Desa Larangan #01

0
626
views

Namaku Rini, aku dan ke empat temanku Andi, Putri, Tara dan Gea memiliki hobby yang sama, Berpetualang.

Kami suka mengunjungi kampung-kampung atau desa. Mengamati kehidupan mereka dan adat istiadat nya.

Saat itu aku dan teman-temaku tiba disebuah desa yang cukup jauh dari perkotaan. Kami disambut ramah oleh warga desa ini. Ya tentunya kami merasa nyaman. Seperti kebiasan mereka menyambut tamu adalah acara seperti adanya tarian, sambutan kepala desa dan diakhiri dengan makan bersama. Serasa kami ini orang penting yang sambutan nya cukup mewah.

Warga disini menggantungkan mata pencaharian dengan bercocok tanam. Ada yang menanam padi, kelapa, pisang bahkan ada yang berkebun cabe.
Hari pertama setelah penyambutan kami memulai aktifitas bersama warga desa.
Pagi sekali kami sudah menuju sawah milik warga disini.
Sangat nyaman berada didesa ini. Suasana masih sangat asri.

Kami menginap di rumah Pak Sastro. Beliau adalah orang tertua di desa ini.
Dan kini kami sedang bersama Pak Sastro di sawah milik nya.

Setelah pekerjaan di sawah selesai kami di ajak Pak Sastro untuk berkeliling desa.
Ketika sampai di ujung desa Pak Sastro mengingatkan kami untuk tidak melewati batas desa ini.
“Ini batas desa kita nak. Jangan ada yang berani melewati batas ini.” Ujar Pak Sastro.
Aku dan yang lain merasa penasaran. Kenapa dan ada apa disana. Tapi aku sengaja untuk tidak bertanya disini. “Ah … Nanti saja aku bertanya ada apa di batas desa ini.” Bathinku.

————

Keluarga Pak Sastro menjamu kami untuk makan malam. Suasana malam ini sangat gelap dan dingin sekali. Membuatku tak sanggup untuk keluar rumah.
Setelah makan malam usai, kami dibawa Pak Sastro ke ruang keluarga. Disana beliau bercerita banyak tentang desa ini. Nah ini seperti nya kesempatan ku untuk bertanya tentang batas desa itu.
“Mohon maaf sebelum nya pak, saya hanya mau bertanya tentang batas desa itu, kenapa kita tidak boleh melewati batas itu? Ada apa disana pak?” Tanyaku.

Aku melihat beliau diam saja. Seolah ragu untuk menceritakan tentang batas desa itu. Aku mengerutkan keningku pertanda kebingungan. Dan mungkin Pak Sastro paham atas kebingungan dan rasa penasaran kami.

“Baik lah … Saya akan menceritakan sedikit tentang batas desa itu. Dulu disitu ada kehidupan sama seperti desa ini. Kami hidup berdampingan. Hingga suatu saat terjadi sebuah pertikaian yang membuat kedua belah pihak saling menyerang. Dan hingga akhirnya banyak yang kehilangan nyawa. Masalah awal nya sepele, hanya karena perebuatan wilayah. Mereka menginginkan batas desa mereka di sawah yang tadi kita kunjungi. Sementara sawah itu sudah masuk desa kami. Dan itu bukan ukuran yang kecil. Sehingga kami mempertahankan desa kami. Karena pada dasarnya batas yang sekarang ini adalah batas yang sebenar nya. Mereka tidak terima sehingga terjadi lah penyerangan-penyerangan yang menyebabkan banyak nya nyawa yang hilang.”

“Lantas kenapa ada larangan ke desa tersebut. Kalau untuk warga di sini mungkin wajar lah tidak diperbolehkan ke sana. Tapi kami kan hanya pengunjung masa sih tidak diperbolehkan juga?” Aku yang makin penasaran.

“Tidak semudah itu nak. Ini bukan persoalan warga desa atau pengunjung. Tapi melainkan orang-orang di desa itu seketika menghilang. Tak ada yang tau apa yang telah terjadi. Dan setiap siapapun yang ingin mencari tau juga akan ikut hilang. Maka dari itu saya melarang kalian semua untuk melewati batas itu.” Sambil berdiri dan beliau pun berpamitan untuk tidur karena memang sudah larut malam.
“Rin … Aku penasaran dengan desa itu, apa iya kalau kita masuk kesana kita bakal hilang? Masa di zaman sekarang ini masih ada kepercayaan seperti itu.” Andi yang punya adrenalin tinggi mulai merasakan penasaran yang memuncak.
“Ya … Aku juga penasaran ndi. Nggak mungkin banget di zaman sekarang ini masih ada desa yang bisa dikatakan mistis.” Aku berdiri dihadapan teman-temanku.
“Udah deh ya nggak usah yang aneh-aneh. Kita disini hanya ingin mengenal desa ini beserta adat dan kebiasaannya. Bukan untuk hal mistis.” Gea mengingatkan kami. Gea memang terkenal penakut. Dia tak pernah ingin membahas tentang yang berbau mistis.
Sementara Tara dan Putri ya seperti penasaran tapi ada rasa takut juga.

Kami berlima memutuskan untuk ke kamar masing-masing.
Aku, Putri dan Gea tidur di kamar anak Pak Sastro. Sementara Andi dan Tara terpaksa tidur di sofa. Ya karena keterbatasan kamar di rumah ini sehingga tak ada pilihan lain untuk mereka berdua.

————-

Jujur saja aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa penasaran tentang batas desa itu mulai bermain diingatanku. Rasa penasaranku sangat tinggi sehingga aku berencana mencoba menelusuri desa itu.
Akhirnya kantuk ku tiba, aku tertidur.
Rasanya aku tertidur tapi sekarang aku berada di tengah-tengah batas desa. Aku seakan ingin melewati batas itu. Aku melihat ada kehidupan di sana.

————-

Pagi nya aku terbangun karena mendengar suara panci jatuh dari arah dapur. “Ah … Ternyata tadi aku bermimpi, tapi rasanya seperti nyata. Aku benar-benar melihat kehidupan didesa itu.”
Akhirnya aku membangunkan Putri dan Gea. Kami bertiga mandi secara bergantian, terasa dingin sekali airnya. Aku menggigil kedinginan sambil membalut tubuku dengan handuk.

Aku bertanya-tanya arti mimpi itu, apa maksud dari mimpi itu.
Dan aku akan cerita kan mimpiku kepada Andi. Karena dia lah yang punya rasa penasaran yang kuat seperti aku.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here