Dilema Cinta #09

0
241
views

Chiara tampak terburu-buru membereskan semua buku-bukunya, sekali-kali melirik ke arah Ridho memastikan laki-laki itu tetap disana. Ridho memang disana juga sedang membereskan buku-buku pelajarannya. Chiara tersenyum setelah pekerjaannya beres, dia bangkit lalu segera menghampiri Ridho yang kebetulan juga sudah selesai.

“Dho pulang yuk!” Ajak Chiara yang sudah berada di hadapan Ridho, laki-laki itu menatapnya sesaat lalu mengangguk pelan. Tersenyum senang Chiara pun merangkul lengan Ridho mesra, meskipun kaget dengan tindakan Chiara Ridho membiarkannya.

“Nanti temani gue ke salon dulu ya!” Pintanya masih merangkul mesra tangan Ridho, tak lupa melirik ke arah Cinta yang saat itu menatap mereka dengan pandangan datar.

“Mau ngapain?” Tanya Ridho, keningnya berkerut menatap Chiara minta penjelasan.

“Ada deh, rahasia cewek tahu!”

“Hmm, ngerepotin banget sih!” Gumamnya pelan.

“Aduhh, apaan sih Ra? Sakit tahu!” Ringis Ridho saat merasakan sakit akibat cubitan gadis itu.

“Emang enak, judes banget sih jadi cowok!” Kata Chiara cemberut, Ridho yang melihatnya jadi tidak tega. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mau tak mau ia harus menuruti ucapan gadis itu sepertinya.

“Ya iya deh, gue anterin!” Jawaban Ridho menerbitkan senyuman di wajah Chiara, tanpa sadar ia pun memeluk Ridho. Di saksikan oleh berpasang-pasang mata, termasuk Cinta yang kebetulan ada di parkiran menunggu Risky yang berpamitan pada teman tim basketnya.

“Makasih ya Dho, loe emang teman gue yang paling baik deh!” Ucapnya lalu segera meleraikan pelukan, Ridho segera naik ke motor vespanya disusul Chiara yang duduk di belakangnya. Tak lama vespa itu pun beranjak pergi meninggalkan halaman parkiran sekolah, juga meninggalkan Cinta yang tertunduk sedih. Setetes air mata jatuh membasahi pipi gadis itu.

Ridho menghentikan Vespanya di hadapan sebuah salon pilihan Chiara, gadis itu turun dan masuk ke dalam meninggalkannya sendirian disana. Tak lama Chiara kembali keluar bersama seorang wanita, Ridho mengernyit saat menyadari wanita itu adalah seorang laki-laki. Bancikah dia?

“Jadi dia cowok itu?” Ridho bertambah bingung saat seorang banci itu bersuara, Ridho juga merasa risih di perhatikan sebegitu rupa oleh Jantina itu yang ternyata adalah Joey. Salah satu karyawan disana.

“Ya, bisakan Mbak Joey?” Tanya Chiara.

“Tidak terlalu buruk, tampangnya udah oke. Hanya penampilannya yang kurang perfect, jadi tidak sulit tuk memake over ulang dirinya. Mari ikut saya dek!” Ajak Joey kembali masuk ke dalam salon.

Ridho menatap Chiara minta penjelasan, tetapi seakan tak ingin menjelaskan Chiara memaksa Ridho untuk segera masuk. Gadis itu mendorong Ridho hingga laki-laki itu kini berhadapan dengan Joey, tampak Joey sedang menyiapkan peralatan yang di perlukan.

“Ra loe belum jawab gue!”

“Nanti gue jelaskan, oke!” Katanya lalu segera beranjak keluar dari ruangan meninggalkan Ridho disana yang jelas masih kebingungan.

“Saya mau di apakan Mas?” Tanya Ridho saat Joey mulai melepas kaca matanya.

“Jangan diambil kaca mata saya Mas, saya tidak bisa melihat!”

“OMG hellooouuu,,, berhenti memanggil gue Mas, gue bukan suami mbak loe ya!” Protes Joey kesal.

“Lalu saya harus manggil anda siapa?”

“Panggil gue Mbak joey, ngerti!”

“Tapi Mas kan laki-laki!”

“Tenang dan duduk diam aja, nanti loe juga bakalan tahu gue apain oke!”

Tak ingin lagi berdebat Ridho menurut, ia tak lagi banyak bicara. Hanya duduk diam di kursinya, membiarkan Joey mengubarak-abrik penampilannya.

Cinta berjalan lesu memasuki kamarnya lalu membanting tasnya ke lantai, dirinya segera menjatuhkan diri di tempat tidur. Ingatannya kembali terbayang percakapan tadi pagi dan kejadian yang ia lihat di parkiran tadi. Pemandangan itu sungguh membuat hatinya tak tenang, entah apa sebabnya.

“Jika bener mereka sudah jadian harusnya aku senang dong, bukannya malah sedih kek gini. Gue senang lihat Ridho bisa deket sama cewek lain selain gue, tetapi kenapa hati kecil gue nggak rela” gumamnya, Cinta beranjak duduk di birai katil tak sengaja matanya tertancap pada bingkai foto yang ada di bufet. Ia meraih foto itu dan memperhatikannya. Foto dirinya bersama Ridho sewaktu masih SMP di dufan, ia memandangi foto itu lama.

Cinta sadar sudah lama rasanya dia tidak pernah mengobrol dan bertatap wajah dengan lelaki itu, bermula sejak hari itu mereka tidak pernah lagi terlihat bersama. Dia kangen manjanya Ridho, kangen senyumannya, kangen tawanya dia, kangen semuanya bahkan kangen pelukkan lelaki itu.

“Gue kangen loe Dho!” Bisiknya sambil mengusap wajah Ridho yang di foto, lalu tak sengaja pandangannya jatuh pada boneka teddy bear biru, itu pemberian Ridho.

“Loe bisa peluk boneka itu setiap loe rindu gue Ta!”

Teringat kembali kalimat yang pernah Ridho ucapkan dulu, saat lelaki itu memberikan boneka teddy bear itu kepadanya.
Ia pikir waktu itu cuma sebuah candaan, dan dia tidak akan serindu ini pada lelaki itu. Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi prime foto di tangannya, ia sangat sedih akan permasalahannya dengan Ridho.

Tampak Chiara sedang sibuk membaca majalah fashion di tangannya, gadis itu masih menunggu Ridho di make over. Chiara tampak begitu fokus, gadis itu baru mengalihkan pandangan setelah mendengar dehaman seseorang. Pandangannya terpaku pada lelaki di hadapannya, mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu tetapi tergantikan dengan tangan yang menutupi mulutnya.
Chiara lantas berdiri memandangi Ridho yang tampak berbeda 360 derajat.

“Gimana penampilan gue sekarang?” Tanya Ridho saat Chiara tak kujung memberi respon, tampak Chiara mengacungkan kedua jari jempolnya. Menatap Ridho terpesona.

Ridho tidak lagi memakai kaca mata lensnya, sekarang lelaki itu memakai lensa mata hingga bola matanya tampak berwarna ke abu-abuan. Rambutnya yang selalu terlihat rapi, kini tampak berantakkan. Ada sedikit rambut menjuntai menutupi dahinya, juga ada tindik di telinga kanan lelaki itu. Seragamnya juga tampak berantakkan, tidaklah rapi seperti selalu.

“Lo keren banget, sumpah!” Getus Chiara kagum. “Oke, ayo pergi. Kita masih ada urusan!” ajak Chiara sambil menggandeng tangan Ridho mengikutinya.

“Mau kemana lagi?”

“Udah deh, ikut aja yuk!” Tak mau menjelaskan Chiara memilih naik ke vespa Ridho meminta laki-laki itu untuk segera berangkat. Menghela nafas sejenak Ridho mematuhi Chiara dengan kembali menaiki vespanya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here