Dia yang Kucari # 11

0
283
views

Bagian Sebelas


Zahra berjalan sambil menenteng kantongan yang cukup berat, ia sedang menunggu taksi untuk pulang ke rumahnya.

‎Zahra melihat ada mobil yang menghampirinya “Zahra “panggil orang tersebut dengan nada bertanya.

‎Zahra segera membungkukkan badannya dan melihat siapa di mobil itu

“kak Arham, “serunya,dan laki-laki itu tersenyum “aku kira salah orang,” ucapnya.

“Kakak kapan datang, “ucapnya dengan suara dibesarkan karena tersamarkan oleh mobil yang lewat.

“Sudah lama, kamu mau kemana biar aku antar “lanjutnya.

‎Zahra terlihat berfikir, ia sudah sejam berdiri di sini tapi belum mendaptkan taksi. Iapun menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam mobil Arham yang sebelumnya menaruh barangnya di jok belakang.

“Zahra apa kabar “tanyanya sambil mengemudikan mobilnya

‎”Alhamdulillah, saya baik-baik saja” jawabnya sambil tersenyum dibalik cadarnya.

“Aku turut bahagia dengan pernikahanmu”ucapnya sambil menahan sesak dalam hatinya.

Zahra terlihat kaget dan mengubah posisinya melihat Arham”kakak tau, tapi tidak datang. Temenku dari kecil. Yang kuanggap abangku sendiri tidak datang. Kukira kakak tidak tau dan masih sibuk dengan studinya di Singapura tapi kakak tau malah tidak datang “, ujar Zahra dengan nada lemah diakhir ucapannya.

Mereka terdiam cukup lama. Zahra menghadap ke jendela menatapi jalan. Dan Arham sibuk dengan fikirannya. Sebelumnya ia sudah bertanya alamat rumah Zahra dan wanita itu hanya menjawab lalu menghadap ke jendela lagi.

‎Arham tau Zahra marah padanya, ia sudah hafal dengan sikap Zahra. Perempuan ini adalah temen kecilnya. Sejak Zahra datang ke pesantren akhirnya ia punya teman.

‎”Maaf, Zahra”ucapnya dalam hati. Hanya memandangi Zahra sekilas lalu fokus menyetir lagi.

‎”Apa kamu bahagia “tanya Arham lagi.

‎”Bahagia”jawab Zahra dengan nada bertanya juga. Dan Arham mengerutkan keningnya. “Ya aku bahagia”lanjutnya dengan nada ambigu. Dan Arham yang mendengar itu merasa ada yg salah di sini. Apa yg terjadi padanya. Batinnya.

“Yasudah, terimakasih sudah mengantarku. Jangan sungkan datang ke sini. Aku merindukan abangku yang cerewet. Assalamualaikum “tutur Zahra dan meninggalkan Arham dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Mereka memang baru saja sampai.

‎Arham tersentak, ia tadi sempat melihat mata Zahra. Mata itu mengabur, seperti ingin menangis. Dan mata Zahra bengkak. Ini hari pertama pernikahan Zahra. Dan kenapa dia menangis. Dan pertanyaanku tadi seakan ia jawab dengan ucapan agak ragu dan tidak menentu. Banyak pertanyaan dalam benak Arham saat ini.

“Aku mencintaimu Zahra, wa’alaikumussalam “ucapnya lirih nyaris tidak terdengar, tentu saja Zahra tidak mendengarnya. Karena wanita itu sudah masuk kerumahnya dari tadi. Laki-laki itupun meninggalkan kediaman ini. Dengan perasaan rapuh.

***

Zahra masuk kedalam rumahnya, sambil menenteng barang bahan makanan yang ia beli, melewati ruang tamu ia melihat Mirani ada di sana.

“Zahra, “panggilnya

“Mama, kapan datang “tanyanya dan menyimpan Barang itu dilantai menuju sofa menemani mirani duduk.

“Mungkin, 30 menit lalu mama dari  tadi mencari orang, tapi orang ini kosong. Mama kira kalian jalan-jalan pas kutelepon Frans, katanya dia sedang sibuk. Anak itu dihari pertama pernikahannya masa sudah sibuk”omel Mirani membuat Zahra tertegun. “Bagaimana kalau sampai mertuanya tau perlakuan Frans padanya “batinnya. Iapun menggelengkan kepalanya.

“Kamu kenapa menggelengkan kepalamu, apa kau sakit, “tanya mirani.

“Tidak ibu, hanya sedikit pusing saja, agak sedikit capek juga. “Ujarnya.

“Astaga, mama sudah terlambat. Mama ada arisan jam 5. Kebetulan mama lewat sini jadi singgah sebentar. “Tutur Mirani dengan nada lebih yang dibuat-buat. Zahra tersenyum dari balik kain yang menutupi wajahnya. Mertuanya sangat unik. batinnya.

“Mama pamit dulu, jaga kesehatan kamu, kalau soal Frans jangan difikirkan. Jika terjadi apa-apa atau perlakuan Frans padamu tidak baik. Telfon mama akan kuhukum dia.. Mama pergi”Mirani memeluk Zahra. Perempuan berjilbab syar’i dan bercadar itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.  Mirani meninggalkan Zahra diruang tamu.

Air mata itu datang, setelah kepergian mama mertuanya Zahra menangis “mana  mungkin aku memberitahukan mama tentang semua ini, tentang pernikahan tak diinginkan ini. Itu sama saja aku membuka aib suamiku sendiri. Allah tau apa yg terbaik untukku. Aku akan menutupi ini. Dan merasakannya dengan segenap ketegaran hatiku. Akan tetapi jika waktu terlemahku datang, jangan salahkan aku Frans. Jika aku pergi tanpa berbalik lagi”dan ucapannya itu hanya dirinya yang mendengar sendiri.

Zahra memejamkan matanya sejenak , meresapi sakit dan luka yg datang tanpa jeda. Ia harus tegar mungkin masih ada hal yang akan membuatnya sakit lebih Dari ini. Iapun melanjutkan langkahnya. Mengambil Barang belanjaannya dan membawanya kedapur.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian sepuluh

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here