Ridho dan Cinta. Hanya berdua di dalam kelas. Tatapannya beralih pada Cinta, gadis itu sedang menatap ke arah Ridho yang mungkin tak lelaki itu sadari. Ada kesedihan yang terpancar di bola matanya, puas menatap Ridho, Cinta kembali tertunduk lesu. Risky yang menyaksikannya mengetap bibir geram.

“Pagi sayang ku!” Sapa Risky dengan senyuman membuat Cinta menatap kearahnya, saat itulah Risky mencium keningnya.

Sengaja.
Ia yakin Ridho pasti melihatnya, ia ingin lihat seberapa kuat lelaki itu bertahan melihat kemesraan mereka. Ia akan membuat Ridho jatuh dan kembali jatuh lagi, ia akan membalas sakit hatinya pada Ridho lewat Cinta.

@RIDHO V.O.C

Aku tak mengerti kenapa Cinta memilih diam di tempat duduknya, bukankah tadi dia ingin keluar. Jujur saja situasi seperti ini membuat aku canggung, ingin rasanya aku menyapanya dan memeluknya.

Kedatangan Risky membuat aku sedikit lega, setidaknya aku tidak lagi berduaan dengan Cinta di kelas ini. Namun aku harus kembali merasakan sakit saat dengan sengajanya Risky mencium Cinta di hadapan ku. Sungguh tingkahnya membuat ku muak.
Kesal.
Aku pun mengakat kaki pergi dari situ, aku tidak mau hati ku semakin sakit kalau aku masih tetap disana. Aku perlu udara yang segar untuk aku bernafas, kemesraan yang Risky tunjukan seakan-akan mengejek ku. Karena ia sudah berhasil mengelabuhi Cinta dengan tipuannya.

“Cinta andaikan kamu tahu yang sebenarnya!”
_

“Kenapa lo Fer?” Risky bertanya heran saat melihat wajah temannya itu di tekuk sepanjang hari ini.

Saat ini keduanya sedang berada di Kantin menikmati waktu makan siang disana. Ferdy menghela nafas pelan lalu mulai menikmati soto pesanannya.

“Ceh, gue nanya lo kenapa lo nggak jawab woy!”

Ferdy hanya mengerlingnya kesal yang membuat Risky tertawa pelan, “Gue tau kenapa lo jadi begini. Gara-gara Naumi gak masuk kan. Ya elah, segitunya banget sih lo Fer!” Ledek Risky masih dengan tawanya.

“Gue sumbat juga mulut lo ntar dengan bakso, ngeledek mulu lo kerjaannya. Gue lagi sedih juga!” Dengus Ferdy kesal.

“Memangnya Naumi sakit apa Fer?” Tanya Cinta setelah lama mendiamkan diri.

Heran juga saat mendapat kabar Naumi tidak masuk hari ini di karenakan sakit. Perasaan kemarin sore dia baik-baik saja.
Kemarin sore?
Mengingat kemarin dia memang tidak melihat Naumi lagi saat gadis itu pamit untuk pergi ke toilet, saat itu Naumi memang mengatakan ia sakit perut. Tapi masa iya masih belum sembuh sampai hari ini, separah itukah sakitnya?

Gelengan Ferdy menandakan ia tidak tahu Naumi sakit apa, “Nggak tahu, Mamanya hanya bilang dia gak bisa masuk tolong absenin. Nauminya sakit!”

“Ya udah, pulang sekolah nanti kita jenguk aja!” Usul Cinta memberi saran yang langsung di setujui Ferdy.

Di dalam kamarnya yang hanya di beri penerangan seadanya, dia duduk di pojokan kamar bersembunyi. Terpekur disana sendirian dengan tatapan menatap ngeri pada kedua tangannya. Tangan yang sudah ia gunakan untuk mencelakakan orang, sungguh kecelakaan itu di luar rencananya. Kilasan-kilasan adegan yang terjadi membuat dia panik dan hanya bisa menangis meratapi diri.

“Aww,, apaan sih?”

Chiara menatap sosok gadis dengan potongan rambut sebahu di hadapannya. Dia tahu gadis itu siapa? Dia belajar di kelas yang sama dengannya. Dia tidak tahu kenapa gadis itu menariknya dan membawanya ke pojokan seperti ini.

Chiara mengusap tangannya yang sakit akibat cekalan kuat gadis itu, sepertinya kuku panjang gadis itu menembus kulitnya. Perih sekali.

Belum sempat berkata lebih banyak lagi Chiara kembali terdorong kebelakang hingga membentur tembok. Kesal, balas mendorong gadis itu. Hingga tak bisa di elakan terjadilah keributan di antara keduanya.

“Gara-gara loe Ridho jadi jauh dari kita. Loe udah ngerebut dia dari gue! Dasar keganjenan”

“Uh, gue sama sekali gak ngerebut dia dari kalian. Justru lo yang ke ganjenan bukan gue!”

“Kenapa loe harus hadir di sekolah ini hah, kenapa loe harus dekat dengan Ridho. Eh, loe itu orang baru di sini kalau loe ingin selamat dari gue, sebaiknya loe jauhi Ridho. Ngerti!”

“Gue gak takut dan gue gak peduli!”

“Dasar keras kepala!”

Terpancing emosi Naumi mendorong Chiara dengan kuat hingga gadis itu membentur jendela di belakangnya, keadaan jendela yang tak tertutup membuat gadis itu lolos keluar dari jendela. Naumi tak sempat meraih tangan Chiara hingga gadis itu akhirnya jatuh membentur bumi. Ketakutan yang amat sangat membuat dirinya pergi dari situ, pulang ke rumah dan mengurung diri di sana.

Jeritan yang berasal dari kamar Naumi membuat Wenda yang sedang menerima kedatangan teman-teman sekolah anaknya beranjak mendatangi kamar tersebut, Cinta yang penasaran ikut membuntuti Wenda di belakang disusul Ferdy dan Risky.

Wenda membuka pintu kamar Naumi yang tak terkunci, pemandangan menyedihkan segera di tangkap penglihatannya. Dimana mereka menyaksikan tubuh Naumi terkulai tak berdaya dengan luka sayatan di lengannya, darah berceceran di lantai. Seketika wanita yang mirip Naumi itu berteriak histeris, berlari menghampiri tubuh putrinya yang tak lagi bernyawa.

Cinta menekup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat, tatapannya kabur oleh air mata yang tiba-tiba merembes basahi wajahnya. Ia berbalik memeluk Risky menumpahkan air matanya disana.

Ferdy menjatuhkan tubuhnya di hadapan jasad Naumi, ia menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Air mata yang semula di tahannya akhirnya jatuh juga. Tak menyangka gadis itu pergi secepat ini, bahkan dia belum sempat memberitahukan padanya tentang perasaan yang ia pendam hanya untuk gadis itu. Ia mencintai Naumi.

“Tuhan kenapa kau ambil dia dari sisi ku secepat ini? Bahkan kau tidak memberikan kesempatan ku untuk mengungkapkan kepadanya perasaan ku. Tuhan, tolong kembali kan dia pada ku! Aku mencintainya!” Lelehan air mata terus merembes basahi pipinya, ia menangis histeris memeluk tubuh Naumi dengan luhapan kasih sayang yang tak tersampaikan.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here