Desa Larangan #02

0
106
views

Andi sepertinya mengerti dengan perasaanku. “Rin … Gimana kalau kita telusuri desa itu?” Aku penasaran dengan cerita mistis nya.”
“Aku juga penasaran Ndi tapi … Apa Gea, Putri dan Tara mau ikut dengan kita? Kalau hanya kita berdua saja nggak seru donk.”
Kami berdua terdiam, sama-sama memikirkan cara supaya mereka bertiga mau ikut ke desa sebelah.

————

Nah siang ini kebetulan ada hajatan di Rumah Kepala Desa. Seluruh warga membantu mempersiapkan hajatan itu, dengan tugas masing-masing. “Nak kalian ikut membantu di sini saja. Karena bapak dan warga lain nya tengah sibuk.” Pak Sastro menghampiri kami.
“Iya pak.” Aku menjawab.

Sepertinya ini kesempatan untuk kami berkunjung ke desa sebelah, toh mereka semua di sini sibuk dan pasti nya mereka tidak akan kehilangan kami. Aku mulai mengatur siasat untuk bisa masuk ke desa sebelah tanpa diketahui oleh Pak Sastro dan warga lain nya.

Aku mencari Andi untuk merencanakan kunjungan ke desa terlarang itu.
Aku melihat Andi dari kejauhan, ternyata dia ikut salah seorang warga untuk mengambil kelapa di kebun.
“Andi …” Aku memanggil sambil melambaikan tangan.
“Ya ada apa rin?” Tanya Andi
“Aku punya rencana untuk mendatangi desa sebelah hari ini. Ini kesempatan kita selagi warga desa sibuk dengan persiapan hajatan itu.”
Andi diam dia mengerutkan kening nya. Mungkin ragu kalau kami hari ini akan ke desa sebelah.
“Ok Rin kita cari Gea, Putri dan Tara dulu ya terus kita bisa bersama-sama ke desa sebelah.
Kami berkeliling di sekitar rumah Kepala Desa untun mencari ketiga teman kami. Tapi sial nya tak ada kami dapati mereka di setiap sudut tempat ini.

“Apa mereka ikut warga di sini untuk ke kebun?” Tanyaku
“Entah lah Rin … Setau ku tadi aku melihat mereka disekitar sini dan aku yang ikut ke kebun kelapa.”

“Yuk kita cari sampai ke batas desa, siapa tau mereka juga penasaran dan sudah berada di sana.”
Andi sedikit ragu dengan ajakan ku, rasa nya tidak mungkin mereka bertiga berani ke batas desa itu. Mereka kan penakut rasa nya mustahil mereka mendahului kami.

Kami berjalan seakan sedang mengamati desa ini, tidak seperti sedang mencari sesuatu. Ketika sampai di batas desa aku tak menemukan salah satu dari mereka bertiga. Tapi aku melihat kamera milik Putri di tanah. Ya putri yang selalu membawa kamera untuk meliput penelusuran kami. Kamera itu kondisi nya tengah kehabisan daya. Kekhawatiran mulai merasuk, apa mereka sudah sempat melewati batas desa dan mereka hilang?

—————

Tanpa banyak bicara aku dan Andi bergegas kembali ke desa itu dan berencana memberitahu kepada warga tentang ketiga teman kami yang hilang.
Aku mencari Pak Sastro dan aku menemukannya di dekat sumur tua. Beliau hendak mengambil air bersih.
“Pak … Pak … Pak Sastro.” Aku setengah berteriak.
“Ya ada apa nak?”
“Itu Pak Gea, Putri, dan Tara mereka hilang. Dan saya menemukan kamera ini di dekat batas desa.” Aku menjelaskan kepada Pak Sastro.

“Mari kita pulang dulu.” Ajak Pak Sastro
Aku bingung kenapa Pak Sastro mengajak kami pulang, seharusnya beliau memberitahu Kepala Desa dan warga agar mencari ketiga teman kami ini. Namun aku tetap menurut dengan ajakan nya.

————

Sesampainya dirumah Pak Sastro kembali bertanya tentang kejadian hilang nya mereka bertiga.
Dan aku mengulangi ceritaku tadi dan Pak Satro hanya diam dan mengangguk.
“Saya sudah pernah memperingatkan jangan pergi ke arah batas desa apalagi sampai melewatinya.” Pak Sastro sepertinya kesal dengan kami karena mengabaikan larangannya.
“Kenapa kita tidak memberitahu Kepala Desa dan para warga pak, agar kita lebih mudah untuk mencari mereka bertiga”. Ujar Andi.
“Jangan …! Itu tidak perlu, itu hanya akan membuat mereka marah karena larangan desa ini kalian langgar, bahkan mereka bisa saja mengusir kalian dari desa ini.
Aku dan Andi berpandangan, apa yang harus kami lakukan sekarang. Aku meminta Pak Sastro untuk membantu kami dalam pencarian temah-teman kami.
“Pak Sastro bisa bantu kami kan dalam mencari mereka?” Tanyaku.
Pak Sastro mengangguk “Ya saya akan berusaha menemukan mereka. Tapi untuk saat ini warga lain jangan sampai ada yang tahu.” Aku dan Andi mengangguk serentak.

—————

Malam pun tiba, namun tak juga ada tanda-tanda keberadaan teman-temanku.
Aku dan Andi merasa sangat khawatir. Kami resah, aku mondar-mandir menunggu Pak Sastro pulang dan berharap membawa mereka bertiga.
Kulihat dari dalam rumah seperti ada cahaya di luar, ternyata itu Pak Sastro yang pulang dengan berbekal obor mencari teman kami. Aku melihat dia pulang sendirian. Tak ada Gea, Putri atau Tara, aku melangkah menuju pintu dan tak sabar ingin bertanya kepada Pak Sastro.
“Gimana Pak apa sudah tau keberadaan mereka?” Tanyaku
Pak Sastro melewatiku dan masuk ke dalam kamarnya.
Aku bingung ada apa dengan Pak Sastro.
Aku menunggunya di depan kamarnya, hingga akhirnya Pak Sastro keluar dari kamar dan duduk di sofa.
“Apa yang terjadi Pak? Kemana mereka?” Aku terus bertanya.
“Untuk malam ini saya belum menemukan mereka. Tapi kalian tenang saja saya yakin teman kalian baik-baik saja.”
Aku terduduk lemas, bagaimana aku bisa tenang sampai malam ini mereka juga tidak di ketemukan.
Andi merangkulku dan mencoba menenangkanku.

—————

Keesokkan paginya aku dan Andi berniat mencari Gea, Putri dan Tara ke desa sebelah. Tanpa sepengetahuan Pak Sastro kami menuju batas desa.
Disana kami hanya berdiri sambil mengawasi sekitar batas desa. Dari kejauhan aku melihat ada kehidupan disana, aku juga melihat ada dua orang yang sedang mengobrol, aku mencoba memanggil mereka dari sini, namun mereka seolah tidak mendengar. Setelah itu mereka melihat ke arah kami lalu pergi.
Ketika hendak melewati batas itu aku dikagetkan dengan suara seorang lelaki “Jangan…! Jangan sesekali mencoba melewati batas itu.”
Aku menoleh ke belakang, ternyata Pak Sastro.
Aku lihat kemarahan di raut wajahnya.
“Saya sudah mengingatkan, tapi kenapa masih dilanggar? Tidak ingatkah kalian tentang teman kalian yang hilang semalam?” Teriak Pak Sastro.
“Kami hanya berusaha mencari mereka Pak, kami sangat mengkhawatirkan mereka.” Ujar Andi.

“Biarkan saya yang mencari teman-teman kalian, kalian cukup menunggu di rumah saja.” Pak Sastro memandang tajam kepada kami.

“Pulang …! Segera kalian kembali ke rumah!” Ujar Pak Sastro.
Aku dan Andi langsung menuju ke rumah Pak Sastro.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here