Dilema Cinta #06

0
239
views

Sejak sore tadi hujan deras mengguyur kota, hujan yang turun membuat keadaan udara menjadi amat sangat dingin. Di tambah lagi angin kencang yang membuat hampir semua warga tak sanggup keluar rumah, mereka lebih milih berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktifitas di luar karena cuaca malam ini yang sedang buruk.

Risky melewati malamnya dengan berbaring di sofa ruang tamu sambil menonton sinetron yang disiarkan di Televisi, sama sekali tidak peduli pada Ridho yang belum menampakkan diri di rumah. Perhatiannya teralihkan saat telinganya tak sengaja mendengar pintu di buka, pandangannya segera di hadapkan dengan keadaan Ridho yang basah kuyub.

“Habis main hujan-hujanan dimana loe Dho?” Tanya Risky dengan senyuman sinis, tetapi Ridho mengacuhkannya. Laki-laki itu sama sekali tak menatap ke arahnya walau sedetik pun, dan Risky memakluminya. Mungkin itu suatu tindakan protes yang Ridho lakukan atas perbuatannya tadi sore.

Di dalam kamarnya yang hanya di terangi cahaya lampu yang redup tampak Cinta sedang melamun di tempat tidurnya, pikirannya masih terbayang kejadian sore tadi.
Dirinya jelas tidak salah lihat, itu memang postur tubuh Ridho.
Tapi kenapa dia juga ada di sana?
Tidak mungkin hanya kebetulan.
Jelas sekali laki-laki itu memakai pakaian yang sama yang di tuliskan pengagumnya.
Tetapi tidak mungkin Risky membohonginya kan?
Lagi pun Risky sudah menjadi pacarnya, apa lagi yang di permasalahkan?

“Apa gue telpon Ridho aja ya?” Gumamnya, ia lalu melirik I-phone yang tergeletak di sampingnya, menimbang-nimbang akankah dia menelpon laki-laki itu. Setelah pertimbangan yang matang ia meraih benda pipih itu, mencari kontak yang di maksud kemudian melekapkan ke telinganya. Terdengar sambungan terhubung.

Setelah mengganti pakaian Ridho memutuskan berbaring di tempat tidur dengan penerangan seadanya, pandangannya menatap nyalang langit-langit kamarnya. Pandangannya terlihat kosong tak bercahaya, tampaknya Ridho benar-benar terluka hatinya.

Ingatan tentang kejadian sore tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, seakan-akan mengingatkannya bahwa dirinya tak akan bisa memiliki Cinta.

“Berhentilah berputar di kepala ku, kau membuat ku muakk!” Desisnya geram, kedua tangannya ia gunakan untuk mencengkram kepalanya yang mendadak terasa berputar-putar. Kepalanya sakit.

Deringan handphone di meja samping tempat tidurnya mengagetkannya, dengan tangan sebelah ia meraih benda pipih itu. Pandangannya mendadak nanar saat nama Tata tertera di layar. Tata adalah nama panggilan Cinta waktu kecil.

“Buat apa loe nelpon gue lagi Ta? Maaf Ta, kali ini gue nggak bisa!” Lirihnya lalu melemparkan benda pipih yang berkedip-kedip minta di angkat itu ke bawah tempat tidurnya.

Tak diangkat sekali membuat Cinta kembali mendail nomor Ridho lalu kembali menelponnya, kali ini nada operator yang menyambut pendengarannya.

“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, tinggalkan pesan setelah nada berikut”

Cinta menghela napas, mungkin Ridho masih marah padanya. Tadi ia lupa meminta maaf pada laki-laki itu sebab ia terlalu bahagia, bertemu sang pengagumnya itu adalah hal yang di tunggu-tunggunya. Akan tetapi kenapa hatinya tak gembira setelah mengetahuinya?.

Kedatangan Risky dan Cinta pagi itu membuat heran mata yang memandang, memang tidak asing lagi dengan pemandangan itu. Hampir setiap hari mereka berangkat bersama, tetapi pemandangan pagi ini tidak seperti sebelum-sebelumnya. Pagi ini Risky tampak menggenggam tangan Cinta bahkan memeluk pinggang perempuan itu, seakan-akan Risky ingin memberitahukan pada semua bahwa gadis di sampingnya adalah miliknya. Hanya miliknya.

“Wess, apa-apaan nih? Gue tentu gak salah lihat kan, loe berdua kok mesra banget. Apa yang nggak gue ketahui nih?” Selidik Naumi yang tiba-tiba muncul menghadang langkah kedua temannya itu.

“Kita pacaran!” Beritahu Risky, sengaja mengeraskan suaranya agar semua yang disana mendengarnya.

“Whatt, kok bisa?”

“Nanti di kelas gue ceritain!” Balas Cinta.

“Oke ayo kita ke kelas sekarang!” Ajak Naumi, ketiganya pun melangkah pergi menuju kelas yang sama.

Berita jadian Risky dan Cinta menjadi perbincangan hangat di sekolah, tak menduga duga idola di sekolah akan menjadi pasangan kekasih. Tak sedikit yang merasakan patah hati, baik yang menyukai Risky mau pun yang menyukai Cinta. Tak hanya dua idola itu yang jadi perbincangan hangat, Ridho pun terbawa-bawa dalam perbincangan itu.

Saat laki-laki itu berjalan di koridor dengan lunglai tak sedikit orang berbisik-bisik tentangnya, mengenai gosip yang tersebar beberapa hari lalu, tentang Ridho dan Cinta yang berpacaran.

“Hasyiiimmmm….!”

Sudah kesekian kalinya Ridho bersin-bersin, hidungnya sudah memerah karena sering di pencet untuk meredakan flu yang di deritanya. Tetapi mau di apa pun ia tetap bersin-bersin, mungkin itu sebab kehujanan semalam.
Di tengah jalan mendadak ia merasakan kepalanya pusing berdenyut-denyut, penglihatannya pun mulai samar-samar. Dia paksakan untuk terus melangkah walaupun sempoyongan.

Tahu-tahu dia rasakan seseorang merangkul pundaknya, ia menoleh ke kanan. Samar-samar ia lihat seorang perempuan sedang tersenyum ke arahnya.

“Wajah loe pucat banget, mari gue anterin ke UKS!” Gadis itu menawarkan bantuan, Ridho mengangguk. Memang ia butuh bantuan seseorang agar membawanya ke UKS, ia tak mungkin meneruskan pelajaran dengan kondisi seperti itu. Jika ia pingsan di kelas tentu itu sangat merepotkan, dan merepotkam orang banyak bukanlah hal yang ia sukai.

“Thanks, gue sangat berterima kasih atas bantuan loe. Gue emang lagi nggak… Hasyiiimmm!”

“Oke, gue tahu kok!”

Kedua orang itu pun melangkah pergi menyusuri koridor yang hanya tampak segelintir orang berlalu lalang.

🌟Chiara POV.

Ini untuk kesekian kalinya gue berpindah-pindah sekolah, pekerjaan bokap gue yang sering berpindah kota memaksa gue dan nyokap ikut serta. Kali ini bokap di tugaskan ke Jakarta, kota yang menurut legenda terkenal akan kemacetannya.
Kembali gue harus beradaptasi dengan hal-hal baru, sekolah baru, lingkungan baru dan teman baru. Semua hal itu membuat gue muak. Itulah sebabnya gue malas mencari teman di sekolah gue terdahulu.

Gue melangkah santai menyusuri koridor yang mulai sepi, hanya tampak selintir orang yang berlalu lalang.
Gue edarkan pandangan gue sekeliling melihat keadaan sekolah gue kali ini, lebih besar dari sekolah gue sebelum-sebelumnya.

Gue berhenti melangkah saat telinga gue nggak sengaja mendengar suara bersin seseorang, gue mencari dimana suara itu berasal. Langkah kaki gue membawa gue pada seorang laki-laki tak jauh di depan gue, laki-laki itu tampak tidak sedang baik-baik saja.

Mengingat gue masih ada urusan di Kantor Kepala sekolah, gue berniat pergi gitu aja. Tetapi hati nurani gue berontak, gue gak setega itu membiarkan seseorang dalam kesusahan.

___

“Jadi gimana ceritanya loe berdua bisa pacaran?” Tanya Naumi menuntut jawaban pada Cinta, kebetulan Risky tidak ada bersama mereka. Tadi laki-laki itu mendadak sakit perut dan pamit ke WC.

“Loe tahu kan soal gue cerita akan nemuin pengagum gue di pantai pasir putih jam sore kemarin!”

“Iya, lalu?”

“Yang hanya gue temui Risky di sana, Risky bilang dia lah yang ngirimi gue bunga-bunga itu”

“Masa sih? Gue nggak percaya ah, Risky kan orangnya blak-blakan. Nggak mungkin dia diam-diam gitu mengagumi loe, aneh banget. Nggak percaya gue dia lah secret admirer loe!” Protes Naumi, tak urung Cinta membenarkan juga.

“Gue sempat ragu sih, nggak mungkin kan Risky bohongin gue. Untuk saat ini gue akan jalanin dulu dengan dia”

“Apa Ridho tahu kalian udah jadian?”

Cinta menggeleng lemah. “Belum!”

“Hmm, loe belum baikan ya ama Ridho!”

“Belum Mi, semalam gue udah coba nelpon dia tapi nggak di angkat”

“Hmm, kenapa ya? Kok jadi begitu rumit sih!”

“Gue juga nggak tahu sih apa salah gue!” Lirih Cinta bersuara.

“Bdw, ngomong-ngomong kok Ridho belum kelihatan sih. Udah mau bel nih, tumben banget tuh anak belum datang!” Heran Naumi saat tak melihat batang hidung laki-laki itu di kelas

“Mungkin di perpus kali!”

“Hmm, mungkin. Kalau gitu gue susul dia kesana ya. Bye Ta!” Naumi beranjak pergi berlalu keluar kelas, Cinta mengantarnya lewat pandangan. Setelah Naumi tak terlihat Cinta menghela nafas, teringat akan masalahnya dengan Ridho.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Halaman sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here