Dilema Cinta #07

0
272
views

Chiara sibuk mencari obat-obatan untuk laki-laki yang sedang terbaring di salah satu ranjang yang ada di UKS, dia tidak tahu kenapa ia harus repot-repot menolong laki-laki itu. Dia bisa saja meninggalkannya setelah mengantar laki-laki itu ke UKS, tetapi lagi-lagi hatinya nuraninya bergerak sendiri. Itulah sebabnya ia masih berada di UKS sampai detik ini.

Chiara melangkah mendekati Ridho dengan segelas air putih dan 2 butir panadol, semua itu ia berikan kepada Ridho meminta laki-laki itu agar meminumnya segera.

“Thanks ya, loe udah nolongin gue. Sakit kepala gue agak mendingan sekarang!” Ucap Ridho dengan tatapan tertuju pada gadis bertopi di hadapannya.

“Okey!” Jawab Chiara singkat, ia mengambil gelas di tangan Ridho lalu meletakannya di meja. Sementara Ridho memperhatikannya, dia tak pernah melihat gadis itu sebelumnya.

“Sorry, tapi gue boleh tahu gak nama loe. Dan loe murid baru ya?” Tanya Ridho memastikan.

“Gue Chiara. Dan seperti yang loe lihat gue memang murid baru!” Balas Chiara, matanya lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Mungkin ia harus pergi sekarang menemui Pak kepala sekolah sebelum pria itu menelpon bokapnya dan memberitahukan perihal dirinya yang belum datang menemuinya.

“Dan sepertinya gue harus pergi, gak papakan gue tinggal!”

“Ya, loe pergi aja. Gue nggak papa kok sendirian!”

“Okey!” Tanpa ada ucapan perpisahan Chiara berbalik melangkah mantap keluar dari ruangan itu. Sementara Ridho kembali berbaring dan memejamkan matanya untuk sesaat sebelum akhirnya tertidur pulas.

Chiara di antar Pak kepala sekolah ke kelas barunya, kelas XII IPA 2.
Ia melangkah masuk ke kelas, di hadapkan dengan puluhan pasang mata menatap ke arahnya. Ingin tahu siapakah gadis tomboy yang berdiri di depan kelas itu?

“Okey, siapa nama kamu dan tolong introduce di depan kelas supaya teman sekelasmu tahu siapa nama mu!” Perintah Imran selaku guru yang mengajar saat itu.

“Dan tolong lepaskan topi mu!” Suruh Imran sekali lagi, Chiara sebagai murid hanya mematuhi setiap perkataan gurunya itu. Ia melepas topinya memperlihat wajah di baliknya, Chiara tampak sangat manis. Akan tetapi terlihat amat suram tanpa senyuman di wajahnya.

“Kenalkan gue Chiara Adira, pindahan dari SMAN 5 JOGJA. Sekian perkenalan dari gue!” Beritahu Chiara, gadis berambut sebahu itu mulai memperhatikan teman sekelasnya satu persatu.

Saat pandangannya jatuh pada Ridho ia tertegun. Laki-laki itu sedang tersenyum menatap seorang perempuan yang duduk di sebelahnya, ternyata dia sekelas dengan laki-laki itu. Namun anehnya bukankah tadi laki-laki itu masih di UKS, sedang tertidur setelah meminum obat yang ia berikan. Belum sempat dia berpikir lebih jauh lagi terdengar ketukan yang diiringi dengan ucapan salam, seluruh perhatian teralihkan pada sosok laki-laki yang berdiri di ambang pintu.

“Maaf Pak, saya telat masuk!” Ridho melangkah mendekati Chiara, terlihat jelas raut ke kagetan dari wajah gadis itu.

“Jadi ada dua Ridho di sini!” Bisik hati Chiara tak percaya.

“Dari mana saja kamu jam segini baru masuk?”

Ridho mengernyit merasakan sakit di kepalanya mendengar bentakkan itu, sakit kepalanya memang belum pulih. Mulutnya membuka hendak menjawab tetapi keduluan Chiara, gadis itu yang menjawabnya.

“Hmm,, itu Pak!” Gumam Chiara membuat perhatian Pak Imran teralihkan padanya. “Tadi Ridho sakit kepala Pak, badannya panas banget. Jadi saya nganterin dia ke UKS tadi buat istirahat!” Jawab Chiara membuat Ridho menatap ke arahnya, jelas bingung kenapa gadis itu mengetahui namanya. Tadi kan dia belum memberitahukan namanya pada gadis itu.

“Kamu kenal dengan Ridho?” Pak Imran bertanya bingung.

“Saya kenalnya baru tadi pagi kok Pak, saat saya tak sengaja ngeliat dia hampir pingsan di koridor!” Jelas Chiara membuat Pak Imran mengangguk paham.

“Oke baiklah kalau begitu, kalian berdua boleh duduk!” Pak Imran mempersilahkan kedua muridnya untuk segera duduk.

“Baik Pak!” Balas Chiara yang segera melangkah pergi di susul Ridho di belakangnya.

Cinta memperhatikan Ridho yang memang tampak pucat, laki-laki itu sakit?
Ia mencoba tersenyum berharap Ridho menoleh ke arahnya, tetapi laki-laki itu sama sekali tak menoleh. Cinta pun menghela nafas kecewa.

Ridho berada di kelas seorang diri yang lainnya sudah pergi ke kantin, pelajaran pertama telah usai beberapa menit yang lalu. Dia tidak berniat pergi kemana pun, itulah sebabnya dia masih berada di kelas. Tatapannya menerawang keluar jendela, mengamati langit biru di atas sana. Pandangannya beralih saat seseorang tampak menggeser bangku, di hadapannya duduk sosok perempuan yang tadi pagi menolongnya.

“Loe nggak ke kantin?” Chiara memulai obrolan, Ridho hanya menggeleng tak berniat bersikap ramah pada gadis itu. Ia kembali berpaling menatap keluar jendela.

“Nggak lapar apa?”

“Nggak!” Balas Ridho singkat.

“Hmm,, ya udah nih gue kasih loe roti. Di makan tuh!” Chiara memberikan sebungkus roti dan air minum di letakkannya di hadapan Ridho, laki-laki itu menatap roti dan jus itu beberapa saat. Kemudian kembali menatap gadis di hadapannya yang tampak sedang memakan roti di tangannya.

“Gue nggak lapar, loe ambil kembali roti itu!” Jawabnya dan kembali berpaling menatap keluar jendela.

“Gue ikhlas kok ambil aja, apa perlu gue yang suapin loe supaya loe mau makan tuh roti!”

Mendengar ucapan Chiara Ridho menoleh ke arahnya, melotot kesal ke arah Chiara yang tersenyum. Kepalanya memberi isyarat agar Ridho mengambil roti itu, dengan terpaksa Ridho meraih bugkusan roti itu lalu memakan isinya.

“Nah, gitu dong. Apa susahnya sih?” Chiara tak bisa menahan senyumnya setelah Ridho memakan roti itu, ia tahu laki-laki itu sedang sakit. Ridho butuh makan, tetapi entah mengapa laki-laki itu tak beranjak sedetik pun dari duduknya. Hati nuraninya kembali berbaik hati, ia membelikan laki-laki itu roti dan minuman sewaktu di kantin tadi.

Ridho melirik gadis di hadapannya yang tampak sedang fokus dengan benda pipih berwarna hitam di tangannya, sepertinya gadis itu sedang bermain game.

“Ra…” sapanya yang hanya di jawab deheman oleh gadis itu.

“Loe tahu nama gue dari mana? Gue kan belum kasih tahu loe!” Tanya Ridho.

“Gue punya mata dua!” Ridho mengernyit mendengar jawaban Chiara yang tak nyambung menurutnya.

“Maksud loe apa sih? Gue tanya kenapa loe bisa tahu nama gue, bukannya gue tanya loe punya mata berapa!” Protes Ridho, tanpa sadar bahwa kalimat itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan. Mendengar protesan Ridho, Chiara menoleh kearahnya menatap Ridho dongkol.

“Apaan sih loe, itu aja nggak ngerti. Gue punya mata dua, dua-dua bisa lihat jelas tulisan gede di saku baju loe itu. Tertulis di sana Ridho Juandra. Itu name tag loe kan? Gak tahu deh kalo loe make baju siswa lain!” Jelas Chiara, refleks membuat Ridho menatap name tag di saku bajunya. Di detik berikutnya ia kembali mengangkat kepala menatap Chiara dengan cengiran.

Chiara terpaku sesaat tak sanggup mengalihkan pandangan dari pesona lelaki yang sedang tersenyum itu, namun di detik berikutnya ia berdeham mencoba mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak beraturan. Kenapa dengan jantungnya?

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here