Desa Larangan #03

0
404
views

Aku bingung, mendadak sifat ramah Pak Sastro berubah drastis. Dia seolah bukan Pak Sastro yang kami kenal.
Aku dan Andi dengan berat hati mengikuti perintah Pak Sastro. Sesekali aku menoleh ke belakang melihat desa sebelah.

Malam pun tiba, aku yang lelah seharian mencari teman-temanku tak tahan lagi menahan kantuk. Tapi aku tetap berusaha menahannya sebelum aku dapat kabar dari ketiga temanku. Dan akhirnya aku pun tertidur

Aku tak melihat Pak Sastro di rumah ini.
Lalu aku mencari Andi keluar.
“Ndi … Kamu dimana?” Aku membuka pintu, diluar sangat dingin dan mencekam, lalu aku masuk kembali dan menutup pintu.
“Kemana si Andi dan Pak Sastro?” Saat aku hendak masuk ke kamar, ada yang mengetuk pintu. Lalu aku membuka kembali pintu itu, ternyata itu Andi tapi dimana Pak Sastro?
“Dari mana kamu Ndi?” Tanyaku
“Tadi aku mencari Gea, Putri dan Tara bersama Pak Sastro Rin.” Ujar Andi sambil duduk di sofa.
“Lalu Pak Sastro nya mana? Nggak barengan pulangnya sama kamu?”
“Pak Sastro menyuruhku pulang duluan, katanya kasian sama kamu tinggal di rumah sendirian. Ya memang Pak Sastro mempunyai anak perempuan, tapi dia tidak tinggal bersama Pak Sastro, dia bekerja di kota dan tinggal di sana.
“Gimana Ndi ada kabar terbaru mengenai mereka bertiga?” Tanyaku penasaran
Ku lihat andi menarik nafas nya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaanku.
” Kami sudah mencari kesetiap sudut desa ini tapi tak menemukan petunjuk tentang keberadaan mereka.”
Aku menghela nafas pertanda keputus asaan.
“Bagaimana nasib mereka Ndi? Apa yang harus kita jelaskan kepada orang tua mereka kalau kita pulang nanti?” Aku mengusap wajahku.
“Kamu tenang aja Rini, Pak Sastro sudah berjanji untuk menemukan mereka.” Ujar Andi.
“Iya kalau dalam keadaan hidup, kalau sudah meninggal gimana?” Aku menangis.
“Sstt kamu nggak boleh berkata seperti itu. Yakin lah mereka akan baik-baik saja.”
Walaupun sebenar nya aku masih resah namun aku tetap tenang agar Andi tak semakin panik.

————–

Pak Sastro pulang larut malam, kami menunggu beliau. “Aku sudah tau keberadaan teman kalian.” Ujar Pak Sastro yang sontak membuatku berdiri dari duduk ku.
“Dimana Pak, kenapa tidak dibawa pulang sekalian?”
“Tidak semudah itu membawa mereka pulang.” Pak Sastro menatapku.
Aku makin bingung, ada apa yang terjadi dengan mereka bertiga?
“Kalian tidur saja dulu, besok pagi saya akan kembali mencari cara supaya teman kalian bisa kembali.” Pak Sastro menyuruh kami untuk tidur.

Aku sedikit lega karena Pak Sastro sudah mengetahui keberadaan teman-temanku. Walaupun masih belum lega seutuhnya sebab tidak gampang membawa mereka kembali.

Aku paksakan mataku untuk terpejam dan akhirnya aku tertidur. Aku bermimpi bahwa aku harus ke desa sebelah karena aku akan menemukan teman-temanku di sana. Dalam mimpi sayupku lihat ada Tara disana, dia terduduk lemah dan aku tidak melihat adanya Gea dan Putri. Dan pada akhirnya aku terbangun ternyata hari pun sudah pagi. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu kamar ku.
“Rin … Kamu udah bangun?” Andi membangunkanku
“Ya … Aku sudah bangun Ndi.” Jawabku dari dalam kamar. Aku yang masih berbaring ditempat tidur masih bingung dengan maksud mimpi tadi. Ah nanti saja ku ceritakan tentang mimpiku kepada Andi.

————–

Pagi itu Pak Sastro membawa kami ke sebuah rumah tua yang sudah tak di huni lagi. Aku merinding ketika berdiri di depan rumah tua itu. Kenapa Pak Sastro mengajak kami kemari, apa hubungan rumah ini dan teman-teman kami?
Aku melihat disekeliling rumah itu, tampak semak yang sudah lama tidak di tebas. Lumut hijau juga menempel di dinding rumah tua itu.
Lalu Pak Sastro mengajak kami pulang. Aku heran kenapa kami dibawa ke sini? Ah jelas ini membuang-buang waktu. Lebih baik waktu ini aku pergunakan untuk mencari mereka bukan nya seperti ini. Dengan sedikit kesal aku langkahkan kaki ku untuk pulang.

————–

Sesampainya di rumah aku yang masih kesal dengan Pak Sastro hanya diam.
Lalu Pak Sastro menyuruh kami untuk duduk.
“Kalian duduk dulu, ada yang mau saya ceritakan.”

“Begini … Tak ada satu pun yang bisa membawa teman kalian kembali. Termasuk saya atau warga di sini.”
“Lalu kepada siapa kami harus meminta tolong?” Ujar Andi
“Ada … Ada yang bisa menolong kalian tapi … Untuk pergi kesana sangat lah berat. Karena jika ada yang mengetahui kalian kesana maka hidup kalian akan sama seperti yang dialami teman-teman kalian.” Ucapan Pak Sastro membuat kami bingung. Siapa yang bisa menolong kami dan siapa orang yang akan membuat kami bernasib sama seperti Gea, Putri dan Tara? Dan kemana kami harus mencari orang tersebut.

Lalu aku teringat mimpiku tadi malam. Aku menceritakan mimpiku kepada Pak Sastro, kukira ini adalah sebuah petunjuk.
Beliau seperti nya sangat kaget mendengar mimpiku.
“Apa kamu berani untuk melewati batas desa itu?” Pak Sastro seolah menyuruhku ke desa sebelah.
“Sebenarnya kami ingin kesana ketika ada persiapan hajatan kemarin Pak.” Aku memberitahu Pak Sastro tentang rencanaku itu. “Tapi belum sempat kami menjalankan rencana kami, teman-teman kami sudah hilang Pak.” Ujar Andi.
“Baik lah, tengah malam nanti kita akan ke batas desa itu.” Pak Sastro meninggalkan kami dan masuk ke kamarnya.

Hingga saat yang ditunggu pun tiba. Berbekal jaket tebal dan penerangan seadanya kami menuju batas desa.

Belum tau apa maksud Pak Sastro menyuruh kami kesini. Aku melihat dia menatap tajam arah desa sebelah. Sehingga membuat mataku pun melihat arah yang sama. Lebih sedikit bercahaya desa itu. Aku yakin teman-temanku pasti disana.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here