Dia yang Kucari #05

0
359
views

Bagian Lima


Tiga hari lagi ia akan menjadi seorang istri dan akan mempunyai seorang imam yang akan menemaninya sampai surga kelak. Akan tetapi, ada satu hal yg membuatnya bimbang apakah Frans akan berubah setelah menikah nanti.

“Ya allah, sang pemilik hati berikan hamba petunjukmu atas ke bimbingan ini. Hilangkan keraguan dalam hatiku. Hamba takut berdosa jika keraguan ini masih melekat hingga ijab kabul itu terucap dalam bibirnya,”Ujar Zahra.

Saat ini ia memang habis sholat malam berdoa pada Sang Khalik agar keraguan itu menghilang.

‎Ia begitu bingung, calon Imam yang Allah pilihkan untuknya, Imam yang tertulis di lauhul mahfudz-nya begitu dingin padanya, apakah karena ia memakai cadar.

Memang, beberapa tahun lalu ia memutuskan memakai cadar untuk menjaga wajahnya dan hanya akan memperlihatkan pada yang  halal untuknya dan berusaha menjaga dirinya agar bisa membahagiakan imamnya.

‎ Tapi melihat sikap Frans kemarin sewaktu mereka sedang berkumpul membicarakan tema tentang pernikahan hanya calon mertuanya ysng begitu antusias dan laki-laki itu hanya menampakkan wajah datarnya. Dan dirinya hanya mengangguk saja jika mamanya bertanya padanya. “Aku tidak boleh meragukan pilihan Allah padaku, itu sama saja menghilangkan keyakinanku padanya,”Tuturnya.

‎”Bismillah, inilah yang terbaik. “Ucapnya. Dan mengenai orang tua Zahra jangan menanyakan padanya karena iapun tak tau.

‎  Menurut cerita orang di pesantren, ia ditemukan disaat berumur lima tahun ditaman wisata tanpa orangtua. Akan tetapi bu ustazah berkata padanya bahwa ia tidak pintar berbahasa Indonesia hanya memakai bahasa arab dan inggris. Menurut orang dirinya adalah anak salah satu wisatawan yang datang ke Indonesia tapi mungkin mereka kehilangan jejak Zahra .

‎   Bu ustazah berkata padanya menurut orang, Zahra adalah keturunan arab-amerika. Dilihat dari wajahnya yang begitu murni tanpa memakai make up sama sekali begitu indah dipandang.

‎ Dia dibawah ke pesantren dan tumbuh disana dengan didikan yang baik. Ia hanya memiliki satu bukti untuk mencari orang tua nya yaitu boneka dengan bertuliskan namanya di sana. “ZAHRA”.

‎”Aku merindukan kalian,” Ucapnya sambil memeluk boneka itu dan tertidur diatas sajadah tanpa membuka mukenahnya terlebih dahulu..

***

 “Pa, hari ini papa pulang jam berapa, ” Tanya Mirani pada suaminya

‎”Mungkin larut malam,” Jawabnya dan Mirani hanya menganggukkan kepalanya dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Memang saat ini mereka sedang melakukan sarapan pagi.

‎”Pagi ma, pa” sapa laki-laki itu dan langsung duduk.

‎”Pagi sayang,” Jawab Mirani pada puteranya itu dan suaminya hanya mengangguk saja.

‎”Oh iyya Frans, hari ini mama akan ke kontrakan Zahra” ujar Mirani dengan nada ceria

‎”Terus.. “Ucap Frans dengan nada ketus.

Mirani hanya menghembus nafasnya lelah. “Mama mau kalian itu ngobrol sebentar, masa bentar lagi nikah enggak ada komunikasi ,” Lanjutnya

“Hari ini aku sibuk, aku pergi,” Setelah mengucapkan itu Frans berlalu pergi menuju ke kantor.

“Udahla ma, nanti kalau sudah menikah dia akan berubah dengan sendirinya,” Ujar Andreas menenangkan istrinya. “Baiklah “jawabnya dengan nada lesuh. “Astaga aku lupa memberitahukan Frans kalau Renata tidak bisa pulang,” Ujarnya dengan nada gelisah. Andreas hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya. Sifat pelupanya tidak hilang”. Batinnya…

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian empat

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaDia yang Kucari #04
Berita berikutnyaAnak Gunung #05
Menulis itu sebuah pengembangan dalam diri, dengan jalur ini mungkin sebagian keresahan hati. Maka dari itu saya menyukai dunia literasi dapat mengungkap berbagai genre cerita dan memotivasi para pembaca di waktu yang sama.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here